BLANC 10

1611 Words
Perasaan Naura gelisah. Sangat gelisah lebih tepatnya dan dia tidak tau hal itu kenapa karena seingatnya tidak ada keadaan yang perlu membuatnya perlu merasa demikian. Sialnya dia sudah mencoba menghilangkannya dengan cara tidur, tapi tubuh dan pikirannya tidak mau bekerja sama. Keduanya bagian dari tubuh Naura itu seolah bekerja sama membuatnya untuk tetap terjaga, padahal dia sudah berbaring sejak jam 8 malam tadi. “Ssshhh...” Desis Naura bukan karena kesakitan, tapi karena sebal dengan dirinya sendiri karena tidak kunjung bisa menutup matanya. Kemudian diusapnya perutnya yang sudah sangat besar karena saat ini kandungannya sudah akan memasuki bulan kedelapan. “Sayang, tidur ya. Papa mungkin nggak pulang malam ini.” Bujuknya pada kedua anak dalam perutnya karena salah satu alsan dia tidak bisa tidur adalah karena bayi kembar dalam kandungannya. Namun kedua bayinya itu tidak mau mendengar Naura, alih-alih tenang keduanya malah semakin aktif bergerak. Membuat Naura mau tidak mau bangkit dari posisi berbaringnya untuk mulai menenangkan keduanya dengan berjalan-jalan kecil di kamar Ravael. Ya, saat ini Naura berada di kamar Ravael karena sejak malam dimana Naura meminta Ravael untuk menemaninya tidur, keduanya mulai tidur bersama dari saat itu. Awalnya mereka memang menggunakan kamar Naura sebagai kamar bersama, tapi karena Naura sadar kalau sebenarnya kamar utama adalah kamar Ravael, makanya dia meminta untuk pindah kesana. Kalau menunggu suaminya itu yang meminta pindah, mereka tidak akan pindah-pindah karena hal yang baru disadari Naura kalau pria itu selalu mengikuti apapun mau Naura meski hal itu sebenarnya tidak nyaman buat Ravael. “Hari ini mungkin aku pulang terlambat atau malah tidak pulang. Jadi kalau kamu butuh sesuatu kamu minta pada mbak Dina ya.” Begitu pesan Ravael tadi sore kepada Naura yang langsung dia iyakan agar Ravael tidak perlu memikirkannya ketika menjalani prakteknya. Walau sebenarnya Naura sudah menduga kalau dia tidak akan bisa tidur tanpa pria itu bersamanya. Memang mereka baru tidur bersama hanya dalam beberapa bulan ini, tapi tetap saja keberadaan pria itu selalu mampu memberikannya ketenangan. Memang aneh rasanya kalau Naura bilang begitu mengingat Ravael adalah orang yang memperkosanya. Tapi memang begitulah kenyataannya, suaminya itu selalu bisa memberikannya rasa tenang kalau ada didekatnya. Entahlah mungkin ini karena kehamilannya, atau karena Naura yang menyadari kalau Ravael-lah yang selalu ada setiap kali dia ada dalam masalah. ‘Apa mungkin karena kak Ravael nggak pulang ya aku merasa gelisah begini?’ Tanya Naura dalam hatinya, tapi kepalanya segera menggeleng sebagai jawaban karena dia tau kalau itu bukan alasannya. Minggu lalu Ravael juga tidak pulang masalahnya, tapi dia tidak segelisah ini meski dia juga kesulitan tidur malam itu. Masih dengan kaki yang berjalan mondar-mandir di dalam kamar Ravael, Naura mengingat kembali hari pertama dia dan Ravael tidur bersama. Kalau kalian pikir dia bisa langsung tidur dengan tenang dan nyaman, kalian salah karena saat itu Naura malah tidak bisa tidur. Bukan karena dia berpikir kalau Ravael akan melakukan apa-apa padanya, tapi karena dia teramat gugup. Jantungnya terus berdetak dengan cepat, sehingga untuk menutup matanyapun dia tidak bisa.  