3. Murka

1068 Words
Della berlari menghampiri Adi dan Sinta, dengan linangan air mata ia berusaha untuk menyadarkan orangtuanya. "Ayah.. Ibu.." Ucap Della. Tangisnya pecah melihat Adi dan Sinta yang tak merespon, kembali lagi ia mencoba menyadarkan orangtuanya. "Ayah, ibu. Sadarllah, apa yang terjadi?" teriak Della. Tiba- tiba Della melihat bekas gigitan ular di kaki Sinta dan Adi, tanpa sadar ia langsung mengoleskan air liurnya ke bekas gigitan ular menggunakan jarinya. Tak lama setelah itu, Adi dan Sinta tersadar dan menatap bingung Della yang sedang menangis. "Kamu kenapa nak? Kenapa kamu menangis?" tanya Sinta. "Harusnya aku yang bertanya bu, apa yang terjadi pada ayah dan ibu?" tanya Della, lalu Sinta menceritakan apa yang terjadi. Flashback on Hari yang sangat melelahkan, kini di akhiri oleh Adi dan Sinta dengan menutup tokonya setelah kepergian para pelanggan. "Aku tidak percaya ini, untuk pertama kalinya toko kita mendapat pelanggan sebanyak ini. Bahkan sepuluh kali lipat lebih ramai dari sebelum-sebelumnya, sementara sebelum-sebelumnya toko kita bisa dikatakan ramai juga." ucap Adi. "Bersyukur yah, ini sudah di atur oleh sang kuasa Hari ini kita mendapat rezeki berlipat-lipat, kita patut bersyukur" jawab Sinta. "Iya bu, yasudah ayo kita pulang. Rasanya tulang-tulang ayah sudah tidak pada tempatnya, hehe" ucap Adi sambil terkekeh, membuat istrinya hanya menanggapinya dengan senyuman. Setibanya di rumah, Adi membantu Sinta untuk menyiapkan makan malam. Hal yang selalu Adi lakukan saat Della belum pulang dari gubuk, karena ia tak ingin istrinya lelah seorang diri. "Akhirnya selesai juga, sekarang tinggal menunggu putri tersayang kita pulang" ucap Adi. "Jangan lupa untuk membersihkan diri, karena Della akan pingsan jika mencium bau badanmu itu" goda Sinta, lalu mereka tersenyum bersama. Adi dan Sinta pergi menuju kamar mereka untuk membersihkan diri. Namun sayangnya, saat akan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, seekor ular tengah menghadang mereka dan langsung menggigit kaki mereka bergantian. Tanpa membutuhkan waktu lama, Adi dan Sinta pingsan tak sadarkan diri. Flashback off Mendengar penuturan Sinta, Della merasa murka dan langsung pergi meninggalkan Adi dan Sinta. "Della, mau kemana kaumu nak?" Teriak Sinta, Adi mencoba menghalangi Della namun tidak sempat. "Bagaimana ini yah?" tanya Sinta panik, tiba-tiba Adi menyadari bekas gigitan ular itu telah hilang dari kakinya. "Sudahlah bu, Della tau apa yang harus dia lakukan. Sepertinya, Della sudah mulai merasakan apa yang ada dalam dirinya" jawab Adi sambil melihat kakinya dan kaki Sinta bergantian, membuat Sinta mengerti maksud Adi. Di tempat lain, di hutan yang tak jauh dari gubuk, Della sedang berteriak seperti orang yang kesurupan. Amarahnya tak dapat ia kendalikan, bahkan segala jenis ular yang ada di sana di buat taku olehnya. "Dealova.. Dealova.. Keluar kamu, sebelum aku benar-benar membunuhmu" ucap Della. Dengan kekuatan yang ia miliki, ia bisa mengetahui siapa dalang di balik kejadian yang menimpa orangtuanya. Bahkan tanpa Della sadari, bibirnya secara spontan menyebut nama yang bahkan tidak pernah ia dengar. Nama yang spontan keluar dari bibirnya setelah amarah menguasai dirinya. Nama seekor ular yang telah berusaha membunuh kedua orangtuanya, karena suatu tujuan. Tak kunjung menghampirinya, Della dengan cepat menelusuri hutan dan menemukan Dealova di sebuah pohon besar. Dengan amarah yang berapi-api, Della menatap Dealova tajam. Dengan cepat ia menarik tubuh Dealova dan membantingnya ke tanah. "Ah.." pekik Dealova kesakitan. "Kenapa? Kau merasakan sakit? Apakah itu sebanding dengan rasa sakit yang ayah dan ibuku rasakan? Atau aku harus minginjak kepalamu agar kau tau sakitnya yang ayah dan ibuku rasakan?" teriak Della murka. "Aku tidak tau apa yang kau inginkan, aku tidak tau apa yang membuatmu harus menyerang ayah dan ibuku. Yang aku tau, aku akan membalasmu atas apa yang kau lakukan kepada ayah dan ibuku" lanjut Della. Della kembali menarik tubuh Dealova dan melemparkannya ke pohon besar itu, lagi-lagi Dealova menjerit kesakitan. "Ah, sakit. Ampun Della, aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, sungguh aku sangat menyesal" ucap Dealova, namun tak di hiraukan oleh Della. Della mengangkat kedua tangannya, dengan kekuatan yang ia miliki, ia mengangkat tubuh Dealova tanpa menyentuhnya. Petir menyambar-nyambar, angin kencang bertiup, pepohonan seolah akan tumbang karena kemurkaan Della. "Tolong ampuni aku Della, aku menyesal. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku berjanji padamu" ucap Dealova. "Simpan janjimu untuk menghadap sang Dewi, karena aku tidak akan memberikan sedikitpun ampun untukmu. Kau bisa menyakitiku, tapi jangan pernah menyentuh kedua orangtuaku. Jika kau melakukan itu, inilah yang akan terjadi kepadamu, KEMATIAN" ucap Della menekankan kata kematian. "Della, hentikan. Kau tidak seharusnya membunuh sesamamu, kau sungguh keji jika kau melakukan itu. Lepaskan aku Della, lepaskan" teriak Dealova yang masih mengambang di udara. "Sesama? Apa kau tidak melihat dirimu dan diriku? Aku dan kau berbeda, dari segi manapun jelas berbeda. Lebih tepatnya, aku memiliki hati nurani sementara kau tidak, karena aku adslah manusia dan kau adalah ular yang sangat mematikan" ucap Della lantang. Mendengar itu, segala jenis ular yang ada di sana merasa terhina. Ingin rasanya ular-ular itu menyerang Della, namun tidak memiliki kekuatan untuk itu. Perkataan Della juga tak luput dari pendengaran Dirgo, yang juga ada di sana. Dengan cepat Dirgo menghampiri Della, tak ingin para ular itu membenci Della. "Della, hentikan. Apa yang kau lakukan? Turunkan Dealova dan kembalilah ke rumah, ayah dan ibumu pasti mencemaskan keadaanmu. Jika kau melakukan ini karena menyayangi mereka, maka sayangilah mereka dengan tidak membuat mereka cemas. Pulanglah, aku akan mengurus semuanya" ucap Dirgo. Mendengar ucapan Dirgo, sonta Della tersadar dan melihat Dealova yang mengambang di udara. Dengan cepat ia menurunkan tangannya, secepat itu juga Dealova terjatuh ke tanah, lagi-lagi Dealova menjerit kesakitan. "Oh tubuhku, ini sangat menyakitkan" pekik Dealova. "Apa yang aku lakukan? Apa ini? Kenapa aku bisa ada di sini? Dan ini, kenapa aku membuatnya mengambang di udara? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku seperti ini?" pertanyaan yanf tak mampu Dirgo jawab, membuat Della semakin bingung. "Pulanglah, tenangkan fikiranmu, aku akan mengurusnya" ucap Dirgo, yang di jawab dengan anggukan oleh Della. "Beruntung kau tidak mati di tangan ratu, sekali lagi kesalahan yang kau lakukan, maka Dewi kematian akan menjemputmu" ucap Dirgo pada Dealova setelah kepergian Della. "Dan kalian, jangan mencoba untuk menyerang ratu atas apa yang ia lakukan dan katakan. Kita tidak bisa marah karena benar saat ini ratu masih berwujud manusia, kita harus menunggu sampai waktunya tiba, dimana ratu benar-benar akan menjadi ratu." ucap Dirgo lalu meninggalkan mereka. Sementara Della, masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Banyak kejadian yang benar-benar di luar akal sehatnya, terutama kejadian yang baru saja terjadi. Della membuka pintu rumahnya, menatap ayah dan ibunya yang sedaritadi menunggu kepulangannya. Dengan air mata yang membasahi pipi, Della menghampiri ayah dan ibunya. "Siapa aku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD