7

1077 Words
Setelah izin ke asrama, gue sama Ara juga pamitan sama orang tua Ara dirumah dan sesuai permintaan Uminya Ara juga gue hari ini dianterin sama Pak Adam untuk pulang ke rumah. "Hati-hati ya Mas, jagain anak-anak Umi" ingat Umi ke Pak Azzam. "Azzam anak Umi juga kali Mi" jawab Pak Azzam yang ngebuat gue sama Ara saling natap dan mengukum senyum, ya sedingin-dinginnya laki-laki mereka masih punya sisi manis dan manja sama keluarganya. "Yaudah kamu juga hati-hati, jaga diri baik-baik ya mas" setelahnya kita bertiga pamitan sama Umi dan berangkat, Abi masih di kantor. Selama perjalanan entah kenapa perasaan gue mendadak gak enak, entahlah kaya ada yang ngeganjel, mau cerita sama Ara takut dianya malah ikut kefikiran, kalau cerita sama Pak Azzam ya lebih-lebih gak iya lagi, gue yang masih berlarut dengan pemikiran gue sendiri malah menyipitkan mata heran begitu melihat panggilan masuk dari Mas Juna. "Assalamualaikum mas" ucap gue ke seberang. "Wa'alaikumsalam, Dek, adek jadi pulangkan?" "Jadi mas, ini udah di jalan, kenapa mas? Suaranya Mas panik gitu?" tanya gue lagi. "Nanti dirumah Mas jelasin, hati-hati dijalan ya Dek, Mas tunggu Adek dirumah" Setelahnya panggilan Mas Juna terputus, ada apa ya? Kenapa jadinya malah makin gak enak gini? Ya Allah semoga semuanya baik-baik aja. "Kamu kenapa?" tanya Pak Azzam dengan pandangan yang masih fokus ke arah jalan. "Gak papa Pak, cuma Mas saya nelfon nanyain jadi pulang apa enggak" jawab gue sederhana, Ara yang duduk disamping kemudi juga udah tidur pulas. Berselang tiga jam, gue, Ara sama Pak Azzam sampai dirumah, tapi ada yang aneh, kenapa dirumah rame banget, Astagfirullah ini ada apa? "Ay, dirumah loe ada acara apaan? Kok rame gini?" tanya Ara tanpa menutupi rasa kagetnya juga. "Gue juga gak tahu Ra, Mas Juna juga gak bilang apa-apa tadi pas di telfon, mendingan kita masuk dulu, masuk dulu Pak" ajak  gue ke pak Azzam sama Ara. "Assalamualaikum" ucap gue yang disusul sama Pak Azzam dan Aranya. Ada beberapa orang yang menjawab salam gue dan melirik ke arah kita bertiga sekilas, begitu masuk hal pertama yang gue dapatin adalah Kak Reina yang memeluk Bunda erat sambilan nangis, ini ada apa sebenarnya? "Duduk dulu Pak, Ra" setelah mempersilahkan mereka berdua duduk, gue langsung mendekat ke arah Bunda dan kak Reina, gue nyalim ke mereka berdua dan mereka berdua juga ikut memeluk gue erat, Ya Allah mereka berdua kenapa? "Ayah mana Bun?" tanya gue pelan tapi gak ada satu jawabanpun dari mereka berdua, gue yang semakin bingung mendadak bangkit begitu ada yang menepuk bahu gue, gue berbalik dan Mas Juna pelakunya. "Mas, Ayah mana?" tanya gue sembari mencium tangan Mas Juna. "Dek kamu tenang dulu, setelahnya akan Mas jelasin" gue menyipitkan mata heran dengan sikap Mas Juna, gue mengikuti Mas Juna masuk ke kamar dan Mas Juna menjelaskan semuanya, seiring dengan penjelasan Mas Juna, seiring pula air mata makin derasa membanjiri pipi gue. "Gimana bisa Ayah ketabrak Mas? Mas bohongkan? Gak mungkin Ayah gak bisa jalan lagi, itu gak mungkin mas" tanya gue gak percaya, Mas Juna memeluk tubuh gue erat menenangkan, gue hanya makin terisak dalam pelukan Mas Juna, ini gak mungkin. "Istighfar Dek, ini semua takdir Allah, gak ada yang gak mungkin, Adek harus tabah" gue gak ngejawab apapun dan hanya beristigfar beberapa kali. "Lana juga balik, mungkin sore nanti Lana udah di Indonesia" gue mendongak menatap Mas Juna setelah penjelasannya. "Yaudah sekarang kita nemuin Ayah dulu, hapus air mata Adek, Adek gak mau Ayah makin sedih kan?" gue mengangguk pelan dan mengikuti langkah Mas Juna masuk ke kamar Ayah, didalam kamar Ayah juga udah ada Kak Reina sekarang. "Ayah" gue mendekat dan memeluk Ayah erat, sebisa mungkin gue nahan isak tangis gue dalam pelukan Ayah, gue gak mau Ayah makin kefikiran. "Anak Ayah cantik sekali, terima kasih karena Adek mau menuruti permintaan Ayah, semoga selalu dilindungi oleh Allah ya nak. Jangan nangis Dek, Ayah gak papa, semua kejadian itu pasti ada hikmahnya, kita hanya perlu bersabar" gue gak menjawab apapun, Ayah bahkan masih sempat memperhatikan perubahan gue disaat tubuhnya sendiri terkulai lemas kaya gini. "Aya tahu Yah dan Aya gak akan nangis kalau gak dapet izin Ayah tanpa ada Mas Juna atau Mas Lana disamping Ayakan?" gue melepas pelukan Ayah dan melihat Ayah tersenyum kearah gue. "Reina" panggil Ayah yang membuat Kak Reina juga ikut berdiri didekat gue. "Ayah punya permintaan untuk kalian berdua, kalian menurutikan permintaan Ayah?" gue dan kak Reina saling menatap penuh tanya tetapi beberapa detik kemudian kami berdua serempak mengangguk pelan. "Reina, Aya, sungguh sebaik-baiknya Ayah, Ayah masih sanggup memberikan apapun yang kalian inginkan tapi tidak dengan Surga-Nya Allah, itu hanya bisa kalian dapatkan dengan amal ibadah kalian sendiri, dan sedikitpun Ayah tidak bisa menjamin itu Nak, Ayah ingin memastikan kalau kalian berdua akan mendapatkan pendamping yang terbaik yang bisa membimbing kalian menuju surga-Nya Allah, menikahlah kedua putriku." "Ayah ngomong apa? Ayah masih bisa ngebimbing kita berdua Yah, kita juga masih punya Mas Juna sama Mas Lana" jawab gue tak terima, gue gak mau Ayah ngomong kaya gini seolah-olah Ayah akan pergi ninggalin kita semua. "Yah, jika itu bisa mengurangi beban Ayah, Reina ikhlas Yah, nikahkan Reina" jawab Kak Reina dengan mata berkaca-kaca, gue langsung natap Kak Reina gak percaya. "Ikut kakak Ay" Kak Reina narik tangan gue masuk ke kamarnya. "Dek, apa bisa kita membalas semua jasa orang tua kita? Jika bisa tolong katakan apa? Kakak akan melakukan apapun untuk membalas jasa mereka" tanya Kak Reina to the point. "Ikhlas Dek, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya, turuti permintaan Ayah jika adek tidak ingin menyesal, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anak-anaknya" gue memejamkan mata pasrah dan meluk erat Kakak gue. "Adek cantik dengan hijab seperti ini, semoga selalu istiqomah dan selalu dalam lindungan Allah sayang" . . . Gue sama kak Reina keluar kamar dan balik nemuin Ayah, Ayah tersenyum, senyum yang selalu saja menenangkan. "Baik, Aya juga setuju jadi Ayah harus cepat sembuh" ucap gue memeluk Ayah. "Kalian menikah ba'da Isya" ucap Ayah yang membuat gue sama Kak Reina balik menatap penuh tanya, memang calonnya udah ada? "Reina, menikahlah dengan Lana, kamu sudah tahu kalau Lana bukan mas kandungmu bukan Rei? Lana sudah mengkhitbah kamu ke Ayah" gue jelas laget bukan main, jadi selama ini Mas Lana bukan Mas kandung kita? "Reina serahkan semua sama Ayah, jika menurut Ayah itu baik, Reina tidak keberatan" jawab kak Reina mantap. "Aya, menikahlah dengan_ "Maaf Om, maafkan jika saya lancang, tapi jika memang Om berkenan, bolehkah jika saya yang mengkhitbah Aya untuk menjadi pelengkap iman saya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD