Sassy mundur setelah mengambil beberapa foto, tidak ingin mengganggu fotografer yang tengah mengarahkan foto kedua calon mempelai dan keluarga untuk melengkapi foto prewedding yang sudah dilakukan oleh Cinta dan Sam beberapa minggu yang lalu.
“ Hobi fotografi ya ?”
Sassy mengangkat wajah dan tersenyum pada Rio, versi laki laki yang berwibawa dari kembarannya.
“ Boleh lihat ?”
Sassy mengulurkan kameranya. Sepasang saudara kembar disampingnya ini benar benar tidak dapat menyembunyikan aura bangsawannya, membuat orang merasa segan pada ketenangan keduanya.
May mendekat, memperhatikan foto foto yang diambil dari sisi berbeda dari fotografer resmi, tapi tidak kalah indahnya ,” Bagus, dan lebih natural.”
“ Terima kasih.”
Rio menatap kembarannya ketika mendapati foto Luke tengah tersenyum jahil ke arah kamera, dan sebuah foto lagi dimana lelaki itu menatap dalam dan lembut. Bukan ekspresi yang biasa ditampilkan oleh Luke, bahkan sejak usia remaja.
May tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sassy berlagak sibuk dengan ponselnya, menyimpan rasa tidak enak mendapati Rio dan May bertatapan tadi. Hanya sekilas, tetapi ia tahu bahwa kehadirannya telah menyakiti perempuan itu.
“ Sassy, May ….. sini.” teriakan Cinta membuat ketiganya berdiri ,” Ayo sekarang waktunya para perempuan cantik,”
Sassy dan May bertukar pandang lalu tersenyum kecil sebelum mengambil tempat.
“ Ish, kalau moto orang aja cerewet. Begitu difoto susah diarahin.” ejek Jane pada Sassy.
“ Ada orang yang dilahirkan untuk di depan ada yang untuk dibelakang kamera, non.” tukas Sassy kesal.
“ Yang laki laki silahkan gabung.” atur fotografernya ,” Laki laki disebelah Pengantin perempuan dan sebaliknya.”
Mereka berbaris mengikuti arahan lelaki gondrong yang sudah terkenal dengan hasil karyanya itu.
“ Pengantinnya silahkan duduk di kotak kayu yang di tengah itu. Yang lain bisa berpasangan di kotak kotak yang sudah disediakan.”
Sassy sengaja diam ketika Jerry menarik Jane dan Rei mambawa Reina. Ia menggeser tubuhnya mendekati Gaby dan Randy, adik adik Sam.
“ Sassy.” Luke memanggilnya, memberi tanda agar gadis itu mengikutinya.
Sassy tidak ingin melihat, tapi matanya tak bisa dicegah melirik May dan mendapati perempuan itu tengah menarik nafas walaupun disamarkan.
“ Sassy.” Rio mendorong gadis didekatnya lembut ,” Ayolah, keburu siang … panas.”
Sassy mengguman lalu mendekati Luke.
“ Bebas aja senyamannya kalian asal tidak bergeser dari tempatnya.” seru fotografer ,” Gak berarti aku dikasih punggung, Sassy ! Jangan aneh aneh.” lelaki itu mengacungkan tinjunya pada Sassy.
Sassy tergelak, menjulurkan lidah pada mentornya di kelas fotografi itu.
“ Jangan menjulurkan lidah seperti itu pada sembarang lelaki,” geram Luke lantas mendudukkan Sassy di bagian depan kotak sebelum mengambil tempat dibelakangnya ,” Sudah begini aja,” ujarnya ketika gadis itu hendak memberi jarak.
“ Ehm … bang.”
“ Sudahlah, pas berkuda juga seperti ini kan.”
Sassy mendengar tawa kecil disekitarnya ,” Ada May, Bang ….dia bukan sasaran kan ?”
“ Bisa iya bisa gak.” sahut Luke tepat di telinga Sassy, tersenyum tipis melihat gadis itu melengos.
Tanpa mereka sadari Hamzah mengabadikan interaksi keduanya dari balik kamera, sementara asistennya mengatur posisi yang lain.
Tiba tiba Sassy menatap kamera, melotot ketika menyadari apa yang dilakukan Hamzah. Hampir tiga tahun belajar padanya menjadi asisten lepasnya, Sassy mengenali ekspresi dan arah lensa kamera lelaki itu ketika tertarik pada satu object.
Hamzah terkekeh lalu mengatur ulang fokus kameranya untuk mengambil foto bersama.