Chapter 12

2050 Words
Pagi ini adalah pagi kedua Alfi menjemput Prillia untuk ke sekolah bersama. Sebenarnya Alfi juga tak tahu apa yang mendorong dirinya untuk melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya ini. Namun yang Alfi tahu harusnya ia melakukan ini sejak dulu, namun kembali lagi Alfi tak tahu apa alasannya. Alfi yang sedari tadi memainkan asal ponselnya langsung mengalihkan tatapannya saat mendengar suara langkah yang mendekatinya. Disimpannya kembali ponselnya ke dalam saku saat melihat Prillia berjalan ke arahnya. “Lama banget sih? Gue udah lumutan nih nungguinnya,” ucap Alfi saat Prillia sudah berada di hadapannya. “Lagian lo mau jemput gue gak bilang dulu, mana gue tau kalau lo udah nunggu.” “Ingat ya, mulai dari kemarin dan seterusnya lo bakal selalu gue tanggui disini. Jadi jangan lama-lama,” balas Alfi kemudian memakai helmnya. Prillia tersenyum kecil mendengar ucapan Alfi. Jadi Alfi akan selalu menjemputnya? Apakah ia tak salah dengar? Ini benar-benar suatu kemajuan. Namun sesaat senyum Prillia pudar saat mengingat sesuatu. “Lo nanti pulang sekolah bakal latihan band lagi?” Tanya Prillia. “Iya, soalnya kemarin diskusi sama Nada nya belum selesai. Gak lama kok, lo bisa ikut tunggu di ruang musik,” jawaban Alfi itu benar-benar memusnahkan pagi Prillia yang ia kira akan menjadi pagi yang sangat menyenangkan. “Gue pergi ke sekolah sendiri aja deh,” Prillia langsung berlalu dari Alfi menuju mobilnya. Alfi yang melihat Prillia pergi langsung bergegas turun dari motornya dan menyusul Prillia. Saat Prillia hendak membuka pintu mobilnya, dengan cepat Alfi menahan pergerakan gadis itu.  “Gue janji gak bakal izini satu orang pun menyakiti lo hari ini termasuk gue sendiri,” ucap Alfi yang membuat Prillia terpaku seketika. “Apa janji lo bisa berlaku setiap hari?” Kini giliran Alfi yang terpaku mendengar pertanyaan Prillia. Prillia menghela nafas sejenak melihat keterpakuan Alfi. Tak mungkin Alfi bisa melakukannya. Harusnya dengan mendengar Alfi mengucapkan itu saja ia sudah bersyukur, bukannya malah meminta lebih. “Akan gue coba,” balas Alfi akhirnya. “Lo tetap pergi bareng gue ya,” lanjut Alfi. Alfi menutup pintu mobil Prillia kemudian menggenggam salah satu tangan Prillia dan menariknya lembut menuju motornya *** Seperti yang telah Alfi katakan saat menjemput Prillia tadi pagi, setelah jam pulang sekolah Alfi dan personil starlight lainnya langsung berkumpul di ruang musik termasuk Nada. Sebenarnya Prillia sangat tidak ingin ikut, rasanya hatinya masih terasa begitu sakit mengingat penghinaan Rian padanya kemarin. Kalau bukan karena Alfi, ia pasti sudah mengeluarkan lelaki menyebalkan itu sedari dulu dari sekolah ini. Kini pandangan Prillia terfokus melihat para personil starlight dan Nada yang tampak berlatih. Namun pandangannya lebih terfokus pada gadis yang duduk di samping Kikan. Gadis itu memberi arahan seolah pelatih profesional. Entah kenapa ia tak suka tatapan gadis yang ia ketahui bernama Nada itu setiap menatap Alfi. Tak jarang Prillia menangkap basah gadis itu memandang Alfi dengan tatapan memuja. Sebenarnya Prillia tahu hampir seluruh siswi sekolah ini selalu menatap Alfi dengan tatapan memuja, karena memang wajah Alfi yang sangat tampan dan pantas untuk dikagumi. Namun sejak semua siswi itu tahu bahwa lelaki yang mereka puja sudah menjadi hak paten milik Prillia, tak ada yang berani menatapnya seperti itu karna Prillia pasti akan lebih dulu menghardik mereka. Namun sikap Nada yang terang-terangan menatap Alfi di depannya seperti itu benar-benar membuat Prillia merasa jengah. “Alfi, mau pulang,” ucap Prillia yang sudah benar-benar merasa bosan dengan situasi seperti ini karna sedari tadi ia hanya duduk dan diam. Alfi yang mendengar ucapan Prillia langsung menoleh kepada gadis itu diikuti dengan yang lainnya. “Latihannya udah kelar kan? Gue pulang duluan deh ya, lagian semua yang disarani Nada juga udah kita dengar dan kita aplikasikan. Oh iya, thanks ya Nad buat kerja samanya,” ucap Alfi sembari meletakkan gitarnya. “Iya Al, sama-sama. Semoga sekolah kalian menang ya,” Alfi mengangguk kecil sembari tersenyum. Melihat senyum Alfi, dengan cepat Prillia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. “Jangan lupa dilatih terus di rumah, gue suka sama vokal suara lo,” ucap Nada memuji. “Lo gak perlu ingati dia. Tanpa lo ingati, Alfi juga pasti bakal latihan kok. Lagi pula ada gue yang bisa ingati dia,” Prillia tiba-tiba menyahut ucapan Nada. “Yang Alfi perluin itu alarm, bukan bom,” Prillia menoleh cepat ke arah gadis itu saat mendengar balasannya. Apa maksudnya? Prillia memicingkan matanya tajam, ada yang tak beres dengan gadis ini dan senyum polos yang menurut Prillia di buat-buat. Alfi yang mendengar ucapan Nada juga tak mengerti dengan ucapan gadis itu. Namun baginya itu tak terlalu Penting, yang terpenting ia harus membawa Prillia segera pergi dari sini. “Buruan deh Al lo bawa dia keluar, enek gue lama-lama liat dia di sini. Lain kali jangan bawa bodyguard kalau latihan.” Walaupun tak meliriknya, Prillia yakin sindiran yang diberikan Rian itu tertuju padanya. Kenapa lelaki itu sangat suka mencari masalah dengannya? “Jaga bicara lo Ian. Mungkin ucapan lo berniat buat menyakiti satu hati, tapi tanpa lo sadar ada hati lain yang ikut merasakan sakit, dan hati itu adalah milik gue,” balas Alfi tajam dan segera menarik tangan Prillia keluar dari ruangan itu membuat Rian maupun yang lainnya terpaku. “Si Alfi kenapa sih? Akhir-akhir ini aneh banget,” Flora menatap heran kepergian Alfi dan Prillia yang makin jauh. “Tauk tuh anak aneh banget. Gitu tu kalau kelamaan bergaul sama orang gak waras, gue jadi makin kepingin banget jauhi mereka,” balas Rian geram. “Jangan suka menyimpulkan sesuatu, belum tentu kesimpulan kalian benar,” Bimo mencoba menasihati yang malah mendapat cibiran dari Flora dan Rian. “Kalian ini dikasih tau malah gitu,” Kikan juga ikut menasihati yang lagi-lagi hanya mendapat cibiran dari Flora dan Rian. Nada hanya diam memperhatikan mereka. Namun di dalam keterdiamannya ia memikirkan tentang Alfi dan Prillia. Ada yang aneh dengan mereka, sebenarnya apa yang membut Alfi bisa begitu bertahan dengan sikap gadis yang bisa Nada simpulkan sangat menyebalkan itu. *** “Kayaknya mau hujan. Kalau kita paksain buat ke rumah lo pasti kita kena hujan di tengah jalan,” Alfi mengarahkan wajahnya menatap langit yang sudah sangat mendung sembari menyandarkan tubuhnya di samping motornya. “Kalau gitu kita agak pinggiran, jangan di tengah jalan biar gak kena hujan,” Alfi menatap malas ke arah Prillia yang kini sedang memamerkan senyum candaannya. Disaat Alfi sedang berpikir bagaimana cara agar mereka bisa sampai ke rumah Prillia yang cukup jauh tanpa terkena hujan, namun gadis itu malah melemparkan candaan kacangannya. “Gimana kalau kita ke apartemen lo aja dulu, kan gak terlalu jauh dari sini. Entar gue minta sopir gue jemput ke apartemen lo,” usul Prillia. Alfi tampak berpikir sejenak. ia belum pernah mengajak siapa pun ke apartemennya termasuk teman-teman starlight-Nya. Bagi Alfi apartemen adalah privasinya, namun usul Prillia ada benarnya juga. Akhirnya Alfi mengangguk setuju dan langsung menaiki motornya. Saat Prillia hendak ikut menaiki motor Alfi, tiba-tiba ia teringat sesuatu yang mengurungkan niatnya. Ada hal yang hampir ia lupakan. “Gue mau telefon papi bentar ya,” ucap Prillia pada Alfi. Setelah mendapat anggukan, Prillia langsung menjauh dari Alfi. Sebenarnya bukan Daniel yang ingin ia hubungi melainkan mbok Iyem. Prillia meminta mbok Iyem untuk mengantarkan makan siang mommynya. Prillia tentu saja tak mungkin melupakan salah satu hal penting dalam hidupnya itu. Dari kejauhan Alfi tampak memperhatikan Prillia yang sedang menelefon seseorang. Tumben sekali Prillia ingin ikut dengannya siang-siang begini. Biasanya siang adalah waktu yang tak pernah Prillia pakai untuk mengganggu Alfi. Sebenarnya Alfi merasa ada yang aneh dengan siang Prillia, apa yang selalu dilakukan gadis itu setiap siang? Tak jarang Alfi melihatnya pulang terburu-buru jika ada hal yang membuat jam pulang sekolah ia lebih lama. Setelah beberapa saat Prillia kembali menghampiri Alfi dan langsung menaiki motornya. Tanpa berucap apa pun Alfi langsung melajukan motornya keluar dari halaman sekolah. *** Prillia memandang hujan yang mulai turun cukup deras dari balkon kamar apartemen Alfi. Bersyukur hujan itu cukup mengerti untuk turun disaat Alfi dan Prillia sudah benar-benar berada di apartemen Alfi. Ini adalah kali pertama Prillia menginjakkan kakinya di apartemen Alfi. Suasana tenang adalah kesan pertama yang Prillia dapat. Apartemen Alfi juga tampak tertata rapi, sepertinya Alfi adalah tipe lelaki yang suka kebersihan. “Ngapain sih malah berdiri di sini?” tanya Alfi yang tiba-tiba berdiri di samping Prillia. Prillia melirik Alfi yang sudah tak mengenakan seragam sekolahnya. “Lo suka hujan gak?” Tanya Prillia kembali menatap hujan yang turun tak menghiraukan pertanyaan Alfi. “Biasa aja, emang lo suka hujan?” Tanya Alfi. “Enggak juga. Cuma bagi gue hujan itu adalah tempat paling tepat buat menyamarkan kesedihan. Cuma di bawah hujan orang lain gak akan tau kalau kita lagi nangis,” jelas Prillia. “Lo salah kalau mendefinisikan kegunaan hujan kayak gitu. Orang yang berpikir kayak gitu adalah orang-orang yang mau berlarut-larut dalam kesedihannya dan menjadikan hujan sebagai tempat penyamaran sementara,” Alfi memberi sedikit jeda dalam ucapannya. Pandangannya kini ikut menatap hujan yang turun. “Seharusnya hujan itu adalah tempat buat kita belajar bahwa gak ada yang benar-benar ditakdirkan sendiri di dunia ini termasuk hujan,” lanjutnya. Prillia diam-diam mencerna ucapan Alfi. Apakah ia juga harus belajar dari hujan? Bagaimana dengan dirinya yang selalu merasa sendiri? “Hmmm, dingin ya,” Prillia mengalihkan pembicaraannya sembari mengelus kedua lengannya dengan tangannya sendiri. Alfi melirik gadis itu memperhatikan gerak-geriknya. “Biasanya kalau di film-film disaat kayak gini bakal ada adegan hug from behind gitu. Iya gak sih?” Prillia berucap sembari menggigit bibir bawahnya dan melirik Alfi dari ekor matanya menunggu balasan Alfi dari ucapannya. “Iya sih, cuma sayangnya kita lagi gak main film,” balas Alfi santai kemudian berlalu masuk ke dalam meninggalkan Prillia. Prillia merungut kesal sembari mengentak-entakkan kakinya mendengar respons Alfi yang tak sesuai harapan. Sepertinya kodenya tak sampai secara sempurna pada Alfi. Dengan kesal Prillia mengikuti Alfi masuk, sementara itu diam-diam Alfi tersenyum melihat tingkah gadis itu. Sembari menunggu hujan reda dan menunggu jemputannya, Prillia menyesap teh hangat yang Alfi buatkan. Sementara itu Alfi tampak sibuk memetik gitarnya, sepertinya hal inilah yang biasa Alfi lakukan untuk menghabiskan waktunya. Bagi Prillia hal itu benar-benar membosankan, apalagi Prillia tak begitu suka musik. “Al, dingin,” ucap Prillia mencoba mencari perhatian Alfi yang sedari tadi hanya sibuk dengan gitar dan buku catatannya yang Prillia tak tahu itu buku apa. Sebenarnya Prillia bukan hanya mencari perhatian Alfi, namun memang rasa dingin mulai menusuk tulangnya. Belum lagi Alfi sama sekali tak mematikan AC-nya. Alfi berhenti sejenak memetik gitarnya kemudian mengerutkan dahinya menatap Prillia yang sedang memasang wajah memelasnya. Gadis ini kadang bisa menjadi gadis paling keras kepala di hadapan Alfi, bisa juga menjadi gadis paling penurut, dan kadang juga bisa menjadi gadis paling menggemaskan. Lihatlah wajah memelasnya yang tampak begitu menggemaskan saat ini. “Ya udah sini.” Alfi menyingkirkan sejenak gitar yang sedari tadi ia mainkan. Prillia menatap Alfi tak mengerti namun tetap menghampiri Alfi dan duduk di sampingnya. Tanpa Prillia duga Alfi menarik Prillia lembut ke dalam pelukannya dan kembali memainkan gitarnya dengan posisi Prillia berada di dekapannya. Cukup sulit bermain gitar dengan posisi seperti ini, namun tangan Alfi tampak tetap lihai mengetik setiap senarnya. Perlahan Prillia membenarkan posisinya menjadi lebih nyaman dengan bersandar di d**a Alfi. Untuk pertama kalinya dalam hidup Prillia, Prillia merasakan menikmati alunan nada yang tercipta dari setiap petikan senar yang Alfi buat.  “Al,” panggil Prillia pelan. “Hmmm..” “Jangan pernah pergi dari gue kecuali gue yang minta ya.” “Kalau lo minta gue pergi tapi gue gak mau pergi gimana?” Tanya Alfl. Prillia mendongakkan wajahnya menatap Alfi yang ternyata juga tengah menatapnya. “Itu tandanya lo udah cinta sama gue,” balas Prillia dengan senyum percaya dirinya. “itu mah maunya elo,” Alfi mencibir kemudian kembali memainkan gitarnya tanpa berniat untuk bernyanyi. Prillia makin menenggelamkan kepalanya pada d**a Alfi saat merasakan dagu Alfi bersandar di pucuk kepalanya. Posisi ini benar-benar nyaman, sangat amat nyaman. Prillia tersenyum kecil merasakan sikap Alfi yang makin hari kian berubah. Dan ia berharap Alfi akan selalu seperti ini. Sepertinya hari ini Alfi benar-benar menepati ucapannya untuk tak menyakiti hati Prillia.  Tiba-tiba terlintas di benak Prillia tentang hari esok. Prillia tersenyum dalam pelukan Alfi saat mengingat besok adalah hari apa. Ia mulai memutar otak memikirkan apa yang harus ia lakukan esok. Sepaling tidak ia harus membalas kebahagiaan yang pernah Alfi berikan di peringatan hari yang sama dengan dirinya. Ya, harus.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD