Semalam hingga siang ini Rere tidak pulang. Lukman pun melarangnya pulang. Bahkan memaksa akan bicara kepada ayah Rere agar meminta izin. Namun, Rere menolaknya.
"Kenapa kamu begitu, Bu?"
"Saya hanya tidak ingin Bapak, kena omelan ayah saya."
"Saya akan terima itu. Tidak masalah bagi saya."
"Tidak, Pak. Bagaimanapun Anda sudah membantu. Saya tidak enak jika Anda terkena masalah karena saya."
"Hem, terserah saja. Jika Anda dimarahi saya merasa bersalah. Sebab saya tidak mengantar Anda pulang. Malah mengajak anak gadis orang kemari."
"Iya, Pak."
Lukman memandang jendela di belakang mereka. "Ibu, bosan? Apakah ingin berjalan-jalan untuk melihat sekitar?"
"Dengan kaki saya yang sakit? Saya rasa nggak mungkin." Ia tertawa miris.
Lukman berdiri dan mengulurkan tangan. "Mari!"
Rere menerima tangan Lukman. Namun, ia mengeluh saat sakit mulai menyerang pinggang. "Aduh! Saya tidak bisa. Sakit sekali, biar Bapak, saja yang--eh!" Ia terkejut saat Lukman mengangkat dirinya. "Pak, jangan begini! Turunkan saya!" Namun, Lukman tidak menanggapi. Ia mengajak Rere untuk berjalan di sekitar ruangan kantor. Rere memandang Lukman diam-diam kemudian menyandarkan kepala ke tubuh Lukman. Ia merasa nyaman berada di situ.
"Mau ke luar, Bu?"
"Jika Anda tidak merasa berat mengangkat saya."
"Tidak." Lukman lantas mengajak Rere ke luar melalui lift. Rere menekan tombol lantai dasar. Mereka kini berada di dalam lift.
"Apakah Anda takut saya gendong?"
"Tidak."
"Hem." Lift terbuka. Lukman segera ke luar. Mereka menuju luar. Kebetulan ada satpam di lantai dasar sedang asyik menyaksikan televisi.
"Mau ke luar, Pak?"
"Iya, tolong buka pintu!"
Ia melihat kaki Rere. "Kenapa itu?"
"Jatuh di kamar mandi. Jadi bermalam di sini untuk beberapa hari." Lukman lantas ke luar setelah menjawab.
Rere memandang satpam yang melihatnya. "Apa dia tidak akan berpikir saya ini gadis nakal?"
"Tidak. Semua tahu siapa saya. Mereka tidak akan berpikiran ini itu jika menyangkut saya."
Rere tersenyum. Ia meraba kemeja Lukman. Kemudian dengan gemas malah menggigit. Membuat Lukman kini memandangnya. "Saya tidak sengaja."
"Anda kenapa melakukannya?"
"Saya gemas."
Lukman hanya mendehem. "Kalau Anda menyukai saya. Saya tidak akan melarang, tapi Anda juga harus tahu kalau saya tidak akan berkhianat dengan gadis itu."
"Untuk apa Anda mengingatnya? Dia jelas pergi dan tidak mungkin kembali. Kenapa Anda tidak menerima saya saja?"
Lukman berhenti. Ia memandang Rere. "Entah kenapa, saya ini sangat penasaran dan ingin melihat dia. Setelah saya dapat jawaban saya akan tenang."
Lidah kelu ingin menyatakan kebenaran. Rere hanya mampu menunduk. Lukman meletakkan Rere di bangku panjang. Tepat di depan kantor sebelah kanan. Jauh dari pintu utama. Udaranya sejuk karena di situ adalah ujungnya. Terdapat pohon-pohon yang menaungi panas mentari. Rere menghirup udara dengan mata terpejam. "Pak, saya boleh mencintaimu kan?"
Lukman melirik Rere seraya memetik satu bunga sepatu. Ia menyerahkan ke pada Rere yang baru saja membuka matanya. "Silakan saja."
Rere memandang bunga. Ia tidak paham apakah silakan hanya dirinya saja yang mencintai Lukman? "Pak, apakah hanya saya?"
Lukman bersandar kemudian memandang pagar di hadapan mereka. "Terserah apa pendapatmu. Dua sekretarisku memundurkan diri lantaran saya menolaknya. Mereka malu dan pergi. Padahal saya bersikap normal. Malah mereka bilang saya membuat mereka tersiksa."
Rere mencium bunga. "Jadi apakah saya pula harus mundur dan mencari pekerjaan lagi?"
Lukman tertawa miris. "Sebenarnya apa yang kalian lihat dari saya? Tidak tampan. Bahkan jauh dari kata manis. Ada yang bilang wajah saya lebih cocok untuk menjadi preman dibandingkan menjadi bos. Kasihan ya, saya ini?"
Rere mengusap pundak Lukman. "Maaf, jika perasaan saya membuat Anda serba salah."
"Jadi, apakah Anda akan pergi? Jika iya, saya terpaksa menerima cinta Anda. Saya sudah lelah mencari sekretaris baru. Mereka selalu salah paham dengan sikap yang saya berikan selama ini."
"Saya ...." Rere bimbang. Namun, ia pun tak ingin Lukman terpaksa. Rere harus menebus kesalahan yang dulu. Ia wajib membalas budi Lukman. "Saya tidak akan memaksa. Justru saya akan berada selalu di sampingmu."
"Tidak menyesal? Saya tidak akan menyerah untuk mengejarnya."
"Tidak." Untuk apa ia menyesal jika dirinyalah yang kini dicari oleh Lukman. "Tetapi biarkan saya merangkul Anda."
Lukman hanya mengangguk. Ia membiarkan Rere bersandar padanya.
***
Sore ini Rere telah berada di kamar. Ia sedang melukis wajah Lukman dengan pulpen. Gadis ini menggigit ujung pulpen setiap kali memandang Lukman yang sedang bekerja. Lukman memiliki daya tarik tersendiri baginya. "Sedang apa, Bu?"
Rere tersentak. Ia tersadar dari lamunan saat Lukman merampas kertasnya. "Itu--"
"Ini saya?" Lukman memandang Rere.
"Itu ...." Rere bingung.
"Saya menyeramkan, ya?" Lukman tertawa.
"Tidak, kok!" Rere merampas kertas tersebut.
"Nyatanya begitu."
Rere menunduk seraya melipat baik-baik kertas kemudian memasukkan ke tasnya. Lukman memperhatikan tingkah Rere yang kini membuatnya gemas. "Kenapa?" Rere heran saat Lukman memandangnya.
"Apa yang membuatmu menyukai saya?"
"Perhatianmu."
"Padahal baru tiga hari kita bertemu."
"Empat hari dengan hari ini, Pak."
"Ya, tapi kemarin kamu menyatakannya."
Rere tersenyum manis. Ia merangkul lengan Lukman. "Entah kenapa saya suka. Awalnya saya takut, tapi sekarang saya suka."
"Aneh?" Lukman memandang ke laptopnya.
Rere menutup laptop Lukman. "Hari Minggu Anda masih bekerja. Jangan kebiasaan, deh."
Lukman tersenyum seraya memandang kepala Rere yang bersandar padanya. "Apakah saya akan melupakanmu?"
Rere mengangkat kepala. "Jangan sampai!" Ia menatap Lukman.
"Sudahlah. Saya tidak mau senang dulu. Bisa jadi Anda suka karena saya menolong Anda kemarin. Bisa jadi itu sekadar rasa kagum."
Rere diam. Ia memikirkan perasaannya. Apakah hanya sekadar perasaan kagum ataukah ada cinta? Rere bingung. Ia lantas memandang Lukman. "Saya akan berpikir untuk ini." Rere melepaskan Lukman.
Lukman meletakkan laptop di samping bantal. "Saya ingin rehat." Ia lantas berbaring.
Rere masih duduk seraya memikirkan perkataan Lukman. Ia melirik Lukman yang kini telah terlelap. "Spa aku hanya kagum padanya? Apa perasaan ini hanyalah semu?" Rere bingung. Ia lantas perlahan berbaring dan merangkul Lukman. "Rasanya nggak mungkin jika aku hanya kagum." Ia memandang Lukman yang kini seketika membuatnya terkejut karena Lukman berbalik ke arahnya. Bibir mereka menyatu. Membuat Rere melotot tidak percaya. Ia terpejam membiarkan desir di darahnya. Lukman terbangun, ia mendorong Rere. Lukman segera duduk. Ia mengusap bibir seraya pergi. "Apa dia marah?" Rere cemas.
Lukman duduk di sofa seraya memandang langit-langit. "Kenapa begini?" Ia melirik pintu. "Apa dia sengaja atau ... ah, apa yang aku pikirkan?" Lukman meremas kepala. Rere berdiri di hadapannya. "Kenapa?"
"Saya minta maaf. Saya tidak sengaja. Di saat Anda berbalik sa--" Ia terhenti saat Lukman memintanya untuk diam dengan isyarat. Namun, ternyata Lukman sadar. Rere masih berada di tempatnya. Dia hanya membayangkan Rere.