Kedatangan tamu yang mengantarkan pesanan pakaian dan tim fotografi menyelamatkan Sassy. Setelah menyapa Hamzah, mentornya dalam fotografi, Sassy menuju kamarnya. Dikeluarkannya kamera dan mempersiapkannya diatas meja. Diletakkannya kepala yang terasa berat … Semua berjalan terlalu cepat dan liar, diluar kendalinya. Sassy menghela nafas menyadari dirinya terjebak dan terseret arus semakin jauh. Bukan lelaki seperti Luke … Bukan keluarga seperti keluarga ini …. Aku ingin yang biasa saja ... ,” Ya … “ serunya saat ada yang mengetuk pintu. Menggigit bibir ketika pintu dibuka dan menemukan Luke disana ,” Ya Bang ?”
“ Dicari mama. Kamu lagi ngapain ?”
“ Nyiapin kamera.” diraihnya kamera dari atas meja.
“ Udah ada fotografernya.”
“ Pengen aja.” ditutupnya pintu ,” Ayo.”
“ Sassy ….,” Luke menahan lengannya ,” Di depan ada May bersama Rio.”
“ Lagi ?”
Luke menghela nafas ,” Mereka berdua teman masa kecilku. Kami sekolah bersama sampai kuliah, walau beda jurusan.”
“ Lalu ?”
“ Mereka saudara kembar, dan May ….”
“ Cinta pertamamu ?”
Luke menggeleng ,” Aku cinta pertamanya, dan walaupun dalam diam aku bisa merasakan rasa itu masih tersimpan. Kamu akan melihatnya nanti.”
“ Lalu …"
Luke menarik nafas, tidak tahu harus menjawab apa. Biasanya setiap ada perempuan disampingny dan akan menemui Rio dan May, tanpa basa basi dia akan memerintahkan untuk berbuat baik pada May ,” Aku tidak tahu bagaimana harus memintamu bersikap.”
“ Kalau memang mereka teman baikmu, gak ada gunanya juga menutupi peran yang kita mainkan.”
Luke menggeleng ,” Mereka akan melihat ada yang lain kali ini.” gumannya pelan … sangat pelan dan berharap Sassy tidak mendengarnya.
Sassy tersenyum ,” Sulit mengambil sikap pada seseorang yang mencintai dalam diam ? Salah satu sisi hatimu tidak ingin menyakitinya, walaupun tidak mencintainya ?”
“ Bagaimana gadis kecil yang belum pernah pacaran paham akan hal ini ?”
Sassy bersidekap, memasang wajah angkuh ,” Mungkin bakat.”
Luke tertawa kecil, mengacak rambut Sassy … tampang sombongmupun menggemaskan,
“ Lalu aku harus bagaimana ?”
“ Entahlah …. “ Luke mengangkat bahu ,” mungkin hanya perlu menjawab seperlunya, dan biarkan mereka membaca sendiri. Bagaimanapun mereka satu diantara sedikit orang yang mengenalku.”
Pada orang orang tertentu kamu peduli, sangat peduli …. Sassy menatap sekilas dan segera membuang muka begitu menyadari mata kelam itu manatapnya dalam ,” Ayo …"
Luke mengikuti langkah Sassy ,” Mereka menunggumu di ruang tengah.”
“ Sassy …. ngapain bawa kamera ? Sini cepet dandan.” Jane menyeret lengannya.
“ Dandan ? Bukannya cuma ngepas baju ?”
“ Foto non ….. “
“ Hah ? Aku mau candid pas mereka foto. Bukan ikut foto.”
“ Issssh … emang kamu pikir sempat bikin foto cantik buat kita kita saat hari H ?” Jane mendorong kepala Sassy ,” Gak usah membantah.”
Luke tertawa kecil ,” Sini, pinjem kameramu. Be a good girl.” dimainkannya kamera ,” Dapet ….” serunya puas setelah mengambil gambar gadis yang cemberut.
“ Bang ….”
“ Jane, bawa dia masuk.” dilangkahkannya kaki ke ruang tamu tempat para lelaki berkumpul ,” Apa ?” sergahnya pada Rio yang menatapnya dengan keingintahuan yang tidak ditutupi.
“ Akhirnya ….”
Luke mengibaskan tangan dan duduk di sofa tunggal sambil mempermainkan kamera. Tersenyum menemukan banyak foto keren didalamnya.
“ Sam, kamu tahu ?” Rio mengalihkan pandangannya pada Sam.
“ Tahulah …. hanya saja belum pernah melihat mereka bersama.”
“ Jerry, Rei …. ? Om .. Paman ?” kejarnya, merasa dirinya ketinggalan berita.
“ Mau tahu amat sih ?” Luke mengangkat kepalanya dari kamera ,” Lihat aja sendiri.”
Sam dan Rio bertukar pandang sambil mengangkat bahu.