TAWARAN

1044 Words
Rasanya hari Minggu begitu panjang. Waktu lambat sekali berlalu. Sementara Rere dan Lukman belum bicara satu sama lain. Tidak enak juga bagi Lukman mendiamkan Rere. Ia berusaha berpikir jernih. Aneh memang. Ia muda sekali lupa, tatapi mengapa ciuman singkat itu tidak dapat ia lupakan. Membekas, kini malah menjadi gairah yang ingin disalurkan. Lukman berusaha menekan rasa. Ia tak mau terlena. Pemuda ini masih penasaran dengan gadis lampau. Sehingga ia tak ingin membuka diri untuk wanita lain. "Ih," ringis Rere saat melihat ada kecoa berjalan ke arahnya. Ia segera bergeser untuk menghindari. "Sana!" Rere meraih buku yang dipergunakan Lukman untuk mencatat laporan. "Sana!" Suara Rere mengalihkan situasi. Kini Lukman memandang Rere. "Sana!" Malah kecoa kini melompat dan hinggap di kaki kemudian masuk ke celah celana. "Aaa! Sana!" Rere merengek seraya memukul kaki sendiri. Ia ingin membuat kecoa pergi. Namun, yang terjadi kakinya malah sakit. Rere ingin berdiri. "Aduh! Hikz ... hikz .... Mama!" Lukman berjongkok. Ia menangkap kecoa yang nyaris masuk ke sela bagian sensitif Rere. "Ambil!" perintah Lukman. Ia menyuruh Rere untuk mengambilnya sendiri. Sebab Lukman hanya menangkapnya dari luar. Ia tidak berani menyusupkan tangan ke dalam celana Rere. Rere malu, bagaimana mungkin ia menyusupkan tangannya ke celana sementara Lukman sedang melihatnya. "Apa yang kamu pikirkan, Bu? Ambil sebelum saya melepaskannya dan dia bisa menjalari tubuhmu." "Matamu," lirihnya. Lukman berpaling. "Ambillah, saya tidak akan mengintip." Perlahan Rere menyusupkan tangan. Ia berhasil menerima kecoa itu. "Ini." "Bagus." Lukman mengambil kecoa dari Rere. Ia lantas membuangnya ke jendela. Rere melirik Lukman yang kini duduk di depannya. Membelakangi dirinya seraya merapikan buku yang sudah tidak karuan alias kusut karena digunakan Rere sebagai pemukul tadi. "Maaf, saya merusak catatanmu." "Hem." Lukman tidak ingin membalas, tetapi ia senang Rere dapat berbicara kembali dengannya. Hening kembali dirasakan oleh Rere. Gadis ini nampak sedang memandang sekitar. Dari tadi ponselnya tidak berguna. Sebab tidak ada yang sudi menghubunginya. Nasib orang yang selalu tertutup ini sangat malang. "Bu." Suara Lukman terdengar kembali di saat Rere menguap. "Ya, Pak." "Apakah Anda sengaja mencium saya?" "Itu tidak sengaja!" ralatnya cepat. "Jangan diulangi lagi, ya." "Apa maksudnya?" Rere bingung. "Jangan diulang lagi yang tadi." "Jadi Bapak, menuduh saya sengaja? Saya pikir tadi Bapak, memahami bagaimana situasinya." "Maaf, jika Anda--" "Saya ingin berhenti!" Lukman terkejut. Ia lantas berbalik. "Kenapa?" "Katanya saya boleh dekat, tapi bukan berarti boleh itu saya memanfaatkan situasi, ya! Bukan! Saya di sini korban. Andalah yang salah! Berbalik begitu saja lantas mencium saya! Saya benci dituduh begini." "Kenapa malah ingin berhenti? Ini kan, masalah pribadi. Kita boleh berkelahi, tapi di saat kita bekerja, kita harus bisa menempatkan diri di pekerjaan kita. Bukankah begitu harusnya, Bu?" "Buat apa bekerja dengan orang yang salah paham?" "Oke, baik. Jadi ini saya yang salah, ya? Baik iya saya yang harusnya meminta maaf. Jadi maafkan saya." "Tidak ikhlas sepertinya." Lukman menarik napas. "Saya ikhlas, Bu." "Saya nggak percaya." "Bu, tolong! Jangan seperti ini." Rere melirik Lukman. Gadis ini mencium pipi kanan Lukman. "Marah?" "Tidak." "Saya ingin dimanja. Bisa?" "Baik." "Saya ingin boneka ketika saya tidur atau rehat di sini." "Ba--eh? Mengapa kamu lebih mirip istri saya ketimbang sekretaris?" "Mau dimaafkan tidak?" "Oke, baik." Terpaksa Lukman mengalah. "Saya ingin Anda menganggap saya kekasih." "Saya tidak bisa." "Wajib!" Mata Rere melotot. Lukman menelan ludah. Baru kali ini ia takut melihat orang. "Tapi saya tida--" "Saya tidak ingin penolakan." "Ada apa dengan gadis ini? Kenapa dia malah memintaku untuk jadi pacarnya?" batinnya. "Jawab!" "Iya." "Saya ingin Anda belajar melupakan dia. Apa Anda keberatan?" "Untuk yang itu jangan. Saya tidak mau." "Oke, saya tidak akan memaksa." Rere memandang dapur kecil di sampingnya. "Dan saya hanya bercanda dengan Anda. Maaf, jika membuat hati Anda gelisah. Saya hanya ingin Anda dapat melupakan masa lalu." "Bercanda?" "Ya, saya melihat Anda gelisah setelah saya menyatakan perasaan saya kepada Anda. Saya sadar bahwa saya bukan orang yang Anda inginkan. Daripada itu lebih baik lupakan saja permintaan saya tadi. Kita hanya berteman. Tidak lebih dari itu." Rere tersenyum hambar. Walau ingin memaksa Lukman, tetapi ia tidak bisa melihat kegelisahan pemuda itu. Terpaksa ia memutar kalimat untuk meredakan hati Lukman. *** Malam Senin. Rere tidak dapat lelap. Ia memandang ponsel. Berharap ada yang sudi menghubunginya. Ponsel tiba-tiba saja bergetar. Ia segera menerima. "Halo?" "Aku tahu kamu, Re. Kamu nggak akan bisa lepas dariku." "S-siapa ini?" "Pemuda yang dulu pernah kau rusak wajahnya!" Rere terkejut ia nyaris menjatuhkan ponselnya. Rere segera membuka penutup belakang ponsel kemudian mematahkan kartunya. "Dari mana dia tahu tempatku?" Ia memandang sekitar. "Nampaknya dia tahu tempat ini." Tidak lama terdengar suara benturan. Dbrak! Seperti seseorang yang sedang menabrak benda. Rere melihat Lukman. Ia lantas meraih garpu di bawah bantal. Garpu yang pernah diberikan Lukman kemarin malam. Tiba-tiba listrik padam. Rere waspada. Ia berdiri sambil meringis. "Em! Em!" Tiba-tiba ada yang membungkam mulutnya kemudian membawanya pergi. *** Rere terbangun di kamar mewah. Ia memandang sekitar. Kakinya yang sakit kini sudah diganti dengan balutan baru. Seorang pemuda tampan sedang berjalan ke arahnya. Rere merasa tidak mengenali pemuda itu. "Siapa Anda?" "Namaku Yosi. Aku adalah seorang kepala polisi." "Aneh. Kepala polisi kok, nyulik orang," sindirnya. "Kami sudah mencarimu. Setiap kali kami dapat info tentangmu. Kamu selalu saja menghindar. Kurasa tidak mungkin kami akan datang terang-terangan, bukan?" "Aneh, apa polisi sekarang tidak menggunakan prosedur? Mengapa aku merasa ini janggal." Ia membatin seraya menilik penampilan pemuda itu yang memang persis polisi. Hanya saja tidak berseragam. "Aku masih tidak percaya!" "Terserah! Aku tidak memaksamu." "Biarkan aku pergi!" "Ceritakan dulu bagaimana mereka?" "Siapa maksudmu?" "Siapa lagi kalau bukan orang yang selalu mengincarmu." "Apa yang akan kamu lakukan jika aku memberitahu ciri mereka?" "Kami akan meringkusnya." "Kapan itu akan terjadi? Sudah dua tahun lalu aku datang dan mengemis untuk keadilan. Kalian tidak menjagaku. Justru semakin banyak orang yang tewas di sekitarku. Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dan tadi ... tadi dia menghubungiku! Bagaimana bisa itu terjadi di saat kalian bilang sedang mengawasiku?" Yosi diam, ia mendengarkan setiap keluhan Dewi. "Sekarang aku yang akan mengawasimu." "Bohong! Aku tidak percaya dengan janji kalian lagi." Yosi tersenyum. "Sayangnya kamu sedang terluka. Padahal kami punya rencana untuk membekali dirimu dengan pertahanan tangan kosong. Jadi jika terjadi sesuatu yang mendesak, kamu bisa menjaga dirimu sendiri." Rere diam, ia mulai berpikir. Apakah ia akan mengikuti rencana mereka untuk membekali diri atau kah ia lupakan. Namun, terus dibayangi oleh mereka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD