Chapter 14

2251 Words

Saat pedal rem dipijak, mobil yang Prillia kendarai berhenti sempurna di pelantaran parkir. Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar mencoba mengatur nafasnya. Tangannya sedari tadi tak berhenti menghapus kasar air matanya yang selalu saja mengalir tanpa persetujuan darinya. Namun apa mau dikata, air matanya cukup paham untuk rasa yang sudah tak sanggup dibendung lagi. Kuat! Kata itu selalu Prillia sugestikan untuk membuat dirinya sekuat mungkin. Prillia memejamkan matanya sejenak berharap sesak di dadanya segera menguap. Namun sepertinya rasa itu masih betah menggerogoti perasaannya. Entah kenapa setelah kejadian tadi hanya tempat ini yang Prillia ingin tuju. Walaupun bagi hampir seluruh orang tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk menenangkan diri, namun bagi Prillia di sinilah tempa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD