Dua tahun silam saat itu Rere sudah tidak dapat mengadu. Dari pihak kepolisian ia ditanya hingga dirinya terguncang hebat. Kematian kedua orang tuanya pun membuatnya sungguh terpukul. Rere menangis sejadinya di kamar sepi. Ia masih diincar dan tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kesendirian itu ia melihat sepupunya Marwa datang menjenguk. Marwa akan mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Dengan senang hati Rere menyetujui. Lagipula ia sudah tidak ada pegangan hidup. Dua hari berlalu. Terkadang ia iri melihat Marwa yang dapat kuliah. Marwa hanya beda dua tahun lebih tua darinya. Gadis mungil memiliki tahi lalat di dagu itu sempat meminta usul untuk Rere agar dapat kuliah kembali. "Marwa, ingin dia juga punya masa depan, Ma!"
"Sudah syukur dia dikasih tempat tinggal dan makan di sini. Kok, malah melunjak, sih?"
"Tapi dia keponakan papa."
"Itu kan, keluarga papamu. Bukan aku! Heh, asal tahu saja. Kita ini keluarga pas-pasan! Belum lagi nenekmu juga minta uang tiap bulan. Dasar keluarga menyusahkan!"
"Ma!" Marwa tidak senang. Apalagi ia mendengar Rere menangis. "Re!" Marwa segera mengejar Rere.
"Aku nggak minta ini itu, kok. Aku sudah senang bisa tidur dan dapat makan. Tolong jangan meminta lagi pada mereka!"
"Aku cuma mengusulkan." Marwa merangkul Rere. "Sayang kalau kuliahmu tidak dilanjutkan."
"Tidak apa, aku bisa mencari kerja dengan ijazah SMU, kok."
"Baiklah, terserah saja, akan sulit."
"Itu risiko."
Marwa menarik napas dalam. "Gunakan ijazahku jika aku sudah tidak adalagi."
"Kamu ngomong apa, sih?" Rere heran. Apakah Marwa tahu tentang umurnya yang tidak akan lama ataukah Marwa memiliki semacam penyakit dan Rere menangis, ia tidak peka ternyata orang yang mengincarnya kini menghabisi keluarga Marwa. Hanya ia yang selamat saat itu. Karena ia tidak berada di tempat. Rere sedang pergi mencari pekerjaan dengan ijazah seadannya.
"Kenapa menangis, Bu?" tanya Lukman. Mereka yang kini sudah berada dalam perjalanan ke kantor.
"Oh, tidak ada." Rere menghapus air matanya.
"Kalau ada masalah Ibu, bisa cerita."
"Tidak masalah."
"Bu, sepertinya saya akan bermalam di kantor. Jadi silakan Anda pulang sendiri."
"Baiklah."
Lukman terdiam melirik Rere. "Apa saya harus mengantar atau meminta seseorang untuk mengantarmu?"
"Tidak usah. Saya bisa sendiri."
"Tidak baik seorang gadis pulang malam begini. Bagaimana kalau bermalam di kantor bersama saya saja?"
"Tidak." Rere langsung menolak dengan nada kasar. Ia tersadar kemudian menutup mulut dengan kedua tangan. "Maaf, saya tidak bermaksud membentak, Bapak!"
Lukman hanya sepintas melirik. Ia diam dengan wajah dingin. Sulit disimpulkan apakah pemuda itu sedang marah atau malah biasa saja. 10 menit berlalu, tak mendengar suara dan ekspresi Lukman yang dapat menenangkan hatinya. Rere gelisah. Ia bergerak untuk menarik perhatian Lukman. Namun, Lukman tidak peka. Masih saja mengabaikan isyarat Rere.
"Orang ini selain jelek dia juga kurang peduli dengan kegelisahan orang!" decaknya. Membuat Lukman kini menghentikan mobil. "Gawat!" jeritnya dalam hati. Ia kini dihadapkan oleh tatapan tajam Lukman. Seketika Rere merapat pada pintu. Ia menutupi diri dengan menyilang tangan. Rere menunduk serba salah.
"Kamu bilang apa, Bu? Kamu bilang saya apa tadi?"
"Maaf, saya ...." Rere menggigit bibir. Ia memucat. Nyaris menangis karena saat ini wajah Lukman terlihat menyeramkan baginya. "Saya kesal. Anda tidak hiraukan saya. Saya ini ingin diperhatikan!" teriaknya tepat di wajah Lukman. Ia tersadar kemudian mendorong Lukman. "Maaf, anggap tadi bukan saya yang bilang!" Brak! "Eh?!" Ia terkejut melihat Lukman marah dan melempar kotak tisu ke arahnya. Nyaris mengenai dirinya jika ia tidak menunduk. Rere melihat kotak tisu yang kini jatuh di lantai. Ia lantas terkejut melihat Lukman meraih tisu. Otomatis Lukman menjangkau dirinya. Ia segera merapatkan kaki menutupi roknya dengan tas agar tidak terlihat oleh Lukman.
"Maaf." Lukman menaruh kotak tisu dasboard. Ia kembali mengemudi.
Rere yang syok kini memucat. Ia tidak berani melirik apalagi bersuara. Bahkan saat ini ingin pipis pun ditahan. "Jangan sekarang!" Ia kesal sekali.
Lukman melirik Rere. Melihat betapa gelisahnya Rere menekan bagian kewanitaan. "Mau pipis?"
"Iya!" sambar Rere.
Lukman berhenti di Masjid. "Sekalian saya ingin salat. Pipislah!" Segera Rere berlari menuju arah toilet Masjid. Sementara Lukman hanya melirik Rere yang tadi tergesa-gesa. Ia tertawa tanpa suara seraya mengusap kening. "Lucu," ledeknya pelan seraya melipat lengan baju dan celana untuk berwudhu.
Rere usai, ia segera mendatangi mobil Lukman. Melihat Lukman tidak ada di mobil ia lantas menanti Lukman hingga pemuda itu keluar dari Masjid. Terlihat Lukman sedang bercanda dengan seorang gadis. "Siapa dia?" gumamnya.
"Lain kali datanglah ke rumah, Pak. Saya menunggu lamaranmu," ungkap si gadis berjilbab merah dengan pakaian putih bersih. Wajah cantiknya membuat Rere diam-diam membandingkan diri dengan gadis itu.
Mereka tiba di hadapan Rere. "Saya tidak bisa. Maaf, masih berpikir untuk sendiri dulu," tolak Lukman halus.
"Tidak masalah." Si gadis melirik Rere. "Sekretaris baru?"
"Yang menggantikanmu."
"Oh, hahaha .... Saya berhenti karena tidak sanggup melihat Anda. Sakit rasanya ditolak. Baiklah, jangan lagi menolak perempuan." Ia kemudian tersenyum kepada Rere.
"Siapa dia?" tanya Rere seraya memandang kepergian gadis itu.
Lukman melirik, tetapi tidak peduli dengan pertanyaan Rere. "Ayo!"
Rere kesal, ia diabaikan. Membuatnya ingin menendang kaki Lukman. Namun, tidak jadi saat Lukman berbalik. "Ya!" Ia segera masuk.
Lukman kembali mengemudi. Rere tertidur karena bosan. Lukman membangunkan Rere saat mereka tiba di kantor. "Bangun!"
"Apa, sih? Malas tahu!" Rere menepis Lukman kemudian memiringkan tubuhnya. Tadinya membelakangi, kini ia gelisah lantas menghadap Lukman. Tepat di hadapan Lukman yang sedang membangunkannya.
"Bangun, kalau tidak saya lempar kamu keluar!"
"Eh, iya!" Rere segera bangun. Tak ia malah mendorong Lukman kembali. "Ampun!" Ia menyatukan kedua tangan dalam keadaan membungkuk dan tangan dijunjung dai atas kepala. Rere takut dilempar kembali.
Lukman meluruskan tubuh Rere. Membuat Rere menatapnya dengan wajah pucat. Bahkan kini Lukman mendekat ingin merangkulnya. Klik! Suara pintu dibuka. "Keluar!"
Rere terkejut. Dikira Lukman akan bertindak tercela terhadapnya. Ternyata Lukman membuka pintu. "Jangan tinggal saya di jalan, Pak!"
"Kamu lihat ini di mana, Bu? Par-ki-ran kantor."
"Eh, iyakah?" Seperti orang linglung Rere memandang sekitar. Ternyata memang telah tiba di kantor. Ia hendak terkekeh karena malu. Namun, Lukman telah pergi. "Dasar!" Rere keluar dari mobil. Ia menghampiri motornya yang kini terparkir di sisi kiri halaman kantor.
Lukman lupa mengunci pintu mobil. Ia baru ingat saat sudah tiba di ruangannya. "Sebaiknya aku ikuti saja dia."
Rere memandang jam pada ponsel. "Jam 20:35. Nggak terasa." Ia segera memakai helm. Lukman yang ingin mengejar untuk mengantar Rere kini justru tidak sempat.
Lukman segera menyusul. Namun, ia lupa Rere tadi memakai motor apa? Yang ia ingat hanya gadis berpakaian kuning. "Aduh, kenap aku tidak mengingat motor yang digunakannya?!" Lukman mengutuk penyakit yang menyiksa dirinya.
Rere memandang jalan yang ia lewati. Masih ramai, sehingga tidak khawatir dirinya akan kejahatan malam. Namun, ketenangannya kini sirna karena karena motornya mengalami macet. Terpaksa ia turun dan menepi. Rere memandang sekitar. Ia tepat berhenti di jalan yang sepi. Merinding? Tentu saja. Siapa yang tidak akan merinding jika di tempat itu hanya dirinya saja. Kendaraan jarang melintasi area tersebut. Siang saja dapat dihitung jari. Apalagi malam. Suasana amat mencekam ini membuat Rere takut. "Motor ini kenapa lagi?!" Rere nyaris menangis. Oli memang sudah beberapa bulan tidak diganti. Karena uangnya menipis. Bensin ia yakin dalam keadaan sekarat, tetapi masih cukup untuk pulang. "Ya, Tuhan! Tolong hambamu ini!" Rere was-was ketika ada mobil yang berhenti.
"Butuh tumpangan, Dek?"
"Anu ... Om, bisa tolong lihat kerusakan motor saya?"
Si lelaki bertubuh nyaris menyamai Lukman kini melihat motor dari tempatnya. Ia baru keluar setelah Rere mundur untuk memberinya jalan. "Apanya yang rusak?"
"Tidak tahu, Om."
"Kamu ikut saya saja. Itu motor biar diurus bengkel."
Rere melihat mobil. Tidak ada siapa pun kecuali lelaki itu. Sepertinya aman. Namun, ia ragu kembali. Melihat tubuh lelaki itu. Ia pasti kalah bila melawannya. "Biar saya tunggu di sini."
"Serius? Kamu nggak takut di sini sendirian? Di sini rawan kriminal, loh."
"Tidak, Om."
"Baiklah." Ia lantas membuka pintu mobil. "Masuk!"
"Eh, kenapa ini?! Saya tidak mau, Om!"
"Saya mau tolongin kamu. Kamu itu cewek, nggak baik di sini sendirian!"
"Tolong! Tolong!" Rere melompat untuk melepaskan diri dari jerat si lelaki. Akhirnya ia terlepas jua. Rere segera meraih kayu. "Dekat, mati!"
"Saya cuma mau bantu, tapi kamu begini."
"Saya cuma mau dibantu benerin motor!"
Si lelaki kembali memandang motor Rere. "Di sini tidak ada bengkel. Tidak ada orang yang lewat. Kalaupun ada apakah mereka akan peduli? Coba pikir lagi!"
Rere tercenung, tetapi ia tidak melonggarkan kewaspadaannya. "Saya bisa jaga diri!"
"Oke, saya tidak akan membantu. Silakan menunggu sampai besok." Ia segera meninggalkan Rere. Rere lega. Ia berbalik memandang mobil yang kini telah menghilang dari kejauhan.
"Rere!"
Spontan Rere berbalik kemudian menghantamkan kayu ke orang yang kini menegurnya. Dbuk! "Haaa?" Rere menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ia segera membuang kayu seukuran lengan. "Pak!" Ia berlari segera merangkul Lukman yang kini limbung dengan dahi yang terluka.