Seperti Dia ....

704 Words
Sassy memilih tempat di ujung beranda belakang yang dijadikan tempat makan siang setelah fitting dan pemotretan. Dibawanya sepiring nasi dan segelas besar air putih. “ Menyendiri ?” Jane duduk disebelahnya. Sassy mengguman dengan mulut penuh. “ Salah tingkah dengan datangnya May ?” Sasy menatap Jane ,” Udah rahasia umum ya ?” Jane mengangkat bahu ,” Sudah sejak awal aku dikenalkan padanya. Dia perempuan yang baik.” “ Dan bisa mengerti Abang.” Jane tersenyum ,” Tapi rasa tidak bisa dipaksa. Abang menyayanginya sebagai teman baik, tidak lebih dari itu.” Sassy mengguman. “ Aku heran kenapa gak meminta May saja untuk menghalau para penggemarnya.” ujar Jane sambil mengunyah potongan daging. Sassy menatap perempuan yang sedang mereka bicarakan sedang bercakap cakap dengan Rio, Luke dan Jerry ,” Abang tidak ingin memanfaatkan, dan menyakitinya.” “ Kalau begitu katakan saja terus terang.” “ Bagaimana bisa mengatakan kalau May tidak melakukan apa apa untuk mendekatinya ? Sulit untuk bersikap pada orang mencintai dalam diam.” Jane menatap Sassy dalam dalam ,” Seperti Dimas mencintaimu ?” Sassy menghela nafas mengingat sahabatnya yang pada akhirnya memilih pergi ,” Akan selalu ada masa untuk memutuskan menyudahi semuanya. Dengan pergi seperti Dimas atau dengan membuka hati untuk orang lain.” “ Semoga Dimas segera membuka hatinya.” “ Sudah empat tahun, pastinya dia tidak akan terjebak selama itu.” Sassy tersenyum lembut mengingat sahabat dan teman sebangkunyanya sejak TK sampai SMA itu, “ Dia pasti bisa mengambil pelajaran dari beberapa drama dan film yg dilakoninya. “ Namanya moncer sejak dia penuh perasaan memerankan sad boy yang terperangkap friendzone.” Jane tergelak, sementara Sassy tersenyum kecut “ Eh kamu dengar rumor tentang Dimas dan Nayang ?” Sassy tertawa ,” Kalau melihat bahasa tubuhnya, rumor itu bisa dipercaya.” “ Kalau diperhatikan, kamu dan Nayang setipe.” “ Hush …. mana bisa disamakan. Nayang itu keren.” “ Aku bilang setipe. Ibaratnya sama sama sepeda dia brompton kamu bmx.” “ Sialan, sekalian aja sepeda kumbang.” Sassy mendorong Jane sampai nyaris terjungkal, lalu tergelak berdua. Luke menatap sekilas dua gadis yang tergelak di ujung beranda, tanpa menyadari Rio, May dan Jerry memperhatikannya. Beberapa kali lelaki itu melayangkan pandangan ke ujung beranda walau hanya sekilas. Jane berdiri dan meraih piring kosong ,” Anyway Busway … kamu juga memahami abang dengan cepat dan tepat.” Sassy mendengus, mengikuti Jane menumpuk gelas dan piring kotor di keranjang yang ditempatkan di dekat pintu dapur. “ Sassy !” Luke melambaikan tangannya. “ Ayo kesana.” Jane ikut mendekat dan duduk di lengan kursi yang ditempati Jerry. “ Sudah selesai makannya ?” Luke menepuk ruang kosong disampingnya. “ Sudah.” Sassy memilih tetap berdiri, menyibukkan diri memilih jeruk yang tersedia di meja. “ Siap siap aja kalau begitu, kita pergi ke kantor WO untuk run down dan layout.” “ Siap, bos .” Sassy memberi hormat dan memutar tubuhnya meninggalkan beranda. Luke ikut berdiri ,” Aku pergi dulu. Kalian tolong temani Cinta dan Sam ya, karena Jerry dan Rei bakalan pergi ngurus akomodasi keluarga besar.” “ Aman.” sahut Rio. “ Aman” sahut May bersamaan. Luke terkekeh ,” Aku masih aja takjub dengan kekompakan kalian. Atau May, kamu bisa ikut Jane sama mama test menu.” May hanya mengangguk singkat, menggigit bibirnya ketika tubuh tegap itu berbalik meninggalkan beranda. Beberapa saat kemudian, Luke dan Sassy sudah mengendarai mobil meninggalkan perkebunan. “ Tumben diam? “ Luke bersuara setelah hening untuk beberapa menit. “ Kenyang, ngantuk.” sahut Sassy sambil menguap. “ Kurang tidur semalam ?” Sassy hanya mengguman, cepat cepat memejamkan mata. Sama, aku juga ….. Luke tersenyum tipis, mengusap ujung kepala Sassy ,” Tidurlah, lumayan setengah sampai satu jam.” senyumnya melebar melihat warna merah menyebar perlahan sampai ke telinga gadis itu. Biasanya Luke tidak pernah peduli bagaimana bersikap saat ada May dan Rio, siapapun perempuan yang bersamanya saat itu. Hampir semua dari mereka tak ingin jauh darinya, bahkan beberapa merasa terancam dengan kehadiran perempuan pendiam itu. Tapi kali ini, ia bingung bagaimana harus bersikap, dan ia mengapresiasi Sassy yang sudah mengambil langkah untuk menjaga jarak, menempatkan dirinya sebagai teman dekat Cinta dan Jane.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD