RERE TERJEBAK
Rere gadis manis berambut ikal mayang mengenakan kaus merah muda bercelana biru. Ia ditemani oleh Sasa seorang gadis manis berbaju biru. Bercelana hitam. Mereka duduk di bangku teras untuk membahas materi yang diberikan oleh dosen mereka.
"Tunggu dulu Re, aku mau mengambil laptop dulu di kamar!" Sasa segera ke dalam.
Rere hela napas seraya melirik Sasa. Ia lantas berjalan ke halaman. Menghirup udara malam dengan damai. "Tolong! Tolong!" Rere mendengar suara meminta tolong. Ia segera berlari mencari suara tersebut.
Seorang gadis cantik berbaju hijau menjerit. Ia berlari, tetapi empat pemuda bertubuh besar berhasil menangkapnya. Rere segera berlari hendak menolong. Namun, ia terlambat. Gadis itu tewas ditembak di hadapannya. "Aaaa!" Rere memekik.
Mereka terkejut mendengar suara Rere. Rere kelabakan, ia segera berlari ketika mereka mengejar.
"Cepat jangan biarkan gadis itu lolos!"
"Aku harus bisa menyelamatkan diri!" Rere terus berlari hingga melewati rumah Sasa.
Dor! Dor! Dor! Mereka terus mengejar Rere. Gadis ini cukup gesit. Ia melompati tembok yang menghalangi langkah saat dirinya menghadapi jalan buntu.
"Oh, sial! Ambil jalan lain!" perintah pemuda berambut sedikit panjang.
Mereka segera mencari jalan lain. Rere terus berlari. Ia meraih ponsel dari saku celana kiri bagian depan. "Halo, Pak! Saya melihat pem--aw!" Dor! Rere nyaris tertembak. Ponselnya terjatuh. Ia hendak meraih kembali. Namun, mereka sudah mengepungnya. Satu orang maju kemudian menempatkan pistol ke pelipis kiri. Panas-dingin tubuh Rere membayangkan peluru akan bersarang pada kepala. Ia mengangkat tangan tanda menyerah.
"Habisi sekalian daripada dia menghubungi polisi!" perintah pemuda berwajah tegas.
"To--tolong, jangan lakukan itu! Saya berjanji tidak akan mengadu!" Ia pejamkan mata dengan wajah takut saat kepala didorong oleh pistol. Namun, ia mendengar suara tarikan. Rere segera berjongkok kemudian meninju perut lawan. Dor! Tembakan luput. Rere segera menguasai lawan dengan cara merampas pistol kemudian mengarahkan pistol pada leher lawan.
"Kamu tidak akan selamat bila melakukannya!" Pemuda ini masih bisa mengancam dalam keadaan terancam.
"Dia benar. Kami akan tetap menghabisimu walau kamu telah melukainya!"
Rere bimbang. Namun, segera menetralkan diri. Tidak ingin terkendali oleh mereka. Ia menarik tawanannya untuk mundur. "Saya tidak peduli! Jika kalian tidak segera pergi maka saya akan terus begini? Kalau bisa kita berdiri di sini hingga pagi!" teriaknya.
Mereka bertiga saling lirik. Memberi isyarat agar mundur. Rere mundur perlahan bersamaan dengan mereka yang mundur pula. Keringat membasahi tubuhnya. Menjadikan malam yang amat dingin tak berarti di situasi menegangkan seperti ini. Rere segera mendorong kemudian lari dengan cepat.
"Kejar!"
Rere berlari ke luar gerbang ia saat ini berada di jalan raya. Banyak mobil masih berlalu-lalang. Rere memandang ke kanan dan kiri. Ia segera mengambil langkah ke kiri. Mereka awalnya bingung, tetapi setelah melihat Rere berlari ke arah kiri mereka segera mengejar. Rere nyaris ditabrak truk. Beruntung gadis ini dengan gesit berdiri di tengah-tengah aspal. Sehingga kini tubuhnya selamat. Mobil melaju di sekitarnya. Rere berlari di garis putih.
Mereka ingin menyeberang menyusul Rere, tetapi karena mobil begitu padat akhirnya hanya bisa berlari di sisi jalan seraya mencari kesempatan untuk menangkap gadis itu. Rere berhasil lolos dengan cara menyalip pada mobil yang melambat. Ia segera berlari cepat di pinggir jalan.
"Itu dia!" tunjuk lelaki berkepala botak. Ini adalah bos mereka yang baru tiba.
"Gawat!" Ia melihat mereka akan mulai menembakinya.
Rere terus berlari hingga nyaris tersungkur. Satu orang berhasil menyeberang. Kini mengejarnya dengan kecepatan lari yang nyaris menjangkau Rere. Rere telah kepayahan tenaganya nyaris habis. Ia terbatuk seraya menyentuh d**a. Rasanya sesak di area itu. Namun, untuk berhenti dirinya tidak mungkin. Rere tiba di jalan yang memang sunyi kendaraan. Mereka akhirnya dapat leluasa mengejar Rere.
"Mau ke mana kamu?" Dua orang kini mencegah lari Rere.
Rere kebingungan, ingin berbalik. Namun, di belakangnya pula ada dua lagi. "Saya tidak akan mengadu! Saya pasti bungkam!" teriaknya dengan napas tersengal.
"Kami tidak akan percaya." Lelaki berkepala botak mengarahkan pistol ke d**a Rere.
Rere mundur, ia menelan ludah. "Tolong jangan lakukan itu!" Ia mencoba memohon dengan menyatukan kedua tangan. Namun, lelaki itu maju untuk mengarahkan pistol ke keningnya. "Aa!" Rere membentur lelaki kurus di belakangnya. "Tidak, lepaskan aku!" Ia dipegangi. Rere berusaha meronta.
"Maaf, kamu haru--akh!" Bagian intinya diserang Rere dengan lutut kanan. "Sial!" Ia hendak membalas Rere. Namun, Rere segera menendang. Sehingga dirinya kini termundur. "Hajar dia!"
Mereka maju untuk menghajar Rere. Gadis ini meronta untuk melepaskan diri. Ia berhasil kemudian menarik lawan yang tadi kemudian mendorongnya pada mereka. Rere segera lari. Namun, usahanya gagal karena lelaki botak tadi menarik tangannya. "Lepas!"
"Tidak akan kubiarkan lolos!"
Mereka ingin mendatangi Rere. Gadis ini berusaha lepas. "Ah!" Ia malah ditarik kemudian lehernya dikunci.
"Cepat atasi gadis ini!"
Rere panik. Ia tak ada cara lain. Maka dengan menggunakan kukunya ia mencakar wajah lelaki itu hingga terluka amat parah. Rere lantas melepaskan diri saat kuncian pada lehernya melonggar. Ia segera menendang d**a lelaki itu kemudian lari.
"Ah, sakit! Tembak mati dia!" perintahnya seraya menyentuh wajahnya yang terluka.
Mereka segera menembaki Rere. Dor! Dor! Dor! "Ah ...!" Rere tertembak pada punggung sebelah kiri. Darah mengalir deras. Dirinya tersungkur. "Ihs ...!" rintihnya. Rere berpaling untuk melihat mereka yang kini nyaris mencapai dirinya. "Aku nggak bisa mati begini!" Rere berusaha bangkit. Ia kembali berlari. Dor! "Aaagh!" Kembali dirinya tertembak. Kali ini tepat di punggung. Rere nyaris terjatuh. Air matanya mengalir. Gadis ini nyaris kehabisan daya. Namun, demi bertahan hidup ia tetap berlari. Walau kini melambat dan nyaris terjatuh. Pandangannya buram, segalanya menjadi berputar. Ia hanya mendengar suara mereka yang ingin menghabisinya. Selebihnya dirinya tidak dapat merasakan apa pun kecuali rasa ingin tertidur. Titit ...! Suara klakson membuatnya tersadar. Ia segera menjatuhkan diri di depan mobil tersebut. Rere tergeletak dan tidak sadarkan diri.
Seorang pemuda bertubuh besar. Berambut panjang sebahu. Berbaju merah. Kini keluar dari mobil. Ia membawa Rere masuk ke mobil. Mereka tiba, hanya melihat darah.
"Di mana gadis sial itu?!" Lelaki berkepala botak ini berteriak marah.
"Sepertinya sudah pergi jauh, Bos."
"Aku tidak mau tahu! Dia sudah membuat wajahku begini. Dia harus kudapatkan. Cari dia hingga dapat!"
"Baik."
"Dia juga saksi pembunuhan itu. Jangan sampai gadis itu mengadu. Cari tahu keberadaannya. Langsung habisi bila kalian temukan dia!"
"Baik."
Dengan dendam lelaki ini kembali. Ia tidak akan melupakan perlakuan Rere kepadanya. Betapa sakitnya kuku tajam Rere. Ini akan sangat membekas. "Aku bersumpah akan membuatmu malu dan menderita bila sampai bertemu kembali!"