Érique di bawa ke dalam ruang operasi. Beberapa menit kemudian, pria itu di pindahkan ke ruang inap. Victoria masih tetap setia menunggu Érique bangun. Matanya memerah dan bengkak karena terlalu banyak meneteskan air mata. Sekarang berada di ruangan kakaknya, Dia duduk di atas kursi kecil beroda. Victoria mencium tangan Érique sambil memejamkan matanya. "Kak, Kumohon bangunlah!" Bisik Victoria. Kejadian buruk yang menimpa Érique membuatnya menyalahkan diri sendiri. Karena dirinya pria itu harus masuk di dalam rumah sakit. Harapan Victoria menjadi nyata saat Érique membuka matanya. Érique terlihat begitu menyedihkan dengan wajah pucat dan bibir memutih. Saat pria itu melihat ke arah Victoria, ia tersenyum. Usaha itu dilakukan agar Victoria tidak cemas lagi. "Kakak baik-baik saja, sayang."

