CINTA YANG ANEH

1065 Words
Lukman sedang menghadiri rapat. Sementara Rere ada di sebelahnya. Sedari tadi Rere risih karena terus dipandangi oleh seorang lelaki berbaju merah hati. Lukman melirik Rere yang sedari tadi gelisah. Namun, ia tidak mengindahkan kegelisahan gadis itu. "Ibu Rere, tolong kamu catat yang kami bicarakan!" bisik Lukman. Membuat Rere terkejut. "Iya, Pak." Rere mulai mencatat. Ia tidak dapat berkonsentrasi karena dirinya merasa diawasi. Oleh karena itu Rere meraih ponsel dari saku roknya kemudian merekam pembicaraan mereka. "Kenapa malah main ponsel?" omel Lukman pelan. "Saya sedang merekam, Pak." "Oh, baiklah. Saya salah." Lukman kembali membahas rapat. Usai rapat, Rere berlari kecil. Berjalan di samping kanan Lukman. "Eh!" Nyaris Rere terjatuh karena disenggol oleh lelaki yang terus memandangi dirinya tadi. Namun, Lukman segera menahan tubuhnya. Rere memandang Lukman kemudian segera menghindar. "Terima kasih, Pak." "Hem." Lukman segera menuju ruangannya. Rere segera masuk. Ia kembali ke mejanya. Seraya mendengarkan rekaman ia mulai membuat laporan. Lukman memperhatikan Rere kembali. Membuat Rere yang tadinya fokus kini merapatkan kaki. Ia risih dipandangi seperti itu. "Apa kamu bisa merekam suaramu di ponselku?" Lukman menunjukkan ponselnya. "Suara, untuk apa, Pak?" "Saya pelupa. Hanya bisa mengenali orang setelah sepuluh kali pertemuan. Itu pun harus saya pandangi benar-benar baru saya akan ingat. Jadi bisakah kamu merekamnya ke sini atau rekam saja di ponselmu kemudian kirim padaku." "Suara saja?" "Dengan vidio bisa juga." "Suara saya jelek. Kalau saya merekam apa yang harus saya rekam, Pak?" Lukman menatap meja. Ia nampak sedang berpikir. "Bisakah kamu bernyanyi?" "Saya tidak pandai." "Saya ingin mengingat suara dan wajahmu dengan cepat. Tolong! Saya tidak dapat membedakan Susi dan kamu." "Saya .... baiklah." Rere tidak ingin membantah lagi. Ia lantas menuju ke kamar rehat. Lukman hanya melirik. Ia tahu Rere sedang merekam. Tidak lama terkirimlah pesan dari Rere. Saat Lukman ingin membukanya. Rere mencegah dengan merampas ponsel Lukman. Pemuda ini hanya memandang heran. "Kenapa?" "Saya malu. Di rumah saja." "Baiklah, tapi saya mudah lupa." "Akan saya buat alarm. Jadi saat alarm berbunyi, Anda bisa membukanya." "Baiklah." Lukman menerima ponselnya kembali. "Jangan lupa sehabis pulang nanti kita beli pakaian untukmu. Saya sudah catat ini." Ia menunjuk kertas. "Em, ... Pak," panggilnya pelan. "Ya?" "Bagaimana jika Anda tersesat?" "Saya sering tersesat, tetapi selalu melihat denah. Kenapa?" "Andai itu tempat terpencil?" "Saya tidak tahu. Mungkin saya akan ..." Lukman berhenti. Ia terlihat tidak nyaman menceritakan hal itu. "Apa?" "Tidak. Tolong bekerjalah! Saya ada banyak hal yang harus saya kerjakan." Rere berbalik seraya menghembus napas. "Dasar orang aneh! Sudah jelek rupa, sifatnya juga unik! Cuma bagus badannya saja." "Maaf, Bu. Anda bicara apa tadi?" Lukman sedikit kesal mendengar Rere. "Eh, maaf. Saya tidak bicara." "Saya dengar kamu menghina. Tolong, ya. Jangan hina saya! Saya biar jelek, tapi tidak akan menyusahkanmu. Tidak pula akan mengemis cintamu. Ingat!" Rere malu sekaligus tersinggung. Bagaimana Lukman dapat mengatakan hal itu di saat dulu ia merasa Lukman pernah membuatnya sakit hati. Rere berjalan cepat menuju mejanya kemudian dengan kasar menulis laporan. *** Lukman pergi untuk membuat minuman. Ia meminum dua pil obat. Gunanya sebagai penenang pikiran. "Dokter Suzan memberi sedikit obat. Aku harus meminta lagi," lirihnya. Rere melirik Lukman yang kini memandang dirinya dengan wajah datar. "Orang ini jelek dari lahir!" ledeknya dalam hati. Walau mengakui Lukman berbadan bagus. Berbeda dengan pekerja lelaki di kantor ini yang berwajah tampan atau lumayan yang tubuhnya tidak sebagus Lukman. "Pak, ini susunya." Seorang perempuan berbaju hijau menaruh segelas s**u di meja Lukman. "Terima kasih, Mita." "Iya, Pak. Adalagi yang ingin diinginkan?" "Tidak. Terima kasih." Mita tersenyum, ia melirik Rere. "Permisi, saya kembali ke tempat saya." Lukman meminum s**u putih. "Bu, besok buatkan saya s**u seperti ini. Nanti kita beli sekalian saat mencari pakaian. Maaf, apakah saya harus datang ke rumahmu untuk meminta izin?" "Izin?" Izin untuk apa? Rere pun masih belum paham. "Izin kepada keluargamu. Mungkin saya akan mengantarmu malam atau bisa jadi saya akan bermalam di rumahmu." "Ber-bermalam?" Rere memucat. Ia seorang gadis. Tidak mungkin membawa lelaki masuk ke tempatnya. Apalagi hingga bermalam segala. "Saya sendirian di--" ... "Tidak! Aku tidak boleh bilang sendirian. Aku harus katakan ada orang di rumah. Jika aku bilang sendirian maka ia akan maksa masuk." "Ada apa, Bu?" "Tidak. Ayah saya biasa pulang malam. Jadi tidak bisa. Sebaiknya saya izin saja lewat telepon." "Oh, baiklah. Kalau sudah ada izin saya akan mengajakmu." "Iya, Pak." Rere berpura-pura sedang menelepon. "Pak, katanya boleh, tapi jangan terlalu larut pulangnya." "Baiklah." Lukman kemudian kembali meminum s**u. Ia nampak begitu menyukai s**u. Segelas besar ukuran dua gelas normal segera habis sekali minum. Rere nampak haus melihatnya. "Aih, aku jadi ingin minum s**u juga," batinnya. "Bu," panggil Lukman. "Iya, Pak." "Saya ingin membuat cabang di kota Bogor. Menurutmu bagaimana?" "Saya tidak paham, Pak. Ini pengalaman pertama saya bekerja. Saya tidak tahu cara mengira." "Em. Ya sudah. Nanti saya ajak kamu ke proyek terus belajar mengira. Saya akan terangkan." "Iya, Pak." Lukman berdiri. Ia membawa gelas kosong itu untuk dicuci di kamar rehatnya. "Bu, saya merasa aneh." "Iya, Pak." "Saya menyukai seorang gadis, tapi saya lupa dia. Pokoknya saya suka." Lukman kembali setelah meletakkan gelas bersih ke rak. Rere heran dengan Lukman. Apa mungkin mencintai, tetapi lupa? Malah lebih aneh lagi sifat sinis dan datar yang tadi entah hilang begitu saja. Lukman mudah berubah-ubah. "Bagaimana wajahnya?" "Seperti kamu." Rere melotot, ia seperti sedang disindir oleh Lukman. "Lalu?" "Tapi saya lupa wajah dan bentuknya. Namun, saya ingat pernah merasakannya. Saat saya menahanmu agar tidak jatuh tadi. Saya merasa kamu adalah dia." "Me--merasa? Apa maksudnya dengan merasa?" Rere merasa terhina. Ia sakit saat Lukman mengatakan merasakannya. Apalagi sampai mengatakan lupa. "Ya, rasanya seperti itu. Saat saya menyentuh, Ibu." Rere mengepalkan tangan. Ingin menghajar Lukman. "Apa Anda mencintainya?" "Sangat. Walau aneh karena saya tidak ingat dia." "Apa yang membuat Anda jatuh hati?" "Karena mungkin saya penasaran. Kenapa saya tolong dia malah menyerang saya? Saya bingung dan tidak tahu kenapa dia tega meninggalkan saya dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah itu. Saya mencoba mengingat wajahnya, tetapi tidak bisa." Lukman menunduk sedih. "Kenapa Anda bercerita kepada saya?" "Semua orang di kantor ini tahu karena saya bertanya. Saya memendam ini untuk sekian lama." "Andai Anda bertemu dia?" Lukman melirik Rere sekilas. "Mungkin saya hanya diam. Saya tidak berani bicara. Saya malu dan sadar. Saya ini jelek tidak sesuai seperti yang diharapkan oleh perempuan-perempuan. Jadi saya akan memendamnya saja." Rere memandang Lukman. Ia tidak bisa menenangkan karena hatinya jua saat ini bingung akan sikap Lukman. Adakah pemuda itu bersandiwara? Ia pun tidak tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD