Girls Talking (2)

611 Words
" Kalian dari mana ? Sudah ditunggu sarapan.” Reina mengangkat wajah sejenak sambil mengatur meja dibantu May. “ Jalan jalan,biar gak pada stress.” sahut Jane. “ Gugup, Ta ?” Cinta hanya meringis. “ Bukan cuma Cinta … ada yang terbayang bayang masa lalu.” Jane berlari menghindar ,” Aku mandi sebentar.” Cinta tersenyum, menepuk bahu Sassy ,” Ayo mandi dulu, baru sarapan.” Sassy menghela nafas ,” aku naik dulu Kak.” sedikit tersentak saat menyadari Ken duduk di ambang jendela besar bersama Rio dan Jerry , dan mata itu menatapnya dalam seakan minta penjelasan. Sassy segera keluar dari kamar begitu selesai mandi, bersamaan dengan May yang juga keluar dari kamarnya ,” Kak …" “ Jalan kemana tadi ?” “ Ke bukit sana, tempat bunga. Tapi gak terlalu jauh kok.” “ Sassy …" “ Ya ?” Sassy menatap perempuan disebelahnya memasang wajah serius. “ Besok akan ada beberapa mantan Luke yang hadir, belum lagi mereka yang mendekatinya … atas inisiatif sendiri ataupun didorong keluarganya.” “ Itu fungsinya aku disini, kak ‘” Sassy nyengir ,” menempel pada abang dan mengsir mereka. Daripada abang kabur ditengah acara.” May menggeleng ,” Gak sesederhana itu. Aku yakin beberapa dari mereka akan tetap menyangkutpatkan dengan aku … maaf.” “ Gak perlu minta maaf.” sergah Sassy cepat ,” Abang dan mama cerita beberapa dari ereka memusuhimu, merasa tersisih olehmu.” “ Aku gak melakukan apa apa … hanya berdiri di tempatku.” Sassy menggenggam tangan May, merasakan kegetiran dalam suara lembut itu. “ Bagiku itu cukup.” “ Abang tahu itu, dan bagaimanapun kakak dan Kak Rio memang punya tempat di hati abang.” May membalas genggaman tangan Sassy ,” Apa aku harus menyerah, bahkan dari sekedar diam ?” “ Kak ….” Sassy menghela nafas ,” Aku bisa memahami posisimu, begitu juga aku bisa memahami perasaan abang.” sekilas terlintas lagi sebuah nama ,” Kalau boleh aku sarankan … lakukan sesuatu. Menggantung tidak akan mendapatkan jawaban.” “ Kalau tidak seperti yang kuharapkan ?” May mengguman, ia tahu jawabannya, apalagi setelah kehadiran perempuan disampingnya ini. “ Menyesal karena tidak melakukan sesuatu terkadang lebih menyesakkan daripada gagal.” Sassy tertawa kecut ,” Walaupun aku sendiri bukan termasuk pemberani, sejauh ini aku memilih menghindar kalau sudah tidak bisa bertahan.” “ Kamu gak apa apa kalau aku mengambil langkah ?” Sassy berhenti melangkah, menatap perempuan itu ,” Sampai detik ini tidak ada apa apa antara aku dengan abang, aku sebatas mengikuti alur cerita yang dibuat Cinta dan keluarganya.” “ Jangan terlalu yakin, aku mengenal mereka semua dari dulu.” Sassy mengangkat ujung bibirnya ,” Setidaknya itu yang kupegang sampai saat ini, jadi pendapatku tidak perlu kakak perhitungkan.” May mendesah … dan sikap kamu yang seperti ini malah akan lebih meyakinkan Luke, you deserve it …. ,” Terima kasih.” Sassy tersenyum dan mereka melanjutkan langkah dalam diam lalu duduk berdampingan di meja makan. Luke menarik kursi disamping Sassy ," Setelah ini kita cek lokasi dan persiapan keluarga Sam buat besok. Doa bersama jam empat nanti, sebelum jam tiga kita sudah harus dirumah lagi." Sassy mengangguk ," Eh ..." Luke tersenyum tipis, mengambil pinggiran roti di piring Sassy ," Kamu gak suka pingirnya kan ?" Sassy hanya nyengir sambil mengoleskan selai kacang. Telinganya menangkap hembusan nafas halus dari perempuan disampingnya. Tanpa banyak bicara dihabiskannya roti dan segelas teh panas. " Ayo, kalau sudah kita berangkat sekarang." Luke meneguk kopinya sambil mempermainkan kunci. " Aku ambil tas dulu." Sassy ikut berdiri ," Duluan semuanya." pamitnya sambil meninggalkan meja besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD