Bohong rasanya kalau Naura bilang kalau saat ini kondisi hatinya baik-baik saja. Nyatanya perasaannya tidak bisa tenang sama sekali sejak kemarin, tepatnya setelah apa yang Kevin sampaikan kepadanya. Seberapa besarpun usahanya untuk berpikiran positif tetap saja hatinya selalu meneriakkan kalau dialah pihak yang salah dan seharusnya mengalah disini.
“Hufffttt...” Naura menghembuskan napasnya kuat lalu bangun dari duduknya saat didengarnya ada suara telepon memanggil.
Tapi dia kalah cepat dari Dina karena sebelum dia sampai dimana telepon berada, Dina sudah terlebih dahulu mengangkatnya. Kehamilannya yang sudah membesar memang membuat susah untuk bergerak cepat, belum lagi dia harus hati-hati.
“Berkas di map warna merah ya tuan?” Kata Dina pada orang diseberang sana yang cukup untuk Naura menebak kalau Ravael lah yang sedang menelepon. “Baik tuan, akan saya antarkan.” Kata Dina lagi sebelum akhirnya mengembalikan gagang telepon ketempatnya.
“Mbak, teleponnya dari kak Ael ya?” Tanya Naura yang sudah berdiri tidak jauh dari Dina.
“Eh non Naura, kenapa ada disitu?” Dina balas bertanya karena mungkin tidak menyadari keberadaannya yang memang baru berdiri di belakang wanita paruh baya itu tadi.
“Baru aja kok mbak,” jawab Naura. “Tadi aku mau angkat teleponnya, tapi karena berat dan harus hati-hati jadinya keduluan ama mbak Dina.”
“Ohhh…” Jawab Dina sambil menganggukkan kepalanya. “Iya non, tadi itu dari tuan Ravael. Tuan minta berkasnya yang tertinggal untuk diantarkan.” Jelas Dina kemudian bersiap untuk mengambil berkas yang dimaksud Ravael.
Tapi sebelum wanita paruh baya itu melakukannya, pergerakannya segera ditahan oleh Naura.
“Mbak Dina, kalau aku saja yang mengantarkannya bagaimana?” Tawar Naura berharap dikabulkan pekerja dirumahnya itu. Karena Naura tidak ingin berdiam di rumah yang membuat dia diserang pikiran-pikiran yang membuatnya kalut dan galau.
Wajah Dina meringis, tampak tidak setuju dengan permintaan Naura. “Enggg sebaiknya jangan deh mbak. Aku takut terjadi sesuatu pada mbak Naura nanti kalau telalu capek.”
Kepala Naura menggeleng.
“Aku nggak papa kok mbak, aku nggak bakal kecapean. Kan perginya bakal naik taksi,” Terang Naura menunjukkan melalui wajahnya kalau dia benar-benar ingin melakukannya.
Dina terlihat dilemma sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. “Tapi non Naura ijin dulu sama tuan ya,” kata Dina yang dibalas Naura dengan anggukan cepat.
“Ya udah, kalau begitu non Naura siap-siap gih, biar aku mengambilkan berkas yang diminta tuan.” Saran Dina lalu pergi ke ruang kerja Ravael dan menyiapkan berkas yang Ravael tadi minta antarkan kepadanya.
Naura sendiri, dia sudah ke kamar untuk mandi dan siap-siap untuk pergi ke rumah sakit tempat Ravael sedang melakukan praktek. Kali ini dia ingin memastikan kalau dia tidak akan mempermalukan Ravael lagi seperti terakhir kali dia pergi kesana. Beruntung cek kehamilan Naura dilakukan di rumah sakit milik keluarga Ravael, jadi Naura tidak perlu merasa malu setelah insiden muntahnya di tempat Ravael saat itu.
“Non Naura, taksinya udah di siap.”
Tepat ketika Naura selesai dengan riasan terakhirnya, suara Dina memanggilnya. Dengan gerakan yang sedikit lambat dia keluar dan mengambil map yang harus dia bawa pada Ravael.
