Di depannya, Elang mematung sempurna. Matanya yang biasanya menatap tajam dan merendahkan, kini melotot lebar. Rahangnya mengeras, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Sistem sarafnya yang menolak sentuhan tiba-tiba mengalami error massal. Jejak bibir Salsa di pipinya terasa seperti cap besi panas yang membakar seluruh sisa kewarasannya pagi ini. Elang menarik napas panjang dengan susah payah, dadanya naik turun. Dia mengepalkan tangannya sejenak untuk mengembalikan kendali dirinya. "A-ayo masuk," perintah Elang dengan suara serak yang aneh. Tanpa menunggu balasan Salsa, pria itu berbalik kaku bak robot kehabisan oli dan membuka pintu kamar rawat. Salsa mengekor di belakangnya dengan wajah menunduk, menahan malu yang luar biasa. Di dalam kamar VVIP yang luas itu, Alea sedang

