"Bangun!" teriak Rere. Ia memandang sekitar. Tak ada kendaraan pun yang melintas. "Aku harus bagaimana?" Rere lantas menarik tubuh Lukman ke mobil. Sangat berat sehingga ia nyaris tiada daya. Dengan berusaha sekuat tenaga hingga sakit seluruh tulang tangannya akibat menarik Lukman. Akhirnya berhasil menariknya ke mobil. "Pak, bangun!" Luka semakin parah. Rere segera menjangkau bangku depan untuk meraih tisu. Ia lantas mengeringkan luka dengan itu. Semakin darah deras hingga Rere menangis. "Maafkan aku! Aku nggak sengaja!" Rere melihat dari kejauhan cahaya mobil. "Tunggu!" Ia berbicara kepada Lukman yang tidak sadarkan diri kemudian berlari ke jalan untuk mencegah mobil. "Berhenti!" Rere merentangkan tangan seraya terpejam karena mobil dari kejauhan tidak berhenti. Titit! Suara mobil. Rere membuka mata. Ia kemudian berlari menemui si pemilik mobil. "Om, tolong saya! Saya memiliki teman yang sedang sekarat di mobil." Lelaki berperut buncit itu diam. Membuat Rere mundur, sebab menyadari hal yang akan membahayakan dirinya. Rere segera masuk ke mobil kemudian akan mengunci.
"Ayo!" Pintu terbuka. Ternyata ada empat orang lelaki keluar dari sana.
Rere kesulitan menutup pintu karena kali Lukman. Namun, ia berhasil. Rere lupa mengunci pintu kemudi. Saat akan mengunci ... "Aaaa! Lepaskan!" Ia ditarik ke luar.
"Ayo, ikut kami!"
Rere diangkat oleh keempat lelaki menuju mobil. "Tolong!" Rere meronta. Ia berusaha melepaskan diri. "Lepaskan!" Rere berhasil di masukkan ke mobil.
"Giliran siapa?"
Rere berusaha menerobos mereka yang kini berada di pintu sedang berdiskusi. "Tidak!" Ia didorong sehingga kini kembali masuk. Rere memandang sekitar. Pintu di samping kemudi tidak dijaga. Ia segera melangkah kemudian hendak keluar dari sana.
"Mau ke mana, hah?!" Pintu kembali dihalangi.
"Biarkan aku pergi!" Rere berusaha mendorong bahkan kini menendang pintu. "Tuhan, tolong aku!" Rere menangis. Ia tidak memiliki daya untuk lepas.
"Aku yang akan mulai!"
Rere terkejut mendengar pintu dibuka. Ia berlari ke belakang saat pemuda kurus berbaju merah masuk dan mengintainya. "Tolong jangan!"
"Ayo, sayang!" Ia menerkam Rere.
Rere segera menangkap kedua tangan yang akan menyentuhnya. "Tolong!" teriak Rere. Di luar sana mereka sedang asyik tertawa. Rere menangis seraya menahan serangan lawan. "Tidak!" Nyaris ia menyerah. Namun, Rere teringat dengan keluarganya. Ia harus bertahan hidup untuk membalas dendam.
Dbuk! "Aw!" Rere menghantam kening pemuda itu dengan keningnya sehingga berdarah. Rere pula tak ubahnya dengan lawannya. Ia pun terluka. Rere segera mendorong kemudian menyepak bagian inti lawan.
"Saking enaknya dia sampai menjerit. Hahaha ...."
Mereka tidak tahu teman mereka kini tidak sadarkan diri karena Rere bukan hanya menyepak. Ia bahkan menyerang kepala dengan sendal hak tinggi. Rere segera keluar. Ia berlari.
"Hei, itu dia!" seru pemuda baju hitam.
Satu orang melihat ke mobil. Saat melihat teman mereka terluka parah ia lantas berseru, "Cepat tangkap gadis itu!"
Rere terpaksa meninggalkan Lukman. Ia harus menyelamatkan diri lebih dahulu. Mereka mengejarnya. Rere segera berlari ke hutan. "Tidak!" Rere meronta saat ia tertangkap.
"Kita garap di sini gadis ini!" kata pemuda baju biru.
"Tidak! Tolong!" Rere meronta-ronta. "Jangan!" Pakaiannya robek. Rere masih berusaha melepaskan diri.
"Baringkan dia!" perintah si baju biru tadi.
Rere meronta saat ia dipaksa untuk berbaring. Tangan dan kaki dikuasai oleh dua lelaki. Sementara seorang ingin menguasainya. "Aku bersumpah akan menghabisi kalian!"
"Hahaha .... Dia bilang apa?"
"Ah, lama! Ayo, kita lakukan!"
"Tidak--em!" Mulutnya dibungkam oleh mereka dengan salah satu kaus mereka. Rere menangis, ia terpejam. Tidak mampu menjaga diri. Ia bersumpah akan menghabisi mereka jika dirinya ternoda.
Dbuk! "Aw!" Terdengar suara pukulan sangat keras.
"Siapa kamu--aw!" Dbuk!
Rere heran, kini ia tidak lagi terkekang. Gadis ini membuka mata. Betapa terkejutnya saat melihat mereka telah tergeletak tidak sadarkan diri dengan luka di kepalanya.
"Ibu!" Lukman menyorong tangan untuk menarik Rere berdiri.
Rere menerima uluran Lukman kemudian ia segera merangkul pemuda itu. "Aku tidak tahu jika kamu tidak datang!" Lukman melepaskan Rere kemudian melepaskan kemejanya. Rere mundur. Menyadari dirinya yang kini berantakan dengan baju yang koyak di bagian depan. Rere mundur saat Lukman maju. "Ja--jangan, Pak! Saya akan berteriak jika Anda ingin melecehkan saya!" Rere mundur tak menyadari ada landai di belakangnya. "Aw!" Nyaris ia terjatuh. Beruntung Lukman segera meraih dirinya. "Lepas!" Rere meronta. Berusaha mendorong Lukman.
"Sini!" Lukman menggendong Rere.
"Aku tidak mau!" teriaknya. Rere menggigit lengan kanan Lukman hingga terluka.
Lukman mengajak Rere untuk duduk di bangku sampingnya. Ia segera mengunci pintu kemudian berkeliling menuju bangku kemudi. Ini kesempatan Rere untuk lari. Namun, Lukman segera menahannya dengan mengunci semua secara otomatis. "Jangan lari!" bentaknya saat Rere ingin memaksa membuka dan keluar lewat jendela. Bahkan Lukman menarik pundak Rere agar kembali duduk.
"Tolong! Saya tidak sengaja. Saya salah dan maafkan saya!" Rere terdiam saat Lukman menatapnya.
"Kamu bisa tenang?"
Rere memucat, ia bahkan tidak berkutik saat ditatap. Hanya mampu meraih tas di atas dasboard untuk menutupi area yang terbuka. Lukman menyerahkan kemejanya. Perlahan Rere meraihnya kemudian menutupi diri dengan kemeja tersebut. "Terima ka--" Ia terkejut saat Lukman merampas kemeja kemudian memintanya untuk memakai. Rere terpaku saat dirinya dikenakan kemeja oleh Lukman. Wajah mereka begitu dekat sehingga Rere salah tingkah. Rere menatap mata Lukman.
"Kita kembali ke kantor saja!" Ia memutar arah mobil.
Rere terdiam, ia tidak mendengar perkataan Lukman tadi. Gadis ini hanya terpaku pada sikap Lukman yang romantis. "Kenapa aku terpana olehnya? Ini pasti salah!" Ia menunduk. Namun, karena penasaran, ia kembali memandang Lukman. Pemuda itu terlihat biasa saja. Darah yang mengalir kini mengering di kening Lukman. Rere menunduk seraya meremas ujung baju Lukman yang kini ia kenakan. "Kenapa aku berdebar?" Ia menyentuh dirinya. Wangi pakaian Lukman membuatnya tenang. Ia baru menyadari saat ini Lukman hanya mengenakan kaus dalam alias kaus singlet.
Mereka tiba di kantor. Rere terkejut, baru sadar. "Saya ingin pulang!" rengeknya.
"Malam ini kamu tidur dengan saya."
"Apa?" Rere murka.
"Kenapa?" Lukman yang tadinya akan melangkah ke pintu kantor kini berbalik memandang Rere.
"Saya bukan perempuan seperti itu yang tidur dengan atasan sendiri. Saya bukan sekretaris pekerja tambahan!"
Lukman mendekat, sikapnya kini cool. Ia memasukkan kedua jemari ke kedua kantung celana bagian depan. Lukman mendekatkan wajahnya pada Rere. Membuat Rere condongkan wajah ke belakang untuk menjauh. "Kamu kira saya suka? Kamu pikir saya lelaki semacam itu? Dengar Bu Rere! Walau wajah saya begini, tapi saya bukan orang jahat. Saya tidak pernah menyentuh perempuan mana pun dan Anda tidak perlu cemas. Saya tidak tertarik dengan Anda."
"Lantas kenapa Anda bilang saya akan tidur denganmu?"
"Karena itu di ruangan saya. Anda akan tidur di ruangan itu dengan saya. Apa sampai di sini Anda masih belum paham?"
"Saya--"
Lukman memandang ke kiri dengan mata menyipit. "Kalau saya mau kurang ajar pasti sudah saya lakukan dari tadi. Ini kepala sakitnya bukan main. Bukannya bertanggung jawab kamu malah menuduh. Di sini saya korbannya."
"Maaf," lirihnya.
Lukman meringis kesal. "Saya kalau terluka seperti ini pasti ingat."
Rere memucat. "Apa dia juga ingat aku yang dulu?"