“Maaf ya sus, saya datangnya udah sore gini. Mommy udah makan?”
“Iya gak papa kok Prill, cuma heran aja tadi udah siang tapi kamu belum datang. Untung tadi ibu Sonya mau makan walaupun sedikit.” Prillia tersenyum kecil mendengar penuturan suster itu.
“Ya udah kalau gitu saya permisi dulu ya.”
“Iya sus, terima kasih.” Prillia menatap kepergian suster itu sejenak kemudian mengalihkan pandangannya pada wanita yang sangat ia cintai. Wanita itu seperti biasa tampak hanya diam dengan pandangan kosong. Prillia bahkan tak bisa menebak ke mana arah pikirannya menerawang saat ini.
“Mommy, kemarin Prillia ulang tahun. Tapi Mommy belum ngucapin,” ucap Prillia kemudian mengambil posisi duduk di samping Sonya. Sonya melirik Prillia sejenak kemudian mengubah posisi duduknya menjadi membelakangi Prillia. Setelah itu ia malah terdengar bersenandung.
“Ucapi dong Mom, Prillia penasaran deh gimana rasanya diucapi selamat ulang tahun dari seorang ibu. Prillia juga butuh doa dari Mommy,” ucap Prillia bersandar pada punggung Sonya.
Sonya tampak mengabaikan dan makin gencar bersenandung. Entah apa yang sedang ia dendangkan, Prillia pun tak tahu.
“Kira-kira diulang tahun Prillia yang ke berapa ya Mom Prillia bisa dapati itu?” Tanya Prillia. Lebih tepatnya ia bertanya pada dirinya sendiri karna ia pasti tak akan mendapatkan jawaban.
“Oh iya Mom, papi Daniel itu baik banget. Dia memperlakukan aku kayak Princess,” Prillia menjeda sedikit ceritanya sambil membayangkan sosok Daniel.
“Walaupun papi Daniel bukan papi kandung aku, tapi papi selalu jadiin aku hidupnya. Prillia bahagia banget bisa dirawat sama papi, tapi Prillia lebih bahagia lagi kalau mommy bisa gabung sama kami. Prillia mau Mommy cepat sembuh,” suara gadis itu kini terdengar bergetar.
Ia memejamkan matanya berusaha menenangkan dirinya sendiri, karena ia sadar tak akan ada yang bisa menenangkannya di sini. Namun tiba-tiba Prillia merasa sesuatu yang lembab mengenai dahinya. Dengan cepat Prillia membuka matanya, ia tertegun melihat sosok di hadapannya.
“Jangan nangis Princess,” suara penuh kasih sayang itu membuat Prillia makin tak sanggup membendung air matanya. Dengan cepat Prillia memeluk tubuh kokoh di hadapannya. Tubuh yang selama ini akan menjadi tubuh pertama yang menghalau segala macam bahaya untuknya.
“yang sabar yaa sayang, papi janji Mommy kamu akan secepatnya sembuh. Tahun depan kamu akan mendengar ucapan dan doa dari seorang ibu buat kamu,” Prillia makin mengeratkan pelukannya mendengar ucapan Daniel. Ia pun berharap begitu.
Sonya yang mungkin merasa terusik dengan kedatangan satu orang lagi yang tidak ia kenal membuat ia membalikkan badannya kembali menatap Prillia dan Daniel yang sedang berpelukan.
“Sana... sana dong, gak tau orang lagi nyanyi juga. Sana....” Sonya memandang Prillia dan Daniel tak suka.
“Gimana kalau kita nyanyi bareng-bareng kak?” Tawar Daniel. Sonya tampak menautkan dahinya. Namun sesaat kemudian tanpa menjawab ia kembali bersenandung membuat Prillia dan Daniel tersenyum.
“Mommy kamu paham sayang apa yang kita bicarakan, biarkan waktu menjalankan tugasnya buat bikin mommy kamu sadar kalau dia punya kita,” ucap Daniel lembut mengelus pucuk kepala Prillia. Prillia mengangguk sembari ikut tersenyum.
“I love you Pi,” ucap Prillia tulus.
“I love you more Princess,” Daniel mencium pucuk kepala Prillia berkali-kali.
“Papi kok ada disini?”
“Papi biasanya memang sore kesini kalau lagi gak ada meeting. Kamu nih yang tumben kesini sore-sore, bukannya biasanya siang?”
“Iya Pi, tapi tadi aku telat,” Daniel menangguk paham.
“Kak nyanyi selamat ulang tahun yuk,” ajak Daniel pada Sonya. Sonya mengangguk antusias kemudian mulai menyanyi.
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, yeayyyy,” Sonya menepuk-nepuk tangannya yang diikuti pula oleh Prillia dan Daniel.
Mungkin kebahagiaan ini sederhana, dan mungkin tak ada orang yang ingin kebahagiaan dan situasi seperti ini. Namun bagi Prillia, inilah kebahagiaan paling puncak yang ia dapati.