Lukman membukakan pintu mobil untuk Rere. Gadis itu tadinya ingin duduk di belakang, tapi oleh Lukman tidak diizinkan. "Nanti saya susah melihatmu." Itu dalih pemuda itu sesaat sebelum Rere membuka pintu belakang.
'Melihat' sungguh aneh. Jika Lukman bicara begitu. Apa gunanya melihatnya? Apa bagusnya jika Lukman katakan tidak menyukainya? Namun, Rere diam. Tak ingin menyanggah. Biarlah, ia tak rugi jua. Yang penting menuruti permintaan Lukman mencari pakaian agar dirinya tetap dapat bekerja. "Pak, apakah--"
"Kamu suka makan apa?"
"Eh, makan?"
"Saya suka minum s**u. Makanan kesukaan saya adalah gorengan, tapi oleh dokter saya tidak boleh memakannya. Saya sedih."
"Anda alergi? Maksud saya batuk atau ada penyakit lain?"
"Obat saya tidak baik dicampur makanan berminyak. Maksudnya saya harus makan yang kurang berminyak dan banyak mengkonsumsi sayuran agar tetap sehat. Saya ini punya penyakit lupa yang parah, tetapi kata Dokter Suzan, saya masih tergolong lumayan karena lupa saya bisa hilang kepada yang baru saya temui jika mengamatinya semala sepuluh hari. Setelah itu saya akan ingat."
"...o." Mulut Rere membulat. "Terus karena apa itu? Adakah penyakit warisan atau memang ada sesuatu?"
"Saya lupa. Tidak ingat. Hanya sedikit saya ingat dan itu sangat mengerikan. Saya takut dan tidak tahu kenapa bisa ada di sana."
Lukman berbelok menuju gedung parkiran mall Lembuswana. Pusat perbelanjaan Samarinda. Rere mengikutinya. Nyaris tersandung kemudian tak sengaja menggandeng lengan kanan Lukman. Rere segera menghindar. Namun, ia terdorong oleh orang di belakang sehingga kini nyaris terjatuh. Lukman meraih cepat lengan Rere.
"Maaf, saya nggak sengaja!" Seorang ibu kini memandang Rere. Saat memandang Lukman ia memucat. "Saya minta maaf." Ia segera pergi.
"Kenapa dia?" Rere heran.
"Saking seramnya saya mungkin. Sadar diri kalau saya jelek." Lukman terbahak seraya berjalan untuk menyerahkan STNK sebagai jaminan. Ia kemudian diberi karcis parkir. "Ayo!" Ia menarik Rere untuk berjalan di depannya agar tidak menyenggol yang lain saat mereka memasuki mall.
"Pak, saya jangan didorong!" protes Rere. Ia memang didorong oleh Lukman. Sehingga kini ia harus berlari untuk menghindari jatuh. Hak sepatunya nyaris patah.
"Oh, saya kira kamu yang ingin lari."
"Bapak, bercanda?" Dengan kesal Rere segera menyingkir. Ia kini berjalan di samping Lukman.
Beberapa orang pemuda kini menggoda Rere. Bahkan ada yang memandangnya seraya mencolek lengan. "Hei, kenalan dong!"
Rere merasa risih. Ia lantas berlari kecil untuk pindah ke sebelah kanan Lukman. Di saat ia mulai tenang, adalagi seorang lelaki berbaju cokelat seumuran ayahnya sedang tersenyum. Rere merasa risih kembali. Ia menunduk seraya meraih jemari Lukman. Akhirnya ia memanfaatkan Lukman agar tidak diusik oleh yang lain.
Lukman berhenti saat Rere ingin melangkah. "Kita beli di sana!" Lukman menarik Rere.
"Eh!" Rere terseret kembali.
"Kamu kenapa?"
"Jangan pegang saya!"
"Oh, maaf." Lukman segera melepaskan Rere. Padahal Rere yang memegangnya lebih dulu. Oleh karena Lukman pelupa maka Rere selamat dari omelannya. "Baju ...." Lukman berbalik untuk mencari Rere. Namun, Rere malah asyik memilih boneka. Di mana cewek itu?" Lukman menggaruk kepala. Ia melewati Rere. Padahal sudah jelas Rere baru saja ia lewati. "Di mana gadis itu?"
"Eh, di mana dia?" Rere menaruh boneka beruang putih kemudian mencari-cari Lukman. "Dia tadi ada di sini?" Ia menunjuk toko. "Kamu lihat lelaki berbaju cokelat gelap. Berlengan panjang bertubuh besar. Em ... dia tiga kali besar dari tubuh saya. Wajahnya sedikit seram, sih?" Ia meringis saat menghina Lukman. "Tapi, tubuhnya bagus!"
"Dia tadi jalan ke situ, Kak!" tunjuk seorang gadis seumuran Rere. Berpakaian seragam kuning khas tokonya. Mirip dengan warna pakaian Rere. Sekilas Rere pun membandingkan dirinya mirip gadis itu.
"Oke. Terima kasih." Rere segera mencari Lukman.
Lukman mencari Rere hingga ke toilet. "Bu, tolong ke dalam dan lihat adakah gadis berkemeja kuning dengan rok yang warnanya sama."
"Siapa namanya?" tanya seorang perempuan berbaju hijau muda. Ia membawa tas hitam.
"Tunggu!" Lukman meraih ponsel kemudian mencari foto Rere. Ia telah menamainya. "Ini!"
"Oh, ini tadi saya lihat di sana!" Ia menunjuk di luar area toilet.
"Terima kasih." Sembari membandingkan foto Rere dengan orang yang ia lihat. Sekarang ia mulai berjalan.
"Ke mana dia?" Rere mencari hingga ke toilet.
Perempuan tadi keluar dari toilet. Ia ingat Rere orang yang dicari oleh Lukman. "Kamu, Rere?"
"Eh, iya. Ada apa?"
"Tadi ada yang mencarimu."
"Siapa?"
"Dia berbadan besar. Tidak gemuk. Baguslah tubuhnya."
"Wajahnya?"
"Pokoknya baju cokelat lengan panjang."
"Oh, iya. Terima kasih." Rere segera berlari mencari Lukman.
Lukman menarik seorang gadis. Membandingkan dengan yang difoto. "Maaf, saya cari orang."
"Oh, iya." Gadis itu kemudian berlari kecil untuk menghindar.
"Siapa?" tanya sahabatnya.
"Katanya cari orang. Wajahnya mirip penculik gitu."
"Haha .... Kebanyakan nonton kamu."
Lukman mendengar, tetapi tidak peduli. Ia masih mencari Rere. "Ke mana dia?"
"Pak Lukman!" Rere berlari kecil seraya menghampiri Lukman. "Pak, dicariin juga."
"Maaf, siapa?" Seorang lelaki terlihat dari belakang memang mirip Lukman, tetapi bukan. Yang ini perutnya buncit.
"Eh, maaf! Saya salah orang." Rere segera berlari. "Seram!" Ia kembali mencari Lukman di sekitar area permainan. "Haduh! Bisa-bisa waktuku habis hanya untuk mencari lelaki itu!" Rere menghampiri kursi. Tempat permainan. "Di mana orang itu. Asli aku ini haus!" Ia memandang sekitar.
Lukman berhenti, ia duduk di tempat permainan pula. Di sebelah kiri Rere sedangkan di sebelah kanan ada Lukman. "Di mana dia? Apa aku harus pulang dan meninggalkan dia?"
"Di mana lelaki itu, apa aku harus pulang dan meninggalkan dia?" pikir Rere.
Saat mereka keluar. Akhirnya berpapasan. "Bapak!" Rere kegirangan. Ia melompat seraya merangkul Lukman. Lupa akan dendam dan rasa malu karena berhasil menemukan Lukman.
"Siapa ini?" Lukman menyingkirkan Rere. Setelah melihatnya baru ingat. "Ya ampun! Dari mana saja kamu?"
"Bapak, yang dari mana?"
"Saya tadi memilih baju. Kamu sudah hilang."
"Saya ada di sebelahnya. Memilih boneka."
"Saya cari kamu keliling mall. Harusnya kamu tetap di dekat saya. Agar saya tidak bingung. Kalau kamu begitu lagi saya terpaksa rantai kamu."
"Jangan, dong!"
"Bu Rere, ayo! Kita sudah kelamaan di sini. Harus segera mencari."
"Iya." Rere cemberut. Tangannya ditarik seperti anak kecil sedang dipegangi oleh orang tuanya.
"Di sana!" Lukman menuju tempat pakaian. Ia memilihkan pakaian, tetapi Rere tidak suka dengan modelnya. Terlalu tua dan tertutup.
"Tidak, Pak. Saya suka rok seperti ini dan lagi ini lebar. Sedangkan yang situ pilih itu sempit. Saya sulit bergerak."
"Sudah pendek, lebar. Terkena angin akan terlihat isinya. Keren, ya?" sindir Lukman. "Saya benci!"
"Saya suka!"
"Saya ingin seperti ini!" Ia menunjuk rok panjang yang sempit.
"Saya maunya ini!" Rok pendek di atas lutut. Lebar dan cantik.
"Itu kependekan!"
"Ini kepanjangan dan sempit. Saya bisa jatuh jika memakai ini!"
"Itu kalau kamu kena angin atau jatuh atau berjongkok atau duduk bisa terlihat isinya!"
"Yang pakai siapa?"
"Kamu."
"Yang malu?"
"Kamu."
"Nah, jadi yang berhak saya." Rere tersenyum bangga.
"Yang punya uang siapa?"
"Bapak," jawabnya kesal.
"Jadi terserah saya, dong."
"Nggak bisa! Saya tidak akan pakai baju dari situ!"
Lukman mengusap kepala. "Baiklah! Terserah Ibu, saja!" Akhirnya ia pasrah.
Rere meraih semua baju berwarna kuning. Ia memilih bermacam model. Rere segera mencobanya. Saat ia keluar sangat cantik sekali. Salah satu dari pelanggan terpana. Rere mengenakan rok lebar menyerupai sebuah payung di atas lutut. Kemeja kuning bermotif kupu-kupu jingga.
Lukman memandang Rere sekilas kemudian membayar. "Ayo, pulang!"
"Lapar!"
"Makan di rumahmu saja!"
"Tapi di rumah saya ada ayah. Dia pasti marah."
"Tidak masalah. Saya bisa tidur di luar."
"Begini saja. Saya ambil motor saya di kantor terus saya akan pulang dengan itu. Jadi antar saja saya ke kantor."
"Oke, terserah." Lukman meraih tangan Rere. Mengajaknya pergi. Di perjalanan Rere menjadi pusat perhatian. Ada yang aneh dari Rere. Lukman merasa umur Rere belum dua puluh empat tahun. Namun, di berkas lamaran Rere mencantumkan dirinya seperti itu. "Bu, umurmu tidak seperti kelihatannya. Nampak seperti dua puluh tahun."
Rere memucat, ia seketika tertawa untuk menutupi kegelisahannya. "Awet muda ya?"
"Hem." Lukman terlihat dingin.
Rere menunduk, sesekali melirik sekitar. "Aku bisa ketahuan!" jeritnya dalam hati.