KENAPA DIA LUPA?

1269 Words
"Di mana gadis itu?" Dua orang berbaju hitam langsung menerobos masuk. "Siapa kalian?" tanya Ibunya. Rere yang sedang memakai pakaian biru. Kini mendengar suara dari luar. "Mama-Papa!" Ia segera keluar. "Mama!" teriaknya saat seorang pemuda berambut panjang berpakaian hitam kini menyakiti ibunya. Ia tahu dialah orang yang kemarin mengejarnya. "Rere masuk!" perintah ayahnya. "Agh!" Ia ditendang. "Jangan!" Rere ingin berlari untuk melindungi mereka. Namun, satu orang yang memiliki senjata tajam kini menuju ke arahnya. "Tidak!" Brak! Ia segera mengunci pintu. "Keluar kamu!" Rere mundur, ia sangat panik karena pintu yang didobrak akan ambruk. Rere melihat raket nyamuk tergantung di dinding di dekat ranjang. Segera ia berlari dan melompat ke ranjang untuk mengambil raket. Dengan mengumpulkan kekuatan Rere akhirnya menggenggam raket untuk menyakiti lawan. Ia berdiri di belakang pintu. Pintu berhasil didobrak. "Hiya!" Dbuk! Dbuk! "Agh, sial!" Ia menangkis pukulan Rere. "Tidak!" Raket Rere berhasil ditangkap. Sebelum benda itu melukainya ia langsung menendang perut lawan. Rere segera keluar. Ia terdiam saat melihat jenazah ayah dan ibunya. Tergeletak menyedihkan. "Tidak!" Rere terbangun. Kini peluh membasahi sekujur tubuh. Gadis ini memimpikan kejadian tragis dua tahun silam. Rere meraih ponsel kemudian memandang jam. Masih pukul 21:11. Rere memang tidur selepas Magrib. Gadis ini tidak ada teman sekamar. Tidak ada hiburan pula. Ia melalui harinya dengan kesunyian. Kini ia mulai membiasakan dirinya untuk membuka diri setelah kemuraman yang selama ini membuatnya tidak percaya diri. Terlebih lagi salah paham yang ia yakini. Yaitu berpikir bahwa dirinya sudah tidak suci lagi. Lukman : Bu Rere, besok laporan itu sudah harus selesai. Rere mendesah membaca pesan dari Lukman. Artinya harus bertemu kembali dengan pemuda itu. "Apa dia tidak tahu? Aku benci padanya." *** Pagi itu Rere mengenakan kemeja kuning dengan rok yang pula berwarna kuning sebatas lutut. Ia berlari kecil menuju ke ruangan Lukman. Hari ini ia kesiangan bangun lantaran menyiapkan laporan yang Lukman tugaskan. "Selamat pagi, Pak." "Saya tunggu di sini kamu sudah setengah jam. Harusnya kamu datang lebih awal dari saya. Kenapa lama, Susi?" "Eh, Susi?" Rere terheran. Sejak kapan namanya diganti Susi. Padahal baru kemarin ia bekerja dan memerkenalkan diri. "Mana laporan keuangan itu?" "Pak, saya membawa laporan lain. Bukan masalah keuangan." "Loh, Susi. Kamu ini bagaimana, sih? Saya hari ini ada rapat penting. Itu akan dibawa sekretaris saya Rere." "Pak, saya Rere." "Loh, jadi kamu bukan Susi?" Lukman malu. Ia mengusap habis wajahnya. "Tunggu!" Lukman meraih album foto dari laci. Rere tercengang saat melihat foto-foto para staf berada di sana. "Pak, Anda mengoleksi foto kami?" "Kamu siapa tadi namanya?" "Rere Fortuna, Pak." "Kapan mulai bekerja di sini?" "Kemarin?" "Tanggal?" "Ya, kemarin, Pak. Masa, lupa?" "Jawab yang benar! Saya menanyakan tanggal!" "Tanggal 3, Pak." "Oh, ini. Rere umur dua puluh empat tahun. Sekretaris saya." "Iya, Pak." "Kamu belum punya nama. Nanti buat, ya!" "Iya, Pak." "Mana laporan keuangannya tadi, Bu?" "Saya tidak mengerjakan itu, Pak." "Loh, Susi--" "Rere, Pak." "Maaf, Bu Rere. Laporan apa yang kamu kerjakan?" "Rencana rapat nanti, Pak." "Oh, saya lupa." "Pak, apakah ada yang harus saya kerjakan lagi?" "Tolong panggil yang namanya Rere ke sini. Saya mau minta laporan keuangan sama dia." "Orang ini kenapa? Gilakah?" batin Rere kesal. "Pak, saya sendiri." "Iya, tahu. Siapa bilang kamu berdua dengan temanmu." "Maksud saya. Saya adalah Rere!" "Oh, maaf. Saya lupa lagi, Bu. Pekerja baru bukan cuma kamu. Ada Susi juga. Jadi wajar saya lupa." "Apa itu yang dia bilang wajar. Apa dia sengaja memermainkanku? Tidak mungkin lupa padahal baru kemarin kita berbicara!" batinnya kesal. "Bu Rere, saya minta maaf sudah membuat Anda marah. Saya tidak sengaja salah menyebut nama." "Baik, Pak. Tidak masalah." "Silakan kamu ke mejamu. Ada tugas di meja yang harus kamu kerjakan." "Baik, Pak." Rere kemudian menuju mejanya. Tepat di sebelah lemari penyimpanan dokumen penting. Rere mulai membuka-buka setiap file yang harus ia kerjakan. Saat melirik Lukman ia segera melihat ke bawah meja. Merasa Risih karena Lukman selalu memandang arahnya. "Apa yang dia lihat, ha?" batinnya. Rere segera sadar. Mejanya tidak memiliki dinding penutup depan dan itu dapat diartikan saat ini Lukman sedang memandang lutut hingga ke atas bagian miliknya. "Kurang asam! Rupanya dia dari tadi melihat ke dalam rokku!" Lukman sepertinya tidak peduli walau sudah tertangkap basah oleh Rere. Malah kini ia maju. Rere segera berdiri. "Mau apa?" Rere menahan marah. Tangannya telah meraih tasnya untuk dipukulkan ke kepala Lukman. Lukman bergongkok dan meraih sesuatu sementara Rere kini mundur dari meja. "Dari kemarin dicari." Lukman menunjukkan kancing baju Rere. "Ini milik Susi." "Itu milik saya." "Oh, maaf. Saya kira Susi." "Anda sering lupa." "Saya memang punya penyakit lupa. Jadi harap maklum." Lukman menaruh kancing itu di meja Rere. Ia kemudian kembali. Rere kembali duduk. Namun, kali ini ia duduk miring ke kanan agar Lukman tidak melihatnya lagi. Namun, saat ia mengambil folder di sampingnya kiri. Ia melihat kembali Lukman sedang memandangnya. "Kenapa dia?!" "Bu Rere!" "Ya." "Ibu Rere, kan?" "Iya, itu saya." "Oh, saya hanya sedang menghafal wajahmu. Saya tidak mau salah lagi. Bisakah Ibu, besok memakai pakaian itu saja?" "Maksudnya besok?" Rere tidak paham. "Bukan hanya besok. Saya ingin Anda mengenakan pakaian kuning setiap hari. Bisakah Anda melakukannya?" "Saya hanya punya satu baju ini saja." "Ayo, ikut saya mencari pakaianmu!" "Tapi, Pak. Nanti kita ada rapat." "Oh, saya lupa. Baiklah, nanti sepulang kantor kita cari." "Aneh, kenapa dia lupa nama dan memintaku mengenakan warna pakaian yang sama setiap hari?" gumamnya seraya melirik Lukman. *** Rere meraih gelas di kamar peristirahatan Lukman. Ia bermaksud untuk membuat dua cangkir teh. Untuknya dan untuk Lukman. Rere selalu memikirkan tingkah Lukman sehingga ia tidak sengaja telah menuang banyak air panas. "Aw!" Rere mundur. Tangannya memerah akibat air panas. "Sakit!" keluhnya seraya meniup tangan. Rere tercengang saat Lukman tiba-tiba ada dan meraih tangannya. "Kenapa ini?" "Terkena air panas, Pak." Rere mengaduh. Ia terdiam saat Lukman meniupnya. "Sini! Saya ada salep." Lukman segera mengajak Rere duduk di dekat jendela. Ia meraih salep di lemari kemudian mengoleskan salep ke tangan Rere. "Jangan melamun, Bu. Hati-hati." "Terima kasih, Pak." Lukman tersenyum, sementara Rere meringis melihat senyum itu. Tidak ada manis-manisnya baginya. "Biar saya yang mengeringkan meja." Rere memandang Lukman yang kini sedang melap meja. Ia merasa tidak enak karena Lukman membuat teh sendiri. Bahkan membuatkan untuk dirinya. "Seharusnya tidak perlu, Pak." "Minum saja!" Rere tersenyum, saat ia hendak minum Rere teringat malam itu saat ia pernah terbangun di kamar Lukman. Rere ragu kalau minuman yang ia akan minum sekarang tidak dicampur obat oleh Lukman. "Saya minumnya nanti saja. Masih panas." Ia menaruh kembali gelas ke lantai. Lukman memandang pintu. "Dino, sini! Kamu bawa makanan apa?" Rere melihat seorang lelaki berambut tipis. Bertubuh kurus mengenakan kemeja putih sedang menghampiri mereka seraya membawa makanan. "Jadi ini yang namanya Dino," batin Rere. "Saya bawa pisang keju, Pak." "Nasi dan lauk?" "Kebetulan cuma ini yang saya beli." Lukman mengambil pisang kemudian memakannya. "Bu!" Ia mendorong wadah makanan ke arah Rere. "Di makan saja!" tawar Dino. "Ratna ke mana, sudah dua hari dia cuti?" "Dia cuma bilang ada urusan, Pak. Tidak bilang lagi yang lainnya." "Oh." Lukman kembali memakan pisang. Rere nampak ragu mengunyah pisang. Namun, saat dipaksakan akhirnya ia dapat menelannya. "Ini teh siapa?" tanya Dino seraya menunjuk teh Rere. "Di minum saja, Pak." Rere memberikan tehnya. "Kamu kalau mau punya saya saja," kata Lukman. "Tidak apa-apa, Pak. Biar saja dia. Saya juga tidak terlalu suka teh," kata Rere. Ia berdusta. Padahal minuman kesukaannya adalah teh. "Oke." Dino meminum teh milik Rere. Tanpa henti Rere memandang Dino. Memperhatikan reaksi dari teh itu. Ia ingin tahu apakah ada obat di sana. Ternyata setelah beberapa menit. Dino tidak terlihat mengalami reaksi apa pun. Malah kini asyik berbicara dengan Lukman. "Apa aku terlalu curiga, atau ini pasti siasatnya saja?" gumam Rere.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD