“Tuan Besar dan Nyonya Besar ditemukan di dalam jurang dalam keadaan sudah tiada, bersama dengan kereta yang rusak dan harta benda yang sudah diambil. Sedangkan Tuan Muda tidak ditemukan dalam kereta yang membawa mereka. Anehnya lagi, para prajurit tewas di tempat yang berbeda. Ini artinya, ada kemungkinan jika kejadian kali ini bukan kecelakaan biasa. Kemungkinan besar adalah aksi perampokan.”
Seorang singa muda melecutkan ekor emasnya. Di lorong yang gelap langkahnya terdengar tegas dipenuhi amarah. Mendengar singa lain di sampingnya yang melaporkan setiap keadaan, semakin membuat pitamnya naik bukan kepalang. Matanya yang biru dipenuhi kilat-kilat menyeramkan, seolah murka dan ingin mengamuk saat ini juga.
Akan tetapi, dalam benak yang paling dalam, pemuda itu sebenarnya paling merasa menyesal. Mengapa ia tidak menemani majikannya dalam perjalanan kali ini? Mengapa ia bisa dengan tenang membiarkan majikannya dikawal oleh segelintir orang saja? Mengapa ia harus mengurusi hal lain yang sama sekali tidak berarti?
Ini semua salahnya, pikirnya berkali-kali.
“Apa ada petunjuk lain yang kau temukan?” Namun, pria dengan rambut emas bertelinga singa itu tetap mencoba menenangkan diri. Ia mencoba mengembalikan rasionalitas pikirannya, karena dengan begitu ia berharap bisa menyelesaikan masalah dengan lebih cepat. Meskipun, rasa gundah dan marah di dalam dadanya masih meraung-raung seperti singa gila.
“Jika melihat harta benda yang tidak disisakan satu pun, kemungkinan besar memang kejadian kali ini ulah para perampok. Akan tetapi, jika perampok biasa, sangat mustahil untuk mengalahkan prajurit kita maupun Tuan Besar sendiri,” jawab pemuda lain yang sedari tadi membeberkan informasi.
“Apa ada kemungkinan semua ini adalah ulah dari keluarga lain?”
Pemuda berambut coklat, menggeleng sedikit ragu. “Masih belum bisa saya pastikan. Kami akan menyelidikinya dengan lebih cepat. Namun, dari cara para prajurit dibunuh, kemungkinan besar yang melakukannya adalah para binatang liar itu.”
Langkah kaki si rambut emas terhenti, napasnya tiba-tiba semakin berat. “Binatang liar yang sampai sekarang tidak bisa ditangkap. Perampok yang sudah memakan banyak korban bahkan dari kalangan bangsawan. Jika benar itu mereka … jika benar-benar ulah mereka, maka Tuan Muda ….” Ia tidak bisa mengeluarkan suara lagi.
Si rambut coklat mengangguk. “Kemungkinan besar, Tuan Muda dibawa. Dan jika sesuai dengan apa yang mereka lakukan selama ini, mungkin … tidak ada harapan lagi bagi keluarga kita.”
Si rambut emas mengepalkan tangannya. “Behemoth, mereka … benar-benar rendahan.”
oOo
Di dalam sebuah kerangkeng, seorang anak kecil meringkuk terisak. Ekornya menggulung melingkari tubuhnya, takut hingga tidak bisa bergerak. Anak berusia lima tahun dengan rambut emas menyala itu tampak hanya mengenakan selapis baju lusuh, kontras sekali dengan paras rupawan dan kulit seputih porselain yang ia miliki.
Sementara itu, beberapa orang dewasa tampak tertawa-tawa di dekatnya. Pria-pria besar dengan berbagai macam telinga, menengguk bir seraya memakan daging bakar. Rokok dan o***m yang disulut membuat beberapa terlihat mabuk, melantur tanpa bisa mengerti omongan rekan-rekannya sendiri.
“Pemimpin benar-benar orang gila, sungguh-sungguh gila. Berani-beraninya ia merampok kepala keluarga Aurum. Hancur sudah kuasa para Singa Emas yang sudah diagung-agungkan semua orang. Sebentar lagi, keluarga mereka hanya akan tinggal nama.” Seorang pria besar bertelinga babi berujar dengan sesumbar. Mulutnya yang dipenuhi daging, tampak berminyak di banyak bagian.
Pria besar lain bertanduk kerbau, tertawa begitu keras. Segelas bir ia teguk hingga tandas. “Setelah kita minta tebusan untuk anak singa itu, kita akan membantai keluarganya yang tersisa.” Matanya yang bulat dan hitam, menatap anak kecil bertelinga singa di dalam kerangkeng.
Pria kerbau itu pun bangkit, ia berjalan menuju depan kerangkeng lalu berjongkok di sana. Tanduknya yang penuh lubang, tampak menakutkan. “Hei, Aurum Kecil, siapa namamu?” tanyanya seraya memberi cengiran lebar.
Namun, bocah dalam kerangkeng hanya gemetar, tak mampu menjawab dan tetap meringkuk seperti bola.
Merasa kesal, pria bertanduk kerbau mengguncang kerangkeng karatan di depannya. Dengan suara tinggi dan menggelegar, ia berteriak, “Hoi! Jawab!”
Bocah kecil itu pun semakin gemetaran. Dengan isak tangis yang berusaha ditahan, ia pun menjawab lirih, “Lenard … Lenard.”
“Ha?! apa?! aku tidak dengar, nih!”
“Lenard … namaku Lenard.”
Melihat temannya yang sedang seru menggoda si kecil Lenard, sekelompok orang mabuk di sana semakin menggelegak tawanya.
“Oi, Bubal. Kau menakutinya.” Seorang pria dengan sisik ular di sekitar matanya, berseru keras. Ketika ia tertawa, lidahnya yang bercabang tampak ke luar.
“Bubal memang selalu ditakuti anak-anak. Lihat itu tanduknya yang berlubang, uuuh seraaam.” Yang lain menyahuti tak kalah bersemangat.
Pria bertanduk kerbau yang dipanggil Bubal itu pun mendecih dengan kasar. “Sial kalian semua.” Namun, orang-orang di sana tidak ada yang peduli dengan kekesalan Bubal. Semuanya tetap tertawa dan mengeluarkan ledekan yang kian membara.
“Singa Kecil! gara-gara kau, sekarang aku jadi bulan-bulanan!” Bubal berteriak di depan Lenard dan menendang kerangkeng. Menggunakan satu tangan, ia mengangkat kerangkeng Lenard dan mengguncang-guncangnya di udara.
Tubuh kecil Lenard terpelanting ke sana-ke mari, menabrak jeruji kerangkeng yang dingin dan keras. Tangis bocah itu semakin tak terbendung, tapi ia pun tak berani bersuara.
Melihat bagaimana Bubal bersenang-senang, orang-orang di dalam ruangan semakin terbahak-bahak. Beberapa bahkan menyarankan ide-ide aneh untuk menyiksa bocah malang yang tidak berdaya itu.
“Oh, aku punya ide. Supaya kau lebih berani, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Bubal berseru ceria. Dengan langkah yang ringan, ia membawa kerangkeng Lenard ke luar dari ruangan.
Beberapa orang yang melihat tampak menikmati permainan Bubal, dan mereka akhirnya mengikuti Bubal sampai ke halaman belakang.
Di belakang markas yang seperti kastil kuno itu, Bubal menghentikan langkah di depan sebuah sumur. Di musim gugur begini, sumur itu selalu mengering, dan baru terisi lagi jika musim semi tiba.
“Waah, mau kau apakan bocah itu, Bubal? Jangan sampai kau membuatnya mati.” Salah seorang yang menjadi penonton, nyeletuk dengan santainya.
Bubal hanya mendecih, malas sekali jika harus diingatkan untuk tidak membunuh seorang sandera. “Berisik. Aku cuma mau menakuti bocah kecil ini. Hanya permainan anak kecil,” sahutnya.
Setelah itu, Bubal pun mengikat bagian atas kerangkeng Lenard dengan tali tambang. Lalu dengan tiba-tiba, ia melempar kerangkeng kecil itu ke dalam sumur yang dalam.
Saat itu terjadi, teriakan Lenard terdengar sangat menyayat. Suara ketakutannya menggema sepanjang ia terjun ke dalam sumur.
Namun, orang-orang yang melihat malah terhibur. Mereka memasang wajah antusias, dan silih berganti melongok ke dalam sumur untuk memastikan bahwa di dalam sana memang benar-benar gelap.
“Gila … benar-benar tidak terlihat ujungnya.”
Gelak tawa dan lelucon-lelucon kasar terdengar bersahut-sahutan.
oOo
“Tolong … tolong aku. Aku takut … aku takut. Siapa pun tolong … hiks, tolong…”
Gelap, di manapun gelap. Suara yang terdengar hanyalah gelak tawa tanpa simpati dari atas sana.
Mengapa seperti ini? Mengapa kehidupan Lenard yang sebenderang matahari jadi sekelam ini. Mimpi apa ia semalam?
Padahal, kemarin baru saja ia menghabiskan waktu bermain di danau bersama ayah dan ibunya, menikmati apel-apel di perkebunan yang luas membentang, mengudap kue-kue manis dengan taburan coklat di atasnya.
Lenard bahkan masih ingat suara ceria ibu dan ayahnya ketika tertawa bersamanya. Ia masih ingat kehangatan pelukan kedua orangtuanya di malam terakhir liburan.
Padahal, ia sudah menunggu dengan sabar, menunggu ayahnya memiliki waktu luang untuknya. Padahal, ia yakin liburan yang sama akan ia rasakan di tahun mendatang. Namun, mengapa ini menjadi liburan terakhir bersama ayah yang selalu sibuk bekerja? Mengapa menjadi liburan terakhir yang bisa ia nikmati bersama ibu yang sangat-sangat ia cintai?
Ibunya kini sudah tiada, ayahnya juga sama. Seluruh prajurit yang mengawal mereka bahkan sudah habis lebih dulu. Jika begitu, mengapa ia tidak dibunuh saja sekalian? Mengapa harus menyisakan anak kecil lemah ini sendirian?
“Mama … Papa … Mama … Papa.” Rintihan menyedihkan itu keluar dari Lenard yang malang.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara retakan. Lenard tidak tahu suara apa itu, tapi mirip tembok atau batu yang mulai terbelah dari dalam. Rasa waspada dan takut yang Lenard rasakan semakin membuatnya mengkerut. Ia bahkan tidak berani untuk sekedar mengeluarkan bisikan.
“Aduh sial, kakiku tersangkut.”
Ah, ada suara. Suara laki-laki muda. Lenard bisa melihat siluet samar seseorang yang keluar dari dalam batu. Sebagai singa yang masih kecil, penglihatannya memang tidak sebaik orang dewasa, tetapi di dalam tempat yang segelap ini pun, ia masih dapat menangkap beberapa benda.
Sekarang, yang bisa Lenard saksikan adalah pemandangan ketika seseorang keluar perlahan dari sebuah batu di dalam sumur. Awalnya, Lenard tidak menyadari jika di sana ada batu besar, tapi setelah diperhatikan, sepertinya batu tersebut tertanam sebagian di tanah, dan sebagian lagi menyembul ke permukaan. Dari sisi yang timbul itulah kepala seseorang muncul, dan perlahan diikuti oleh tubuh yang utuh.
Saat orang batu itu berdiri dengan tegap, ia menatap Lenard yang juga terpaku menatapnya.
Iris biru Lenard yang seperti permata, berkilauan ketika ia menatap ke atas. Sementara orang batu dengan rambut sepinggang itu, menatap Lenard dengan bola mata berwarna abu-abu.
Tapi, mengapa bola mata yang satunya tidak kelihatan? Apakah warnanya berbeda sehingga yang terlihat hanyalah mata di sebelah kanan?
“Ha? Kenapa ada anak kecil di sini?” pria muda berambut panjang itu duduk berjongkok di depan Lenard.
Bocah kecil yang sebelumnya mengendurkan waspada, kini mengkerut lagi. Terlebih, meskipun samar, tapi bisa Lenard lihat bahwa orang itu tidak berpakaian sama sekali. Sangat memalukan untuk dilihat.
“Hei, Anak Kecil. Kau sedang apa di sini? Bermain petak umpet?”
Lenard tidak menjawab. Ia hanya menggeleng lemah, lalu mengeluarkan air mata.
“Ha? Kenapa malah menangis?” Pria batu itu terlihat panik. “Hei, hei, cup cup cup. Jangan menangis. Aduh, gimana sih menenangkan anak kecil.”
“Huaaaaaaa.” Aneh, sangat aneh. Melihat orang asing itu berusaha baik padanya, dan bahkan berusaha menenangkannya dengan cara yang aneh, Lenard malah semakin tidak bisa menahan tangisannya. Ia menangis kencang seperti ketika sedang merajuk pada pengasuhnya. Tangisnya keras dan lantang, tidak bisa lagi dikendalikan.
“Waduh, diam dong. Nanti kubeliin permen, deh.”
“Huaaaaa.” Lenard pun menangis, dan menangis lagi.