Seorang dokter pribadi bernama Beno menghampiri pemuda bertubuh besar. Berbaju merah. Pemuda inilah yang membawa Rere ke rumah megahnya.
"Dia mengalami pendarahan yang cukup parah. Beruntung perlengkapan kita cukup untuk mengatasinya."
"Lalu?" tanyanya seraya duduk sisi Rere yang sedang berbaring.
"Dia butuh sedikit darah. Saya rasa Tuan, memiliki golongan darah yang sama."
Pemuda ini tertawa sekilas. "Aku punya riwayat pelupa. Apa tidak masalah mendonorkan darah?"
Beno tertawa seraya menggeleng kepala. "Itu sifat Anda. Bukan darah Anda. Jangan menghindari bersikap baik!"
"Baiklah, sebenarnya aku takut mendonorkan darahku, tapi bila itu yang diperlukan tak masalah."
"Sekarang Anda berbaringlah di dekatnya! Kami akan mengambil darah Anda."
Pemuda ini segera berbaring. Dua orang perawat wanita sedang menyiapkan peralatan operasi. Operasi berjalan cukup lama. Membuat pemuda ini mengantuk. Ia terlelap saat usai mereka mengambil darahnya. Operasi dilakukan dengan peralatan lengkap karena si pemuda mampu menyediakan fasilitas berobat sendiri di rumahnya. Dia adalah Lukman. Memiliki riwayat pelupa. Dia tidak bisa mengenali hanya satu atau dua kali melihat saja. Lukman harus melihat sedikitnya sepuluh kali baru dapat mengingat sesuatu. Itulah sebabnya ia memerlukan seorang dokter untuk mengobati penyakit parahnya tersebut. Operasi selesai. Mereka segera pergi sementara Lukman masih terlelap. Keesokan harinya Lukman terbangun. Ia merasa letih dan pusing. Pemuda ini segera pergi untuk mencari minum.
"Tuan, apa yang Anda inginkan?" tanya seorang pelayan cantik seumuran dengan Rere. Dia masih SMU. Bila siang bersekolah dan paginya dia di rumah Lukman.
"Siapa, ya?" tanya Lukman seraya menyentuh kepalanya.
"Saya Desi, Tuan. Kemarin kita sudah--"
"Desi?"
"Iya, Tuan."
"Loh, kok aku tidak tahu?" Ia coba mengingat kembali.
"Tuan?" Desi terkejut saat Lukman merengkuh kedua pundaknya kemudian meneliti wajahnya begitu dekat. Desi memucat karena nyaris wajah mereka bersentuhan.
"Aku tidak ingat!" Lukman lantas menjauh.
Desi lega, padahal tadi sempat berpikir bahwa Lukman adalah orang yang jahat. "Saya, Desi. Anaknya Bibi Sita."
"Oh, Bi Sita!" serunya senang.
"Saya menggantikannya untuk bekerja di sini, Tuan."
"Anu ... em ...." Lukman menggaruk kepala. "Nanti kamu selfie terus kirim fotomu ke aku, ya?"
"Buat apa, Tuan?"
"Biar aku ingat. Aku sering lupa dengan orang."
"Oh," gumamnya sembari mengangguk-angguk.
"Aku ingin minum. Bisakah kamu ambilkan aku segelas s**u cokelat hangat?"
"Tentu, Tuan. Saya akan membuatkannya untuk Anda."
"Bisakah tolong buatkan dua gelas?"
"Anda minum dua gelas?" Gadis ini nampak sedang memandang tubuh Lukman. "Pantas tubuhnya seperti raksasa. Rupanya dia minum dua gelas s**u cokelat," batinnya.
"Tidak. Saya ingin kamu berikan s**u itu kepada gadis di kamar ini. Sementara s**u saya silakan antarkan ke kamar saya yang berada dua kamar dari sini!" Ia menunjuk kamar yang dimaksud.
Desi memandang kamar tersebut kemudian berbalik. "Baik, Tuan. Saya akan segera membawanya." Desi kemudian melangkah. Awalnya ia bingung karena tubuh Lukman menghalangi langkahnya. Saat dirinya memandang Lukman. Lelaki itu segera paham.
"Maaf," ucap Lukman seraya merapat pada dinding.
Desi tertawa tanpa suara saat melihat wajah Lukman yang polos. Ia tidak menyangka pemuda berbadan besar itu bisa gugup juga. Menurutnya Lukman sangat cocok menjadi pelatih di pusat kebugaran. Memiliki badan yang bagus. Namun, wajahnya terlihat seperti preman sehingga banyak yang baru mengenalnya akan beranggapan bahwa Lukman ini buruk.
Lukman membaca koran di kamarnya. Ia duduk di ranjang. Mengenakan piyama berwarna biru laut. Desi datang dengan mengetuk pintu sebanyak tiga kali. "Masuklah," pintanya.
Desi menaruh nampan berisi sepiring nasi goreng beserta s**u dan air putih. "Tuan, saya sediakan makanan juga. Kata suster Ana Anda belum makan dari semalam."
"Kamu siapa, ya?" Lukman kembali memperhatikan Desi.
Desi nyaris tertawa. "Tuan, ini saya Desi. Pelayan baru Anda. Anak dari Bi Sita."
"Oh, iya!" Lukman ceria. Namun, sedetik kemudian ia kembali bertanya, "Apa kita pernah bertemu?"
"Baru saja, Tuan. Di depan kamar gadis yang Anda selamatkan semalam."
"Eh, iyakah? Gadis yang mana ini?" Lukman menggaruk kepala yang tak gatal.
"Sebaiknya Anda minum obat setelah makan, Tuan. Biar Anda dapat berpikir tenang," sarannya.
Lukman masih termenung. Ia mencoba mengingat kejadian semalam. "Ih, lupa aku!" Ia menampar pelipis sendiri.
"Maaf, Tuan. Sebaiknya Anda makan sebelum hidangan ini dingin. Saya permisi." Desi segera pergi. Ia menutup kembali pintu kamar secara perlahan.
Lukman menyantap hidangan. Ia masih penasaran dengan gadis yang diceritakan oleh Desi. Maka sebelum ia lupa. Lukman segera menaruh kembali makanannya. Ia bergegas ke kamar Rere.
"Tuan," tegur Zusan. Suster yang biasa merawatnya.
"Aku ingin melihat gadis itu."
"Silakan." Suster Zusan membuka pintu kamar.
Lukman masuk. Pintu kembali ditutup oleh Suster Zusan. Perlahan ia hampiri gadis itu. Lukman memandang Rere. Ia menyentuh pergelangan tangannya. Menurutnya Rere amat muda. Ia menduga seusia Desi. Lukman memandang gorden. Ia bermaksud untuk menyingkap tirai. Maka Lukman menyingkapnya. Ia tersenyum saat melihat bias mentari menyinari wajah Rere. Lukman lantas membuka jendela.
Rere terjaga, ia merasa kesilauan. "Di mana aku?" batinnya. Ia terkejut melihat Lukman yang kini sedang membelakanginya sedang mencari sesuatu dari lemari. Tanpa bangkit ia memandang dirinya yang kini telah berganti dengan pakaian lain. Rere meradang, ia amat marah sekali. "Apa yang dia lakukan terhadapku?!" Rere segera menutup sedikit matanya saat Lukman menghampirinya seraya membawa selimut baru. Lukman menyingkirkan selimut Rere. Lukman menyentuh Rere, bermaksud untuk merapikan pakaiannya. Namun, Prak! Rere menghantam kepala Lukman dengan vas bunga yang ia raih dari meja.
"Agh!" erangnya kemudian Lukman tidak sadarkan diri. Rere mendorong Lukman yang jatuh di atas tubuhnya.
"Lelaki kurang ajar! Beraninya kamu menodaiku. Akan aku bunuh kamu!" Rere menendang perut Lukman.
"Tuan, Anda kenap--kenapa kamu lakukan itu?!" bentak Zusan saat ia melihat Rere menghajar Lukman.
Rere terkejut. Apalagi suster berteriak memanggil pengawal. Rere tanpa pikir panjang segera melompat dari jendela.
"Kejar gadis tidak berbudi itu!" perintah Suster Zusan.
Kedua pengawal berbaju hitam bertubuh hampir sama seperti Lukman segera mengejar Rere. Dengan rasa sakit yang didera Rere terpaksa bersembunyi di salah satu kedai. Ia tidak mungkin lari jauh. Mereka terus mengejar hingga melewatinya. Rere tiba di rumah dengan lelah. Ia kemudian masuk tanpa peduli ayah dan ibunya sedang menyaksikan televisi.
"Dari mana kamu, Re?" tanya Sonia. Ibunya yang terlihat masih muda.
"Rumah teman," jawabnya tanpa berhenti. Rere segera ke kamar. Gadis ini terduduk di atas ranjang. Ia melihat cermin di depannya.
Rere masih ingat kejadian semalam. Di mana ia nyaris mati mendapat dua tembakan. Ia mengira lelaki itu adalah satu dari mereka. Maka Rere menangis sejadi-jadinya. Ia mengira Lukman telah menodainya. "Maafkan, aku mama-papa karena tidak bisa menjaga diri."