Rara terkejut bukan main. Kepalanya seakan terputar ke masa lalu. masa-masa indah dulu bersama Dista. Sahabat baiknya yang kini entah di mana keberadaannya. Teringat kembali Dista yang selalu hadir hampir di setiap kesempatan saat dia membutuhkan seorang teman, sahabat, sekaligus ibu. Dista memang sosok yang sempurna. Teringat olehnya ketika dia melihat Dista yang duduk sendiri di sudut pekarangan rumah saat acara reuni sekolah di rumahnya. Lalu Dista berlari kecil pulang ke rumahnya. Saat itu Papanya meninggal. Air mata Rara tumpah ruah seketika. Walaupun awalnya dia sama sekali tidak ingin menangis. Selama ini Rara menyangka bahwa diamnya Dista terhadapnya hanya gara-gara Gilang. Ternyata, Dista hanya ingin menjauhi dirinya karena tidak ingin melukai hatinya jika dia dekat dengan Papi

