SEBUAH SENTUHAN HANGATMU

1257 Words
Pukul 5 subuh. Lukman terjaga dengan heran karena ada sebuah tangan manis melingkar di pinggangnya. Saat ia berbalik ternyata Rere yang kini sedang tertidur pulas. Lukman mengamati wajah Rere seraya membandingkan foto gadis itu dengannya. Setelah yakin ia menjadi tenang. Rere merapat pada Lukman. Kini menyembunyikan dirinya di tubuh Lukman. Membuat Lukman harus menghindar. Suara azan kini terdengar. Rere terbangun saat Lukman salat. Ia menguap seraya duduk memandang pemuda itu. "Kenapa dia berbeda sekali dengan yang aku bayangkan selama ini?" Menunggu Lukman usai Salat membuatnya kembali mengantuk. Bahkan tidur pun sembarangan. Tidak berselimut. "Bu, Anda harus mandi." Namun, ia ingat saat melihat kaki Rere yang membiru di sebelah kiri. Lukman tidak tega membangunkan Rere. Ia lantas bersiap membuat sarapan. Setelah usai barulah ia bersiap untuk memeriksa data. "Hari ini Minggu, kan? Kenapa repot bekerja?" Lukman terkejut mendengar suara tanya seorang perempuan. Ia lantas memandang Rere yang kini masih pulas. "Aneh, aku seperti mendengar suaranya?" Rere berbalik menyentuh dirinya. Membuat Lukman terdiam sesaat. "Dia seperti gadis itu. Aku merasakan tubuhnya." Lukman lantas meletakkan laptop kemudian merangkul Rere. "Apakah dia orangnya?" Rere bergerak, ia heran saat berada di pelukan Lukman. Dengan cepat ia mendongak tanpa sadar malah mencium Lukman. Bibir mereka menyatu sesaat. Baik ia dan Lukman terdiam merasakan sensasi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Bahkan Rere kini terpejam meremas kerah baju Lukman. Gadis ini lupa diri sementara Lukman yang kini sadar segera melepaskan Rere. Membuat Rere malu. Lukman segera duduk. Ia kembali memangku laptop. Rere menutup wajahnya dengan selimut. Sungguh malu rasanya. "Kenapa aku bisa menciumnya?! Tapi rasanya aneh." Lukman terpejam kuat. Ia menyesal. "Kenapa bisa begini?" Ia melirik Rere yang saat ini menenggelamkan diri di selimut. Ia menggosok bibirnya yang terasa hangat oleh bibir Rere. "Aku tidak berani menampakkan wajahku!" batin Rere. Lukman tak jua menegur Rere. Pemuda berkaus kerah merah ini kini berjalan ke luar kamar. Rere mengintip saat mendengar langkah Lukman yang telah menjauh. Lukman mencari-cari sesuatu. Namun, tidak menemukan. Ia lantas melihat catatan. "Oh, aku belum mendengar suaranya." Ia duduk di sofa. 'Nama saya Rere. Umur saya dua puluh empat tahun. Saya masih sendiri. Apakah Bapak ingat saya sekarang? Saya akan menyanyikan sebuah lagi pendek' Rere mulai bernyanyi lagu indah dari Band yang disukai Lukman. Mendengar suara Rere yang cempreng membuat Lukman tertawa. "Aduh!" erang Rere. Lukman terkejut kemudian berlari. "Ada apa, Bu?" "Gawat!" Rere yang tadinya hendak berdiri kini memalingkan wajah saat Lukman menghampiri. "Aku malu!" "Bu, apakah kamu hendak ke toilet?" "Saya bisa sendiri!" tolaknya tanpa memandang Lukman. "Auh!" Ia kembali menjerit. Rasanya pinggangnya juga sakit. Lukman memerhatikan Rere sedang menekan pinggangnya. "Biar saya luruskan." "Tidak. Apa yang.kamu lakukan!" "Berbaring dan berbaliklah! Saya akan memijat bagian sakitnya." "Tidak biarkan saja!" "Saya akan panggilkan dokter saya sebentar lagi. Ayolah!" Rere dipaksa berbalik. "Aaa!" Ia memekik saat Lukman menekan pinggangnya. "Anda ingin membunuh saya, ya?!" "Tulang Anda harus segera diluruskan. Biar saya benarkan." "Tidak usah! Agh!" Ia kembali memekik saat Lukman memijat bagian pinggang hingga ke pinggulnya. Rere merangkul bantal. Ia menenggelamkan wajahnya di sana. Rasanya sakit saat Lukman memijat. Ia tidak sadar saat Lukman menyingkap bajunya dan memijat dengan minyak. Rere mengisak. "Mama ... mama!" Lukman usai, ia segera membalik perlahan Rere. "Sudah, Bu." "Sakit!" Rere mengisak. "Nanti akan baikan. Saya juga sudah menghubungi dokter saya." Rere mandang Lukman. "Saya minta maaf. Telah mencium Anda. Saya sungguh tidak sengaja." "Hem." Lukman menaruh kembali minyak pijat ke meja. "Pak, apakah kamu marah?" "Saya marah. Sangat marah karena kamu berani mencium saya." "Maaf." "Saya merasa kamu adalah gadis itu. Saya terlalu berharap." Lukman lantas pergi ke sofa. Rere memandang Lukman. Ingin sekali ia katakan. Namun, seandainya ia katakan Lukman hanya ingin memancing kemudian balas dendam. Akhirnya Rere hanya bungkam. Membiarkan rahasia. Lukman terpejam seraya menaruh kepala pada sandaran kursi. Saat Rere berusaha berjalan. Ia