Chapter 10

3528 Words
“Come on Princess, papi minta maaf.” “Papi tahu papi salah, pokoknya kamu boleh minta apa aja dari papi asal kamu mau ngomong lagi sama papi.” “Papi udah usahain buat pulang, tapi kolega bisnis papi yang dari Jepang mau rapat diadakan malam itu juga. So, please forgive me.” Bak berbicara dengan benda mati, Daniel sama sekali tak menerima balasan atas setiap kalimat yang ia lontarkan. Hanya terdengar suara derap kaki yang makin lama makin dipercepat menuruni setiap anak tangga dan ekspresi wajah ditekuk yang semakin membuat ia yakin bahwa seseorang di depannya kini benar-benar sedang murka. Tamatlah riwayatmu Daniel! Daniel merutuki dirinya sendiri. “Princess please,” Daniel menahan pergelangan tangan mungil itu membuatnya mau tak mau menghentikan langkah. Tak ada yang berubah dari ekspresi wajahnya, yang berubah hanya langkah kakinya yang kini sudah terhenti. Daniel memasang wajah memelas namun tampan miliknya berharap gadis mungil kesayangannya ini akan luluh. Namun sepertinya akan sia-sia, bagaimana bisa ia luluh jika mata hazel indah miliknya saja tak berniat sama sekali menatap Daniel. Ia hanya memalingkan wajahnya malas tak menganggap keberadaan Daniel, ia benar-benar sedang marah. “Audi keluaran terbaru?” “10 Tas branded?” "Satu lemari sepatu dengan brand kesukaan kamu?” “Oh atau liburan ke Paris? you will get it if you want baby.” Daniel memberikan beberapa penawaran, mungkin saja ada yang membuat gadis kesayangannya ini tertarik. “I just want to spend my birthday with you. But you forgot it,” akhirnya gadis itu berbicara, namun bukan ucapan itu yang ingin Daniel inginkan. Daniel menggeleng pelan melihat gadis kesayangannya kini menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Stupid Daniel! Persetan dengan kolega bisnis itu. Harusnya tadi malam ia pulang lebih awal, ia tak akan miskin hanya karna tak menjalin kerja sama dengan pengusaha terkaya di Jepang itu. “Maafin papi sayang, maaf,” ucap Daniel lirih menggenggam kedua tangan gadis mungil kesayangannya, Prillia. “Prillia cuma mau ngelewatin ulang tahun sama Papi, Prillia gak butuh uang Papi,” nada suara Prillia terdengar bergetar membuat Daniel makin mengeratkan genggaman tangannya. “Papi tahu gak, bahkan jari di satu tangan Prillia aja sudah berlebih untuk menghitung seberapa banyak yang peduli sama Prillia.” Cukup! Banyak yang peduli dengan Prillia, banyak! Daniel yakin sangat banyak dan harus banyak. Bahkan ia akan beli orang-orang agar peduli pada gadis mungilnya. Dengan satu tarikan lembut Daniel sudah berhasil membawa Prillia ke dalam pelukannya. “Kamu jangan ngomong gitu sayang, papi tau papi salah, maaf ya,” Daniel mencium pucuk kepala Prillia berkali-kali. “Papi kerja kayak gini karena papi mau kamu gak kekurangan apa pun. Semuanya buat kamu, papi di kantor pagi ketemu pagi, papi pergi dari satu negara ke negara lain dalam waktu yang singkat semuanya buat kamu, gak ada yang lain,” bisik Daniel. Prillia memejamkan matanya mendengar ucapan tulus dari Daniel. Pria tampan yang sedang memeluknya ini adalah pekerja keras. Tidak seharusnya Prillia menuntut lebih mengingat apa yang sudah Daniel berikan selama ini, bahkan Daniel melakukan apa pun untuknya walaupun sebenarnya Prillia bukan sepenuhnya bukanlah tanggung jawabnya. Perlahan tangan Prillia membalas pelukan Daniel bahkan membalas lebih erat. Hal itu membuat Daniel merasa sedikit lega. “Maafin Prillia ya Pi, gak seharusnya Prillia ngomong gitu sama Papi,” ucap Prillia pelan. “Enggak sayang, kamu pantas nuntut apa aja dari papi termasuk waktu papi,” balas Daniel membuat perlahan senyum Prillia mulai mengembang. Ya, Daniel pasti akan memberikan apa pun untuknya. “Makasih ya Pi udah jadi papi terhebat Prillia selama ini. Prillia sayang banget sama Papi.” “Papi juga sayang kamu Princess,” balas Daniel kemudian untuk ke sekian kalinya mengecup pucuk kepala Prillia. Daniel melepaskan pelukannya, tangan kokohnya ia gunakan untuk menyeka sisa air mata di pipi gadis mungilnya. “Jadi kamu mau kado ulang tahun apa?” “Hmmm,” Prillia mengetuk-ngetukkan jari di dagunya seolah-olah sedang berpikir. Kayaknya kalau minta papi nikahi tante Fara secepatnya oke juga,” Prillia tersenyum jail saat melihat ekspresi lucu Daniel mendengar permintaannya. “Oh Princess, are you kidding me?” “Aku serius Papi, Papi tu yang gak pernah serius.” “Sayang, papi masih terlalu muda untuk terikat dalam komitmen yang terlalu jauh kayak gitu. Papi masih mau bersenang-senang, akan banyak wanita di luar sana yang kecewa kalau papi menikah,” Prillia mencibir mendengar penuturan Daniel, sangat percaya diri. “Ya.. ya.. ya.. terserah Papi, aku mau berangkat sekolah.” “Nah itu lebih bagus Princess dari pada kamu godain papi terus, nanti kamu telat.” “Emangnya kenapa kalau aku telat? Gak ada yang berani menghukum juga ya. Aku bakal minta papi buat tutup sekolah itu kalau aku sampai dihukum cuma gara-gara telat,” ucap Prillia santai kemudian mencium pipi Daniel singkat dan segera melangkah menjauhi Daniel menuju pintu utama. “Yes Princess, kamu tinggal telefon papi kalau kamu dihukum, kita akan langsung tutup sekolah itu,” balas Daniel yang hanya dibalas Prillia dengan acungan jempolnya. Prillia keluar dari rumahnya, seperti biasa ia akan sekolah dengan mengendarai mobil sendiri. Sudah sering kali Daniel menawarkan pada Prillia untuk menyewa seorang sopir namun sudah sering pula Prillia menolak dengan tegas. Sebenarnya Prillia ingin Alfi lah yang selalu menjemputnya, namun sepertinya itu tak akan terjadi karena letak rumahnya dan apartemen milik Alfi cukup jauh. Walaupun Prillia memiliki sifat pemaksa, namun untuk hal ini ia sama sekali tak ingin memaksakannya pada Alfi. “Kalau anak yang punya sekolah mah bebas ya mau pergi ke sekolah jam berapa aja,” suara itu membuat Prillia yang hendak memasuki mobilnya menghentikan aksinya. Suara itu? Oh my god! Prillia langsung menoleh ke asal suara yang membuat matanya langsung membulat sempurna. Di sana, di halaman rumahnya, Alfi Arkayuda sedang duduk di atas motor kesayangan miliknya sembari menatap Prillia datar. Alfi? Benarkah Alfi ada di rumahnya? Wow, sangat langka. “Alfi..” “Naik,” Prillia menautkan alisnya mendengar ucapan singkat Alfi. Naik? Naik apa? “Gue udah bela-belain datang ke rumah lo pagi-pagi dan nungguin lo keluar rumah buat berangkat bareng, balasan lo cuma ekspresi bodoh lo?” Alfi berdecak kesal kemudian memakai helmnya. Prillia mengerjapkan matanya berkali-kali, Alfi mendatangi rumahnya pagi-pagi? Untuk mengajaknya pergi bersama? Oh my god! Bisakah Prillia mendengarkannya sekali lagi? Bukan, maksudnya mendengarkan ajakan itu sekali lagi namun dengan ajakan yang lebih manis mungkin? “Prillia! Mau berangkat bareng gak?” Alfi tampaknya mulai kesal saat melihat gadis itu hanya terdiam. Tersadar dari lamunannya Prillia langsung mengangguk cepat berkali-kali dan langsung berlari menghampiri Alfi. Dalam hati Alfi mati-matian menahan tawanya, ekspresi Prillia benar-benar lucu saat ini. Prillia langsung menaiki motor Alfi, tanpa diperintah Prillia langsung memeluk pinggang Alfi erat dan menumpukan dagunya di pundak Alfi. Sesaat Alfi terpaku mendapat perlakuan seperti itu, namun sesaat kemudian ia segera menyalakan motornya dan bergegas pergi. *** “Tadi pagi ada pemandangan yang sedikit asing,” Alfi yang sedang menggerak-gerakkan jempolnya menyentuh layar pipih yang ada di genggamannya melirik Bimo dengan dahi berkerut pertanda tak paham. “Pemandangan apa?” Tanya Alfi. “Pemandangan Alfi Arkayuda berangkat bareng sama si cewek pemaksa tapi mampu memegang remote control kehidupan Alfi,” Bimo kini berucap dengan nada yang sedikit menggoda dan senyum simpul yang malah membuat Alfi memutar bola matanya malas. Alfi kini tahu ke mana arah pembicaraan sahabatnya itu. Pasti yang ia maksud adalah Prillia. “Ya hitung-hitung buat permintaan maaf gue karna telat datang tadi malam.” “Permintaan maaf? Atau kesadaran karena mulai peduli?” Bimo berucap santai namun mampu membuat otak Alfi bekerja cukup keras mencernanya. “Lo sama Prillia itu kayak stick drum sama drum. salah satunya menyakiti tapi harus selalu sama-sama,” Alfi menautkan alisnya menatap Bimo. “Lo kalau ngomong suka pakai pengibaratan, udah kayak Prillia aja,” Alfi terkekeh kecil menanggapi Bimo. “Bahkan disaat kayak gini lo ke ingat dia, Alfi... Alfi...” Bimo menggeleng kecil sembari berganti terkekeh. “Udah ah, lagian lo kenapa sih? Kayaknya diantara anak-anak starlight, cuma lo yang gak benci sama Prillia.” “Prillia gak pernah cari masalah sama gue, kenapa gue harus benci? Memangnya menurut lo kalau ada orang yang menanam kebencian sama orang lain, akarnya juga bakal sampai ke kita sampai kebencian itu juga tumbuh di hati kita?” Alfi menggeleng kecil sebagai jawaban. “Gue kayaknya udah harus ke kelas nih, oh ya jangan lupa ya nanti pulang sekolah jangan langsung pulang. Rian minta kita ngumpul di ruang musik,” ucap Bimo mengingatkan. Alfi mengangguk pelan kemudian membiarkan Bimo berlalu pergi. Sepeninggalan Bimo, Alfi menjadi memikirkan perkataan Bimo tadi. Benarkah sebenarnya diam-diam Prillia sudah menyatu dengan ingatannya. *** “Enggak ah, pokoknya gue mau pulang,” gadis itu melipat kedua tangannya di depan d**a pertanda penolakannya. “Bentar doang Prill, lo tunggu di kantin aja deh, atau di mana gitu. Gue gak lama kok.” Prillia berdecak kesal menatap Alfi di hadapannya. Bagaimana bisa Alfi menyuruhnya untuk menunggu sementara Alfi akan pergi bertemu dengan teman-teman bandnya? “Kapan-kapan aja kenapa sih diskusinya. Gue udah harus pulang nih, udah siang. Ada yang harus gue lakui.” “Bentar doang Prill.” “Ya udah deh gue pulang sendiri aja,” Prillia hendak berlalu dari Alfi namun dengan cepat Alfi menahannya. “Jangan dong, janji cuma bentar. Mau ya?” Alfi berkata lembut sembari mengelus tangan Prillia yang kini ia genggam. “Ya udah, tapi gak pakai lama,” akhirnya Prillia pasrah membuat Alfi tersenyum lega. “Oke, gak pakai lama. Gue pergi dulu ya,” Alfi mengelus pucuk kepala Prillia sejenak kemudian berlalu pergi.Prillia terpaku sejenak dengan perlakuan Alfi. Untuk pertama kalinya ia merasakan usapan dari tangan Alfi. Ah rasanya benar-benar... menenangkan. Setelah Alfi meminta Prillia untuk menunggunya, Alfi segera bergegas menuju ruang musik. Entah apa yang akan disampai Rian kepada mereka, sepertinya cukup penting karena tak bisanya mereka melakukan rapat mendadak seperti ini. Saat Alfi memasuki ruang musik, ternyata personil starlight yang lain sudah terlebih dahulu berkumpul di sana. Namun ada sesuatu yang asing bagi Alfi, seseorang yang sedang duduk di hadapan Rian itu tak pernah ia lihat sebelumnya. “Akhirnya lo datang juga,” ucap Rian yang melihat kedatangan Alfi membuat personil starlight yang lain ikut menatap Alfi termasuk orang asing itu. “Sorry gue telat. Lo mau ngomongin apa?” Rian berdecak kesal mendengar pertanyaan Alfi. Sudah datang telat tanpa basa basi langsung menuntut pokok pembicaraan. Sepertinya ia sedang buru-buru. “Ntar dulu, gue mau kenali lo sama seseorang, nah Nada ini Alfi yang kami ceritai tadi, dan Alfi ini Nada,” Rian memperkenalkan mereka satu sama lain. Gadis berparas cantik yang sedari tadi duduk di hadapan Rian yang ternyata bernama Nada itu menjabat tangan Alfi sembari saling melempar senyum pertanda perkenalannya. “Nada ini sepupu gue, dia sekolah di SMA Bumi Kasih. Dia ini juga paham banget soal musik, kadang dia juga suka mengaransemen lagu dan dia juga guru vokal di salah satu sekolah musik khusus anak-anak. Kemarin gue sempat dingeri ke dia hasil record aransemen yang kita buat, dan katanya dia ada masukan. Makanya gue bawa kesini, siapa tau kalau ide lo disatukan sama ide dia bisa menghasilkan sesuatu yang lebih indah,” Alfi mengangguk-anggukan kepalanya kecil mendengar penjelasan Rian yang cukup menjawab kebingungannya dengan hadirnya Nada di antara rapat mereka. “Terus kalau lo emang ngerti musik, kenapa selama ini SMA Bumi Kasih gak pernah kirim perwakilan buat ikut festival band?” Kini Alfi mulai bertanya pada Nada. Lagi pula ini cukup aneh bagi Alfi, kenapa ia harus membantu sekolah mereka kalau sebenarnya ia bisa menghasilkan sesuatu untuk sekolahnya. “SMA gue gak kayak SMA kalian, bahkan petingginya aja kurang peduli sama prestasi, hal itu juga yang bikin minat siswa susah untuk digali. Gue rasa kalian tau kalau SMA Bumi Kasih bukan hanya gak mengirim utusan dalam hal festival band, tapi dalam ekskul lain juga jarang. Pernah sih gue berinisiatif buat ngusulin bentuk band sekolah, tapi responsnya gak acuh aja. Jadi gue pikir gak perlu lah, lagi pula yang seni butuhkan itu karya bukan cuma piala. Kalau karya udah ada, piala pasti bakal nyusul.” Alfi, Rian, Bimo, Kikan dan Flora dibuat tercengang dengan penuturan gadis itu. Sepertinya darah seni benar-benar mengalir dalam darahnya. Mereka merasa bersyukur bersekolah di sekolah yang sangat peduli dengan minat siswanya, walaupun mereka harus sedikit menyesali karena baru membentuk band ini saat mereka kelas 2. Sekarang mereka semua duduk di kelas 3, itu artinya mereka tak punya waktu terlalu banyak untuk menekuni bidang ini lagi dan bisa jadi festival ini adalah festival terakhir yang akan mereka ikuti nantinya. “Oh iya, mau dengari aransemen dari gue sekarang?” Tanya Nada yang langsung mendapat anggukan antusias dari semuanya. Nada langsung bangkit dari duduknya dan mengambil posisi di balik piano. Tangannya tampak begitu lihai memainkannya. Sembari ia memainkan piano ia juga bernyanyi dengan lagu yang sudah dipilih starlight untuk mereka nyanyikan. Sesekali Nada juga menjelaskan bagian-bagian dari aransemen yang sengaja ia ubah dari yang Alfi buat. Saat Alfi merasa bahwa ada yang kurang pas didengar ia langsung mendiskusikannya pada Nada hingga mereka mencari jalan tengahnya. Personil starlight yang lain hanya memperhatikan kedua orang itu yang terlihat sangat mengerti dengan musik. Berbeda dengan Bimo dan Kikan yang tampak serius mendengarkan, sesekali Rian dan Flora tersenyum penuh makna saat melihat Alfi dan Nada berdiskusi. *** Hampir setiap detik Prillia melirik jam di ponselnya dengan gelisah. Waktu terus saja berlalu namun Alfi tak kunjung datang. 'Apa yang sedang Alfi lakukan?' Pikir Prillia. Prillia mengedarkan pandangannya ke sekeliling koridor yang tampak sudah sepi. Ia benar-benar tak bisa berlama-lama di sini, ia harus menemui ibunya siang ini seperti rutinitasnya. Lagi pula Prillia belum berpesan pada mbok Iyem untuk mengantarkan makanan pada ibunya. Merasa sudah benar-benar tak bisa menunggu, Prillia bangkit dari duduknya dan dengan langkah cepat ia bergegas menuju ruang musik. Bukankah Alfi tadi bilang hanya sebentar? Sebentar apanya? Bahkan sudah hampir 1 jam ia menunggu. Saat sudah sampai di ambang pintu ruang musik, langkah Prillia terhenti sejenak. Walaupun di ruangan ini ada beberapa orang, namun pandangannya terfokus pada 2 orang yang tampak begitu akrab, mereka sama-sama tersenyum sambil bernyanyi, bahkan mereka terhenti sejenak untuk tertawa. Apanya yang lucu? Prillia merasa oksigen tak dapat menjangkau rongga dadanya yang membuat ia merasa sesak. “Jaga pandangan lo dari Alfi!” Suara tegas penuh penekanan Prillia membuat mereka semua yang berada di ruang musik cukup terkejut. Alfi tertegun menatap Prillia yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya namun tak menatapnya, pandangannya itu terfokus pada gadis di samping Alfi dengan pandangan yang sangat tidak bersahabat. Seseorang yang tidak Prillia ketahui namanya itu hanya mampu menatap Prillia bingung, ia tampak melirik Alfi dan Rian seolah meminta penjelasan. “Eh pembuat masalah, lo bisa sopan dikit gak? Main masuk aja,” ucap Rian memandang Prillia tak suka. Gue gak ada urusan sama lo, urusan gue sama cewek ini,” Prillia menunjuk gadis yang tak lain adalah Nada itu.  “Prill, apaan sih,” Alfi menjauhkan tangan Prillia dari wajah Nada membuat Prillia kini berganti menatap Alfi tajam. “Lo nyuruh gue nunggu, tapi lo malah asik sama nih cewek?” “Kami lagi diskusi Prill.” “Diskusi apa? Kenapa cuma kalian berdua sementara teman-teman lo enggak?” “Maaf gue ikut campur, Alfi benar kok kami cuma diskusi. Oh iya, kenali gue Nada,” Nada mengulurkan tangannya pada Prillia namun dengan cepat Prillia tepis. Nada tampak tersentak kaget dengan perlakuan Prillia begitu pula dengan yang lainnya. Rian yang tampak sudah mulai geram atas tindakan yang tak seharusnya dilakukan Prillia pada sepupunya langsung bangkit dari duduknya. Dicengkeramnya kuat pergelangan tangan Prillia membuat gadis itu sedikit meringis. “Lo benar-benar manusia paling seenaknya yang gue kenal. Cewek yang lo perlakukan tidak baik itu adalah sepupu gue! Lo jangan pikir gue takut ya sama lo,” Rian makin mempererat cengkamannya yang membuat Alfi membulatkan matanya. Bimo, Kikan dan Flora yang merasa suasana yang makin memanaspun ikut bangkit dari duduknya. “Rian, lepas!” Ucap Alfi tegas. Namun ucapan Alfi sepertinya tak dihiraukan oleh kedua orang yang sedang beradu tatapan tajam di hadapannya. Sakit! Ya itulah yang Prillia rasakan di pergelangan tangannya. Namun wajahnya sebisa mungkin ia buat seolah tak terasa apa-apa, dan sepertinya ia berhasil karna kini wajahnya tampak datar namun menyiratkan kemarahan. “Oh jadi dia sepupu lo? Bilangin ya sama sepupu lo, gak usah dekati Alfi.” "Eh mau Nada dekati Alfi atau enggak. Itu bukan urusan lo, lagi pula Nada lebih segalanya dari pada lo yang gak lebih dari seorang cewek yang memanfaatkan kekuasaan buat dapati Alfi,” nada Rian terdengar sinis membuat Prillia makin tersalut emosi. “Udah Ian, dia cewek,” Bimo ikut mengingatkan melihat cengkaman tangan Rian belum terlepas. “Lo kayaknya butuh tes kejiwaan deh, kayaknya gue rasa ada yang salah sama kejiwaan lo. Lo harusnya berkumpul sama orang-orang yang punya dunianya sendiri di rumah sakit jiwa,” ucap Rian dengan nada mengejek. Tak seperti kata-kata Rian sebelumnya yang hanya membuat Prillia tersalut emosi, namun kata-katanya yang satu ini mampu membuat mata Prillia terasa memanas seketika. Dikepalkannya tangannya kuat-kuat menginstruksikan dirinya untuk lebih kuat dari baja yang pernah tercipta. Ya, dia adalah P paling kuat. “Rian cukup! Lepasi tangan lo sekarang juga atau gue bakal balas perkataan lo tadi dengan satu tonjokan di pipi lo,” ucap Alfi dengan sedikit berteriak. Mendengar perkataan Alfi ditambah wajah tegang Alfi dengan rahang yang mengeras membuat Rian melepaskan cengkeramannya. Setelah cengkaman tangan itu terlepas dengan cepat Alfi membawa Prillia ke dalam pelukannya. Dipeluknya gadis itu erat-erat dan tangannya tak berhenti untuk mengelus rambut gadis itu. “Lo gak seharusnya ngomong gitu sama Prillia, lo udah terlalu jauh melampaui batas ucapan lo. Prillia ini urusan gue, kalaupun ada orang yang harus marahi dia, orang itu adalah gue,” ucap Alfi memperingati Rian. Alfi melepaskan pelukannya kemudian menarik Prillia lembut keluar dari ruangan itu meninggalkan orang-orang yang hanya bisa terpaku. Nada benar-benar tak paham dengan situasi ini, terlebih lagi gadis yang ia dengar bernama Prillia itu. Sebenarnya ada apa diantara mereka.  “Sorry ya Nad, Prillia sebenarnya gak bermaksud kayak gitu, dia cuma salah paham aja,” ucap Bimo yang menyadari kebingungan Nada. Nada mengangguk kecil sembari tersenyum. *** Suara deru motor terdengar memasuki pekarangan sebuah rumah. Hanya suara deru motor inilah yang terdengar di sepanjang perjalanan tanpa adanya suara apa pun dari kedua orang yang menaiki motor itu. Bahkan saat motor sudah dimatikan karena sudah sampai pada tujuannya tetap saja keheningan yang mendominasi. “Prill,” suara panggilan itu menghentikan langkah Prillia yang sudah hendak memasuki rumahnya tanpa mengucapkan apa pun. Prillia berbalik namun enggan menatap Alfi. Alfi menghela nafas sejenak menatap gadis di hadapannya kini. Namun sesaat kemudian pandangannya tertuju pada pergelangan tangan gadis itu, diraihnya pergelangan tangan Prillia. Tangan yang sebelumnya terlihat putih, kini menjadi sedikit memar di bagian pergelangan tangannya. Alfi mengelus bagian tangan yang memar itu namun pandangannya kembali terfokus pada gadis itu yang hanya menunjukkan ekspresi datarnya. “Sakit banget ya?” Tanya Alfi. Prillia hanya diam tak berniat untuk membalas. “Lo gak seharusnya kayak tadi. Gue sama Nada benar-benar lagi diskusi karna dia punya masukan aransemen buat lagu kami,” jelas Alfi. “Jadi menurut lo apa yang gue lakuin tadi itu salah? Gue gak suka lihat lo senyum atau ketawa sama orang lain dengan mudahnya, sedangkan gue harus memaksa lo cuma untuk bikin lo ada di samping gue,” balas Prillia lirih menatap Alfi dalam. Alfi terpaku melihat tatapan gadis itu. Kenapa banyak sekali luka di tatapannya? “Makanya selama ini gue berharap di abjad hanya ada A dan P, tapi apa yang gue dapat? Gue merasa bahkan huruf P bukan dianggap abjad lagi bagi mereka tapi cuma sampah.” “Lo gak bisa hilangin abjad yang lain karna lo butuh mereka buat bikin lo lebih bermakna. Lo pikir apa maknanya huruf kalau berdiri sendiri? Mulailah membuka diri buat siapa aja Prill, gue akan selalu ada buat lo. Tapi lo juga butuh orang lain. Kita gak bisa cuma berdua,” ucap Alfi. “Gue capek Al, mereka gak ada yang ngerti kenapa gue kayak gini. Sekarang cuma lo harapan gue, cuma lo yang ada di samping gue tanpa harus gue jelasin kenapa gue kayak gini,” ucap Prillia pelan. Alfi kembali mengelus pergelangan tangan Prillia. Mungkin semua orang memang perlu penjelasan, namun penjelasan butuh waktu. Sebenarnya Alfi juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini, karna semakin lama ia yakin kalau ada sesuatu yang dialami gadis ini dan sesuatu itu terasa begitu sulit untuk ia tanggung sendiri. “Gue juga butuh penjelasan lo. Tapi gue gak minta lo buat jelasin sekarang kok,” balas Alfi lembut. “Sekarang lo masuk, kompres tangan lo atau diapain gitu biar cepat sembuh,” ucap Alfi yang dibalas Prillia dengan anggukan pelan. Prillia kemudian melepaskan tangannya dari genggaman tangan Alfi dan berbalik masuk ke rumahnya, namun sebelum tangannya terlepas sempurna, Alfi kembali menahan tangannya dan melakukan sesuatu yang membuat Prillia terpaku. Alfi mencium bekas memar di pergelangan tangannya. “Semoga cepat sembuh, ntar kalau belum sembuh telefon gue biar gue cariin obat,” ucap Alfi kemudian melepaskan tangan Prillia. Prillia kembali mengangguk kecil, kini bahkan ia terlihat kikuk. Tak pernah ia sebelumnya salah tingkah seperti ini di depan Alfi. Tak ingin makin terlihat aneh di depan Alfi, Prillia langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya. Sementara Alfi tersenyum kecil melihat kepergian gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD