15 Tahun kemudian…
“Tidak…” Suara Naura merintih pelan. “Jangan aku mohon…” lanjutnya lagi kini dengan rintihan yang memohon lebih.
Tapi sepertinya rintihan permohonannya itu tidak didengar orang yang dimintainya mohon, hingga akhirnya Naura berteriak.
“TOLONG JANGAN!!! AKU MOHON JANGAN!!!”
Dan,
“Naura… Naura…”
Mata Naura terbuka nyalang, napasnya berhembus kuat terdengar memburu, sedangkan keringatnya terasa dingin membasahi tubuhnya. Mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya Naura lalu sadar kalau yang baru terjadi kepadanya bukanlah sesuatu yang nyata. Kemudian dengan memejamkan matanya dan menenangkan napasnya Naura mencoba untuk menenangkan dirinya. Mensugesti dalam dirinya kalau apa yang dalam mimpinya tadi hanyalah mimpi yang tidak berubah jadi kenyataan.
“Apa kamu mengalami mimpi buruk lagi?” Tanya pria dihadapannya itu sambil mengusap keringat yang membasahi kening Naura.
Mata Naura membuka lalu tersenyum kecil, namun tidak menjawab. Dia memilih untuk menoleh pada jam kecil yang berada di nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya. ‘Masih jam satu malam,’ katanya pelan di dalam hati kemudian tersenyum pada David yang menatapnya dengan tatapan yang sedikit khawatir.
“Aku nggak papa kak Dave, seperti yang kak David kalau ini hanyalah mimpi buruk.”
Masih dengan tersenyum Naura berkata begitu karena Naura berusaha menunjukkan kalau dia memang baik-baik saja. Jadi pria itu tidak perlu mengkhawatirkannya dan bisa kembali beristirahat sampai matahari terbit nanti. Bagaimanapun Naura tidak enak karena sudah mengganggu tidur pria itu saat orang lain mungkin masih terlelap dalam tidurnya.
“Ya udah kamu sekarang tidur lagi, aku mau kembali keruangkerjaku karena aku harus mengerjakan sesuatu.”
“Loh kak David belum tidur dari tadi?” Tanya Naura kemudian membuka selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. “Ya udah kalau begitu kak David balik ke ruang kerja kak David saja, biar aku buatkan teh jahe buat kak David.”
Namun David tampaknya tidak setuju dengan ide Naura itu, makanya dia menahan Naura dengan memegang kedua bahu Naura sebelum kemudian menggeleng. “Tidak usah, pekerjaannya udah mau selesai kok. Sebentar lagi aku juga akan tidur,” katanya lalu mengacak pelan rambut Naura sebelum kemudian bangkit dari ranjang Naura dan menutup kembali tubuh Naura dengan selimut yang tadi sempat dibukanya.
“Ya udah, kamu sekarang tidur.” Kata pria itu tersenyum dan kemudian mengilang setelah dia menutup pintu kamar yang sedari tadi terbuka.
Sepeninggalan David, Naura kemudian membaringkan kembali tubuhnya ke ranjang tempatnya tidur beberapa tahun tahun belakangan ini. Bukan untuk tidur tapi untuk memikirkan apa arti mimpi yang baru dialaminya karena mimpi itu rasanya sangat nyata. Saking nyatanya Naura sampai tidak berani untuk menutup matanya karena begitu dia melakukannya, bayangan hitam akan langsung mendatanginya dan membawanya kembali pada bayangan yang tidak ingin dia bayangkan sama sekali.
“Dathan... Nathan...” katanya lirih tanpa sadar menjatuhkan air matanya. “Maafkan mama,” lanjutnya lagi kali ini dengan kedua tangan yang menyatu seolah sedang memohon. “Tolong jangan tinggalkan mama,” pintanya kemudian walau dia tau kalau permintaannya itu sangatlah egois.
Ya, dialah seorang manusia dan mama yang sangat jahat dan egois.
Sejak awal Dathan dan Nathan tidak pernah meninggalkannya, tapi dialah yang meninggalkan mereka. Bersikap dingin kepada dua putranya itu hanya demi kepuasan atas kemarahan dan dendam pada papa mereka.
Napas Naura berubah sesak, matanyapun memanas mengingat bagaimana dia menjalani harinya setelah hari itu. Hidupnya terasa kosong sehingga apapun yang dia lakukan dan kerjakan, semuanya seperti tanpa arah dan tujuan sama sekali. Ibaratnya saat ini Naura hidup hanya karena Tuhan masih memberikannya hidup saja. Jika kematian bisa menjadi pilihan dan membunuh diri bukanlah sebuah dosa, mungkin Naura akan memilih untuk mati saja.
Nyatanya setelah hari itu dia merasa hidupnya kosong. Kekosongangan yang menyiksanya dan membuatnya merasa akan gila setiap harinya.
BLANC
“Hari ini ke sekolah Dathan Nathan lagi?” Tanya David saat dilihatnya Naura sudah terlihat rapi dan siap untuk keluar.
Naura tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis karena dia tau kalau David pasti tau jawabannya tanpa dia perlu mengeluarkan suaranya. Lihatlah bagaimana pria itu mendesahkan napasnya berat karena mungkin David lelah dan jengah dengannya. Dan Naura bisa memaklumi sikap David itu karena hampir setiap hari Naura melakukannya sejak kedua anaknya masuk sekolah.
“Ya udah, kalau begitu nanti aku tunggu kamu di kantor. Kamu ingatkan kalau hari ini kita ada rapat dengan THE ROYAL.”
Naura tersenyum. “Ingat kok kak, nanti aku akan langsung ke kantor begitu anak-anak sudah masuk kekelas mereka.” Jawab Naura kemudian menggunakan tasnya bersiap langsung pergi tanpa memakan dulu sarapannya.
Bukan karena dia tidak kelaparan atau tidak manyukai makanan yang sudah dihadangkan di atas meja makan keluarga David itu, tapi karena dia tidak mau Athaya yang tidak memakan sarapannya. Cukuplah dia membuat Athaya tidak suka dengannya hanya dengan keberadaannya di rumah ini, Naura tidak ingin anak itu semakin tidak menyukainya bila dia bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Itulah kenapa sejak Naura tinggal di rumah ini dia selalu berusaha untuk pergi sepagi mungkin dan pulang semalam mungkin dia bisa agar Athaya tidak perlu melihatnya atau meminimalisir pertemuan mereka.
Sayangnya Naura terlalu berpikir sederhana soal perasaan Athaya, hingga dia tidak sadar kalau apa yang dirasakan Athaya tidak sampai pada batas tidak suka. Apa yang dirasakan putra David dan Nathalie itu sudah sampai ketahap benci. Benci yang ingin dilampiaskannya sebenarnya, hanya saja dia tidak melakukannya karena dia masih menghargai permintaan mamanya.
Melalui kaca mobilnya yang berwarna hitam Naura melihat gerbang besar sebuah sekolah sekolah menengah yang termasuk salah satu terbaik di Jakarta.
“Sebentar lagi,” katanya pelan setelah melihat jam melingkar di pergelangan tangannya.
Dan tepat saat dia melepaskan fokusnya pada jam tangannya itu, Naura melihat sebuah mobil yang sangat familiar mendekati area sekolahan itu. Senyum tipis langsung terpasang diwajahnya begitu mobil itu berhenti dan kedua putranya keluar dari sana. Senyum Naura semakin mengembang saat dilihatnya Nathan dan Dathan saling menggoda dengan riangnya.
Namun senyum itu menghilang saat dilihatnya Dathan terjatuh. Bahkan tanpa sadar Naura hampir keluar dari mobilnya hanya untuk memastikan putra sulungnya itu baik-baik saja atau tidak. Kalau bukan karena dilihatnya sopir yang bekerja di rumah Ravael, Rudi yang sudah duluan lari dan mendahuluinya, mungkin Naura sudah disana sekarang. Berhadapan dengan kedua putranya yang sejujurnya tidak ingin dia lakukan karena dia terlalu takut untuk itu.
Di dalam mobilnya Naura terlihat tidak tenang sama sekali. Raut wajahnya terlihat sangat gelisah meski tubuhnya terlihat tenang dan tidak banyak bergerak sama sekali. Kecuali tangannya yang saling meremas, sebagi bentuk paling nyata dari bentuk kehawatiran dan kegelisahan wanita itu. Mata Naura tidak sekalipun meninggalkan arah dimana Rudi menghilang membawa Dathan yang terluka tadi.
Sampai sebuah panggilan mengalihkan perhatiannya.
“Halo.” Sapanya pada orang di seberang.
“...”
“Iya, masih di St Xaverius.” Jawabnya jujur karena dia memang masih berada di depan sekolah anak-anaknya.
“...”
“Tapi kak aku...”
“...”
Ucapan Naura tergantung karena orang yang di seberang sana, David terdengar terburu-buru dan panik. Hingga mau tidak mau Naura mengalah menuroti maunya pria itu meski sebenarnya berat buatnya untuk meinggalkan sekolah ini sebelum dia tau kondisi Dathan.
“Baiklah, aku akan kesana secepatnya.”
“...”
“Baiklah kak,” katanya menyetujui. Hubungan telepon itu sudah akan diputus David dari seberang sana, namun Naura menghentikannya. “Kak David...” suara Naura terdengar ragu memanggil David. “Hari ini aku akan pulang kesana...” ucap Naura pelan.
Tidak ada jawaban dia dengar dari seberang sana hingga kemudian Naura mendengar helaan napas yang sangat berat.
“...”
“Hmm... aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin memastikan kalau Dathan dan Nathan baik-baik saja.” Jawab Naura pelan tidak yakin kalau dia akan baik-baik saja. Nyatanya setiap kali dia pulang ke rumah itu, keesokan harinya kondisi Naura pasti akan selalu memburuk. Tapi Naura tidak peduli karena untuk hari ini dia ingin dekat dengan kedua anaknya, meskipun itu dengan cara yang tidak wajar.
BLANC
Naura tidak tau sudah berapa lama dia berdiam diri dalam mobilnya, menatap kosong pada rumah yang rasanya sudah lama sekali dia tinggalkan. Padahal dalam seminggu dia selalu memastikan untuk selalu pulang ketempat ini walau dia bisa menghitung dengan tangannya dalam setahun berapa kali dia menghabiskan malam disini. Buatnya apapun yang ada dirumah itu mampu membuatnya merasa menjadi orang paling buruk yang ada di dunia.
Itulah kenapa Naura tidak pernah mau berlama-lama disana karena dia tau semakin lama dia disana, maka semakin terluka juga dia dan orang-orang di dalam sana.
Menarik napasnya lalu menghembuskannya kuat, Naura mencoba untuk menenangkan dirinya. Didalam hatinya dia berulang kali mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Barulah dia berani turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama rumah itu. Tangan Naura sudah akan bergerak ke gagang pintu rumah dan bersiap untuk mendorongnya saat seseorang membuka pintu itu terlebih dahulu.
“Nyonya,” sapa Dina antara terkejut dan tidak menyangka dengan kedatangannya yang tanpa pemberitahuan dahulu.
Memang biasanya Naura selalu memberitahu Dina setiap kali dia akan pulang. Entah untuk apa dia melakukannya, tapi yang pasti dia melakukannya karena merasa perlu melakukannnya. Walau dia tau kalau Dina, asisten rumahnya itupun tidak mengharapkan keberadaannya di rumah ini lagi. Naura tidak menyalahkan sikap Dina itu karena Naura tau asisten rumah tangganya ini seperti ini karena terlalu menyayangi Dathan dan Nathan. Sikap Dina tidak seperti dulu lagi kepadanya. Sekarang Dina benar-benar memperlakukannya sebagai nyonya dan setiap kali wanita yang mulai menua itu melihatnya, hanya kekecewaan yang bisa Naura lihat pada mata Dina untuknya.
Tersenyum kaku, Naura kemudian mengutarakan maksud kedatangannya pada Dina. “Malam ini aku akan menginap disini mbok. Bisakah mbok Dina menyiapkan kamar tamu aku?”
Dina mangangguk bersiap untuk masuk, tapi tiba-tiba saja Nathan berlari turun dari tangga. “Mbok Dina? Itu siapa, mama ya?” Tanya anak laki-laki itu terdengar senang dan tanpa menunggu jawaban dari Dina, Nathan berlari ke arah Naura menubruk tubuhnya lalu memeluknya.
Tubuh dan wajah Naura seketika berubah kaku, tangannya mengepal erat dikedua sisi tubuhnya. Ketakutan dan bayang-bayangan buruk mulai menghantui pikiran dan hatinya, hingga tanpa sadar dia sudah mengeluarkan suaranya dengan sangat dingin. “Lepaskan,” katanya bahkan tanpa melihat Nathan sama sekali. Kemudian masih dengan keadaan yang kosong, Naura masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan apapun yang ada dibelakangnya.
Jika melihat hanya dari luar seperti itu, Naura memang telihat sangat jahat dan kejam. Tapi kalau mengetahui pergolakan apa yang terjadi dalam diri Naura, mungkin orang akan sedikit mengerti dengan diri Naura. Lagipula dia melakukan semua itu pada Nathan diluar dari kesadarannya karena memang setiap kali Naura berhadapan dengan kedua putranya itu, kondisi pikiran dan hatinya tidak pernah baik. Inilah alasan kenapa Naura tidak pernah merasa siap untuk bertemu langsung dengan keduanya.
Nathan dan Dathan adahal dua orang yang paling tidak ingin pernah dibuatnya terluka. Walau dia sadar kalau keduanya ada pihak yang paling terluka dan menderita saat ini karena ego yang dimilikinya. Tapi Naura sudah terlanjur sejauh ini, masalahnya dan Ravaelpun sudah semakin tidak terbendung hingga tidak ada lagi jalan buatnya untuk mundur lagi.
BLANC
“DATHAN!!!”
Jam baru menunjukkan setengah enam pagi ketika Naura mendengar teriakan Nathan memanggil nama Dathan sambil menangis. Tangis itu terdengar panik dan ketakutan membuat Naura yang baru saja selesai mandi dan tinggal mengunakan kemejanya segera menggunakannya asal-asalan. Padahal dia yakin sekali kalau Dathan dan Nathan baik-baik saja tadi sampai dia meninggalkan kamar kedua anak itu diam-diam.
Jadi ceritanya setiap kali Naura menginap di rumah ini, dia tidak pernah tidur. Lebih tepatnya dia memilih untuk tidak pernah terlelap karena dia lebih ingin terus menatap kedua putranya yang tertidur dengan tenang. Setiap malam setelah dia memastikan semua orang sudah terlelap, dia akan masuk ke dalam kamar putra kembarnya. Kemudian dia akan mendudukkan dirinya dipinggiran ranjang untuk menjaga dan memastikan keduanya melewati malam dengan nyaman dan lelap. Bahkan tadi malam Naura memastikan kalau luka di kaki Dathan tidak parah setelah terjatuh tadi pagi di sekolah. Jadi seharusnya baik Dathan maupun Nathan baik-baik saja pagi ini dan si bungsu tidak perlu berteriak terdengar panik dan ketakutan menyebut nama kakaknya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Naura pelan tercekat saat dilihatnya Dathan yang tampak tidak sadarkan diri berada di dala gendongan Ravael.
Langkah Ravael yang awalnya terlihat cepat dan terburu-buru terhenti saat dilihatnya kemunculan Naura dari kamarnya. Mungkin pria itu berpikir kalau Naura tidak akan keluar daribsana apapun yang terjadi sampai dia memastikan Ravael pergi. Hanya sebentar saja Ravael berhenti karena kemudian Ravael melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apapun.
Tidak menyerah untuk mendapatkan jawaban, Naura mengikuti Ravael dengan langkah yang juga cepat untuk mengimbangi langkah pria itu. Tidak dipedulikannya penampilannya yang berantakan karena sekarang yang ada didalam pikirannya adalah bagaimana kondisi Dathan. Menurutnya kondisi putranya itu pasti serius, makanya Ravael sampai harus membawanya ke rumah sakit.
Tidak hanya itu, meski samar dan tidak ditunjukkan melalui raut wajahnya Naura bisa melihat kecemasan Ravael. Pria itu memang tetap dengan wajah dan sikap tenangnya, tapi dari kepalan tangan Ravael yang sangat kuat dia bisa melihat kalau semuanya tidak baik-baik saja untuk putra mereka.
Masih dengan posisi menggendong Dathan namun sudah berada di luar dan dekat dengan mobil yang biasa Ravael gunakan untuk bekerja, pria itu memutarkan tubuhnya. Lalu menatap pada Nathan yang berdiri di sebelah Dina sambil memeluk seragam Dathan yang sepertinya harus digunakan Dathan hari ini.
“Kamu tetap berangkat ke sekolah hari ini, papa akan bawa Dathan ke rumah sakit.” Kata Ravael datar dan tenang.
Nathan tidak menjawab, dia masih terlihat terisak melihat Dathan sebelum kemudian melihat sang papa. “Tapi siapa yang nanti akan menjaga Dathan disana?” Tanyanya serak dan pelan. “Bukankah papa dan mama tidak perduli dengan kami.”
Saat itu Naura merasa kalau semuanya seselesai. Selesai buka dalam artian dia berhasil membalaskan dendamnya pada Ravael, tapi bagaimana dia telah kehilangan semuanya. Nathan tidak lagi mengharapkan apapun lagi darinya maupun Ravael. Lama keduanya terdiam sampai Ravael kembali membuka suaranya.
“Papa akan menghubungi oma dan opa. Oma Theresia akan...”
“Mama yang akan menjaga Dathan.” Potong Naura cepat tidak mempedulikan bagaimana Diana dan Nathan melihatnya.
Naura bahkan sudah naik di kursi penumpang, menunggu Ravael meletakkan Dathan disana dan dia sangat berterimakasih dalam hatinya ketika Ravael meletakkan kepala Dathan pada pangkuannya, bahkan tanpa dia memintanya.
“Apakah dia akan baik-baik saja?” Tanya Naura pelan sambil menatap wajah Dathan yang masih belum menunjukkan tanda yang akan sadarkan diri.
Ravael yang baru masuk kedalam mobil dan duduk dikursi pengemudi tidak menjawab, hanya diam memutarkan tubuhnya untuk melihat Dathan, seperti yang Naura lakukan sekarang. Naura sudah berpikir kalau Ravael mengabaikannya dan lagi-lagi menganggapnya tidak ada seperti bagaimana pria itu memperlakukannya selama ini, tepatnya setelah dia mengatakan sesuatu yang sampai saat ini disesali oleh Naura, tapi ternyata dia salah karena kemudian dia mendengar Ravael menjawabnya.
“Aku tidak tau,” kata pria itu dengan nada pelan dan tenang. “Aku hanya berharap apa yang aku pikirkan salah, “ lanjut pria lagi kemudian memutarkan tubuhnya untuk mulai mengemudikan mobilnya ke rumah sakit tempatnya berkerja sekaligus milik keluarganya.
BLANC
Hukuman.
Itulah yang terpikirkan oleh Naura sekarang setelah dia mendengar apa yang dikatakan dokter padanya tentang kondisi Dathan. Hukuman yang menurutnya sangat tidak adil karena seharusnya dialah yang menderita disini, bukan Dathan maupun Nathan. Tapi ternyata Tuhan tidak berpikir demikian, Tuhan lebih tau cara untuk membuatnya sangat menyesali apa yang telah dilakukannya.
“Naura...” Suara David yang memanggillnya menyadarkan Naura yang sedang duduk termangu di depan ruang rawat inap Dathan.
Naura mengangkat kepalanya lalu menatap kosong pada David dengan mata bengkak yang terlihat kosong. Kemudian dia kembali mengeluarkan air matanya, air mata yang dipikir telah habis karena sejak pagi dia telah mengeluarkannya. Sejak dokter menyatakan kalau Dathan mengidap Leukimia dan putranya itu pada tahap C, yaitu pada tahap akhir.
“Tuhan menghukumku kak,” katanya dengan suara yang sangat pelan dan serak. “Dia menghukumku sampai di titik yang membuatku tidak bisa untuk melakukan apapun,” lanjutnya kini sambil menangis dengan kuat.
Mungkin karena merasa Naura membutuhkan topangan untuk saat ini, David membawa naura kedalam pelukannya. Pelukan yang tidak ditolak Naura sama sekali meski sebenarnya pelukan itu tidak pernah benar-benar membuatnya nyaman atau kuat. Hanya saja dia butuh pegangan saat ini, jadi walaupun dia tau tali yang dihadapannya bukan tali yang diinginkannya atau yang diharapakannya Naura akan berpegang pada tali itu daripada dia jatuh dan hancur hingga tidak berbentuk lagi.
Sampai dia mendengar langkah kaki seseorang mendekat kearah mereka.
Dan Naura tidak tahu harus merasakan apa lagi dihatinya ketika dia melihat Ravael melihatnya dengan tatapan datar namun terkesan dingin setelah dia melepaskan diri dari pelukan David. Hingga yang dia bisa lakukan hanyalah menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Ravael karena mau seperti apapun dia berkata kalau dia membenci pria itu, selalu ada bagian dari hatinya yang berteriak kalau dia masih mencintai pria itu. Hingga tertangkap basah menerima pelukan dari pria lain terasa salah dirasanya Naura. Ya, Naura tau itu sangat menyedihkan karena masih mencintai pria yang tidak pernah mencintainya. Menurut Naura segala bentuk kebaikan dan perhatian yang diberikan Ravael padanya hanyalah bentuk rasa bersalah dan tanggung jawab.
“Sebaiknya kalian pulang, biar Dathan aku yang menjaga disini.” Kata Ravael dengan nada datar yang khas dari pria itu.
Kepala Naura langsung terangkat. Dia yang awalnya duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruang Dathan langsung berdiri.
“Tidak!” Katanya dengan kuat. “Aku yang akan menjaganya disini,” lanjutnya setelah menenagkan dirinya karena untuk sesaat tadi emosinya terpancing hingga matanya sempat menyalang dan suaranya terdengar memekik.
...
Seperti biasa Ravael tidak langsung menjawabnya. Pria itu hanya melemparkan tatapannya sebentar pada David sebelum kembali pada Naura. “Tidak, biar aku yang...”
“Apakah sampai akhir kalian akan seperti ini?” Tiba-tiba saja memotong ucapan Ravael karena pria itu tau apa yang Ravael pikikan saat ini dan apa yang akan pria itu katakan. “Apakah benar kalau terpikirkan oleh kalian kalau yang Dathan inginkan mungkin kalian berdua bersama menjaganya saat ini?” Tanya David melihat Naura dan Ravael bergantian.
Kemudian pria itu menghela nafasnya pelan dan berkata, “Untuk kali ini saja bisakah kalian mengurangi ego kalian sedikit saja? Sampai sekarang aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada kalian, tapi aku hanya kalian tidak kembali menyesal karena sudah memenangkan ego kalian.” Kata David kemudian menjauh meninggalkan Naura dan Ravael yang termangu memikirkan semua yang dikatakan oleh David.
BLANC