mendengar rintihan gadis itu. Lukman memandang Rere. "Kenapa dia tidak mau kubantu?" Lukman lantas menghampiri Rere. "Sedang apa?" "Saya ingin ke toilet. Eh?!" Ia terkejut saat Lukman mengangkatnya. Kini menuju toilet. "Pak?" "Masuklah!" Lukman melepaskan Rere di depan kamar toilet. Perlahan Rere melangkah. Lukman menutup pintu tanpa menguncinya. Pemuda ini melipat kedua tangan seraya bersandar pada dinding. Menunggu Rere lumayan lama. Ia maklum, karena Rere mungkin sedang berusaha. Satu jam berlalu. Membuat Lukman cemas, ia lantas masuk. "Aaa!" Rere memekik seraya menutupi tubuhnya dengan pakaian. Ternyata gadis itu sedang mandi. Lukman segera keluar. Senyum geli terlukis di wajahnya. Tidak lama Rere keluar dari sana. Dengan rambut basah tanpa riasan. Membuat Lukman terpana untuk sesaat. Alis yang melengkung ke atas. Mata yang bulat menyipit hingga ke ujung. Bibir mungil yang merah muda bagai mawar. Lukman menghampiri Rere yang saat ini terdiam. Rere terkejut saat Lukman kembali menggendongnya kemudian menurunkannya di kasur. Lukman memberinya sisir. Rere menyisir rambut seraya memandangi Lukman yang kini sedang menyiapkan sarapan. "Eh!" Rere terkejut saat seorang dokter cantik sedang menghampiri Lukman. Inilah Suzan yang dulu pernah menjadi suster Dokter Beno. "Siapa yang sakit?" "Dia!" Lukman menunjuk Rere. "Kamu?" Suzan masih ingat Rere. Namun, saat Rere memelas dan memberi isyarat agar jangan bercerita pada Lukman. Ia pun bungkam. "Ada apa, Dok?" tanya Lukman heran. "Tidak ada." Ia segera memeriksa Rere. "Bisakah Anda tebus obat ini!" Ia menyerahkan secarik kertas kepada Lukman. "Baiklah. Di sini ada klinik, kan? Di sana saja." "Iya." Setelah Lukman pergi Suzan menatap Rere. "Kenapa kamu tidak ingin saya cerita? Kamu tahu nggak saat itu kamu yang salah?" "Saya melakukannya karena berpikir dia telah melecehkan saya." "Dia menolongmu. Dia bahkan tidak ingat wajahmu." "Tapi kenapa pakaianku?" "Saya yang merawatmu saat itu. Tidak ada apa pun yang menyakitimu di sana. Kamu datang dalam keadaan luka parah saat Lukman meminta kami untuk mengobatimu." Rere merasa bersalah. "Apakah itu artinya saya masih?" "Kalau untuk urusan itu saya tidak mengerti. Yang jelas dia hanya menjelaskan kalau kamu menghadang mobilnya." Rere masih ingat kejadian itu. Jika Lukman tidak melecehkan. Maka ia saat ini masih utuh. Rere menangis karena selama ini telah salah paham sekaligus bahagia. Ia memandang Lukman yang kini menghampiri Suzan seraya menyerahkan obat. "Minumlah!" Suzan menyerahkan obat dan meraih segelas air putih kepada Rere. "Saya pergi dulu." "Dok," panggil Lukman. "Tidak apa. Dia hanya butuh rehat beberapa hari." "Terima kasih." Lukman mengantar Suzan ke pintu sedangkan Rere kini termenung. "Bu!" tegur Lukman. Ia meminta gelas Rere. "Au!" Rere tidak sengaja menumpahkan air ke tubuhnya. "Hati-hati, Bu." Ia mengambil gelas Rere. "Saya bisa sendiri!" Ia meraih handuk dari Lukman kemudian mengeringkan pakaian. Lukman meraih handuk kemudian melemparnya. Ia mengangkat dagu Rere kemudian mencium mesra gadis itu. Membuat Rere kini berbaring dan mendesah saat Lukman melepaskan kancing piyamanya satu per satu. "Bu!" tegur Lukman. Rere tersentak dari lamunan. Ia menunduk malu. "Bu, sudah?" Ia meminta handuk. Perlahan Rere menyerahkan handuk tersebut. "Saya tidak punya pengering rambut. Anda bisa mengganti pakaian kalau mau. Saya akan pinjamkan." "Pakaian yang dibeli kemarin kan ada," lirihnya. "Saya terus terang malu melihat Anda berpakaian seperti itu." Rere mengangkat wajahnya. "Kenapa?" "Saya bisa khilaf." Lukman jujur tentang perasaannya ketika melihat Rere berpakaian demikian. Sebab bagaimanapun juga ia adalah lelaki normal. "Anda begitu cantik. Begitu sempurna. Saya tidak mampu menahannya." Rere tersenyum malu. "Saya tidak masalah jika Anda menginginkan saya." Lukman melirik Rere. Seraya duduk membelakangi gadis itu. "Apakah Ibu sedang menawarkan diri?" Rere hanya diam saja. Tak menjawab. "Saya sangat senang, tapi karena baru kenal dan saya masih penasaran pada gadis itu maka saya tidak menerima Anda. Maaf sekali." "Saya..." Rere terpaksa bungkam. Ia memiliki rencana lain. Mungkin akan lebih baik Lukman tidak tahu. Mengingat nyawanya selalu terancam. "Biarlah rahasia. Tak memilikimu bukan berarti aku kalah. Kau selamanya akan kumiliki, Lukman," batinnya. Ia memandang punggung Lukman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD