bab 4

1052 Words
Sesampainya di rumah setelah dua minggu di rumah mertua kini kembali aktivitas ku jalani seperti biasanya. Pedagang mobil bekas seputaran kerjanya cek mobil bersih bersih perbaikan dan transaksi mobil ketika ada pembeli dan penjual. Pagi itu minum teh manis kesukaan aku teh potok ( Teh yang tidak disaring ) terdengar ada panggilan telpon masuk dari nada dering sudah jelas bahwa itu nada panggil istriku karena notifikasi aku buat khusus. Cepat aku angkat dan "Hallo teh...sudah dapat keputusan?". "Iya mas ..... sudah bisa dipakai rumah yang satunya,dah sarapan mas ... kapan kesininya?". balas istriku. "Secepatnya mas kesana nanti belanja dan nyiapin alat bahan bahannya .... sudah ini sambil minum ". sahut ku. "Salam buat ibuk ya mas,besuk jangan lupa bawain tempe keripik ". balas istriku . "Oke". ku tutup telpon. Alat sabun cair bubuk penghilang noda darah tinta pewangi plastik bungkus baju semua sudah disiapkan semua, termasuk nota dan pernak pernik lainnya. Tandon air mesin cuci besi tower lebih baik saya cari di kota istriku, susah bawa nya.timbangan papan nama mmt ku bikin disana sekalian. Sore hari aku berangkat dengan bawaan yang penuh untuk stock persediaan dalam waktu lama. Pagi itu sampai dan langsung ku mulai dengan belanja alat alat setelah semua siap mulai pengerjaan instalasi pralon tower air berikut rangkaian besi yang sudah di las tinggal pasang jadi hari berikutnya sudah bisa dibuka. Usaha yang kita rintis makin hari ada kemajuan bahkan pertama kali buka sudah banyak yang datang,hasil pendapatan dari laundry untuk kebutuhan sehari hari lebih dari cukup. Tetapi kita juga tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka. Sebagai laki laki niat untuk menafkahi anak istri sudah aku wujudkan Manajemen dan bagaimana cara memberikan gaji karyawan sudah aku jelaskan. Ternyata ini bukan solusi agar kita bisa bersama satu rumah,justru ini menjadi pangkal masalah dalam keluarga . Dinamika membina keluarga dengan hubungan jarak jauh membuat pikiran kita cepat capek ditambah keraguan untuk melangkah. Umur kita sudah kepala empat dan ini mempengaruhi pikiran saya,semua jadi tergesa gesa apalagi keinginan cepat ingin punya anak sebagai prioritas tahun tahun awal pernikahan. Masalah yang buat hasan selalu kepikiran adalah keturunan terkadang menjadikan urusan lain tidak berarti. Pada suatu hari kebetulan saya mengantar adik ke rumah sakit tidak disengaja baca program hamil yang di lakukan di rumah sakit itu.seketika langsung ingat istri ku coba hubungi tapi belum tersambung. Sampai di rumah ku telpon lagi dan samar samar terdengar suara " Hallo mas ... da pa?". Sapa istriku. "Besuk bisa kerumah teeh .... tadi mas baca program hamil di rumah sakit,bisa kan kita ikut". sahutku. "Kalau besuk saya belum bisa mas,pekerjaan di sini juga belum selesai ". kata istriku berusaha membuat alasan yang masuk di akal. Mendengar jawaban itu aku getar dadaku, dari pergantian tahun sudah saya sampaikan prioritas tahun ini adalah keturunan ,tetapi apa istriku justru memikirkan pekerjaan. Buka laundry bukan jalan keluar karena masalah bukan di pekerjaan tapi lagi lagi keturunan. "Ya sudah kalau sudah selesai pekerjaan cepat kabari mas". ku tutup telpon dengan rasa kecewa. Ternyata istriku masih taat suami beberapa hari kemudian sampai di rumah hasan. Sebenarnya hubungan kami selama ini istri ku sangat baik, dia itu cantik putih tinggi sopan lembut juga tegas dalam hal hal tertentu. Di luar dugaan malam itu sekitar pukul 20.00 mama mertua saya telpon membuat saya agak terkejut, kenapa telpon ke hp saya bukan ke anaknya,kataku dalam hati. "Assalamualaikum ". kata mama mertua. "Waalaikumsalam ... ada apa ma?" Jawab hasan. ( menantu ) "Bagaimana hasilnya sudah jadi cek belum?". Kata mertua. "Belum ma, rencana besuk mau lagi ke rumah sakit".balas hasan. "Sebenarnya lestari itu ga usah di cek,jelas dia tidak ada masalah ... kan dia sudah punya anak ". mertua mencoba memberikan penjelasan kepada hasan. Aku harus jawab apa, jangan sampai nanti bisa salah paham, sedikit kebingungan hasan menjawab walaupun hatinya sebagai laki laki agak terganggu. Sambil menghela nafas hasan mulai bicara. Kata hasan" itu kan dulu ma, sekarang kan saya suaminya ". Sebenarnya seperti ada kepanikan atau ketakutan apabila lestari sudah tidak bisa hamil lagi, padahal ini bentuk iktiar mencari solusi bukan untuk berpisah. "Ya cukup kamu saja yang di cek". sahut mertua. " laah mama ikhlas ga? Saya kan suami lestari". nada hasan meninggi karena sebagai suami sudah di lecehkan. "Kalau tidak ikhlas memang kenapa?". timpal mertua seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari awal. " kenapa baru sekarang". seakan hasan lupa bahwa dia lupa lagi telpon dengan mertua. Dari tadi lestari istriku cuma diam duduk dan mendengarkan telpon aku dan mertua,dan aku tidak tahu kalau itu akhirnya menjadi masalah besar. Tidak seperti biasanya lestari malam itu kelihatan sedih padahal diantara keduanya tidak ada masalah,atau gara gara telpon tadi mempengaruhi pikiran dia. Malam itu memang suasana sudah tidak hangat lagi lestari tidurnya juga seluruh tubuh tertutup selimut seakan tidak mau di ganggu,hasan juga mengerti suasana hati istrinya lagi ga enak hati. Menjelang subuh sudah pada bangun terdengar ayam berkokok bersahutan begitu pula yang terjadi pada keluarga kecil mereka. "Mas .... saya mau ngomong,Saya ga mau ungkit lagi masalah status saya yang janda,Mas kan sudah tahu dari awal !". suara lirih datang dari lestari sambil membuka selimutnya setengah badan. "Loo ... yang ungkit siapa?. Jadi salah paham begini siih". hasan nampak kebingungan. "Besuk saya mau pulang,Tidak usah ada cek cek segala". lestari kelihatan memerah wajahnya. Padahal tidak ada maksud sedikitpun keinginan mencari siapa yang bermasalah.Tetapi mencari jalan keluar hal ini salah satu bentuk usaha. Padahal aku juga belum tahu siapa yang bermasalah entah aku atau istri ku. Tetapi kenapa mamah sama istri ku seakan sudah tahu hasilnya. Seperti ada kepanikan. Ya sudahlah bikin pusing saja. Pagi itu aku dibuat terkejut dia serius pamitan mau pulang ada jadwal sidang di PA . "Maaf mas saya mau pulang kalau ada kesalahan saya minta maaf". tangan lestari ga tahu kenapa pagi itu dingin banget. Aku tak mampu berkata kata lagi yang terpikirkan oleh ku saat ini benarkah semua akan terjadi. "Ya semoga ini bukan akhir dari segalanya dan kepulanganmu memang betul ada jadwal sidang klienmu bukan sebagai alasan untuk pulang". Suara hasan terdengar keruh. "memang ada jadwal sidang saya ga bohong, ini sidang terakhir ". jelaskan ke suami, lestari menunjukkan jadwal sidangnya. " percaya ... percaya naik bus atau kereta?". tanya hasan. " bus saja yuuk mas dianter ke terminal". pinta lestari ke suami. "Ya bentar ya saya mandi dulu ... santai saja ". hasan terus pergi ke kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD