Kesepakatan Palsu Pernikahan

1068 Words
Menikah? Alexa tak mengenal siapa pun di dunia ini. Yang ia kenal hanyalah pria angkuh sang penguasa yang tak memiliki nurani. Meski demikian, sejenak Alexa harus berpangku tangan pada sang pria. Paling tidak, sampai Alexa kembali pulang ke rumah. Kini tubuh Alexa telah dibalut gaun putih yang berkilauan. Meski tampak begitu indah dan anggun, tetapi Alexa merasa begitu tersiksa dengan korset yang membuat tubuhnya terasa seperti kayu. Belum lagi, gaun pernikahannya ini sangat berat karena disulami berbagai macam batuan mulia. Jelas, Alexa jadi uring-uringan. Kini dirinya dibantu beberapa pelayan mulai memasuki aula pernikahan. Selama berjalan di sepanjang koridor, ia mendengar sayup-sayup suara musik. Ketika jarak antara dirinya dan pintu raksasa mulai menipis, perlahan kedua daun pintu raksasa yang terbuat dari kayu berukiran rumit itu terbuka. Cahaya kuat langsung masuk ke retina matanya, Alexa yang tak siap harus menyipitkan matanya karena silau. Begitu matanya telah beradaptasi dengan cahaya di sekelilingnya, betapa terkejutnya Alexa melihat banyak orang tengah membungkuk padanya. Terlebih, ketika Alexa menyadari betapa besar, mewah dan megahnya ruangan itu. Semua orang, bahkan sampai ke lantai tiga kompak memberinya hormat. Ia melangkah dengan canggung diiringi musik yang sangat bertenaga. Sekilas jika mendengar alunan musiknya, terdengar seperti lagu kebangsaan. Alexa melempar senyum canggung karena tidak terbiasa menjadi pusat perhatian dengan pakaian seperti ini. Hingga ia kembali menatap ke depan, ia dibuat semakin terpana melihat betapa megahnya panggung altar di mana di atasnya ada Arthur yang berdiri dengan pakaian mewah khas panglima lengkap dengan zirah perak yang begitu kokoh dan perkasa di tubuhnya. Jujur, harus Alexa akui Arthur benar-benar sosok yang sangat jantan. Kini Alexa tiba di sisi Arthur, keduanya berdiri saling berhadapan bersama seorang penuntun pernikahan di antara mereka. "Baik, upacara pernikahan akan segera kita langsungkan." Sang Penuntun menatap Arthur dengan tegas. "Yang Mulia Raja Arthur Leyton, Sang Penguasa tanah kebangkitan Adney Land, apakah Anda menerima Tuan Putri Athea Arley dari tanah hijau untuk menerimanya sebagai istri?" Mata Arthur menatap wajah Alexa, begitu pun ketika wanita itu mendongakkan wajah, sulit untuk tidak menghindar. "Aku, Arthur Leyton Sang Penguasa tanah kebangkitan Adney Land, menerima Tuan Putri Athea Arley sebagai istriku." Rasanya ada yang berdesir dalam hati Alexa. Sesuatu yang hangat sekaligus cubitan abstrak yang tak mampu ia jelaskan. Ada rasa geli dan meletup-letup, seolah ia terbang ke atas awan bersama taburan bunga musim semi yang sangat cantik. Sejenak, Alexa seperti mabuk kepayang. Jadi, seperti ini pernikahan itu? Mengapa sangat mendebarkan? Ah ... lucu sekali, hari pernikahannya dilakukan dengan seorang raja. Apakah nanti jika sudah pulang, orang-orang akan percaya bahwa Alexa Clark pernah menikahi seorang raja? Sayang sekali, yang Arthur ucapkan malah nama Athea Arley, bukan Alexa Clark. Tanpa sadar, pikiran aneh Alexa itu membuat wanita itu senyam-senyum sendiri. Hingga tanpa sadar, menjadikannya pusat perhatian semakin intens karena ia melamun dengan senyuman ketika Sang Pemandu bertanya padanya. Barulah ketika Arthur menatapnya tajam, Alexa tersentak. Wajahnya menegang, heran apakah dia berbuat kesalahan. "Tuan Putri, apakah Anda menerima Yang Mulia sebagai suami?" "Ah ... a-aku ...." Seketika jantung Alexa menggila. Degupnya semakin tak terkendali hingga membuat suara degup yang lantang di dalam gendang telinganya. Alexa terlalu gugup, dia bahkan harus menggigit bibir bawahnya sendiri hingga tanpa sadar membuat kedua matanya berkaca-kaca. Dia bingung harus bicara apa. Lalu dengan sedikit mencondongkan tubuhnya pada Sang Penuntun. "Aku harus menjawab apa?" "Ck! Begitu saja tidak bisa," cibir Arthur yang langsung membuat kedua mata Alexa membelalak. "Kau mengejekku?" Arthur hanya mengendikkan bahu acuh. Seketika itu kemarahan Alexa membuat dirinya lupa bahwa ini hari pernikahan yang sekaligus dirinya sebagai pusat perhatian. Lantas dengan kesal dan suara lantang, Alexa mengucapkan ikrar pernikahannya. "Aku, Athea Arley Putri Agung Kerajaan Ackerley, keturunan ke dua dari mendiang Raja Allen Arley dan mendiang Ratu Victoria, adik sang Raja Axton Arley, menerima Yang Mulia Raja Arthur Leyton sebagai suami." Kedua mata Sang Penuntun terbelalak melihat Alexa yang malah menemukan kepercayaan diri setelah mendapat sindiran dari Arthur. Hal yang sangat jarang ditemui. Ketika semua orang dibuat putus asa dengan wajah Arthur, maka hanya Alexa lah yang malah begitu lantang. Sang Penuntun tersenyum, berharap semoga sang raja benar-benar menemukan wanita yang dijodohkan. "Pernikahan Yang Mulia Raja dengan Tuan Putri sah! Semoga langit melimpahkan cinta, kasih dan karunia pada Yang Mulia. Dan semoga langit melimpahkan kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan bagi kita semua." Sang Penuntun mempersilakan sepasang mempelai untuk memberi salam pada seluruh hadirin. Alexa langsung menatap garang pada Arthur yang dibalas cebikan cemooh. Keduanya berputar ke arah pengunjung, di mana rasa gugup Alexa kembali timbul. Ah, mengapa tiba-tiba ia merasa sedih ketika tepuk tangan meriah menggema dalam ruangan. Tiba-tiba hatinya menjadi kosong, ia sedih karena tak mengenal siapa pun di hari pernikahannya. Meski ia sendiri tidak tahu harus disebut apa pernikahannya kali ini. Sudahlah, lagipula setelah ini ia akan pulang dan semuanya akan menjadi mimpi. Alexa tersenyum lebar, seraya melambaikan tangan anggun. Namun, ketika ia menoleh pada Arthur, pria itu malah hanya berdiri tegak seperti patung dengan wajah datar. Karena tangan kiri Alexa bebas, wanita itu menggunakan tangannya untuk mengangkat tangan Arthur. Sentuhannya itu membuat si empunya tangan menoleh dengan kerutan di dahinya. "Apa yang kau lakukan?" "Kau harus bersikap seolah bahagia di hari pernikahanmu. Tenang saja, aku tidak akan tanggung membantumu menjadi permaisuri satu malam." Alexa memberi senyum simpul di akhir kalimatnya. Ulah Alexa itu membuat semua orang menegang, tetapi begitu Arthur menurut dengan wajah menghadap Alexa yang tersenyum lebar, dan tidak ada sesuatu buruk terjadi, seketika tepuk tangan orang-orang semakin meriah. Barang kali apa yang mereka pikirkan sama; sang raja menemukan cinta sejati. *** Arthur tidak mengikuti pesta sampai selesai, begitu pun Alexa yang setia membuntutinya hingga ke ruang kerja. Setelah pintu tertutup, Alexa langsung menagih janji Arthur. "Yang Mulia, kapan Anda mengantarkanku pulang?" Posisi Arthur yang membelakangi Alexa membuat pria itu harus memutar tubuh untuk menghadap si penanya. "Kita sudah menikah, istanaku adalah istanamu, kerajaanku adalah kerajaanmu, dan rumahku adalah rumahmu. Jadi, ke sini lah kau pulang." Mendengar penjelasan Arthur, seketika wajah Alexa langsung merah padam. Rahangnya mengeras bersamaan dengan kedua tangannya yang mengepal erat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Kedua mata Alexa menyipit tajam. "Anda menipuku?" "Menipu? Bukankah penjelasanku masuk akal?" "Masuk akal katamu?!" Alexa berjalan cepat hingga berada tepat di depan Arthur. Entah nyali dari mana, ia mendongak dan menghujam sang raja dengan tatapan tajam. "Kuberitahu Yang Mulia, harga diri seorang pria berada di ucapannya." Mendengar umpatan berbalut kata-kata bijaksana itu, Arthur terkekeh geli. "Kuberitahu juga padamu, Nyonya Leyton, harga diri seorang wanita terletak pada kecerdasannya. Jadilah wanita cerdas agar tidak merasa tertipu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD