2. Rembulan yang Jelita

1596 Words
Bubal mengernyitkan dahi, teman-temannya yang lain pun ikut mengernyitkan dahi. Tumben sekali bocah singa yang ia lempar ke dalam sumur menangis sekeras itu. Meskipun menghibur, dan ia bahkan menertawakannya sampai perutnya sakit, tapi kali ini tangisan yang memekakkan itu lebih seperti raungan bebas. Seperti orang yang sudah tidak takut apa pun dan akhirnya berteriak dengan lepas. “Ada apa dengan bocah itu, kenapa ia menangis seperti itu?” Bubal menggerutu jengkel. Merasa kesal, ia pun menarik tali yang terhubung dengan kerangkeng Lenard. “Yaah, kenapa kau menariknya lagi, Bubal? Kami masih ingin melihat pertunjukan darimu dan anak itu.” Seseorang bertelinga hyena terkekeh. Namun, Bubal tidak mengindahkan satu pun ceracauan rekan-rekannya. Ia dengan tergesa menarik tali di tangannya, ingin cepat membentak Lenard yang selalu membuatnya jadi bahan tertawaan. Saat kerangkeng Lenard sudah berhasil diangkat, Bubal mengernyitkan dahinya. Sebab, kerangkeng tersebut telah kosong isinya. Beberapa jeruji tampak bengkok ke kanan dan kiri. “Kosong?!” Hal itu membuat orang-orang di sana mendekat ke arah sumur. Mereka memandangi kerangkeng yang sudah kehilangan isi. “Bukannya bocah itu tidak bisa apa-apa?” Bubal mengepalkan tangannya. Ia membuang kerangkeng yang sudah rusak ke atas tanah, membantingnya dengan keras. “Sial! Di mana bocah itu?!” “Hei Bubal, bukan saatnya untuk marah-marah. Kita harus segera menemukan bocah singa itu sebelum Ketua tahu. Habislah kita jika sampai menghilangkan sandera.” Bubal pun ikut melongokkan kepala ke dalam sumur, melihat apakah bocah kecil bernama Lenard itu masih ada di dalam sana atau malah kabur entah ke mana. Akan tetapi, ketika beberapa orang mulai panik dan mencari-cari Lenard dengan menilik sumur lebih jeli, sesuatu yang cepat tiba-tiba melesat dari dalam sumur. Sesuatu itu mirip seperti hempasan angin, hampir tidak terlihat tapi terasa nyata. Saat semuanya membeku karena terkejut, seseorang tiba-tiba bertanya dengan nada ringan dan halus. “Apakah kalian mencari anak ini?” Semua mata mengalihkan pandang, ke arah seseorang yang tiba-tiba ada di tengah-tengah keramaian. Betapa terpukaunya mereka ketika sorot rembulan yang hampir purnama menyinari sosok ramping nan mempesona. Di bawah cahaya yang benderang, seseorang berambut perak tengah berdiri seraya menggendong anak kecil bertelinga singa. Orang itu memiliki kulit putih seperti mutiara, berkilauan hingga menghipnotis mata. Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa pria itu adalah makhluk mistis yang keluar dari lukisan, mungkin orang-orang akan langsung percaya. Bukan sesuatu yang sulit untuk memuja hal sedemikian indah. Sosok asing itu memiliki iris mata berbeda warna, hitam di bagian kiri dan perak di sisi kanan. Wajahnya tegas sedikit lonjong, sangat tampan tapi juga terlalu cantik. Bulu matanya yang keperakan terlalu lentik, dan bibirnya yang penuh berwarna merah muda. Tubuh ramping itu juga memiliki otot pada bagian yang pas, tingginya mungkin 180-an, bisa kurang atau malah lebih. Apalagi, laki-laki itu tidak memakai satu pun lapis pakaian. Telanjang bulat seperti bayi yang baru keluar dari rahim ibunya, masih bersih dan kemerahan. Ah, mengapa ada orang seperti ini. Bagaimana bisa ada yang begini? Apakah orang itu selama ini tinggal di dalam sumur? Mengapa bisa keluar dari dalam sumur yang gelap begitu? Akan tetapi, ada yang salah dengan orang itu. Ada hal paling penting yang tidak dimiliki orang itu. Dia tidak memiliki ekor, tidak juga memiliki telinga binatang. Telinganya seperti monyet tapi bersih dari rambut, kukunya tidak panjang, dan ketika ia bicara, tidak terlihat taring di antara giginya. “Heh, ternyata hanya seorang fakir.” Seseorang nyeletuk, dan celetukan itu sukses menyadarkan semua yang ada di sana. “Benar-benar hanya seorang fakir. Heh, tidak mudah menemukan seorang fakir yang seperti ini.” Seorang yang lain menyahut bersemangat. “Jika kita bisa menangkapnya, kita bisa bersenang-senang dengannya. Lihat lah, betapa bagus tubuhnya.” Seringai lebar tercetak instan di bibir semua orang, beberapa bahkan mulai mengeluarkan air liur. Bahkan Bubal yang sebelumnya kesal, kini menjadi lebih antusias karena memikirkan hal-hal b***t di kepalanya. “Mereka bicara apa, sih?” Pria berambut perak hanya mengernyit tidak mengerti. Namun, ia tahu bahwa orang-orang di sekitarnya sedang mengincarnya, tatapan mata mereka seperti predator di padang savana. Apalagi, pelukan Lenard di lehernya semakin mengetat, tanda bahwa bocah singa itu sedang waspada dan ketakutan. Akan tetapi, ketika seorang dengan telinga hyena dan seorang lagi dengan sisik ular di sekitar matanya mulai bergerak menerjang, siap menangkap pria perak dengan kekuatan mereka, dalam sekali kedipan, tiba-tiba keduanya telah kehilangan kepala. “Haah, dasar sial. Baru juga bangun tidur, tanganku langsung kotor begini.” Pria perak itu mengeluh dengan santainya. Semua yang ada di sana membulatkan mata, melihat bergantian pada tubuh dua rekan mereka yang pelan-pelan ambruk ke tanah dengan leher yang langsung memuncratkan darah dan kepala yang menggelinding sengsara. “A-apa yang baru saja terjadi?!” Bubal memperhatikan dengan gemetaran. Saat ia melihat lagi pria perak yang menggendong Lenard, ia menemukan bahwa kuku-kuku tangan kanan pria itu tampak memanjang, berlumuran darah dengan urat-urat otot yang tercetak menyeramkan. “Ka-kau! Siapa kau?!” teriaknya dengan suara sedikit goyah. “Aku? Namaku, Kiyo Hakai. Salam kenal semuanya.” Senyum merekah sempurna, cengirannya sangat memikat mata. Laki-laki bernama Kiyo itu benar-benar mirip seorang malaikat, tapi di sisi yang sama ia juga terlihat seperti inkarnasi dewa dari neraka. Mengapa ada keindahan yang sedemikian tidak logis. Seorang fakir yang dilahirkan dengan kecantikan paripurna, juga kemampuan untuk memenggal kepala seseorang dalam sekali kedip mata. Apakah benar ia seorang fakir? Tapi, lihat itu di tubuhnya, tidak ada pendaran sihir yang menjelaskan bahwa dia manusia biasa. Jelas-jelas dia adalah fakir, seorang manusia yang terlahir tidak sempurna. Tidak memiliki ciri k**********n, tidak juga dialiri kemagisan dalam tubuhnya. Mengapa anomali seperti ini bisa terjadi? oOo Kiyo Hakai, selalu melabeli dirinya sendiri sebagai orang apatis yang paling enggan berurusan dengan masalah orang lain. Ia masih ingat ketika usianya sudah lima belas tahun, ia bahkan tidak sedikit pun menaruh simpati pada seorang wanita tua yang tewas dipukuli preman. Ia bahkan bisa makan es krim dengan tenang ketika seorang anak kecil meregang nyawa di jalanan akibat tertabrak bis antar kota. Melihat orang disiksa sampai mati adalah kesehariannya. Bahkan bisa dibilang, tangannya yang selalu bersih ini adalah dewa maut untuk ratusan orang. Mau bagaimana lagi. Secara turun-temurun, keluarganya berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Dia sebagai anak yang terlahir dari keluarga Hakai, akhirnya menjalani profesi yang sama. Apalagi, di zamannya, perang sedang berkecamuk di banyak tempat. Jasa keluarganya pun semakin mengalami perkembangan yang signifikan. Pada suatu masa, ia bahkan pernah disewa untuk menghancurkan kemiliteran sebuah negara. Kalau tidak salah ingat, ia melakukannya di usia yang baru menginjak enam belas. Tidak heran jika keluarganya bilang, ia adalah kelahiran Hakai yang paling fenomenal. Padahal menurutnya, semua kekuatan dalam dirinya adalah berkat perkembangan penelitian nenek buyutnya. Ia hanyalah percobaan yang sudah sempurna. Itulah mengapa, ia pun merasa aneh sendiri ketika bangun-bangun malah menolong seorang bocah kecil yang menangis tidak terkendali. Lebih aneh lagi, bocah itu memiliki telinga seperti binatang. Bahkan memiliki ekor yang bisa bergerak ke sana ke mari. Dunia macam apa ini? Batinnya menggerutu. Tapi jika dipikirkan, mungkin semua itu hanya sikap spontan darinya karena baru saja terbangun. Mungkin juga, ini baru mungkin, sebenarnya dia tidak sejahat yang ia percaya. Kadang dengan sangat percaya diri, ia bahkan melabeli dirinya sebagai orang cukup … cukup pengertian. Kalau tidak salah, aku disegel sebelum rumah kami dibom. Kiyo pun menggaruk belakang kepalanya pelan, mencoba berpikir dan mengingat-ingat lebih dalam. “Ki-Kiyo ….” “Hm?” Kiyo melirik Lenard, bocah kecil bertelinga singa yang sejak tadi digendongnya dengan satu tangan. Ia pun ingat bahwa sekarang bukan masa yang tepat untuk melamun seperti orang bodoh. Ia sedang dikepung orang-orang bertelinga dan berekor binatang, semuanya sedang waspada karena ulahnya yang baru saja memotong dua kepala. “Oh. Apa kita harus kabur dari sini?” tanyanya kemudian. Lenard mengangguk dengan cepat. “Hah, tapi aku harus berpakaian dulu.” Tanpa peduli sekitar, ia berjalan ke arah seseorang yang dianggapnya memiliki postur tubuh hampir sama. Di depan orang bertelinga serigala, ia dengan acuh tak acuh berkata, “Berikan pakaianmu.” Pria serigala pun secara reflek mundur selangkah. Entah ke mana keberaiannya yang biasa ia perlihatkan di depan lawan, yang jelas saat ini ia merasa terancam. “Jangan main-main denganku atau aku akan ….” Bruk! Pria bertelinga serigala itu pun ambruk seketika. Napasnya masih ada, tapi kesadarannya sudah mengawang ke angkasa. “Banyak omong sekali.” Kiyo menurunkan Lenard, sementara ia lekas menelanjangi pria serigala yang terkapar tak berdaya. Saat proses itu terjadi, beberapa orang mencoba untuk menyerang diam-diam. Ada yang menembakkan peluru sihir, melempar cambuk, menerjang dengan kecepatan penuh, hingga diam-diam ingin memukul dari belakang. Sayang sekali, semua usaha tersebut langsung kandas dalam beberapa detik saja. Kiyo dengan terlalu tenang, dan bahkan sambil berpakaian, berhasil menghindari semua ancaman. Ia melakukan semua itu juga dengan melindungi Lenard yang melongo seperti seekor keledai. Ketika Kiyo sudah berpakaian lengkap, ia menggendong Lenard kembali. “Aku sudah selesai, ayo pergi.” Lenard mengangguk dengan mata yang masih menatap Kiyo intens, tidak bisa berkedip. Sedangkan orang-orang yang sedari tadi sudah berusaha keras membabat Kiyo, kini mulai meradang. Apalagi Bubal, yang sejak awal sudah marah-marah karena Lenard, kepalanya pun makin berasap. Hingga akhirnya, semua orang di sana mengeroyok Kiyo yang tampak memasang wajah paling menjengkelkan. Manusia fakir itu sedang memasang cengiran, sama sekali tidak takut meskipun sendirian. Pada malam yang begitu terang, dengan seorang anak kecil di gendongan, tangan Kiyo dipenuhi darah manusia separuh binatang. Padahal, ia baru saja terbangun dari tidur panjang, tapi hakikatnya sebagai seorang pembunuh seolah memang sudah digariskan. Saat semua kepala di sana menggelinding satu demi satu, Kiyo pun pergi dengan langkah ringan. Orang-orang di dalam markas masih asik meminum bir dan bersenang-senang. Meskipun bau darah rekan-rekan mereka menguar, tapi siapa yang menyangka jika p*********n besar-besar telah terjadi di belakang markas nan agung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD