ANCIENT NEWBORN
.
A BABY ROYAL AND BEAUTIFUL FAKIR
.
Kerajaan Agung Gallia meliputi seluruh benua Gallisia, sudah seperti sebuah kekaisaran yang menguasai sebuah benua besar. Benua Gallisia juga hanya memiliki satu pulau besar dengan nama Meridien. Meskipun ada beberapa pulau lainnya, tetapi karena terlalu kecil untuk dimasukkan ke dalam peta, orang-orang pun tidak begitu ingat nama-namanya. Penduduk lokal akan menamainya sesuka hati, dan kadang satu orang dengan yang lain punya nama yang berbeda untuk sebuah pulau kecil.
Benua Gallisia menjadi pusat pemerintahan untuk Kerajaan Agung Gallia. Di sana, para pemimpin membagi wilayah kekuasaan masing-masing. Raja menguasai seluruhnya, para duke disebar ke empat penjuru mata angin. Mulai dari wilayah utara yang dipimpin para singa, selatan milik para gagak, timur dikuasai para serigala, dan barat yang memiliki dua pemimpin besar yakni duke penguasa beruang dan duke para ular.
Dari lima duke yang diberi otonomi untuk mengurus wilayah mereka, Aurum mendapat kepercayaan untuk memimpin wilayah dengan tanah yang subur dan iklim yang nyaman. Di sanalah Lenard seharusnya tinggal, menjadi pemimpin baru karena ayahnya telah meninggal.
Akan tetapi, untuk mencapai wilayah kekuasaan Aurum dari markas Behemoth, membutuhkan waktu yang tidak singkat, karena markas Behemoth ada di pulau Meridien, sedangkan kekuasaan Aurum ada di benua utama Gallisia. Setidaknya butuh tiga sampai empat hari jika menggunakan kereta api sihir paling cepat, itu pun baru sampai di dermaga.
Dari Gallisia, masih harus menaiki kapal untuk sampai ke Meridien, lalu menunggang kuda paling kuat untuk melewati daerah terjal menuju markas Behemoth.
“Cara tercepat adalah lewat tebing-tebing ini, lalu menyeberang gurun, dan melewati samudera untuk ke Gallisia. Jika kita menggunakan jalan biasa, kemungkinan kita akan cepat ditemukan. Juga terlalu memakan waktu karena harus memutar.”
Lenard yang kini sudah berdiri sendiri, hanya terbengong melihat peta yang Kiyo bentangkan di tanah. Ia tidak tahu bagaimana Kiyo mendapatkan peta itu, tapi ia sudah merasa kagum.
“Kau sangat hebat, Kiyo. Aku bahkan tidak begitu paham ketika membaca peta ini,” ucap Lenard tanpa ragu. Matanya yang besar, berbinar cemerlang.
“Sebenarnya, Lenard. Aku tidak tahu di mana rumahmu, aku hanya tahu jika kau punya keberuntungan besar di utara.” Setelah bicara seperti itu, Kiyo duduk sembarangan di tanah. Menyelonjorkan kaki seraya meregangkan tangannya. Saat ia melihat ke langit, bintang-bintang bertebaran serupa debu, pemandangan asing yang sebenarnya jarang ia nikmati. Tanpa ragu, ia pun menghirupi udara dengan hikmat, merasa bahwa terbangun di tempat seperti ini adalah sebuah mukjizat.
“Rumahku memang berada di utara, Kiyo. Papaku adalah penguasa utara di Kerajaan Agung Gallia,” jelas Lenard. Ia pun ikut menyelonjorkan kaki kecilnya yang imut, duduk bersebelahan dengan Kiyo yang bagai malaikat.
“Ooh, ayahmu seorang pemimpin? Apa gelarnya?”
Lenard mengangguk bersemangat. “Papaku adalah seorang duke dari utara. Aryeh an Aurum, kepala keluarga Aurum yang menguasai tanah utara, singa emas yang menawan dan sangat disukai Raja.”
Mendengar itu, Kiyo tertawa renyah. “Kau sangat pandai menceritakan asal usul keluargamu, Lenard. Apakah ayahmu yang mengajarimu begitu?”
Lenard mengangguk lagi. “Ya, kami para singa emas harus bangga dengan silsilah keluarga. Kami adalah manusia istimewa yang sangat penting untuk kerajaan. Oleh sebab itu, sebagai Aurum aku harus berani dan bermartabat.”
Bangga dengan silsilah keluarga, ya? Kenapa terdengar mirip dengan keluarganya? Sejak kecil, ia sudah diajari untuk bangga dengan nama Hakai di belakang namanya.
“Oh, harus berani dan bermartabat, ya? Lalu, siapa bocah dekil yang menangis di dalam sumur meminta tolong sampai membangunkanku?” ujung bibir Kiyo tertarik ke atas sangat tinggi, matanya menyipit dengan tatapan mengesalkan.
Namun, alih-alih menanggapi candaan Kiyo, Lenard kini menundukkan kepalanya. Kedua tangan mengepal erat di atas paha, menahan tangis sampai bahunya bergetar. “Aku masih kecil … seharusnya ada banyak pelajaran yang bisa Papa ajarkan di kemudian hari. Tapi Papa dan Mama … Papa dan Mama sudah tidak ada.” Air matanya pun menetes satu demi satu. “Padahal kupikir hari ini adalah hari yang menyenangkan. Kami akan pulang kembali ke Aurum setelah liburan. Di masa depan, aku tidak bisa lagi liburan dengan Papa dan Mama.”
Kiyo tidak tahu harus berbuat apa. Kematian adalah sesuatu yang familier di keluarganya. Bahkan meskipun ia diharuskan untuk saling menyayangi antar anggota keluarga, tetapi ia juga tidak diizinkan bersedih jika keluarganya tiada. Pengaturan perasaan yang aneh memang, tapi ia sudah terbiasa.
Mungkin karena itu, ketika Lenard menangis sesenggukan atas ketiadaan kedua orang tuanya, Kiyo tidak bisa benar-benar bersimpati. Ada perasaan kasihan dalam hatinya, tapi ia tidak begitu mengerti emosi Lenard yang sepertinya begitu menderita.
“Kematian adalah kemutlakan. Jangankan manusia, pohon besar yang sudah hidup ratusan tahun pun bisa mati. Meskipun tidak tahu kapan kematianmu atau orang terdekatmu tiba, tapi kau memang harus bersiap-siap untuk hal itu kapan pun, Lenard.”
Seraya menyeka air matanya, Lenard memandang Kiyo yang juga menatapnya. “Aku … tidak mengerti ucapanmu, Kiyo.”
“Haaah.” Kiyo membuang napas dengan cukup panjang. “Tidak masalah, aku hanya sedang menghiburmu,” ucapnya asal. “Daripada kau menangis begitu, bicara hal lain saja.”
Mengerti dengan ucapan Kiyo, Lenard menghapus sisa-sisa air mata di pipi dan sudut matanya. “Kiyo, dari mana kau mendapat peta itu?” tanyanya kemudian.
Dengan enteng, Kiyo menjawab. “Oh, aku mengambilnya dari saku badak-badak tadi. Aku hebat, ‘kan?”
Lenard mengangguk cepat. “Sangat hebat! Sangat hebat! Aku bahkan tidak tahu kapan kau mengambilnya.”
Kini Kiyo terkekeh. “Mengambil diam-diam adalah keahlianku.”
“Sangat keren! Padahal Papa bilang, semua fakir di bumi adalah orang-orang yang tidak diberkahi. Mereka manusia lemah yang mudah ditindas. Tapi Kiyo sangat hebat. Kiyo berbeda dari fakir yang pernah diceritakan Papa maupun Paman Francis.”
Sebenarnya, Kiyo pun masih menduga-duga, seperti apa manusia yang disebut sebagai fakir. Mengapa mereka tidak diberkahi Raja Binatang?
Seandainya Kiyo bertemu orang yang lebih dewasa, ia bisa bertanya lebih banyak lagi.
Namun, sebelum ia menyelidiki sejarah hingga peradaban di sini, Kiyo harus lebih dulu ke utara. Mata kanannya memperlihatkan masa depan yang bagus di utara, ada aura yang jernih berwarna keemasan, sangat cocok dengan warna aura milik Lenard.
Dari pengalamannya selama ini, ketika mata kanannya memberi petunjuk demikian, artinya ia harus ke tempat itu untuk mendapatkan keberuntungan.