Prillia menatap bintang yang tampak bertaburan asal di langit dari balkon kamarnya. Sesekali ia memejamkan matanya lalu menghela nafas panjang sekedar untuk membuat perasaan sesak di dadanya berganti dengan perasaan damai. Namun semakin sering ia melakukan itu, semakin nyata pula rasa sesak itu ia rasakan.
Ia sendiri, ya benar-benar sendiri. Di hari yang menurut hampir seluruh orang merupakan hari terpenting dalam hidupnya yang selalu terulang setiap tahun, ia merasa benar-benar sendiri. Bahkan mungkin tak ada yang tahu jika hari ini ia berulang tahun, atau mungkin tak ada yang ingin tahu?
Jika biasanya orang-orang akan mendapatkan limpahan ucapan selamat, doa dan hadiah, Prillia harus rela tak merasakan hal itu hari ini. Bahkan untuk mendapatkan satu ucapan yang sangat ia harapkan aja sepertinya sangat mustahil. Ia tak ada di sini dan tak mungkin ada. Apakah Prillia benar-benar tak berarti apa-apa dalam hidupnya?
Prillia mendongakkan wajahnya kembali menatap bintang-bintang. Rasanya ia malu pada bintang-bintang yang tampak beramai-ramai memenuhi langit malam, sementara dirinya di bawah ini hanya sendiri. Ingatan Prillia kembali pada kejadian tadi siang saat ia menemui ibunya. Ia sangat berharap mendapatkan ucapan selamat dari wanita yang sangat ia cintai itu. Namun yang ia dapati hanyalah aksi bungkam dan tatapan asing dari ibunya, sungguh miris bukan?
“Non Prillia.” Suara panggilan itu akhirnya memecahkan keheningan yang sengaja diciptakan Prillia sedari tadi. Prillia membalikkan badannya menatap mbok Iyem yang sudah ada di belakangnya.
“Kenapa Bik?” Tanya Prillia lembut.
“Kok Non masih disini sih? Turun yuk, atau non mau siap-siap dulu dandan yang cantik? Bibik udah bikinin kue loh buat Non, kita ke bawah yuk, rayain ulang tahun Non,” ucap mbok Iyem. Satu hal yang Prillia sadari, ia tak benar-benar sendiri hari ini.
“Gak usah dandan lah bik, gini juga udah cantik kan?” Prillia tertawa kecil membuat mbok Iyem ikut tertawa dan memperhatikan penampilan Prillia yang terlihat lucu dengan piama berwarna biru lautnya.
“Dandan aja non, ntar kalau tuan datang kan pasti non langsung diajak jalan-jalan.”
“Papi mah ngeselin, pasti masih sibuk kerja.”
“Bentar lagi tuan pasti pulang kok Non, tadi aja tuan nelfon buat pastiin Non belum tidur. Tuan ada meeting malam ini, abis itu juga langsung pulang,” jelas mbok Iyem.
“Ya udah bibik tunggu di bawah ya non, buruan dandan yang cantik,” mbok Iyem mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu dari hadapan Prillia.
Prillia tampak berpikir sejenak. Sepertinya tak ada salahnya ia berdandan malam ini. Akhirnya Prillia pun bergegas untuk bersiap-siap. Setelah beberapa saat Prillia sudah terlihat cantik dengan dress pink pastel sebatas lulut tanpa lengan miliknya, rambut yang ia biarkan terurai indah. Dipolesnya wajahnya dengan make up natural yang tak berlebihan membuatnya tampak cantik. Setelah merasa siap Prillia langsung bergegas keluar dari kamarnya.
Prillia membulatkan matanya saat kakinya sudah melangkah pada tangga terakhir. Prillia menatap tak percaya pada ruang santai yang sudah di dekor sedemikian rupa dengan beberapa balon dan tulisan selamat ulang tahun di dinding.
“Non suka?” Tanya mbok Iyem.
“Suka banget, ini mbok yang siapin?” Tanya Prillia menatap takjub pada dekorasi itu.
“Iya Non, dibantuin mang Jajang juga.”
“Makasih ya Bik,” ucap Prillia tulus.
“Sama-sama non. Non mau potong kue nya sekarang atau nungguin tuan dulu?”
“Sekarang aja deh Bik, aku udah gak sabar mau makan kue buatan Bibik. Lagian aku mau ngambek sama papi karna telat pulang malam ini,” mbok Iyem terkekeh geli melihat Prillia mengerucutkan bibirnya.
Akhirnya Prillia pun merayakan ulang tahunnya dengan mbok Iyem, tak lama mang Jajang sopir pribadi Prillia juga ikut bergabung. Terlihat sederhana namun cukup membuat Prillia bahagia.
***
“Lo kenapa sih Al gak konsen banget?” Tegur Flora.
“Tauk nih, capek tau ngulang-ngulang terus,” protes Rian pula. Alfi menghela nafas kasar, ia juga menyadari bahwa dirinya kurang konsen malam ini. Sialnya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Semakin ia berusaha menghilangkan sesuatu yang mengganggu pikirannya, semakin pula ia merasa tak tenang.
“Sorry ya guys, gue harus pergi sekarang. Ntar gue kabari lagi ya jadwal latihannya. Sorry banget,: dengan terburu-buru Alfi meletakkan gitarnya dan berlalu pergi.
“Al... Alfi..” Bahkan Alfi tak mendengarkan panggilan teman-temannya. Mereka menatap kepergian Alfi bingung. Ada yang tak beres dengan Alfi.
“Alfi kenapa sih?” Kikan menatap teman-temannya sementara yang lainnya hanya mengedikkan bahu pertanda juga tak tahu.
“Terus gimana?” Tanya Rian.
“Kita lanjut aja latihannya. Gue paham kok aransemen yang dibikin Alfi,” ucap Bimo yang kemudian mendapatkan anggukan setuju dari Rian, Flora dan Kikan.
***
“Bunga mawarnya dirangkai 18 tangkai ya mbak.”
“Baik mas, mau pakai kartu ucapan juga?”
“Boleh deh mbak, saya tulis sendiri aja ya.”
“Ini Mas kartu dan pulpennya, saya siapain bunganya dulu ya.”
Alfi mengangguk kecil kemudian mulai fokus pada pulpen dan kartu ucapannya. Sesekali Alfi mengetuk-ngetukkan pulpen ke dahinya saat ia mulai tak tahu harus menulis apa. Senyum kecil terukur di bibirnya saat sudah berhasil menulis sesuatu di kartu ucapan itu. Bersamaan dengan itu pula buket bunga pesanan Alfi pun selesai. Alfi sedikit ragu saat melihat buket bunga yang lumayan besar itu. sepertinya harus ada usaha lebih membawa bunga ini dengan menggunakan motor. Alfi pun segera bergegas menghampiri seseorang yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
***
Alfi menatap ragu pintu besar berwarna keemasan di hadapannya. Diliriknya jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, apakah ia masih bangun? Alfi mulai menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan. Meletakkan bunga di depan pintu kemudian pulang, atau menekan bel untuk menemui orang itu? Arghhh!! Mengapa rasanya sulit sekali? Setelah bertarung dengan pikirannya sendiri akhirnya tangan Alfi terulur untuk menekan bel rumah itu, tak lama keluar seorang wanita paruh baya yang cukup Alfi kenal.
“Eh Den Alfi.”
“Iya Bik, Prillia nya ada?” Tanya Alfi.
“Ada kok Den lagi di taman belakang.”
“Alfi mau ketemu Prillia, boleh?” Tanya Alfi sopan.
“Boleh lah Den. Den Alfi langsung ke taman belakang aja ya biar bibik bikinin minum,” Alfi mengangguk pelan kemudian mulai memasuki rumah Prillia sementara mbok Iyem berlalu menuju dapur.
Ini memang bukan pertama kalinya Alfi memasuki rumah Prillia, ia bahkan hampir hafal setiap sudut ruangan rumah ini. Alfi yang memang tinggal di Jakarta tak bersama orang tuanya karna orang tuanya yang sibuk mengurusi usahanya di Singapura membuat Alfi terkadang tak keberatan jika Prillia memaksanya untuk menemaninya di rumah ini. Langkah Alfi tiba-tiba terhenti saat melewati sebuah ruangan yang ia ketahui bahwa ruangan itu merupakan ruangan yang biasa digunakan untuk bersantai. Alfi terpaku melihat ruangan itu yang dihiasi dekorasi khas ulang tahun, dan kue yang sudah habis setengahnya yang terdapat di atas meja. Apa Prillia sudah selesai merayakan ulang tahunnya?
Sesaat kemudian Alfi tersadar atas tujuannya datang ke rumah ini, Alfi kembali melanjutkan langkahnya menuju taman belakang. Saat Alfi memasuki taman belakang yang juga di lengkapi dengan kolam renang itu, Alfi melihat Prillia sedang duduk di sebuah ayunan di pinggir kolam renang dengan pandangan menerawang ke arah depan, sepertinya ia sedang melamun. Sepertinya Prillia belum menyadari kehadiran Alfi. Hal itu membuat Alfi merekahkan senyumnya dan berjalan dengan pelan menuju belakang Prillia. Setelah sampai di hadapan Prillia, Alfi menyodorkan bunga yang sedari tadi ia bawa ke hadapan Prillia. Sontak hal itu membuat gadis itu tampak kaget.
“Happy birthday,” Alfi menundukkan wajahnya untuk menyamai posisinya dengan Prillia lalu berbisik.
Prillia yang sangat mengenal suara itu langsung menoleh ke belakang, namun baru ia akan menoleh sedikit, hidung mancungnya sudah mengenai hidung mancung milik Alfi. Matanya menatap mata hitam legam yang selama ini memberikannya kenyamanan. Alfi, ya Alfinya kini ada di sini. Alfi sempat terpaku menatap mata hazel milik Prillia secara dekat, namun tak ingin terlalu larut dalam mata hazel itu membuat Alfi langsung menjauhkan wajahnya dan kembali menegakkan badannya.
“A...Alfi, lo kok ada disini? Bukannya lo?”
“Bukannya lo yang tadi pagi maksa gue buat kesini?” Alfi memotong ucapan Prillia sembari mengubah posisinya dengan berdiri di hadapan Prillia.
“Tapi kan lo bilang kalau lo mau latihan band,” Prillia tertunduk sejenak saat mengingat penolakan Alfi tadi pagi yang membuat dadanya kembali sesak.
“Sejak kapan sih gue bisa nolak permintaan lo? Maaf ya gue baru datang,” Prillia langsung mendongakkan wajahnya mendengar ucapan Alfi yang kini terdengar lembut. Maaf? Alfi mengatakan maaf untuknya?
“Nih buat lo,” Alfi kembali menyodorkan bunga yang ia bawa pada Prillia.
“Thanks,” balas Prillia pelan.
Alfi mengangguk kecil kemudian duduk di samping Prillia. Ayunan yang berbentuk oval ini memang cukup besar, lagi pula Prillia tak menghabiskan seluruh ruangnya. Prillia tersenyum kecil melihat bunga mawar merah itu, namun sesaat kemudian pandangannya terhenti pada kartu ucapan yang diselipkan di antara bunga-bunga itu. Prillia pun mengambil kartu itu dan mulai membacanya.
Happy birthday P. Jadilah P yang bukan hanya memiliki beban dan satu penyangga, namun juga P yang memiliki makna- from A
Prillia menoleh pada Alfi yang sedang mendongakkan wajahnya menatap langit. Bagaimana ia tak merasa jika Alfi adalah miliknya jika Alfi seperti selalu ada?
“Thanks ya Al,” ucap Prillia. Alfi mengalihkan pandangannya pada Prillia kemudian mengangguk pelan. Tiba-tiba Alfi teringat sesuatu yang membuat Alfi merogoh kantung jaketnya.
“Sorry gue gak bisa kasih apa-apa, tapi kalau lo mau lo bisa ambil ini,” Alfi memerikan sebuah pick gitar pada Prillia.
Prillia mengerjapkan matanya berkali-kali menatap pick gitar dengan inisial A yang ia ketahui milik Alfi itu. Alfi memberikan pick yang selama ini membantu jari-jarinya memetik gitar untuknya? Di luar dugaan.
“Buat gue?” Tanya Prillia meyakinkan, Alfi langsung menganggukkan kepalanya.
“Thanks,” Prillia mengambil pick itu dengan mata yang berbinar. Ini hadiah yang sangat luar biasa.
“Pick itu selalu membantu gue buat lindungi jari-jari gue saat sedang menciptakan sebuah nada. Gue harap pick itu juga bisa lindungi lo, walaupun gue sendiri juga gak tau gimana caranya,” ucap Alfi diiringi kekehan kecilnya. Oke sepertinya ia tak sepintar Prillia dalam membuat perumpaan atau pengandaian atau apa pun itu.
“Pick ini sebenarnya bukan buat lindungi jari lo, dia cuma hadir buat menciptakan sesuatu yang indah tanpa harus menyakiti apa pun,” ucap Prillia.
Alfi mengangguk paham, sesaat kemudian ia meneliti penampilan Prillia yang ia akui, sangat cantik. Namun ada sesuatu yang mengganggu penglihatan Alfi membuat Alfi langsung melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Prillia. Prillia sempat terpaku melihat perlakuan Alfi. Ada apa dengan Alfi malam ini? Ia terlihat lebih manis dari biasanya.
“Gue kan udah pernah bilang, kasihan anginnya kalau harus masuki cewek nyebelin kayak lo,” ucap Alfi mengulang ucapannya beberapa hari yang lalu.
Bukannya kesal Prillia malah tersenyum senang, setidaknya ia tahu bahwa Alfi peduli. Alfi menyandarkan tubuhnya pada ayunan kemudian mendongakkan wajahnya kembali menatap langit malam. Perlahan ia merasakan Prillia bersandar dibahunya. Alfi melirik Prillia sekilas yang tampak terpejam, sesaat kemudian Alfi ikut terpejam. Merasakan terpaan angin malam yang terasa menyapu wajahnya.
“Jangan salahkan gue yang jatuh cinta, tapi salahkan diri lo yang begitu mudah untuk dicintai,” batin Prillia yang kini menenggelamkan wajahnya pada d**a Alfi.
Perlahan ia merasakan tangan Alfi membungkus tubuh mungilnya, menarik Prillia makin dalam sehingga berada dalam pelukannya. Oh Tuhan rasanya Prillia ingin menangis sejadi-jadinya sekarang. Ia bahagia, sangat bahagia. Tapi apa maksud Alfi menciptakan kebahagiaan ini? Apa ia sudah memiliki rasa yang sama? Atau ia hanya kasihan karna ia merasa ada rasa yang selama ini di abaikan?
Mbok Iyem yang ingin menghampiri Alfi dan Prillia untuk mengantarkan minuman langsung menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan di hadapannya. Seulas senyuman tercipta di bibirnya membuat ia memilih untuk mengurungkan niatnya. Sepertinya mereka sedang tidak bisa diganggu. Ia langsung bergegas kembali memasuki rumah.
***
Alfi membaringkan tubuh Prillia di atas ranjang milik Prillia. Bahkan gerakannya sama sekali tak membangunkan gadis itu yang tampak sudah sangat terlelap. Alfi tersenyum kecil melihat Prillia damai dalam tidurnya. Ia sama sekali tidak terlihat menyebalkan saat sedang tidur. Setelah menyelimuti tubuh Prillia, Alfi pun bergegas keluar dari kamar gadis itu. Prillia yang tertidur di ayunan dan dalam dekapan Alfi membuat Alfi harus menggendongnya ke dalam kamar.
“Prillia mana?” Pertanyaan itu membuat langkah Alfi yang baru saja menuruni anak tangga terhenti. Alfi melihat pria dengan setelan kantornya yang sudah tidak lengkap karna dasinya sudah tak melingkar lagi di lehernya sedang berdiri di hadapannya.
“Prillia udah tidur Om,” balas Alfi. Pria itu tampak menghela nafas kasar sejenak seperti menyesali sesuatu.
“Apa malam ini dia bahagia?” Tanya pria itu.
“Semoga,” balas Alfi pula.
“Kalau gitu saya permisi dulu om,” pamit Alfi.
“Ya, terima kasih Alfi,” Alfi mengangguk pelan kemudian berlalu dari hadapan pria itu.
Daniel, ya pria itu adalah Daniel. Daniel menatap kepergian Alfi, ia sangat mengenali lelaki itu. Lelaki yang selalu berhasil membuat mata gadis kecilnya berbinar setiap kali menceritakan tentang dirinya, lelaki yang mampu membuat gadis kecilnya merengek meminta apa pun agar lelaki itu selalu ada di sampingnya. Tampan memang, namun tak setampan dirinya. Daniel terkekeh sendiri menyadari kepercayaan dirinya yang sangat tinggi. Yang menjadi persoalannya sekarang adalah, ia harus siap mendapat amukan dari gadis kecilnya yang siap menjelma menjadi macan betina.