DI SAAT AKU JUJUR

1204 Words
Rere ragu memasuki kamar. Sementara Lukman kini melepaskan pakaian kemudian menuju kamar mandi. Gadis ini pun memandang dirinya yang juga penuh darah Lukman. Bau amis baru bisa ia rasakan setelah berada di ruangan itu. Rere mendengar suara air. Ia membayangkan Lukman sedang mandi. Rere merasa gerah. Hendak mandi jua. Ia berjalan perlahan meraih pisau di meja. Lantas berlari dan memasukkan pisau ke tasnya. "Aku tidak akan pernah tahu apa yang akan orang itu lakukan. Aku tidak boleh terlena akan sikapnya." Lukman keluar dari kamar mandi. Ia melirik Rere kemudian mencari pakaian di lemari. "Mandilah!" Rere memandang sekitar. "Eh!" Ia refleks menangkap handuk dari Lukman. Perlahan Rere berlari ke kamar mandi. "Aw!" Brak! "Apalagi itu?" Lukman yang hanya mengenakan celana piyama biru laut segera berlari mendatangi Rere. "Bu!" Lukman terkejut. Ternyata Rere kini terjatuh. "Kenapa tidak hati-hati?" "Saya minta maaf." Rere berusaha menarik kakinya yang kini cedera. Jelas malu karena dirinya kini berusaha ingin menutupi bagian yang tersingkap dari roknya. Lukman menggeleng lemah. "Bisa berdiri?" Rere menggeleng seraya berusaha menggapai bak air. "Tidak bisa!" Lukman mendesah kesal. "Mari!" Ia membantu Rere berdiri. "Sakit?" "Iya." Lukman melihat pakaiannya yang masih dikenakan Rere. "Bu, maaf." Lukman segera menanggalkan pakaian Rere. Kini ia hanya menyisakan kaus putih tipis. "Mau apa?" Rere panik. "Biar saya mandikan. Berdirilah yang benar!" Rere sangat malu. Kini Lukman menyiram tubuhnya yang masih mengenakan pakaian dalam. Rere meraih sabun yang diberikan Lukman untuk membersihkan dirinya. Lukman meminta Rere untuk mengenakan handuk sementara ia menunggu di luar. "Sudahkah?" Suara Rere tidak terdengar. Membuat Lukman penasaran. Ternyata Rere telah memakai handuk tetapi malu untuk keluar. Lukman segera mencari piyamanya kemudian diserahkan kepada Rere. "Pakailah!" Rere meraih piyama putih bersih. Ia segera mengenakan, tetapi di bagian harus memakai celana, ia tidak bisa karena Rere hanya berdiri satu kaki saja. Ia masih bersandar pada dinding. "Tidak bisa!" Ia sudah berusaha mengangkat kakinya. "Kemarikan!" Lukman mengambil celana itu kemudian bergongkok memakaikan celana pada Rere. Malunya tidak terkira saat Lukman di bawah sana. Rere khawatir Lukman melihatnya. Namun, Lukman nampaknya tidak terpengaruh. "Terima kasih," lirihnya. "Biar saya bantu jalan." Rere dipapah menuju tempat tidur yang telah disiapkan oleh Lukman. Ia merasa ada hal yang hilang. Setelah diingat, ternya tasnya tidak ada. Rere panik. Malah tas itu saat ini berada di atas lemari. "Bagaimana caraku melindungi diri?" "Jangan cemas. Besok, kita ke klinik." Rere tersenyum hambar. Ia melirik Lukman yang saat ini sedang menyiapkan bantal untuk mereka. Perlahan Rere mundur karena dibantu.Lukman untuk berbaring. Rere berdebar saat menyadari Lukman yang belum mengenakan bajunya. Ingin rasanya meraba bagian itu. "Saya akan ambilkan minyak pijat." Lukman lantas menuju meja. Rere meringis saat Lukman mulai memijat kakinya. "Pelan-pelan, Pak!" "Maaf!" Krak! Suara tulang. "Aw!" teriak Rere. "Sudah." Lukman segera mencuci tangan. Rere menangis seraya merangkul guling. Rasanya sakit sekali saat Lukman menarik kakinya. Ia teringat dengan keluarganya. "Mama!" Lukman berbaring di samping Rere. Ia mendengar isakan Rere. Awalnya Lukman tidak peduli dan lebih memilih bermain ponsel, tetapi tangisan Rere membuatnya terusik. "Bu, kenapa?" Lukman menyentuh pundak Rere. "Aaa!" Rere memukul Lukman dengan guling kemudian meringsut menuju lemari. Diam di sana seraya merangkul lutut. Lukman menatap kasur. Ia berwajah kesal. Namun, tidak berniat membalas Rere. "Bu, kalau Anda takut seperti itu. Saya tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa agar Anda tidak takut." Rere perlahan memandang Lukman. "Apa Anda berjanji tidak akan melecehkan saya?" "Saya tidak akan berjanji. Saya hanya berusaha. Karena janji mudah untuk diingkari sementara saya adalah manusia normal yang pasti akan melakukan kesalahan. Jadi siapkan saja pisau atau sejenisnya. Jika saya melakukan kesalahan maka bunuh saja saya." Lukman berdiri ia menggendong Rere yang hanya terdiam. Tidak lagi melawan. Setelah menyelimuti Rere. Ia meraih garpu. "Saya sudah mencari pisau. Namun, hanya ini yang ditemukan." Ia menyerahkan garpu. Rere meraihnya kemudian menggenggam. "Jangan salahkan saya jika Anda terluka." "Saya memiliki kebiasaan lupa. Jadi saya tidak akan ingat apa yang telah saya lakukan. Silakan bunuh saya sebelum terlambat dan itu terjadi. Saya tidak akan menyangkal." Rere melihat Lukman yang kini kembali berbaring. Pemuda itu membelakanginya. Rere ingin memejamkan mata, tetapi ia segera sadar saat suara dari luar ruangan terdengar agak menyeramkan. Lampu di ruangan itu pun mati. Rere memandang sekitar. Hanya di ruangan ini saja yang lampu menyala. Kratak! Kriet! "Su--suara apa itu?" Rere melihat dari kegelapan ada seorang yang memasuki ruangan kerja mereka. "Bapak! Pak! Ada orang!" bisiknya. Membuat Lukman terjaga. "Ada apa?" "Ada orang tadi berjalan!" bisiknya. Lukman memandang lekat Rere yang kini begitu dekat dengannya. "Bisa mundur? Saya sakit mata melihatmu terlalu dekat." "Maaf." Rere segera mundur. "Diam, saya akan mematikan lampu." Lukman segera menekan saklar yang tidak jauh dari mereka. "Susst ...!" Ia mencegah Rere yang nyaris menjerit. "Pak, saya takut!" Rere trauma pada kegelapan dalam ruangan. Ia merasa kembali ke kejadian tragis pada waktu itu. "Diamlah!" "Pak, siapa itu?" "Saya tidak tahu, Bu. Seingat saya Dino dan Rina tidak bermalam. Mereka izin pulang karena hari ini malam Minggu. Jadi mereka ingin menghabiskan hari libur bersama keluarga masing-masing." "Jadi siapa itu?" "Mungkin orang jahat." Rere meringis. Ia berusaha duduk untuk merapat pada dinding. Lukman segera memapahnya. "Tunggu di sini! Saya akan lihat." Lukman segera mengintip dari pintu. Ada dua orang bertopeng biru kini mencari sesuatu di ruangannya. "Jangan-jangan mereka!" Rere merangkul lutut menyembunyikan wajahnya. Lukman meraih ponsel untuk menghubungi penjaga. "Di ruangan saya ada dua orang penyusup!" "Baik, Pak." Lukman segera menutup pintu. Ia membiarkan mereka diringkuk oleh dua satpamnya. "Suara apa itu?" Rere panik saat mendengar suara perlawanan di luar. "Jangan sampai dia kenapa-napa?" Rere menangis sejadinya seraya menutup pendengaran. Ponsel Lukman bergetar. Di saat itu pula lampu menyala. Lukman telah berada di dekatnya. "Halo?" "Mereka sudah kami atasi, Pak. Sekarang Anda dapat beristirahat dengan tenang." "Terima kasih." Lukman melempar ponselnya ke bantal. Ia lantas memandang Rere yang kini menatap dirinya. "Semuanya sudah aman, Bu. Anda bisa tidur dengan nyenyak malam ini." Rere menangis, ia menyerbu Lukman dengan pelukan. "Saya tidak tahu lagi jika Anda juga akan meninggalkan saya. Saya sudah kehilangan keluarga saya selama ini! Saya tidak memiliki siapa pun." Lukman tidak membalas rangkulan Rere. Membuat Rere tersadar atas ketidaksengajaannya. Ia malu dan perlahan melepaskan Lukman. "Saya tidak sadar. Maaf." "Eh?!" Ia terkejut saat Lukman menarik kemudian merangkulnya. "Tidak masalah, Bu. Ceritakan saja. Saya mudah lupa. Jadi Anda tidak perlu cemas." Rere tersenyum, ia merasa hangat berkat Lukman. Bahkan saat Lukman memapahnya untuk kembali ke kasur. "Pak?" "Hem?" "Bagaimana jika ada seorang gadis yang pernah kamu rusak, tetapi kamu lupa telah merusaknya. Apa kamu akan membatah saat dia meminta pertanggungjawabanmu?" Lukman memandang langit kamar. "Sangat disayangkan sekali jika saya lupa. Saya berharap tidak pernah melakukan dosa. Jika pernah saya tidak akan membantah. Saya akan menikahinya." Rere tersenyum. "Apa aku jujur saja kepadanya?" pikirnya. "Pak, sebenarnya saya adalah gadis itu. Saya merasa Anda telah menodai saya. Jadi saya memukul Anda kemudian saya meninggalkan Anda. Saya harap Anda tidak berdusta dengan perkataan Anda barusan. Saya tidak meminta agar Anda menikahi saya, tapi saya hanya ingin mengatakan apa yang ada di hati saya selama ini. Maaf, Pak. Saya tidak bohong. Saya bersumpah." Lama ia menunggu jawaban dari Lukman. Terdengar suara dengkuran halus yang membuat Rere sadar. "Asam! Dia malah tidur di saat aku mengakui semuanya!" Lukman memang saat ini sedang pulas. Pemuda ini sangat lelah sehingga tidak sadar saat Rere merangkul punggungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD