"Maaf Om, maafkan jika saya lancang, tapi jika memang Om berkenan, bolehkah jika saya yang mengkhitbah Aya untuk menjadi pelengkap iman saya?" Gue berbalik dan natap Pak Azzam gak percaya, Pak Azzam ngomong apaan? Jangan memperkeruh suasana yang udah kacau gini bisakan?
"Bapak ngomong apa?" tanya gue gak terima, bukannya menjawab, Pak Azzam bahkan gak natap gue sama sekali.
"Saya Azzam dan izinkan saya untuk mengkhitbah Aya menjadi istri saya" ulang Pak Azzam memperjelas pertanyaannya, Astagfirullah kenapa Pak Azzam harus ngomong kaya gitu? Jangan berdebat disaat gue lagi gak ngajak.
"Apakah nak Azzam serius?" tanya Ayah natap Pak Azzam lekat, Ayah gak berencana nerimakan? "mendekatlah" lanjut Ayah yang membuat Pak Azzam mendekat ke tempat Ayah berbaring sekarang, tepat di sebelah gue.
"Nak Azzam serius ingin melamar Aya? Apa nak Azzam sudah benar-benar yakin? Bukannya apa-apa tapi Om hanyalah seorang Ayah yang ingin memastikan putrinya bahagia Nak, menikahkan Aya sama seperti om melepaskan Aya untuk dijaga oleh Nak Azzam, apa Nak Azzam bersedia?" tanya Ayah yang entah kenapa membuat hati gue terenyuh, maafin Aya Yah.
"Insyaallah Om" jawab Pak Azzam yakin.
"Bissmillah, baiklah, insyaallah Om terima lamaran Nak Azzam, apa tidak papa kalau kalian juga menikah nanti ba'da isya?" tanya Ayah sembari mengulurkan tangannya ke arah pak Azzam.
"Insyaallah Om, saya tidak keberatan, saya akan menghubungi orang tua saya, dan saya disini juga tidak sendiri, ini adik kandung saya" Pak Azzam tersenyum ramah dan menyambut uluran tangan Ayah sembari ikut memperkenal Ara yang berdiri tepat dibelakang Pak Azzamnya.
"Bapak beneran gila" ucap gue natap Pak Azzam penuh amarah, maksudnya apa ngelamar gue?
"Dek, menikahlah dengan Nak Azzam, Ayah menerima lamaran Nak Azzam untuk kamu, insyaallah Nak Azzam bisa menjaga dan membimbing kamu Dek" gue tertunduk lemah nahan isak tangis dan kesal yang siap pecah kapan aja, kenapa harus Pak Azzam? Gue mau nolak tapi gue juga sudah mengiyakan untuk menyetujui permintaan Ayah, sama seperti Kak Reina gue juga gak mau mengecewakan Ayah yang hanya akan berakhir dengan penyesalan.
"Mas" lirih gue ke Mas Juna, seolah mengerti, Mas Juna merangkul bahu gue dan membawa gue kedalam pelukannya, gue memang gak sekuat dan setegar Kak Reina dan Mas Juna tahu itu.
"Ay, boleh gue ngomong sebentar?" satu suara yang membuat Mas Juna melepas pelukannya dan gue mengiyakan ajakan Ara untuk bicara, Ara sahabat gue yang dalam hitungan beberapa jam kedepan akan berubah status menjadi adik ipar gue sendiri.
"Ra maafin gue, gue tahu loe pasti keberatan kalau gue nikah sama mas loekan? Gue tahu kalau gue gak akan pernah sepadan sama Mas loe, maafin gue Ra, tapi gue mohon jangan putusin persahabatan kita, gue gak mau kehilangan sahabat kaya loe Ra, gue gak mau" lirih gue beruntun sama Ara, gue takut kalau Ara bakalan kecewa atau bahkan marah sama gue.
"Astagfirullah Ay, siapa yang bilang gue marah? Kalau memang pilihan Mas Azzam ada di loe gue gak punya hak apapun untuk menolaknya, loe orang yang baik Ay jadi jangan merendah dan berfikiran kaya gitu, sepadan atau enggaknya kalian bukan kita yang menilai Ay, karena kamu adalah siapa jodohmu, jodoh tak akan bertukar, kalau memang loe yang ditakdirkan Allah menjadi jodohnya Mas Azzam gue juga yakin insyaallah loe itu yang terbaik." jawab Ara tersenyum tulus, mendengar jawaban Ara udah cukup ngebuat gue ngerasa lega.
“Tapi loe gak akan ninggalin gue kan Ra? Kita masih bisa sahabatankan?"
"Masyaallah Ay, jangankan sahabatan, beberapa jam kedepan loe insyaallah malah bakalan jadi Kakak ipar gue, saudaranya gue" Ara menghapus air mata gue dan memeluk tubuh gue erat.
"Dek, Mas mau jemput Umi sama Abi dulu, Adek mau ikut sekalian apa mau nunggu disini?" gak perlu ditanya gue juga udah tahu siapa lelaki yang berdiri dibelakang gue sekarang, gue yang terlalu kaku bahkan sama sekali gak berbalik untuk berhadapan dengan pemilik suara itu, Gue tahu Pak Azzam orang baik tapi kenapa dia harus ngelamar gue? Kenapa harus gue? Gue gak cinta dan gue gak mau, gimana sama Kak Ardit? Gue harus bilang apa kalau tetiba Kak Ardit tahu gue udah nikah? Gue gak bisa bohong kalau gue masih cinta, gue belum bisa ngelepasin Kak Ardit sepenuhnya.
"Adek ikut pulang aja Mas, biar bisa bantu-bantu Umi sama Mas juga nanti dirumah" jawab Ara lalu natap gue sekilas.
"Ay, gue pulang dulu ya, insyaallah ba'da isya kita ketemu lagi, jangan mikir aneh-aneh, apapun yang terjadi kedepannya, insyaallah selama Allah mengizinkan, gue akan selalu jadi sahabat loe" lanjut Ara menepuk jidat gue pelan " itung-itung terakhir kali" hah? Dasar.
"Dan gue bersyukur untuk itu loe tahukan? Loe juga hati-hati, salam untuk Umi sama Abi" balas gue dan nepuk balik jidatnya Ara, satu sama.
"Parah loe, yaudah gue pamit ya, jangan nangis lagi, bahu buat bersandarnya masih baru halal ba'da isya nanti"
"Apaan Ra? Udah sana, kalau udah dirumah kabarin gue" balas gue pelan, "insyaallah Ay, nanti kalau udah nyampe gue kabarin lagi" lanjut Ara lalu tersenyum jail.
"Saya pulang sebentar" gue tetap nunduk untuk ucapan Pak Azzam barusan, gue kesel sama ni orang "Assalamualaikum" lanjutnya.
"Wa'alaikum salam"
.
.
.
Selepas kepulangan Pak Azzam sama Ara, gue balik nemuin Mas Juna, gue mau tanya masalah Mas Lana dan kenapa Ayah gak mau dirawat dirumah sakit? Tapi jawaban yang gue dapet cuma alasan kenapa Ayah gak mau dirawat dan untuk Mas Lana lain kali bakalan diceritain, katanya panjang kalau sekarang.
"Sekarang Mas Lana udah dimana Mas?" tanya gue lagi.
"Lana udah dalam perjalanan, kita berdo'a aja Lana bisa sampai dirumah sebelum Isya Dek" Mas Juna ngusap kepala gue pelan lalu balik nemuin Bunda yang lagi sibuk mempersiapkan acara akad gue dan Kak Reina nanti, sebenarnya tadi Bunda juga udah sempet nanyak ke gue masalah Kak Ardit, gimana enggak ditanya, calon menantu yang digadang-gadang bakalan jadi pendamping gue berubah kandidat dalam hitungan menit kaya tadi. Sama halnya seperti calon pengantin lainnya, gue sama Kak Reina didandani sekedarnya, Ara juga udah ngabarin kalau mereka udah berangkat sekitar dua jam yang lalu.
"Kak, Kakak beneran ikhlas nerima ini semua?" tanya gue ke Kak Reina yang memang udah selesai didandani lebih dulu.
"Insyaallah Dek, kalau Adek gimana? Sudah ikhlas?" tanya Kak Reina balik.
"Jujur Adek gak tahu Kak, Adek berasa kaya mimpi, menikah cepat diusia semuda ini dan kenapa harus dengan dosen sendiri kak? Aya risih, kesel plus bingung, tu dosen kesambet apaan sampet mau nikah sama Aya kaya gitu? Anehkan?" jawab gue gak habis fikir
"Apa karena Ardit? Apa Ardit sudah tahu?"
"Adek udah putus sama Kak Ardit Kak, beberapa hari yang lalu"
"Alhamdulillah kalau gitu, ikhlas Dek, insyaallah akan Allah mudahkan"
"Insyaallah Kak"
Selepas ba'da isya kita semua udah pada ngumpul karena akad nikahnya mau di mulai, bohong kalau gue bilang gue gak deg-degan, gimana gak deg-degan kalau masa remaja gue akan kandas mendadak kaya ini?
"Juna, Lananya mana? Penghulunya udah nunggu dari tadi" tanya Bunda mulai panik karena Mas Lana yang belum dateng juga, Mas Lana seharusnya udah sampai sekitar satu jam yang lalu, tapi sekarang dihubungi aja gak bisa.
"Mungkin sebentar lagi Bunda, tadi Juna udah sempet nanyak Lana udah dimana, macet mungkin dari bandara ke rumah"
"Yaudah kalau gitu, gimana kalau Aya sama Azzam duluan yang akadnya? sambilan nunggu Lana" tawar Ayah,
"Sebentar Juna tanya ke Azzam dulu Yah" gak lama Mas Juna nemuin Pak Azzam, akhirnya kita semua sepakat kalau gue sama Pak Azzam yang akad duluan, Bismillah Ya Allah, lancarkanlah.
Ketika Ayah mulai menjabat tangan Pak Azzam gue hanya tertunduk dan dengan perasaan kacau gak karuan, apa nerima Pak Azzam pilihan yang paling tepat? Gue bahkan sama sekali gak ngeliat kearah Pak Azzam walaupun Bunda udah berkali bilang untuk senyum sedikit, yang gimana bisa senyum kalau kaya gini.
"Bissmillah, Ananda Azzam Hannan Afkar bin Hanif Afkar"
"Ya saya"
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Ayaka Hnayaaa Lukman Binti Lukman dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat shalat dan emas sebesar 10 gram, tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ayaka Hnayaaa Lukman Binti Lukman dengan mas kawinnya yang tersebut dibayar tunai"
"Sah? Sah, Alhamdulillah" dan resmi sudah gue menyandang status seorang istri, gue tertunduk gak berani menegakkan kepala gue untuk menatap laki-laki yang sudah sah menjadi suami gue sekarang, males gue asli, bawaan gue kesel.
"Barakallah Dek" ucap Kak Reina yang memang duduk disamping gue dan gue lagi-lagi hanya tersenyum miris untuk menanggapinya,
"Bagaimana dengan calon pengantinnya yang satu lagi?" tanya Pak Penghulunya.
"Maaf pak_
"Assalamualaikum" dan kami semua serempak melirik ke arah pintu masuk dan Mas Lana udah disana.
"Wa'alaikum sallam" jawab kami semua, Mas Lana nyalim sama Ayah dan Bunda, Mas Juna dan berakhir dengan menatap gue dan Kak Reina bergantian, untuk sesaat gue baru sadar, jadi ini alasan Mas Lana gak pernah nyentuh gue sama Kak Reina selama in? bahkan Mas Lana selalu menjaga jarak dari kita berdua, beda jauh sama sikap Mas Juna.
"Bagaimana Lan, sudah siap? Reina sudah menunggu dari tadi" ucap Ayah pelan.
"Sebentar, Reina? Kenapa Reina?" tanya Mas Lana yang ngebuat kita semua mendadak ikut bingung.
"Maksud kamu gimana Nak? Bukannya kamu pernah mengkhitbah Reina ke Ayah sebelum kamu berangkat? Kamu meminta salah satu putri kandung Ayah untuk menjadi istri kamu"
"Maaf sebelumnya Yah, memang iya Lana meminta hal itu, tapi yang Lana maksud itu Aya, bukan Reina, Lana ingin menikahi Aya bukannya Reina Yah"