Queeny pov Gue baru selesai mengajar anak~anak pantai. Kini mereka memanfaatkan jam istirahat dengan bermain bola di tepi pantai. Asyik sekali permainan mereka meski mereka bermain dengan kaki telanjang. Kasihan sekali mereka. Anak~anak pantai ini datang ke sekolah dengan pakaian seadanya yaitu pakaian rumahan yang sangat sederhana. Juga hanya memakai sandal jepit, bahkan kadang mereka tak memakai alas kaki. Tapi semua itu tak menyurutkan semangat mereka untuk belajar di sekolah. Itu juga kalau bangunan nyaris ambruk ini layak disebut sekolah. Maka, gue paham mengapa Pak Sapto amat mengharapkan donasi untuk membangun sekolahnya yang keadaannya amat miris. Uh, gue pusing memikirkannya. Si Udik ... eh, Dean bersedia membiayai pembangunan sekolah ini asal gue kembali padanya. Tapi