“Hanya ini ajakan mbok?” Tanya Naura memastikan.
“Iya non.” Jawab Dina sembari memberikan map serta botol minuman untuk dibawa Naura sebagai jaga-jaga. “Mbak Naura pergi aja, biar nanti aku menghubungi tuan Ravael lagi buat kasih tau non Naura sudah jalan.”
“Baiklah mbok. Kalau begitu aku pergi dulu ya,” pamit Naura lalu naik ke taksi yang akan membawanya ke rumah sakit tempat Ravael bekerja.
25 Menit kemudian Naura tiba di tempat tujuannya. Awalnya dia tampak ragu untuk langsung masuk, tapi karena dia ingat pesan Dina kalau map itu sangat dibutuhkan Ravael secepatnya, Naura segera memberanikan dirinya untuk memasuki rumah sakit itu. Tapi ketika dia masih berada di koridor rumah sakit, dia melihat sesorang yang tampak familiar disana.
“Mama?” Tanyanya lirih tidak yakin dengan penglihatannya sendiri karena setaunya Theresia sedang berada di Jerman.
Tanpa disadarinya dia sudah berjalan mengikuti wanita yang mirip dengan tante angkatnya yang telah berganti status menjadi ibu mertunya itu. Naura sudah akan memanggil orang itu untuk memastikan kalau matanya memang tidak salah melihat, namun terhenti ketika dia dilihatnya wanita itu memasuki salah satu ruangan rawat inap.
“Apa mungkin aku salah lihat ya?”
Kini Naura tidak yakin kalau yang dilihatnya itu adalah Theresia, meski begitu dia tetap berjalan mendekat ke ruangan dimana wanita tadi masuk. Setidaknya kalaupun Naura salah dia bisa minta maaf dan langsung pergi dari sana yang penting dia memastikan dulu kalau itu bukan Theresia mengingat kondisi Theresia belum sepenuhnya baik dari apa yang didengarnya dari Ravael.
Entah Naura harus merasa beruntung atau tidak saat dia mendekat ke ruangan dimana wanita tadi masuk pintunya dalam keadaan terbuka.
“Apa maksud kamu akan mengatakan semuanya pada Naura?”
Langkah Naura yang kini hanya berjarak 3 langkah dari pintu ruangan yang terbuka itu terhenti. Kini dia sangat yakin kalau wanita tadi adalah Theresia karena dia sangat mengenal suara tantenya itu. Dan lagi ada namanya disebut dari ruangan itu, jadi ini tidak mungkin sebuah kebetulan saja. Sekarang yang jadi pertanyaan Naura adalah siapa lawan bicara Theresia karena sepertinya tante sekaligus mertuanya itu sangat marah.
“Iya, aku akan mengatakan semuanya pada Naura agar dia tau kalau sejak awal hidupnya itu penuh settingan. Dan sudah seharusnya dia mengembalikan apa yang bukan menjadi miliknya.”
“PATRICIA!”
Tubuh Naura mendadak kaku. Tanpa sadar dia mendekap erat map Ravael yang sedari tadi sudah ada dalam pelukannya. Bukan karena suara kuat penuh kemarahan yang membuatnya begini, tapi tentang kenyataan bahwa dialah yang jadi topik pembicaraan di dalam sana dan Patricia-lah lawan bicara Theresia. Mendudukkan dirinya di kursi ketiga dari pintu ruangan tempat Patricia dan Theresia bicara, Naura mencoba menenangkan dirinya. Berharap apa yang akan dibicarakan kedua orang dalam ruangan itu tidak akan mengguncangnya.
“Kenapa tante terlihat marah dan terkejut? Bukankah tante dalang dari semua yang terjadi dihidup Naura, tapi menjadikan Ravael sebagai korban dengan menyuruhnya bertanggung jawab atas apa yang tidak diperbuatnya. Apa tante pikir aku tidak tau kalau tante adalah pihak yang bertanggung jawab atas kematian orang tua Naura? Itukan alasan tante mengangkat dia dari panti asuhan? Tante merasa bersalah dan perlu bertanggung jawab untuk dia. Itu jugalah kenapa tante ingin Ravael menikah dengan Naura.”
Berbeda dengan Theresia yang menggunakan nada yang tinggi sebagai tanda kemarahannya, Patricia tetap dengan nada tenangnya. Sedangkan Naura yang ada di luar sudah ada dalam keadaan terguncang. Jantung Naura berdetak sangat kencang, napasnya juga terasa sesak dan tatapannya terlihat kosong.
“Sebagai orang yang sangat tau kondisi emosi Ravael, tante tau harus melakukan apa untuk memenuhi keinginan tante itu. Dan akupun cukup bodoh untuk ikut termakan dalam rencana tante, hingga akhirnya aku kehilangan Ravael.”
Tidak ada balasan dari Theresia, seolah dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Patricia. Naura yang sedari tadi duduk diluar mendengarkan semua yang dikatakan Patricia, berdiri dari duduknya. Dia berniat masuk ke ruangan itu untuk memastikan apakah yang diucapkan oleh mantan Ravael itu benar atau tidak. Kalau memang benar itu artinya dia adalah orang yang paling bodoh karena layaknya boneka dia sudah dipermainkan.
Namun langkah Naura berhenti saat dia kembali mendengar Patricia kembali bersuara.
“Tapi sekarang aku akan mengambil Ravael kembali.” Kata wanita itu penuh penekanan. “Dan tante tidak akan melakukan apapun karena sekarang aku memiliki sesuatu yang harus ditanggung jawabi oleh Ravael.”
“Apa maksudmu dengan tanggung jawab?” Akhirnya Theresia mengeluarkan suaranya.
Patricia tidak langsung memberikan jawabannya dan Naura tidak sabar untuk menunggu jawabannya, itulah kenapa akhirnya dia melangkah ke depan pintu ruangan Patricia. Dan saat itu juga Naura merasa apa yang dilakukannya salah karena tepat dia berada di depan pintu ruangan yang terbuka itu, dia langsung behadapan dengan Patricia. Meski ada Theresia diantara mereka, dia bisa melihat Patricia memberikan seringaian dinginnya pada Naura.
“Bayi ini, bayi ini adalah milik Ravael.” Jawab Patricia kemudian tersenyum dengan tatapan kini tertuju pada Naura.
Saat itu Naura merasa dunianya runtuh. Semuanya terasa gelap dan kosong buatnya, hingga akhirnya dia rasa tubuhnya oleng hingga akhirnya terjatuh karena tidak sadarkan diri.
BLANC
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Ravael memasuki daerah ibu dan anak di rumah sakit tempatnya bekerja. Kalau hanya dilihat sekilas Ravael terlihat tenang seperti pribadi pria itu yang dikenal orang-orang yang mengenalnya. Tapi kalau dilihat dengan seksama, ada gurat khawatir yang tidak bisa disembunyikan pria itu pada matanya.
“Ravael, cepat kamu datang kesini. Naura sepertinya harus melahirkan hari ini.”
Entah bagaimana ceritanya mamanya bisa ada dirumah sakitnya hari ini, lalu dengan suara bergetar menahan tangis pula dia memberitahukan keadaan Naura. Ravael yang saat itu bersama papanya di rumah sakit milik mereka tentu langsung kembali secepat mungkin ke rumah sakit tempatnya praktek.
“Ma, Naura dimana ma?” Tanya Ravael begitu dia menemukan mamanya terduduk sambil menangis didepan ruang bersalin.
Theresia menengadah, berdiri lalu memeluk Ravael yang dibalas Ravael dengan balik memeluk tubuh sang mama. “Maafin mama Ael...” kata Theresia terus menangis. “Ini semua karena mama, seharusnya mama tau disini. Tapi malah membuatnya men…”
“Ma, udah ma. Ini bukan salah mama, Ael yang salah karena teledor memperbolehkan Naura bepergian saat kehamilannya sudah sebesar ini.” Ravael coba menenangkan mamanya tanpa tau apa yang sebenarnya penyebab Naura kenapa sampai begini.
Sedangkan Theresia masih tergugu dalam pelukan Ravael menangis, menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi ada Naura. Tidak pernah terpikir olehnya kalau Naura akan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar. Dia tidak mampu mengatakan apapun pada Ravael untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Ya udah mama, tenang dulu. Biar Ael masuk ke dalam buat nemani Naura lahiran.”
Ravael tidak menyembunyikan kekhawatirannya sama sekali dihadapan sang mama karena meskipun dia terlihat tenang, dia tau mamanya tau apa yang dia rasakan.
Melepaskan pelukannya dari mamanya, Ravael akan berjalan ke ruang tempat dimana Naura akan melahirkan buah hati mereka. Tapi belum lagi dia melangkah, Theresia kembeli menarik tangannya hingga membuatnya harus menoleh kembali pada sang mama.
“Kenapa ma?” Tanya Ravael dengan sabar meski dia ingin sekali segera bisa pergi menemani Naura.
Theresia tidak menjawab, dia malah menunduk dan masih saja menangis.
“Ma, Ael harus masuk ke dalam. Ael udah janji buat menemani Naura saat persalinan.” Ravael berusaha melepaskan cekalan Theresia ditangannya. Namun cekalan itu terasa semakin kuat mencekalnya, hingga Ravael benar-benar mengarahkan perhatiannya sepenuhnya pada mamanya.
“Ada apa ma?” Tanya Ravael akhirnya menyadari ada yang salah pada mamanya.
Lagi-lagi Theresia hanya diam sambil menangis sambil tertunduk dan memindahkan cekalannya menjadi genggaman di telapak tangan Ravael. Kemudian didengarnya mamanya menarik napasnya lalu menghembuskannya, sebagai cara untuk menenangkan dirinya.
Dan begitu mamanya tenang, “Naura tidak mau kamu masuk kedalam.” Theresia berkata dengan sangat pelan.
“Ya?”
“Naura tidak ingin bertemu lagi dengan kamu.” Lanjut Theresia sambil menyembunyikan wajahnya pada tubuh Ravael. Kemudian dia melanjutkan perkataannya lagi dengan nada yang lebih kecil, “dia sudah tau semua. Naura sudah tau kalau mama adalah penyebab kehancuran dari hidupnya.”
Perkataan Theresia tidak jelas, tapi dia tau Ravael pasti tau apa yang dia maksud. Terbukti dari bagaimana sekarang tubuh Ravael yang diam tidak bergerak dan berusaha untuk masuk lagi ke dalam ruangan dimana Naura berada.
BLANC
Ketika Naura bangun dari keadaan tidak sadarnya yang dia lakukan hanya menatap kosong pada langit-langit ruangan tempatnya dirawat. Dia tau kenapa dia berakhir disini karena kilasan kejadian dari mulai dia berangkat dari rumahnya tadi, sampai kemudian dia melahirkan bayi kembarnya masih terekam jelas diingatannya.
Padahal akan lebih baik rasanya kalau dia lupa ingatan atau malah mati saja karena rasanya dia tidak sanggup lagi hidup setelah tau apa yang telah Theresia dan Ravael lakukan kepadanya. Entah kenapa Tuhan seolah ingin menyiksanya dengan hidup lebih lama lagi, padahal jelas sekali dia mengingat kalau dia menyelipkan doa agar Tuhan menjemputnya saja ketika dia melahirkan kedua putranya, Karena jelas sekali dia mendengar dokter mengatakan kalau kondisinya sangat lemah saat persalinan tadi.
Meski tubuhnya rasanya sangat sakit dan rasanya ingin rontok, Naura mengabaikannya karena apa yang ada didalam hatinya jauh lebih menyakitkan dan menyesakkan. Tidak pernah terpikirkan kalau setelah pemerkosaan yang dilakukan Ravael kepadanya, dia akan bisa merasakan sesuatu yang lebih sakit lagi. Tapi ternyata kenyataan berkata lain karena hari ini dia merasa perasaan jauh yang lebih menyakitkan.
Sakit yang dirasakannya kali ini sangat sakit rasanya, hingga dia tidak yakin kalau dia akan bisa sembuh nantinya. Ah tidak, dia tidak akan berkata apa dia akan sembuh atau tidak lagi karena yang dia rasa hatinya kini telah mati setelah mengetahui penghianatan dari orang-orang yang dipikirnya peduli dan menyayanginya secara tulus. Orang yang telah dianggapnya melebihi keluarga kandungnya karena dia pikir kasih yang mereka berikan begitu tulus.
Kriett...
Naura mendengar suara pintu ruangannya dibuka oleh seseorang. Namun dia tidak peduli pada siapapun orang yang membuka pintu itu, tatapannya tetap dia tujukan pada langit-langit ruang rawat inapnya. Bahkan sampai orang yang membuka pintu itu didengarnya menggeser kursi jaga dan duduk disana, Naura tetap bergeming.
“Naura,” panggil orang itu sambil menggenggam erat tangan Naura. “Maaf,” lanjut pemilik suara tenang itu lagi sambil mengecup punggung tangan Naura.
“…” Naura tidak membalas.
Tidak hanya itu, tingkahnyapun seolah menunjukkan kalau dia tidak menganggap ada orang yang bersamanya saat ini. Bahkan ketika pemilik suara itu terdengar lemah dan bergetar, Naura tidak peduli padahal itu adalah sesuatu yang tidak pernah ditunjukkan orang itu kepada siapapun.
“Apakah yang dikatakan Patricia itu benar?” Tanya Naura dengan suara serak dan mata yang masih menatap kosong pada tempat yang sama.
“...”
Dan Naura sudah tau apa jawabannya dari diamnya Ravael itu.
Saat itu juga Naura merasa ada yang berubah dalam hati dan dirinya. Ada sosok lain yang tidak pernah dia sangka ada dalam dirinya. Suatu sosok yang dingin dan kejam. Sosok yang seharusnya tidak pernah dibuatnya keluar karena hanya membuatnya mengambil keputusan dan melakukan sesuatu yang akan membuatnya menyesal seumur hidupnya.
Seandainya dia menggunakan sedikit saja akalnya saat itu untuk berpikir dan meruntut kejadian yang akhirnya membuat dia dan Ravael bersama, dia akan tau kalau ada yang salah dengan apa yang dikatakan Patricia. Sayangnya Naura terlalu dikendalikan rasa marah dan cemburunya, hingga mengambil keputusan yang amat teramat fatal
“Kak Ravael masih ingat dengan janji kak Ravael sebelum kita menikah yang akan mengabulkan semua mauku?” Dengan nada dingin dan tatapan kosong yang kini tertuju pada Ravael Naura bicara. “Sekarang aku ingin kak Ravael menepati itu. Aku mau kak Ravael untuk tidak pernah memperdulikan Dathan dan Nathan. Perlakukan mereka seperti orang lain karena sejak awal kehadiran mereka tidak diharapkan siapapun.”
“Naura, aku…”
“Lakukan atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih gila lagi nantinya.”
Naura tau kalau dia bertingkah seperti seorang psikopat sekarang yang akan melakukan apapun hanya demi melihat penderitaan Ravael. Dan menjauhkan pria itu dari anaknya adalah sesuatu yang terpikirkan Naura paling menyiksa Ravael. Karena meskipun Ravael terlihat tidak pernah menunjukkannya, dia tau pria itu sangat menyayangi kedua putra mereka bahkan sejak mereka masih dalam bentuk janin.