PELATIHAN

1004 Words
Rere mendapat perawatan di sana. Ia dijamu dengan baik. Gadis ini pun tidak menyangka kini dirinya berada di kursi roda. Seorang lelaki berbaju biru kini mendorong kursi rodanya. Ia diajak ke taman untuk melihat pelatihan. Suara tembakan dan perkelahian terdengar. "Mereka sedang apa di sana?" "Apakah ingin melihat?" "Saya hanya tanya." "Mereka sedang berlatih. Di sini kami berlatih untuk pertahanan diri." "Di mana atasanmu?" "Dia sedang bertugas." "Di?" "Kantor." "Jadi ini?" "Tempat berlatih. Di sini Anda akan dilatih." Rere teringat pada Lukman. "Saya harus kembali." "Anda tidak bisa ke mana-mana. Anda sudah lama bersembunyi. Kini waktunya Anda ikut kami dalam pelatihan ini!" "Kenapa tidak cari saja mereka? Kenapa saya yang harus berlatih?" "Kami pasti akan mencari mereka, tapi sebelum itu Anda harus keluar agar mereka datang." "Saya tidak ingin menjadi umpan. Cukup sudah!" "Jadi Anda akan terus diam?" Rere melirik arah kiri. "Kalau dengan cara bersembunyi saya dapat menyelamatkan orang sekitar, mengapa tidak?" "Setiap kali Anda berlari. Setiap kali itu jua dia menemukan Anda. Kami tidak bisa membantu dan tidak dapat mengira-ngira kapan itu akan terjadi. Yang kami inginkan adalah Anda bekerjasama dengan kami agar dapat menangkap mereka." Rere diam, ia memikirkan Lukman. Tidak mungkin ia akan menutup rahasia tentang dirinya kepada pemuda itu. Ia pun ingin bahagia. "Pulangkan dulu saya. Setelah saya sehat, saya akan menyetujui itu." "Tidak. Kami ingin Anda tetap di sini." "Tapi--" "Kami akan berbicara kepada atasanmu." "Tolong jangan libatkan dia!" Rere menyentuh tangan lelaki itu. "Kami tahu menjaga rahasia. Jadi tenanglah." Akhirnya Rere pun diam. Ia kini kembali memandang sekitar. Gadis ini kini menemukan Yosi yang kini sedang berjalan menghampirinya. "Bagaimana dengan harimu di tempat ini?" "Saya ingin pulang. Saya cemas karena tiba-tiba saya menghilang. Bos saya pasti saat ini sedang mencari saya." "Tenanglah. Ini hanya untuk sementara. Kami tidak akan menahan Anda lebih lama." "Kenapa saya harus di sini saat sakit, saya bisa datang lagi kalau saya sudah sehat?" "Selain latihan, kami hanya ingin menjagamu. Dalam kondisi seperti ini kamu pasti akan sulit untuk menghindari mereka." Yosi memandang ke hadapan. "Apa Anda ingin belajar menembak? Saya akan ajarkan itu." "Boleh?" "Hanya untuk melindungi diri. Boleh." "Baiklah." Yosi meraih pistolnya kemudian diberikan kepada Rere. "Sekarang!" "Apa?" Rere terkejut. "Ayo, ikut saya ke tempat latihan menembak!" Rere gugup, kursi roda didorong mengikuti langkah Yosi. "Saya takut meleset." "Tidak masalah." Mereka tiba di lapangan menembak ada papan sasaran untuk latihan. Orang yang berlatih seketika menepi. Mereka memberi tempat kepada Rere untuk menembak sendiri. Bahkan mereka sibuk mengambil tempat untuk beristirahat. "Saya harus apa?" Yosi kini berdiri di belakang Rere. Ia membungkuk seraya mengarahkan tangan Rere untuk menembak. "Buka matamu dan tembak!" Dor! Rere terpejam dengan teriakan terkejut. "Santai, jangan panik! Lihat ke depan tembak jantung!" Rere membuka lebar mata. Dengan kejut dari pistol ia nyaris tersentak ke belakang. Beruntung Yosi segera menahannya. Dor! Dor! Tembakan meleset. Yosi kemudian mengarahkan lagi tangan Rere. "Fokus! Tembak lurus!" Dor! Dor! "Yes!" Rere kegirangan. Satu tembakannya mengenai sasaran. "Bagus." "Jadi apalagi?" tanya Rere setelah pistolnya diambil lagi oleh Yosi. "Kita akan belajar hal baru lagi." "Apa?" "Apa kamu siap untuk tidak panik?" "Maksudnya?" Rere yang tidak mengerti. Sama sekali tidak dijawab oleh Yosi. Namun, saat ia berdiri di antara papan sasaran. Barulah ia paham. Dirinya dijadikan sasaran tembak. "Tidak! Kau gila!" Ia memekik. Di kursi roda tangannya malah diborgol. "Tembak!" "Aaaaaa!" pekiknya. Ia menjadi sasaran mereka. Rere yang mengira dirinya akan mati kini pejamkan mata. Namun, tidak ada satu pun peluru yang mengenai dirinya. Dor! "Agh!" Satu peluru bersarang di d**a. Beruntung ia memakai rompi anti peluru. Namun, begitu. Tetaplah sakit menurutnya. Rere tidak sadarkan diri. *** Rere terbangun di kamarnya. Ia memandang silau sekitar. "Aku di mana?" "Selamat datang kembali ke kamarmu," sapa Yosi seraya duduk di sebelah kiri. "Kau ingin bunuh aku, ya?!" omel Rere. Ia kesal karena nyaris mati. "Makanan telah dihidangkan. Makanlah!" Ia mengabaikan kemarahan Rere. "Aku ti--" Hendak menampik, tetapi perutnya kini malah berirama. "Perut bikin malu!" decitnya kesal. "Anda belum makan dari semalam. Kini makanlah!" Ia memberikan meja lipat yang di atasnya terdapat makanan. Sengaja diletakkan di atas lutut Rere. Agar Rere dapat makan. Rere tanpa banyak dalih lagi kini makan dengan lahap. Makanan hambar dan tidak memakai minyak itu akan terasa nikmat jika dalam posisi kelaparan seperti sekarang. Rere tidak peduli rasa yang penting ia kenyang. Yosi duduk di sampingnya, di tepi ranjang. "Umur dua puluh dua tahun, mengaku kuliah. Padahal meminjam ijazah sepupunya." Rere terdiam, ia berhenti makan dan menelan sisanya. Rere meletakkan sendok dan mogok makan. "Aku meminjam karena dia memberi amanat seperti itu. Aku tidak berdusta yang lain. Itu hanya alat agar aku dapat bertahan hidup." "Kami memahami itu. Anda tidak lulus kuliah karena tidak ada yang menjaminkan Anda untuk kuliah kembali. Ke sana-kemari mencari pekerjaan. Tidak ada yang layak hingga Anda terlalu lama menganggur." "Aku sudah selesai makan!" "Habiskanlah." "Aku tidak ingin disindir! Jangan menyindirku jika kalian saja tidak peduli." "Saya datang karena membantu Anda. Saya akan berusaha untuk mengeluarkan Anda dari masalah itu. Percayalah!" Rere memandang pintu. "Aku tidak yakin. Dulu Aku datang ke kantor. Aku menangis. Saat kalian datang semua telah bersih. Semuanya sangat rapi dan aku tidak ada bukti." "Kini itu akan berbeda di saat saya datang. Kali ini percayalah. Saya akan membuat Anda aman." Rere memandang Yosi. Pemuda tampan bermata teduh yang kini pula memandang dirinya. "Baiklah. Kali ini saya percaya. Saya akan keluar untuk memancing mereka." Yosi mengusap lembut kening Rere kemudian pergi. Rere tertegun mendapatkan sentuhan Yosi. Yosi keluar dari kamar Rere. Ia lantas menghubungi seseorang. "Halo, Pak. Saya ayahnya Rere. Iya, saya yang bawa dia pulang. Saya harap Anda memberinya izin untuk tidak bekerja hari ini. Sebab saya cemas jika ia masih di kantor tidak akan ada yang mengurusnya. Iya, saya akan mengabari dia. Akan saya sampaikan salam Anda padanya." Ia lantas berjalan seraya tersenyum pada seorang gadis yang akan menuju kamar Rere. Sementara di kantor Lukman yang cemas kini menjadi lega. "Sepi juga tidak ada dia?" gumam Lukman. Ia lantas memandang kamar tempat rehatnya. Membayangkan Rere ada di sana. Sedang memandang dirinya. Tanpa sadar ia tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD