Chapter 1 : ANCIENT NEWBORN
Seorang Fakir dan Anak Bangsawan
Markas Behemoth terletak di atas gunung, dikelilingi pepohonan raksasa dengan sulur merambat ke sana ke mari. Untuk bisa sampai markas, seseorang harus melewati jembatan gantung yang dijaga ketat oleh serombongan pria kekar bercula badak.
Ada tiga jembatan yang sebenarnya terhubung ke markas Behemoth, dibangun di sisi barat, timur dan selatan. Sisi utara tidak mungkin bisa dibangun jembatan karena merupakan wilayah bebatuan lancip yang langsung terhubung ke gurun pasir. Bahkan anggota Behemoth tidak akan mau pergi ke sisi utara gunung, karena monster di sana terkenal sangat haus darah dan tidak mudah dibunuh. Ada yang bilang, seekor naga tengah tidur di dalamnya, dan akan mengamuk jika ada yang berusaha mengganggu wilayahnya.
Sementara itu, di bawah tiga jembatan yang terpasang mengelilingi wilayah Behemoth, adalah jurang dengan tumbuhan pemakan daging yang selalu menganga kelaparan. Seseorang yang sudah jatuh, mustahil untuk diselamatkan. Bahkan dengan kemampuan sihir yang hebat, akan cukup berisiko menghadapi tumbuhan karnivora di sana.
Bahkan ketua Behemoth pun, orang yang menanam tumbuhan tersebut secara sengaja, akan berpikir ribuan kali untuk menjatuhkan dirinya ke dalam jurang.
Oleh sebab itu, dibandingkan melompat atau menuruni jurang, lewat jembatan adalah jalan terbaik. Hanya saja, selain anggota Behemoth, orang lain mustahil dibiarkan lewat begitu saja.
Ketika Kiyo berada di sana, bahkan sebelum ia mengeluarkan sepatah kata, ia sudah dihadang oleh orang-orang dengan badan raksasa. Mereka ada lima, setinggi dua setengah meter, di atas hidung ada tanduk mencuat seperti badak, dan ekor mereka yang kecil tampak melecut memberi peringatan.
“Kau memakai pakaian Behemoth, tapi mengapa kau membawa sandera di gendonganmu?” Salah seorang dari mereka bertanya curiga, matanya yang kecil bulat memincing sarat prasangka.
“Jangan salah paham … jangan salah paham … Pimpinan menyuruhku membawa anak ini. Dia akan ditukar dengan sesuatu yang besar seperti biasa. Apa kau tidak diberi tahu?” Kiyo mengeluarkan senyum cerah, sorot matanya yang penuh tipu daya sedikit tertutup tudung kepala yang menyamarkan telinganya.
Pria badak itu tampak ragu, telinganya yang kecil nan runcing berjengit-jengit. “Benarkah begitu?” Ia terus memincing, tapi kemudian ia melirik rekannya, seolah memberi isyarat yang hanya bisa diketahui mereka.
Tanpa diduga, setelah isyarat itu diberikan, salah satu dari penjaga jembatan itu menyiapkan senapan yang tergantung di punggungnya. Ia dengan cepat mengokang senapan, dan menembak Kiyo dengan peluru sihir berwarna merah.
“Astaga, astaga. Apa-apaan ini?!” Kiyo yang pandai berpura-pura, memasang wajah seperti kucing tersiram air. Meskipun ia bisa menghindari tembakan tadi dengan mulus tanpa luka, tapi ekspresinya menggambarkan bahwa ia sedang kesulitan nan merana. Lenard di punggungnya, merapatkan pelukan, gemetar dan hampir menangis.
Namun, tidak ada yang mau mendengarkan keluh kesah Kiyo. Ia terus ditembaki, seolah para badak itu tengah asik bermain di game center untuk mendapatkan poin tertinggi. Ah, tiba-tiba Kiyo ingin pergi ke game center. Sebelum ia ditidurkan, ia mendengar bahwa sebuah perusahaan game akan mengeluarkan mesin baru di pusat perbelanjaan dekat penginapannya. Sayang sekali, ia harus pulang karena rumahnya menjadi target penghancuran oleh gabungan militer dunia.
Yah, tidak penting juga memikirkan game center yang sekarang sudah tinggal angan. Kiyo harus lebih konsentrasi dengan orang-orang raksasa di hadapannya.
Hingga lima menit pun berlalu, dan Kiyo masih juga menghindari setiap tembakan dengan ringan. Sampai pada di suatu waktu, angin besar tiba-tiba datang mengembus. Tudung di kepala Kiyo tersingkap, memperlihatkan sosok manusia tanpa berkah Raja Binatang*.
Tembakan beruntun pun dihentikan. Seorang pria paling besar dengan cula bengkok mengernyit heran. Ia mendecak dan berucap kasar, “Heh, seorang fakir!” Ia pun mengokang senapannya kembali, mengisi peluru yang habis dengan energi sihirnya. “Habisi saja manusia tidak berguna seperti itu,” perintahnya ringan.
Empat orang lainnya pun ikut melakukan hal yang sama. Energi sihir tercipta oleh mantra, diserap oleh batu sihir yang dipasang kuat pada gagang senapan. Semakin banyak sihir diberikan, semakin pekat warna batunya.
Kiyo tidak mengerti konsep sihir di dunia ini, sehingga ia tidak paham mengapa tiap batu di setiap senapan memiliki warna berbeda dan begitu pula daya serapnya. Ada yang cepat menjadi pekat, ada juga yang lebih lambat.
Melihat itu, Kiyo hanya menelengkan kepala, menganalisa sekaligus mencari cara untuk bisa kabur secepatnya.
“Hmm, garis leher mereka sepertinya cukup keras,” gumam Kiyo. Lenard di gendongannya tidak begitu paham, tapi ia mengangguk-angguk saja. “Lenard, apakah seseorang yang lahir dengan cula badak, juga memiliki tubuh yang keras seperti badak?” tanya Kiyo kemudian.
Namun, sebelum Lenard menjawab, dua orang sudah menembakkan peluru ke arahnya.
Seperti biasa, Kiyo menghindar dengan mudah dan terlalu santai, sampai rasanya sangat menyebalkan untuk dilihat. Seperti ketika ingin mengenai sasaran di papan dart, tapi papan yang disasar bergerak ke sana ke mari sesuka hati.
“Lenard, kenapa tidak menjawabku?” tanya Kiyo sekali lagi, meminta penjelasan.
Lenard yang sejak tadi kehilangan akal sehat, tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanyalah bocah penakut yang selama ini masih berlindung di bawah ketiak ayah dan ibunya, bagaimana bisa dia tahu mengenai hal-hal rumit seperti itu?
“A-aku tidak tahu. Tapi, berkah Raja Binatang* hanya memberikan ciri pada beberapa anggota tubuh. Seperti telinga, ekor, taring, dan cakar. U-untuk tubuh yang lain, ki-kita tetaplah manusia.” Meskipun agak tidak yakin dengan setiap kata yang dia ucapkan, tapi Lenard tetap menjawab pertanyaan Kiyo. Dalam hati, ia bahkan meminta maaf pada Kiyo jika ternyata informasi yang diungkapkannya ternyata keliru.
Sambal terus menghindari macam-macam peluru sihir, Kiyo mengangguk-angguk sok tahu. “Baiklah, kucoba saja sekali,” gumamnya.
Setelah itu, dalam sekian detik, seorang pria yang awalnya sehat-sehat saja sembari mengokang senjata, tiba-tiba saja terdiam mematung. Satu detik berikutnya, kepalanya terjatuh dengan mata melotot. Darah dari lehernya menyebur ke atas, menghujani tubuhnya sendiri beserta tanah di sekitar.
Empat orang yang tersisa menghentikan tembakan mereka, lalu dengan gerakan kaku melihat salah satu teman mereka yang sudah kehilangan nyawa.
Saat empat orang dengan cula badak itu melihat ke tempat Kiyo sebelumnya, yang mereka lihat hanyalah tempat kosong. Mereka pun berbalik, dan Kiyo sudah berada di atas jembatan dengan melambaikan tangannya yang berlumuran darah.
“Halo, tolong kubur teman kalian dengan baik, ya. Aku terburu-buru, jadi permisi.” Usai mengangguk sekali, dan nyengir bagai teman akrab yang izin pergi lebih dulu dari pertemuan, Kiyo pun berbalik badan, lalu dengan nyaman berjalan melewati jembatan gantung yang sebenarnya sangat kokoh.
Empat pria besar yang tadinya terbengong seperti boneka pajangan di toko pakaian, akhirnya secara reflek kembali menembakkan senapan ke arah Kiyo berjalan. Tembakan kian membabi buta, dan akhirnya tetap tidak ada satu pun yang bisa mengenai pria fakir berambut perak di sana.
Bahkan, hingga Kiyo hilang dari pandangan karena berlari ke hutan, peluru-peluru sihir itu hanya mengenai benda-benda sekitar. Jembatan menjadi berlubang-lubang, pohon di seberang ikut pula menjadi korban.
Sayang sekali, selain kepala teman mereka yang malang dan terkapar di tanah kering berumput, sihir mereka terasa sangat sia-sia.
.
.
.
Kiyo sangat percaya diri dengan kecepatannya bergerak. Kakek buyutnya bilang, meskipun generasi Hakai sebelumnya sudah sangat cepat dan pandai untuk bersembunyi dalam bayangan, tetapi Kiyo masihlah menjadi fenomena.
Padahal, Kiyo belum menjadi Hakai yang sempurna. Ia belum melakukan ritual sakral yang biasa dilakukan keluarganya untuk membangkitkan kekuatan sejati. Namun, meskipun darahnya belum terkontaminasi dengan hal-hal demikian, kemampuannya tidak bisa disepelekan.
Ia cepat, ia kuat, beri dia literan racun, akan ia teguk semuanya tanpa arti. Berenang di samudera, berjalan di gurun sahara, bahkan tersambar petir pun hanya rambutnya yang berguguran sia-sia. Apalagi, karena merupakan keturunan Hakai dengan rambut perak, maka ia dianugerahi kemampuan istimewa sejak lahir. Yakni mata kanannya yang seperti buta itu, berwarna abu-abu bahkan tanpa pupil hitam di tengahnya, merupakan mata khusus yang dapat melihat bermacam-macam hal.
Warna aura, bentuk emosi, energi, hingga makhluk halus yang tidak mampu ditangkap mata orang biasa.
Mungkin karena kemampuannya itu juga, saat ia berlari membawa Lenard pergi, ia sudah tahu harus melangkah ke mana.
Dan di sinilah ia berada kini, di bagian paling utara dari wilayah Behemoth. Yang tampak hanyalah bebatuan runcing yang mustahil dilewati manusia. Bahkan burung-burung pun enggan lewat di atas tempat ini, takut sayap mereka terobek oleh bebatuan tinggi yang tajam seperti pisau bedah.
“Kiyo … tempat ini mustahil untuk dilewati,” Lenard berujar gemetar. Tampak kembali putus asa setelah tadi sempat gembira karena dapat lolos dari para Behemoth.
Namun, Kiyo menjawab dengan enteng. “Selama bersamaku, bahkan jika harus terkatung-katung di lautan berbulan-bulan, kau akan tetap bisa hidup dan selamat.”