Di tangan Lexi sudah ada beberapa paper bag yang berisi makanan kesukaan Diaz. Ia berjalan dengan riang memasuki rumah Diaz. Pagi ini ia berencana untuk sarapan bersama dengan orang yang cintai itu. Mumpung ia tidak ada jadwal pemotretan. Lexi berjalan menuju ruang makan yang ada di rumah Diaz. Ia menata makanan yang ia bawa di meja makan. Ia tidak perlu meminta izin kepada siapapun di rumah ini karena Diaz si pemilik rumah mengizinkan Lexi datang kapan saja dan melakukan apa saja. "Pagi.. " sapa wanita paruh baya bernama Moris yang menjadi pembantu di rumah Diaz. Lexi menoleh dan tersenyum merekah. "Pagi Moris. Bagaimana kabar mu" tanya Lexi "Baik. Bagaimana denganmu? Akhir akhir ini jarang sekali datang" "Aku baik. Memang akhir akhir ini aku banyak pekerjaan. Oh ya apa Diaz masih tidur?" Tanya Lexi. Moris yang sedang menyapu memberhentikan kegiatannya. Ia menatap Lexi dengan ragu ragu. Namun Lexi masih tak menyadari perubahan sikap Moris. Ia masih setia mengembangkan senyumnya. "Emm.. ya tuan masih tidur" ucap moris. "Baiklah aku akan membangunkannya" Lexi langsung berjalan menuju kamar Diaz. Kamar Diaz tidak pernah dikunci. Jadi Lexi bisa masuk begitu saja ke kamar pria itu. Lexi mengerutkan keningnya saat melihat tak ada siapapun di atas ranjang Diaz. Bahkan ranjang Kim masih rapi tidak seperti setelah tiduri seseorang. Akhirnya Lexi pun kembali keluar kamar diaz. "Moris tidak ada siapapun di kamarnya" ucap Lexi pada Moris yang masih menyapu. Moris menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Maaf nona. Tuan tidak tidur di kamarnya tapi tuan tidur di kamar kosong sebelahnya." ucap moris. Lexi mengerutkan keningnya. "Kenapa?" "Karena...." Moris menggantungkan ucapannya. Lexi menyipitkan matanya. Lama menunggu Moris menyelesaikan ucapannya, akhirnya Lexi memilih untuk melihat langsung apa yang terjadi. Moris ingin mencegah Lexi namun ia tak bisa berbuat apa apa lagi saat Lexi sudah membuka pintu kamar itu. Semuanya gelap. Lexi hanya bisa melihat punggung Diaz yang tidur miring. Lexi tersenyum. Ia berjalan ke arah gorden dan membuka gorden itu agar cahaya matahari bisa masuk. Saat ia berbalik, Lexi benar benar terkejut. Tubuhnya terasa membeku melihat pemandangan di depannya. Air matanya menggenang di pelupuk mata. Lexi melihat Diaz yang tidur memeluk Agatha yang juga tidur memunggunginya. Terlihat Agatha menggunakan jas milik Diaz. Dan Diaz hanya menggunakan kemeja kerjanya saja. Mereka tidur dalam satu selimut yang sama. Lexi mendekati mereka. Ia memperhatikan raut wajah Diaz yang terlihat begitu damai dalam tidurnya saat nafasnya menghirup aroma rambut Agatha. Agatha pun begitu, ia terlihat sangat nyaman berada di pelukan Diaz. Lexi membungkam mulutnya. Ia segera berlari tanpa suara keluar kamar itu. Ia sudah tidak kuat menahan tangisnya. Lexi menutup pelan pintu kamar itu dan bersandar di pintu itu. Perlahan tubuhnya meluruh. Ia menangis tanpa suara. Dadanya terasa sangat sakit melihat itu. Moris yang melihat itu hanya diam bersembunyi di balik pintu yang memisahkan antara ruang makan dan dapur. Ia merasa kasian dengan Lexi. Moris tau, meskipun Diaz tidak mengatakan apapun dari caranya memperlakukan lexi, perhatiannya kepada Lexi bukanlah bentuk dari rasa cinta. Namun hanya sebuah simpati Lexi bangkit dari duduknya. Ia menghapus air matanya dan berjalan ke arah westafel di dekat ruang makan. Ia membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar setelah menangis. ********** Agatha mengerjabkan matanya beberapa kali saat cahaya matahari masuk menganggu tidurnya. Ia ingin menggerakkan tubuhnya namun terasa sulit. Agatha melihat ke arah perutnya, ada sebuah tangan yang melingkar disana. Kemudian ia menoleh ke arah belakangnya, terlihat wajah Diaz yang terpejam begitu damai. Agatha mencoba melepaskan pelukan Diaz pada perutnya. Namun sebuah suara berhasil mengejutkannya "Sudah bangun Hem?" Ucap Diaz dengan suara serak khas bangun tidur. Agatha hanya diam. Ia sedikit menoleh ke arah belakang, dan saat itulah Diaz baru saja membuka kedua matanya dan tersenyum manis padanya. "Pagi..." Sapa Diaz. "Pagi" balas Agatha. Ia kembali menatap ke depan. Tak sanggup menatap wajah Diaz terlalu lama dalam jarak sedekat ini "Bagaimana tidurmu?" Tanya Diaz semakin merapatkan pelukannya. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Agatha. Menghirup dalam dalam aroma tubuh Agatha hingga ia memejamkan matanya kembali "Baik, tapi ...tolong lepaskan aku" lirih Agatha. Diaz langsung membuka kedua matanya. Ia baru sadar dengan apa yang dilakukannya. Diaz langsung melepaskan pelukannya pada Agatha dan terduduk di pinggir ranjang. "Maaf" ucap Diaz. Agatha pun bangkit dan terduduk di pinggir ranjang. Kini posisi mereka saling bersingkuran. Agatha merapatkan jas Diaz yang masih membalut tubuhnya. "Tak apa" ucap Agatha. Hening. Mereka sama sama diam dengan pikiran masing masing. "Aku mau mandi" ucap Agatha tanpa menoleh ke arah belakang. "Silahkan , kamar mandinya ada disana" ucap Diaz menunjuk ke salah satu sudut ruangan kamar itu yang menunjukkan pintu kamar mandi. "Emmm tapi.. bajuku.." tanya Agatha dengan ragu ragu. Barulah saat itu Diaz menoleh kepadanya. Agatha juga menoleh. Mereka saling bertatapan sejenak. "Akan ku pinjami bajuku untuk sementara waktu. Nanti aku akan menyuruh orang ke apartemen kamu untuk mengambilkan pakaian. " Ucap Diaz. Agatha hanya mengangguk saja. Kemudian ia berjalan dan masuk ke kamar mandi. Setelah kepergian Agatha, Diaz menghela nafasnya. Ia mengusal rambutnya. Kenapa ia bisa dalam posisi seperti itu dengan Agatha. Dan jujur saja jika hal itu bertahan lebih lama lagi, bisa bisa Diaz kembali meniduri Agatha. Karena wanita itu memang sangat menggoda bagi Diaz meskipun Agatha tidak melakukan apapun. Diaz memilih keluar dari kamar itu. Ia berjalan sambil mengusal tengkuknya, matanya masih terasa berat. Diaz akan menuju halaman belakang rumahnya. Seperti biasa ia akan bersantai sejenak halaman belakang rumahnya sambil menikmati kopi paginya. Langkah Diaz terhenti saat melihat sosok wanita yang sedang menata makanan di atas meja makan. Diaz memperjelas pandangannya dan saat itulah, wanita yang tadinya terlihat sibuk itu tersenyum padanya. "Pagi sayang" sapa Lexi dengan senyum merekahnya. Diaz sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu. Bukan karena kedatangannya tiba tiba tapi karena Diaz khawatir Lexi melihatnya bersama Agatha. Lexi berlari kecil mendekat pada Diaz yang masih berdiri mematung disana. Lexi langsung memeluk pria itu dengan erat. "Kau disini?" Tanya Diaz sambil membalas pelukan Lexi dengan mengelus rambut panjang wanita itu. Lexi menganggukkan kepalanya "Iya. Aku mau sarapan bareng sama kamu" ucap Lexi masih memeluk Diaz. "Kamu udah dari tadi?" Tanya Diaz. "Barusan kok" balas Lexi. Bohong tentu saja. Lexi memilih berpura pura tidak tau dengan apa yang terjadi. Ia tidak ingin ribut, karena ia takut Diaz semakin menjauhinya. Jadi Lexi memilih untuk diam saja. "Oh gitu" balas Diaz. Diaz menguraikan pelukannya. Ia memegang kedua bahu Lexi dan menatap mata wanita itu "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Diaz. "Iya kenapa?" Hatinya mulai dug dig dug tak karuan. "Ada Agatha disini" ucap Diaz. Sakit... Itulah yang dirasakan Lexi. Hanya mendengar nama Agatha keluar dari bibir Diaz saja membuat hatinya sakit. "Kenapa dia disini?" Tanya Lexi masih dengan nada santai. "Kemarin dia mau dirampok. Aku yang selamatkan dia. Dan ternyata Dipta pacarnya sedang ada pekerjaan di indonesia jadi dia sendiri disini. Kurasa tidak baik jika ia tinggal sendiri di apartemen mengingat kejadian semalam. Jadi aku membawanya kesini" jelas Diaz. Lexi menganggukkan kepalanya "Gapapa kan?" Tanya Diaz "Ya gapapa. Masak aku ngelarang kamu mau berbuat baik sih" ucap Lexi dengan senyumnya. Dan hal itu berhasil membuat Diaz sangat amat bersalah. "Duduk. Kita sarapan bareng" ucap Lexi. Diaz pun mengambil duduk disalah satu kursi meja makan. Namun saat Diaz akan mengambil makanan, gerakannya dihentikan oleh Lexi "Agatha mana? Kita sarapan bareng aja" ucap Lexi. "Mungkin masih mandi" ucap Diaz. "Kita tunggu bentar ya" ucap Lexi mengambil duduk di sebelah Diaz. Diaz mengangguk. Lexi menyandarkan kepalanya di bahu Diaz. Ia menggenggam erat tangan Diaz, dan tentu genggaman itu dibalas oleh Diaz. "Kapan kamu bisa cinta sama aku?" Lirih Lexi dengan suara yang sangat pelan. Diaz mengerutkan keningnya "Kamu bilang apa?" Tanya Diaz. "Ha? Siapa yang ngomong" "Kamu" "Enggak. Aku ga ngomong apa apa. Oh telinga kamu bermasalah deh kayak nya. Huhhhhhffsss" Lexi meniup keras lubang telinga Diaz membuat Diaz langsung bergidik karenanya Lexi tertawa saat Diaz merasa merinding disekujur tubuhnya. Kemudian Diaz membalas dengan menggelitik perut Lexi hingga wanita itu tertawa lepas. Agatha yang baru saja tiba memberhentikan langkahnya melihat pemandangan itu. Cemburu tentu saja. Namun ingin marah punya hak apa? Dia bukan siapa siapa Diaz lagi, meski mereka masih menyimpan rasa yang sama. Pandangan Lexi menangkap Agatha yang berdiri di ambang pintu ruang makan dengan menggunakan kaos putih kebesaran milik Diaz yang menutupi tubuhnya hingga satu jengkal diatas lutut. Rambutnya masih terlihat basah. "Agatha... Kamu udah selesai. Ayo sini kita sarapan bareng" ucap Lexi pada Agatha. Diaz langsung menoleh ke arah Agatha dan Agatha pun tersenyum kaku pada Lexi. Ia tidak tau harus bersikap bagaimana. Hingga akhirnya ia hanya berjalan perlahan menuju ke meja makan itu. Agatha mengambil duduk di depan Lexi. Dua wanita itu sama sama melemparkan senyum manis mereka. Sedangkan Diaz hanya diam saja. "Ayo kita makan. Diaz udah kelaparan kayaknya" ucap Lexi pada Agatha sambil menyenggol lengan Diaz. Diaz hanya membalas dengan senyuman singkatnya. Sedangkan Agatha hanya tersenyum kaku saja. Kini mereka makan dalam hening. Hanya suara dentuman sendok dan garpu yang terdengar disana. Diaz terlihat lahap memakan makanannya, Lexi terlihat santai saja sedangkan Agatha sangat malas memakan makanan itu. Tak ada nafsu untuk makan pagi ini. Ia merasa sangat bad mood. "Agatha mau tinggal disini berapa hari?" Tanya Lexi. Membuat Agatha dan Diaz langsung terdiam. "Emm..." Agatha terlihat ragu membalas pertanyaan Lexi hingga akhirnya Diaz yang menjawabnya "Sampai Dipta balik lagi kesini" ucap Diaz. Lexi dan Agatha langsung menatap Diaz yang terlihat kembali menikmati makanannya. "Oh... Yaudah gapapa. Dari pada kamu sendiri nanti bahaya" ucap Lexi. Agatha senyum tipis ke arahnya. Keheningan terjadi lagi diantara mereka. Diaz terlihat santai melanjutkan acara makannya, sedangkan Lexi dan Agatha terlihat semakin malas untuk makan. Hingga akhirnya sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Lexi membuat Agatha dan Diaz membeku disana "Apa yang kalian lakukan semalam?" .