Naura tidak tau sudah berapa lama dia keluar dan duduk disebuah kursi yang ada di pinggiran jalan. Dia tidak peduli karena yang pasti dia sedang membutuhkan sendiri saat ini. Lagipula kenapa dia harus peduli karena dia yakin kalau tidak akan ada yang mencarinya. Baik Nathalie, David ataupun suaminya, Ravael tidak akan ada yang sadar kalau dia sudah di mall itu sekarang. Mereka semua pasti sibuk dengan diri mereka masing-masing, jadi kalau dia kembali dia hanya akan mengganggu orang-orang itu.
“Naura bodoh, jangan menangis.” Katanya marah pada dirinya sendiri.
Diusapnya matanya kasar karena menangis tidak seharusnya dia begini menurutnya. Sejak awal David dan Ravael bukanlah orang yang memiliki kewajiban memberikan perhatian kepadanya, jadi apa yang diharapkannya?
Menghela napasnya untuk menghilangkan sesak didadanya, Naura berusaha menghilangkan perasaan ‘tersisihkan’ disana. Namun perasaan itu tetap bisa pergi karena sebenarnya jauh didalam lubuk hatinya dia masih berharap. Berharap kalau salah satu dari Nathalie, David atau Ravael menyadari ketidakberadaannya disana.
Cukup hanya menyadarinya saja, tidak perlu sampai mencarinya.
Tapi sepertinya itu hanya akan hanya menjadi harapan saja karena dia bukanlah siapa-siapa untuk ketiga orang itu.
“Kamu pikir apa yang kamu lakukan?”
Naura tersentak kaget. Kepalanya yang awalnya merunduk dia angkat untuk melihat orang yang baru saja berbicara kepadanya.
“Kak Ael,” katanya dengan nada kecil karena tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Ravael, orang yang berdiri dihadapan Naura itu tidak menjawab selain melemparkan tatapan yang lebih dingin dari tatapan pria itu yang biasanya.
“Apa yang kak Ael lakukan disini?” Suara Naura parau dan bergetar.
“Menurutmu apa?” Jawab pria itu sangat dingin.
Namun Naura tidak menyadarinya. Ah, tepatnya tidak mendengarnya karena untuk saat ini otaknya hanya mau memfokuskan semua kemampuannya pada mata Naura. Menatap Ravael untuk memastikan kalau pria itu bukanlah hanya bayangannya yang diinginkan Naura sekarang.
Lalu tanpa Naura sadari, dia bangun dari duduknya. Dengan langkah yang pelan-pelan dia berjalan pada Ravael dan ketika dia tiba dihadapan pria itu, Naura mencengkram kemeja bagian d**a suaminya itu sebelum kemudian menjatuhkan dirinya disana.
“Terimakasih sudah datang,” ucap Naura kemudian menangis.
Tangis kelegaan karena ternyata masih ada orang yang peduli dengannya dan sadar dengan keberadaannya.
BLANC
Ketika Naura dan Ravael sampai sekitar jam 7 malam di rumah mereka, membuat Naura sadar kalau dia sangat lama berkeliaran sendirian tadi. Bayangkan saja mereka pergi jam 11 pagi tadi dan mereka kembali saat langit sudah gelap.
“Jangan turun, biar aku yang membawamu naik kekamarmu.”
Ravael menghentikan Naura yang hendak membuka pintu mobil dan turun.
“Tapi aku bisa sendiri kok,” jawab Naura yang dibalas tatapan sangat datar oleh Ravael.
Kemudian tanpa banyak kata, pria itu keluar dari mobil dan langsung berjalan kearah samping mobil, tepatnya dimana Naura duduk. Kemudian dibukanya pintu mobil itu, diangkatnya nuara dari sana dan sebelum melangkah pergi, dia menutup pintu mobilnya dengan sebelah kakinya. Naura sendiri kini telah mengalungkan tangannya pada leher Ravael karena dia takut jatuh karena sebenarnya tubuhnya memang sangat lelah. Duduk seharian dibawah matahari menunggu seseorang mencarinya tanpa memasukkan apapun kedalam perutnya membuat dia memang tidak bertenaga.
“Apa kamu mau mandi?” Tanya Ravael begitu dia mendudukkan Naura diranjangnya.
Naura mengangguk karena memang badannya sudah terasa lengket dan gatal setelah berkeringat seharian diluar tadi.
“Baiklah, tunggu aku panggilkan mbok Dina.” Kata Ravael.
Namun sebelum pria itu keluar, Naura segera menahan tangan pria itu. “Tidak perlu kak, aku bisa sendiri kok.” Tawaran Ravael Naura tolak karena Naura merasa bisa untuk mandi sendiri. “Lagipula malam ini mbok Dina-kan menginap dirumah anaknya,” Naura mengingatkan Ravael soal ijin yang diberikan pria itu pada orang wanita yang bekerja di rumah mereka itu.
Ravael menghela kecil seolah baru ingat soal itu.
“Baiklah, kamu tunggu disini biar aku menyiapkan air hangat buatmu.” Ravael kemudian berlalu untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan Naura untuk mandi.
“Kamu mandi, semuanya sudah aku siapkan disana jadi kamu tidak perlu banyak bergerak. kalau masih butuh sesuatu aku diluar, kamu panggil saja.” Ucap Ravael kemudian keluar dari kamar mandi setelah Naura benar-benar berada posisi aman di kamar mandi.
‘Kak David sudah bersama Nathalie sekarang, bukankah sudah seharusnya kamu menghilangkan semua perasaanmu padanya?’ Sambil membersihkan dirinya Naura memikirkan kembali semua yang terjadi hari ini. ‘Kamu tidak ingin menyakiti Nathalie-kan?’ Lanjutnya bermonolog dalam hatinya.
Huffttt…
Naura menghela napasnya berat, ditatapnya air tempatnya berendam saat ini. “Kak Ael,” bisiknya tanpa sadar. Dan ketika dia sadar nama yang keluar dari mulutnya, Naura segera menggelengkan kepalanya kuat. “David saja tidak pantas untukmu, apalagi kak Ravael yang jelas lebih segalanya dari David. Kalau bukan karena kesalahannya malam itu dan menghadirkan sesuatu dalam perutmu, mungkin kamu bahkan tidak memiliki kesempatan dengannya.” Olok Naura pada dirinya dengan suara yang jauh lebih pelan setelah tadi nama Ael keluar dari mulutnya setelah pikiran dia yang tidak mungkin lagi bisa bersama David.
“Lagipula, siapa kamu dibandingkan Patricia?” Tanya Naura pada dirinya.
Dan sebagai jawabannya Naura hanya bisa memeluk dirinya sendiri karena dia sadar kalau pada akhirnya dia sendiri. David millik Nathalie dan Ravael milik Patricia.
BLANC
“Apakah kamu sudah memakan makananmu dan meminum s**u yang aku berikan padamu?” Tanya Ravael yang tampak terlihat segar karena rambut basahnya.
Jadi ketika Naura mandi tadi, Ravael menyiapkannya makan malam untuk mereka. Dan begitu Naura selesai dengan mandinya dia segera makan malam. Sedangkan Ravael, pria itu memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum kembali ke kamar Naura.
Selalu seperti itu. Ravael selalu mengutamakan Naura dari dirinya
Kepala Naura mengangguk, “Sudah. Itu piring dan gelasnya.” Dia lalu menunjuk gelas yang ada di nakas sebelah ranjangnya.
“Apa kamu membutuhkan sesuatu lagi?” Tanya Ravael lagi sambil mengambil gelas dan piring bekas Naura untuk disimpan kembali ke dapur.
“Tidak kak.” Jawab Naura tersenyum kecil.
Ravael mengangguk kecil, bersiap untuk meninggalkan kamar itu. “Baiklah kalau begitu, sebaiknya sekarang kamu segera istirahat,” pesan Ravael.
...
“Kak Ael,” panggil Naura pelan terdengar ragu.
Ravael yang sudah berada di depan pintu memutarkan tubuhnya, mengangkat sedikit alis kanannya sebagai bentuk ‘apa?’ darinya.
Bibir Naura terkatup rapat, terlalu takut untuk mengatakan apa maunya. Namun dia memberanikan dirinya karena dia sudah memutuskan untuk berusaha mempertahankan sesuatu yang sudah ada ditangannya. Kalaupun suatu saat sesuatu itu harus lepas, setidaknya dia sudah berusaha untuk mempertahankannya.
Naura tau kalau pemikirannya ini egois, tapi bolehkan untuk sekali saja dia memikirkan dirinya sendiri?
“Malam ini…” Suara Naura begitu pelan hingga terdengar seperti cicitan. Walau begitu Naura yakin Ravael bisa mendengarnya. “Bisakah kak Ravael menemaniku?” Tanya Naura dengan kepala tertunduk.
...
Tidak ada jawaban dari Ravael, pria itu diam dan tidak melakukan apapun setelah Naura mengucapkan permintaannya. Membuat Naura merasa gelisah dan bodoh karena sudah mengucapkan permintaannya yang tidak terduga dan tiba-tiba.
Dia sudah akan mengatakan kepada Ravael kalau dia hanya bercanda, tapi… “Aku antar ini dulu, nanti aku kembali.” Kata Ravael meninggalkan Naura yang terduduk kaku di atas ranjangnya.
BLANC