Agatha bernafas lega saat pemotretan yang ia lakukan selama 5 jam ini sudah selesai. Ia duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya dan para model lainnya. Agatha meminum air putih dingin yang baru saja di berikan oleh crew padanya. "Akhirnya selesai juga" ucap Lexi yang baru saja duduk di kursi sampingnya dan juga meneguk minumannya. Agatha menoleh pada lexi "Ya, aku sangat lelah" ucap Agatha. Lexi meneguk cepat minumnya. "Model sepertimu kurasa bisa berada di depan kamera lebih lama dari ini" ucap Lexi "Aku sering berada di depan kamera lebih lama dari ini. Tapi aku merasa kurang sehat beberapa hari ini" "Minumlah vitamin Agatha, kau banyak jadwal pemotretan. Kau harus bisa menjaga kesehatannya" "Aku terima sarannya. Terimakasih" ucap Agatha dengan tersenyum manis. Lexi tersenyum untuk membalasnya. Lexi terus memperhatikan Agatha yang mengemas beberapa barangnya ke dalam tas. Memperhatikan setiap gerak gerik Agatha. "Dia wanita yang cantik dan anggun. Suaranya sangat lembut. Dia juga wanita baik. Pantas saja jika Diaz sulit untuk melupakannya" batin Lexi. Ia menundukkan kepalanya. Ia kembali memikirkan hubungannya dengan Diaz. Entah kenapa Lexi merasa kedatangan Agatha, membuat hubungannya dengan diaz terancam kandas. Meski Diaz selalu berkata jika Agatha hanyalah masa lalunya, namun Lexi mengerti jika Diaz masih mencintai Agatha. Dan Diaz sedang berusaha keras untuk membuka hati untuknya. Lexi tau jika sesuatu yang terlalu di paksakan tidak akan berdampak baik. "Lexi aku pulang dulu ya" ucap Agatha setelah semuanya barangnya sudah beres. Agatha sempat heran saat ia melihat Lexi memperhatikannya dengan melamun. "Oh iya. Hati hati tha" "Iya. Kamu ga pulang?" "Iya bentar lagi aku pulang. Mau beres beres dulu" "Oh oke. Aku duluan ya" "Iya tha" Agatha sudah berlalu pergi dari sana. Ia berjalan sambil memainkan ponselnya. Berusaha menghubungi Dipta yang entah berada di mana saat ini. Tadi pria itu mengatakan ada pertemuan penting dengan klien nya. Dan itu sudah tiga jam yang lalu. "Kemana nih bocah" guman agatha. Ia sangat suka mengatai Dipta bocah karena memang umur Dipta satu tahun lebih muda dari agatha. Agatha terus melangkah menuju loby sambil mengetikkan pesan untuk Dipta. Saat ia mengangkat kepalanya, pandangannya langsung menangkap sosok Diaz yang duduk menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ada di loby itu. Mata Diaz terpejam. Diaz masih menggunakan setelah kerja nya. Entah apakah pria itu tertidur atau tidak. Agatha tidak ada pilihan lain selain duduk di samping Diaz. Karena tidak ada tempat duduk lain. Perlahan Agatha mendaratkan bokong nya sofa itu. Ia menoleh, memperhatikan wajah Diaz yang terlihat damai itu. "Pasti dia kecapek an" guman Agatha. Hampir saja tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Diaz. Namun ia ingat jika ia tidak seharusnya melakukan itu saat ini. Semua sudah berbeda. Tidak seperti dulu lagi. "Loh tha kamu masih disini?" Ceplos Lexi yang datang. Kemudian Lexi mengerutkan keningnya melihat Diaz disana. Lexi menghela nafasnya "Ck.. dia ketiduran?" Tanya Lexi pada Agatha. Agatha mengerjabkan matanya beberapa kali saat Lexi melontarkan pertanyaan itu padanya. "Emm entahlah. Aku tidak tau" ucap Agatha. Lexi duduk di antara Diaz dan Agatha. Lexi mengusap puncak kepala Diaz dan membuat Diaz terbangun dari tidurnya. "Kamu kenapa disini? Aku kan udah bilang kalau kamu lelah ga usah jemput aku" ucap Lexi dengan sangat lembut pada Diaz. Agatha hanya diam sambil memainkan ponselnya. Bersikap seolah ia tak peduli dengan mereka. Diaz menegakkan duduknya. Ia melihat Agatha yang sibuk memainkan ponselnya, seolah tak peduli padanya. Padahal Diaz tau jika Agatha sejak tadi memperhatikannya. Diaz mendengar ucapan Agatha tadi dan ia sempat membuka matanya sedikit dan melihat Agatha mendekat padanya. Namun Agatha tidak menyadarinya. "Kita pulang sekarang? Atau kamu mau duduk dulu. Nanti kepala kamu pusing bangun tidur langsung nyetir"ucap Lexi "Gapapa kok. Kita pulang sekarang aja" ucap Diaz. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan langsung melangkah pergi dari sana. "Agatha aku duluan ya" ucap Lexi. Agatha mengangguk dan tersenyum. Kemudian melihat ke arah lu ggung Diaz yang semakin menjauhinya. "Sikap kamu beda sama aku. Apa karena ada Lexi pacar kamu disini?" Batin Agatha. Kemudian ia tersenyum hambat. Tentu saja pasti pasti karena itu. Memangnya apa lagi. "Maaf aku baru Dateng. Jalan macet tadi" ucap Dipta yang datang dengan buru buru. Agatha tersenyum pada Dipta. Ia membenarkan posisi dasi Dipta yang sedikit miring. Mungkin karena pria itu buru buru. "Gapapa. Aku juga baru selesai kok" "Syukur deh. Kita pulang sekarang apa mau kemana dulu?" Tanya Dipta "Pulang aja. Aku capek" "Yaudah, ayo aku antar" Dipta dan Agatha berjalan beriringan untuk menuju mobil yang terparkir didepan. Mobil Dipta langsung melesat pergi saat mereka sudah berada di dalam mobil. Saat perjalanan suasana menjadi hening. Dipta fokus menyetir dan Agatha melihat keluar jendela mobil ,memperhatikan jalanan yang ia lewati "Tha.." panggil Dipta memecah keheningan. Agatha menoleh ke arah Dipta "Iya Kenapa?" Tanya Agatha. "Nanti malam aku harus balik ke Indonesia. Maaf aku harus ninggalin kamu. Ada pekerjaan mendadak yang buat aku harus sudah ada di bali besok jam 10 pagi." ucap Dipta. Agatha menghela nafasnya. "Iya gapapa. Kalau emang penting ya mau gimana lagi. Aku ngerti kok" "Makasih sayang" ucap Dipta . Agatha hanya tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya pada lengan Dipta. ***************** Agatha melajukan mobilnya menuju apartemen tempatnya tinggal selama di Madrid. Ia baru saja mengantar Dipta ke bandara. Pria itu benar benar meninggalkan Madrid malam ini untuk menuju Indonesia. Alunan musik mengalun indah di dalam mobil Agatha. Ia mengetuk ngetiknya jarinya di atas dan sesekali bibirnya ikut bernyanyi mengikuti lagu yang ia putar. Mobil Agatha mulai memasuki kawasan yang cukup sepi. Hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang disana. Agatha sedikit merasa takut sebenarnya namun ia melawan rasa takutnya demi bisa sampai di apartemennya dengan cepat. Agatha mempercepat laju kendaraannya. Entah mengapa perasaannya tiba tiba tidak enak. Hingga akhirnya ada sebuah mobil hitam yang berhenti di depannya. Memotong jalan yang akan ia lalui. Tak lama dari itu keluarlah lima orang berbadan besar dari mobil itu. Tangan Agatha sudah bergetar hebat saat melihat orang orang itu mendekat padanya. Tok tok tok "Buka pintunya!! Cepat!!" Ucap seseorang salah satu dari mereka. Agatha tidak bisa berfikir jernih. Seharusnya ia bisa melajukan mobilnya. Tak perlu pedulikan bisa menabrak orang itu atau tidak. Namun Agatha malah membuka pintu mobilnya. Saat pintu mobil sudah terbuka sedikit langsung saja salah satu dari mereka menarik Agatha untuk keluar hingga ia terjatuh di aspal. Orang orang itu langsung menggeledah mobil Agatha. "Disini banyak barang berharga bos" ucap salah satu dari mereka pada orang yang menarik Agatha keluar tadi. "Bagus. Lebih baik kita bawa saja dengan mobilnya. Tapi...." Orang itu menatap ke arah Agatha yang masih terduduk di aspal dengan tubuh bergetar. Ia memperhatikan tubuh Agatha dari atas hingga bawah. Kemudian tersenyum mengerikan. "Cantik juga" ucap orang itu. Kini mereka semua sudah memperhatikan ke arah Agatha yang semakin beringsut mundur. "Bos dia model terkenal bos. Saya sempat melihatnya di majalah istri saya kemarin" "Wah wah wah... Jadi kamu model?" Orang itu terus bergerak semakin mendekat pada Agatha. "Ambil apa saja yang kalian mau tapi jangan bunuh saya" ucap Agatha dengan suara bergetar. "Oh tenang lah. Kami tidak akan membunuhmu karena kamu sudah berbaik hati pada kami. Tapi kami mau bermain main denganmu. Boleh?" "Tidak!! Kalian pergi sekarang, pergi!!" Teriak Agatha. Membuat orang itu langsung membekap mulutnya. Agatha meronta rintangan saat tubuhnya diangkat oleh tiga orang. Agatha dibawa ke arah semak semak yang ada di pinggir jalan itu. Kemudian tubuhnya di hempasan di sana. Agatha beringsut mundur tak peduli semak semak liar itu akan melukainya. "Jangan takut kami hanya ingin bermain sebentar saja" "Enggak. Pergi kalian pergi.. aku mohon. Ambil saja semua barang barang ku atau sekalian saja dengan mobilnya tapi jangan lakukan ini kumohon" "Kami tidak akan melewatkan kesempatan emas ini nona. Bermain dengan seorang model sepertimu, tidak akan terjadi untuk kedua kalinya" ucap salah satu dari mereka. Agatha menangis. Ia takut sangat takut. Orang orang itu membaringkan dan mencekal kaki tangan Agatha dengan kuat kuat. Satu orang di tangan kanan, satu orang di tangan kiri, satu orang di kaki kanan dan satu orang di kaki kiri. Hal itu membuat Agatha tidak bisa berbuat apa apa. Dan orang yang mereka panggil bos tadi berjongkok mengangkangi perut Agatha. Krekkk "Akkhhh lepasss hiks hiks" Agatha berteriak dan menangis saat orang itu merobek baju nya. Kini payudara Agatha yang terbungkus bra merah terpampang didepan mereka. Mereka langsung bersorak saat melihat payudara Agatha yang sintal itu. "Bagus bukan. Tidak salah kita menjadikannya mangsa" ucap orang yang mengangkanginya. Tangan orang itu mulai menyentuh leher Agatha dengan perlahan dan mulai turun ke dada. Meremas remas dada itu dengan kasar membuat Agatha merasa kesakitan. "Hiks hiks lepasin saya... Saya mohon" Isak Agatha. Ia sudah tidak bisa berbuat apa apa selain memohon untuk dilepaskan "Sebentar saja" ucap orang itu. Dan saat orang itu mendekatkan wajahnya pada leher Agatha tiba tiba terdengar suara tembakan beberapa kali Dor dor dor dor Orang orang yang mencekal kaki dan tangan Agatha langsung tumbang. Sedangkan orang yang mengangkangi Agatha tadi langsung bangkit dan melihat siapa yang melakukan itu. Bug bug bug Orang itu langsung mendapatkan serangan yang bertubi tubi. Agatha tidak peduli. Ia terlalu sibuk menutupi dirinya yang sudah tidak karuan itu. "Brengsek.. kurang ajar. Kau mau memperkosanya ha? Rasakan ini. Dasar pria bajingan" ucap orang itu sambil memukuli orang yang hampir saja memperkosa Agatha itu. Orang itu sudah terkapar tak sadar kan diri. Agatha masih disana memeluk dirinya sendiri sambil menangis. Tiba tiba ada sebuah jas yang menutupi tubuhnya. Agatha mendongak dan menatap orang itu. "Sekarang kamu aman" Agatha langsung memeluk orang itu. Ia menangis sejadi jadinya. Meluapkan rasa takutnya. "Kak Diaz aku takut hiks hiks mereka.. mereka.. mau hiks hiks " Agatha tak mampu melanjutkan kata katanya lagi. Diaz memeluk erat Agatha dan mengelus rambut panjangnya yang berantakan itu. "Kita pulang" ucap Diaz sambil membawa Agatha dalam gendongannya. Agatha mengalungkan tangannya di leher diaz. Ia masih menangis sesenggukan. Dan hal yang rasakan saat ini adalah aman dan nyaman. Ia tak peduli pagi siapa Diaz saat ini. Yang terpenting ia merasa aman bersama Diaz. Diaz mendudukkan Agatha di kursi penumpang sebelah kemudian. Namun saat ia akan menutup pintunya tangannya di cekal oleh Agatha "Mau kemana kak? Jangan tinggalin aku" ucap Agatha dengan suara bergetar. "Aku mau ngunci mobil kamu dulu. Terus kita pulang. Kamu tenang aja" cap Diaz menenangkan Agatha. Perlahan Agatha melepaskan cekalan ya. Diaz mengecup kening Agatha kemudian menutup pintunya. Diaz menelfon polisi dan melaporkan kejadian itu. Ia mengambil kunci mobil Agatha dan segera masuk ke dalam mobilnya. Didalam sana Agatha masih sesenggukan. Ia merapatkan jas Diaz yang menutupi tubuhnya. Diaz menarik Agatha dalam dekapannya. Dia melajukan mobilnya dan menyetir dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih setia memeluk Agatha yang masih bergetar itu. Mereka sama sama diam. Diaz fokus menyetir sedangkan Agatha sibuk merasakan kenyamanan itu. "Maaf aku datang terlambat dan lagi lagi buat kamu tersakiti" ucap Diaz. Agatha membuka matanya yang terpejam. Ia mendongak dan menatap Diaz dari bawa. Diaz memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menunduk menatap Agatha yang juga masih menatapnya. Perlahan Diaz memajukan wajahnya ke wajah Agatha dan Cupp Diaz mengecup bibir merah Agatha dengan lembut untuk beberapa detik. Membuat Agatha memejamkan matanya merasakan kecupan itu dengan dalam.