Bicara soal Ravael yang dia percaya tidak akan melakukan apa-apa padanya, entah kenapa dia bisa memiliki pemikiran itu. Tapi yang pasti Naura percaya kalau Ravael tidak akan menyentuhnya lagi selama dia tidak melakukan sesuatu yang reckless dan mengundang. Intinya ada di Naura selama dia tidak mematik, maka Ravael tidak akan terpatik. NNNGGG...NNNGGG...BRUMMM... Bunyi mesin mobil yang masuk pekarang rumahnya menarik perhatiannya. Lalu dengan langkah yang hati-hati dia berjalan ke arah jendela kaca kamar, senyum langsung mengembang di wajahnya saa dilihatnya Ravael bergerak dari benda beroda empat itu. Saat dilihatnya Ravael membuka pintu rumah mereka, dia kembali ke ranjang mereka. “Kamu belum tidur?” Adalah pertanyaan pertama dari Ravael ketika pria itu membuka pintu kamarnya dan mendapati Naura masih dalam keadaan duduk. “Iya, aku tidak bisa tidur.” Jawab Naura pelan. Ravael meletakkan tas dan jas putihnya ke kursi terdekat dengannya, kemudian dia mengecek suhu tubuh Naura dengan meletakkan telapak tangannya di kening Naura. “Apa kamu tidak enak badan?” Tanya Ravael ingin memastikan Naura baik-baik saja setelah merasa kalau suhu tubuh Naura normal. “Tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Naura tidak ingin Ravael khawatir. Ravael menegakkan tubuhnya, kembali menatap Naura. “Kamu menginginkan sesuatu?” Lanjut Ravael bertanya yang lagi-lagi dijawab Naura dengan gelengan. “Baiklah kalau begitu aku mandi dulu,” kata Ravael seolah mengerti kalau menyuruh Naura tidurpun tidak akan ada gunanya. Saat Ravael akan mengambil pakaiannya, Naura menghentikannya. Dia tau kalau kalau apa yang akan dilakukannya akan menimbulkan tanya buat Ravael, tapi dia ingin mencobanya. Bukankah kalau ingin usaha dan memperbaiki harus dilakukan total agar hasilnya baik? “Kak biar aku yang menyiapkannya,” kata Naura memaksudkan pakaian tidur yang akan digunakan suaminya itu. ... “Tidak usah, biar aku yang melakukannya. Sebaiknya kamu istirahat karena ini sudah semakin larut” Tolak Ravael langsung mengambil sepasang pakaian yang akan dia gunakan. Gigi Naura langsung menggigit bibirnya, menahan agar air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Menuruti apa maunya Ravael dia menaikkan kakinya dan berbaring menyamping, selain karena memang itu posisi yang nyaman itu kehamilan yang sudah besar, Naura juga ingin menyembunyikan tangisnya. Naura tau kalau dia bersikap menyebalkan saat ini, menangis karena Ravael menolak permintaannya, tapi apa yang bisa dia lakukan karena perasaannya memang sangat sensitive sejak kehamilannya. “Ada apa? Apa ada sesuatu yang sakit?” Sepertinya Naura terlalu menghayati kesedihan yang tidak jelasnya hingga dia tau kalau Ravael sudah selesai mandi bahkan sudah berada didekatnya. Menyembunyikan matanya yang basah dengan lengannya Naura menggelengkan kepalanya. “Nggak. Aku tidak apa-apa,” jawabnya yang jelas tidak akan dipercaya oleh Ravael. Ayolah tadi dia sudah melihat mata Naura basah dan sekarang Naura menjawabnya dengan nada serak bergetar. Rasanya hanya orang bodoh yang percaya kebohongan Naura ini dan Ravael bukanlah orang bodoh pastinya. “Kamu tidak berpikir aku akan mempercayai kamu tidak apa-apakan Ra?” Lihatkan, Ravael tidak akan percaya dengan kebohongannya. Naura tidak menjawab, masih dengan posisi menyamping dan membelakangi Ravael yang memang tidur dipinggiran sisi ranjangnya. Pria itu tampaknya tidak berniat pergi dari sana sampai Naura mengatakan kenapa dia menangis. Makanya Naura memutuskan untuk jujur karena dia sendiri bingung dengan dirinya yang teramat cengeng saat ini. Bukannya Naura bilang dia tidak sensitive dan cengeng dia lahir dengan sifat itu, hanya saja untuk sekarang tingkat cengeng dan sensitive-nya memang kelewat batas. Seolah tau apa mau Naura yang telah meneletangkan tubuhnya, Ravael membantu Naura untuk duduk. Dan setelah dia duduk dengan nyaman dan baik suaminya itu menancapkan seluruh perhatiannya pada Naura. “Kak Ravael tau, aku tadi ingin menyiapkan pakaian untuk kak Ael.” Kata Naura mulai berbicara. “Iya tau. Tapi kamu saat ini dalam kondisi yang bisa bergerak bebas, jadi tidak mungkin aku membiarkanmu melakukannya, saat aku masih bisa melakukannya sendiri.” Jawab Ravael yang jujur saja membuat Naura sedikit kesal. Makanya matanya kembali memanas, air mata juga mulai menumpuk di kelopak matanya. “Tapi aku ingin melakukannya. Aku ingin berusaha memperbaiki semuanya, aku mau jadi istri yang baik buat kak Ael.” Jawab Naura terisak sambil menyembunyikan wajahnya dari Ravael karena sebenarnya dia malu dengan sikap dan perkataannya. Kalau sampai Ravael berpikir kalau dia merepotkan, Naura tidak akan terkejut sama sekali karena Ravael adalah pria yang simple dan to the point. Sampai Naura mendengar helaan napas Ravael. “Dengar Naura,” kata pria itu tidak berlanjut karena Naura tetap menunduk. Padahal Naura paling tau kalau Ravael tidak suka berbicara pada seseorang jika lawan bicaranya tidak melihat langsung padanya. Mungkin karena tidak sabar dengan keras kepalanya Naura yang masih saja ingin menghindar, akhirnya Ravael melakukan sesuatu. Pria itu memegang leher Naura, lalu mengusap lembut samping leher Naura dengan ibu jarinya. “Kamu tidak perlu memperbaiki apapun karena kamu tidak merusak apapun,” ucap Ravael. “Kalaupun ada orang disini yang harus memperbaiki, itu harusnya aku. Itu makanya aku berusaha agar kamu dan anak-anak kita mendapat yang terbaik karena aku ingin cara aku memperbaiki ini tidak membuat siapapun nantinya merasa menyesal, sia-sia atau malah semakin tersakiti.” Lanjut Ravael panjang. ... “Lagipula untuk menjadi istri yang baik buatku, kamu hanya perlu menjaga diri dan anak-anak kita dengan baik.” Lanjut Ravael sambil tersenyum sangat tipis. ... Pernahkah Naura bilang ini sebelumnya? Mata Ravael adalah mata terindah sekaligus menakutkan yang pernah Naura lihat dan tau sebelumnya. Jika dilihat sekilas, maka orang-orang akan berpikir mata Ravael berwarna hitam gelap, namun jika benar-benar memperhatikannya, kamu bisa melihat kalau sebenarnya warna bola mata itu warna biru yang sangat gelap. Bola mata yang mampu menyembunyikan apapun dengan emosi sipemilik dengan selalu menunjukkan ketenangan. Ketenangan yang sebenarnya sangat mengerikan karena sekalinya terusik, dia akan meluap dan menghancurkan orang yang menjadi sasaran emosi dari pria itu. Naura sudah melihat dan merasakannya dan dia tidak mau mengulangi semuanya lagi. Karena sejujurnya dari malam itu, bukan sentuhan Ravael yang membuatnya ketakutan hingga tidak ingin melihat pria itu lagi, tapi tatapannya. Tatapan yang sangat dingin dan penuh kemarahan. “Jika aku meminta kak Ael untuk menjadikan aku istri kak Ael seutuhnya,” Naura berkata tanpa berpikir dan menyadarinya sama sekali. “Apakah kak Ael mau?” ... ... Tidak kata yang terucap dari mulut Ravael saat itu karena setelah menatap Naura lama yang dilakukan pria itu adalah mendekatkan wajahnya dengan sangat pelan pada wajah Naura. Dan saat bibir mereka akan bertemu, Ravael yang telah menelengkan sedikit kepalanya menatap Naura lebih dalam dari sebelumnya. Naura tidak menjawab, dia hanya diam perlahan-lahan memejamkan matanya sebagai tanda dia menerima apapun yang akan dilakukan Ravael kepadanya. Malam itu Naura melupakan mimpi buruknya, ketakutan, kemarahan dan trauma yang pernah tercipta karena Ravael. Malam itu Ravael mampu membuatnya membuang bayangan buruk yang selalu menghantuinya selama ini. Semua ciuman, sentuhan dan perlakuan Ravael pada tubuhnya malam ini mampu membuat Naura merasa kalau dia sudah melakukan hal yang benar. BLANC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD