APAKAH INI JODOH?

1033 Words
Dua tahun kemudian. Rere sedang berdiri di depan sebuah kantor terbesar di Samarinda. Kantor pembuatan angkutan umum terbesar pula di Indonesia. Rere yang saat ini telah berumur dua puluh empat tahun kini mengenakan dress biru muda dengan kerah dan lengan baju hingga sesiku. Ia membawa map untuk diberikan kepada satpam. "Di sini kami tidak menerima lagi karyawan." Budi seorang pemuda yang kini menolak diberikan map oleh Rere. "Ayolah, Pak, pasti adalagi yang lain!" "Tunggu, saya harus bertanya pada atasan dulu." Ia segera menghubungi atasannya. Rere menunggu dengan setia. Sesekali ia memandang ke dalam pos. "Aku sepertinya kenal dengan orang itu?" gumamnya. Lukman sedang menerima telepon di dekat pagar. Ia kemudian masuk tanpa peduli pada Rere. "Bu, kata atasan saya Anda boleh masuk. Dia ingin bertemu langsung." "Terima kasih, Pak." Rere masuk ke kantor. Suasana yang dirasakan pertama kali adalah rasa kagum. "Wah, bagus sekali--eh!" Ia tidak sengaja menabrak seorang pemuda. "Maaf!" "Mau melamar atau baru bekerja?" tanya pemuda ini. Rere membaca ID-nya. "Sani." "Iya, namaku Saini. Namamu?" "Rere Fortuna, Pak." "Oh," gumamnya. "Pak, kantor atasan di mana, ya?" Ia merasa risih diperhatikan oleh Saini. "Biar saya tunjukkan!" Ia berjalan lebih dahulu. Rere melirik sekitar. Mereka nampak tidak peduli dan hanya sibuk mengurusi urusan masing-masing. Rere menaikkan tali tas. Ia merasa dari tadi tali itu selalu longgar. "Pak, ada tamu." "Masuk saja!" "Masuklah!" Dengan ragu Rere melangkah. "Pak." "Kunci pintunya!" "Kunci?" Namun, walau curiga ia tetap menguncinya. Lukman kini berbalik. Ia mengejutkan Rere. Gadis ini memucat dan mundur perlahan. "Duduklah!" "Pak, saya tidak jadi." "Saya tidak terima penolakan. Duduk biar kita bicara." Rere dengan berat hati duduk. "Apa dia akan balas dendam denganku?" pikirnya. "Mana mapnya?" "Ini, Pak." Lukman heran saat ia hendak mengambil map Rere malah menariknya. Ia seperti dibuat mainan oleh Rere. "Mau berikan atau kutampar?" "Be-berikan!" Ia segera melempar map. Rere segera sadar dan berdiri saat map yang ia lempar terkena wajah Lukman. Kini isinya pun berserakan. "Ma--maaf, Pak!" Ia membungkuk. Kancing paling atas dari dressnya terlepas. Lukman mendesah kesal. Ia baru ini mendapati pelamar yang ceroboh. "Ambil semua dan berikan pada saya!" Ia berdiri kemudian duduk di sofa. "Baik!" Dengan cepat Rere menyusun semua berkas lamarannya. "Pak, ini." "Taruh di meja dan sekarang duduklah di sini sambil menyaksikan televisi!" Rere ragu, ia berjalan rapat. Nyaris tidak terlihat bergerak dari tempatnya. Setiap ia gerak sepatu itu menimbulkan suara gesek yang membuat Lukman kesal. "Apa kamu tidak bisa jalan? Kalau tidak bisa, apa kamu tidak bisa terbang atau melompat saja kemari?" "Ini sudah yang tercepat, Pak." Lukman membungkuk. Ia mengusap kasar wajahnya. "Siapa namamu?" "Rere Fortuna, Pak." "Berapa usiamu?" "Dua puluh empat tahun, Pak." "Tinggal di mana dan di mana rumah orang tuamu?" "Saya tinggal di sekitar sini saja. Kedua orang tua saya telah tiada." "Hem, sini lebih cepat!" "Iya." Namun, begitu ia tetap lambat. "Kalau saya yang ke sana nanti saya sergap kamu!" "Tidak!" Rere segera berlari kemudian duduk manis di sofa. "Menghadap saya!" Rere duduk dengan canggung. Ia menurunkan rok yang sedikit ternaik. Merapikan baju. "Eh, ke mana?" Ia heran kancing baju terlepas. "Apa yang kamu lakukan!" "Kancing saya terlepas." Ia menutupi bagian yang terbuka. "Melihat kemari!" "Pak, saya malu." "Tutupi saja kalau malu. Ini!" Ia menyerahkan buku. "Sekarang saya ingin mengambil gambarmu." "Untuk apa?" "Tidak usah bertanya!" Rere diam seraya menunduk. Ia terkejut saat Lukman mengangkat dagunya. Wajah mereka begitu dekat. "Ja--jangan!" "Apa yang kamu pikirkan, hem? Saya hanya ingin mengatur agar wajahmu terlihat jelas saat saya foto." "Baik." Lukman mengambil gambar Rere. Bahkan beberapa kali. "Oke, Re. Sekarang sudah selesai." Ia melirik baju Rere seraya menaruh ponsel di meja. "Tidak!" Rere mundur saat Lukman hendak menyentuh bagian yang terbuka. "Tidak masalah. Sini, biar saya atasi." Lukman meraih kawat penjepit pada kertas. "Jangan takut, ya. Saya tidak akan berbuat sesuatu." Ia menjadikan penjepit sebagai peniti. "Ish!" rintihnya saat kawat yang disemat oleh Lukman kini menusuk kain dan ternyata jari Lukman malah mengetuk kulitnya. "Maaf, saya tidak sengaja!" Lukman panik. Ia lantas memandang Rere. "Sakit?" "Sedikit." "Saya ulangi lagi. Saya akan lebih hati-hati." Lukman kali ini menarik pakaian Rere sehingga Rere termaju. Tidak sadar malah bibirnya menyentuh kening Lukman. "Aduh, kenapa ini?!" Rere malu bercampur kesal. "Re, jangan begini! Kamu nggak boleh memaafkan dia. Dia sudah menodaimu dulu dan yang sekarang kamu lakukan adalah melupakan dia dan masa lalu!" batinnya. Namun, begitu Rere tidak akan pernah lupa. Ia minder kepada lelaki yang selalu mencoba mendekatinya lantaran merasa diri telah kotor. Di sini di hadapannya Lukman lelaki yang ia sangka telah merenggut kesuciannya ada di hadapannya. "Sudah." Lukman kembali duduk seperti biasa. Ia meraih ponsel. "Baru pagi ini saya memecat sekretaris saya. Jadi saya harap lowongan itu diisi olehmu, Bu Rere." "Dia memecat hanya karena aku? Apa dia merasa bersalah karena telah menodaiku?" pikirnya. "Jawab saja mau atau tidak, Bu. Saya akan menjadwalkan siang ini kamu akan bekerja pada saya. Jadi mulai hari ini upahmu berjalan." Rere ingin sekali membantah, tetapi kontrakannya sudah dua bulan tidak dibayarkan. Rere terus terang takut pada Lukman. "Sa--saya butuh waktu untuk berpikir." "Waktu?" Lukman kini memandangnya. "Eh, maaf! Iya, saya mau." Lukman tertawa geli tanpa suara melihat Rere yang plin-plan dalam mengambil keputusan. "Baiklah, Bu Rere. Ruangan Anda bersama saya. Apa Anda melihat meja di sana?" Rere memandang meja berisi banyak laporan. Tepatnya di sebelah lemari. "Iya, Pak." "Itulah tempatmu. Apa kamu melihat pintu ruangan di sebelah mejaku, Bu?" Rere melihat pintu di samping meja Lukman. "Iya, Pak." "Itu adalah kamar tidurku. Saya bila lembur tidur di sana. Di sana juga terdapat dapur dan kamar mandi kecil. Ibu, bisa tidur dengan saya di sana." Wajah Rere memucat. "Saya akan pulang saja." "Tidak usah cemas. Di sini juga ada Ratna dan Dodi. Dia juga tidur di situ." "Jadi Anda tidak sendiri?" "Ya." "Dua lelaki satu gadis?" "Ya." "Saya tidak mau!" "Tidak perlu berpikir aneh. Saya tidak akan macam-macam. Kami hanya rehat." "Lelaki ini pendusta. Mana mungkin dia tidak berbuat jahat sedangkan dia dua tahun yang lalu telah menghilangkan kegadisanku!" batinnya. "Baiklah, Bu. Anda mulailah mengenali dokumen dalam map kuning di meja itu. Jika tidak tahu Anda boleh bertanya." "Baik, Pak." Rere menuju meja tersebut. Ia duduk seraya melirik Lukman yang kini sedang asyik berbicara di telepon. "Aku rasanya ingin membalas dia. Aku sungguh tidak bisa lupa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD