Sialan!
Alexa menghempas dirinya di atas kasur. Ah, entah apa yang terjadi pada dirinya. Tiba-tiba tubuhnya terasa terbakar dan denyut jantungnya terasa menggila tak terkendali. Alexa menyentuh kedua pipinya yang terasa sangat panas.
Apa yang terjadi pada tubuhnya?
"Argh!"
Alexa segera menutup wajahnya dengan bantal. Ah, rasanya seperti ini tenggelam ke ujung samudera saja jika seperti ini.
Arthur.
Dia harus berhati-hati dengan pria itu mulai sekarang. Pasalnya, perasaan Athea nyaris tidak mampu ia bendung. Apalagi ia mengetahui betul bagaimana kebucinan Athea pada Arthur. Tidak. Alexa tidak akan melakukan kebodohan yang sama. Ia hanya ingin mencari cara untuk mendapatkan kepercayaan Arthur sehingga pria itu membantunya mencari jalan pulang. Satu hal yang paling ia takuti adalah jatuh cinta pada Arthur. Ya, itu saja.
***
Di sebuah ruangan yang sangat dikenali Arthur, sebuah kamar yang tak lain adalah miliknya sendiri. Pria itu berjalan, tanpa sengaja melihat sebuah buku di atas meja. Buku Dengan sampul merah hati yang jelas mustahil itu miliknya. Namun, begitu ia hendak mendekat, tiba-tiba seorang pria bersurai perak mendahuluinya mengambil buku itu. Arthur jelas terkejut, tetapi begitu ia mendongak untuk menatap si empunya wajah lebih seksama, betapa terkejutnya ia kala mendapati itu adalah dirinya sendiri.
Arthur mengangkat tangannya sebatas pinggang, melihat bahwa tubuhnya tembus pandang. Barang kali, dirinya kembali dalam mimpi. Kini Arthur hanya bisa menatap dirinya sendiri dalam mimpinya.
Raut wajah dirinya dalam mimpi itu tampak sangat gundah. Seolah yang ada di hidupnya adalah tersisa kesedihan yang tak berkesudahan. Dirinya dalam mimpi membuka buku bersampul merah muda itu. Merasa penasaran, Arthur pun ikut mendekat dan mengintip apa isi buku itu.
'Aku hanya ingin melihat bayangan di antara kita. Meski kehadiran hamba selalu tak tampak di pelupuk mata. Namun, Anda tidak perlu khawati perasaan hamba akan berubah. Seperti yang telah saya bilang, saya tidak akan meninggalkan sisi Anda. Saya akan tetap ada bahkan sekali pun saya harus mati di tangan Anda.'
Setelah membaca itu, tiba-tiba Arthur melihat dirinya menangis terisak. Hal yang membuatnya sedikit kesal mengapa dia harus memimpikan kejadian memalukan ini. Hingga tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dengan paksa. Seorang pria berpakaian prajurit menerobos masuk begitu saja. Namun, ternyata tidak hanya satu, tetapi belasan hingga puluhan yang berbaris di sepanjang koridor luar kamarnya. Melihat pemandangan itu, jelas tanda tanya langsung timbul di kepala Arthur. Seharusnya, tindakan mereka adalah tindakan yang dilarang. Menerobos kamar raja? Huh, jangan pikir bisa pulang dengan kepala.
Arthur ingin memarahi para prajurit itu, tetapi ia mulutnya terasa bungkam. Ia bisa bergerak, tetapi tak mampu menyentuh dirinya sendiri. Arthur hanya bisa menjadi pengamat dalam mimpinya.
"Apa yang kalian lakukan pada Ratuku?"
Salah satu prajurit itu tak menjawab dengan kata-kata, tetapi dengan menunjukkan sebuah potongan rambut panjang yang tampak lembut. Melihat itu, baik Arthur maupun dirinya dalam mimpi tampak begitu marah sampai menggertakkan rahang. Pasalnya di Kerajaan Adney Land, rambut wanita dianggap sebagai kehormatan mereka. Apabila dipotong akan sangat riskan, apalagi dipotong orang oleh pria asing.
"Apa yang kau lakukan?!" murka diri Arthur dalam mimpi, ia hendak mengambil pedang. Namun, tiba-tiba tubuhnya ambruk dan memuntahkan banyak darah.
Di saat bersamaan, Arthur sekilas melihat bayangan yang tampak berbeda dari sekumpulan prajurit. Bayangan itu tampak menghindar dan menembus tubuh prajurit. Merasa penasaran, Arthur hendak beranjak mengejar si bayangan. Namun, belum sempat ia melangkah, tiba-tiba para prajurit itu memukulinya dengan berkeroyokan. Sedangkan diri Arthur, entah mengapa tidak bisa melawan, seolah tubuhnya sangat lemah. Di saat itu 'lah, tiba-tiba dunia yang ia lihat berputar sangat kencang hingga membuat semuanya menjadi hitam.
"Hah!"
Arthur terbangun dengan bulir keringat membanjiri tubuhnya, membuat kain tipis yang membalut tubuhnya sudah basah kuyup. Ini bukan pertama kalinya Arthur melihat sesuatu yang mengerikan dalam mimpi. Ia pernah memimpikan wanita yang tersenyum lembut dalam mimpinya, dan wanita itu adalah Calista. Setelah itu ia memimpikan wanita yang tampak berwajah tegas dengan tubuh berdarah-darah, dan belakangan Arthur mengenal wanita itu dengan nama Athea Arley.
Mimpi memang hanya sekadar mimpi. Namun, ia juga terkadang harus mempertimbangkannya. Seperti ketika ia memimpikan Calista dan Athea. Ia menikahi keduanya bukan semata-mata hasratnya sebagai seorang raja, tetapi juga karena ia merasa ada petunjuk dalam mimpinya. Apalagi, jika dipikir-pikir lagi, sepertinya Alexa tampak mengenal Calista. Sorot mata yang Alexa tunjukkan saat menatap Calista tampak begitu ketakutan seolah Calista adalah sosok mengerikan. Padahal, seharusnya keduanya belum pernah bertemu, berhubung Athea bukan berasal dari Adney Land sedangkan Calista sendiri selalu berdiam di kediamannya.
Calista adalah karakteristik wanita bangsawan yang anggun dan tidak banyak gaya. Dia adalah sosok yang sangat idealis untuk menjadi ratu. Hanya saja, kala itu sang ibu menentang pengangkatannya karena latar belakang Calista. Maka dari itu, Arthur berusaha mencari wanita lain dan muncullah Athea dalam mimpinya yang membuat Arthur tertarik. Baginya, sosok seperti Athea 'lah wanita yang paling berhak menjadi ibu negara.
Pemikirannya itu juga langsung terbukti ketika semalam Athea mendatanginya. Wanita itu ternyata lebih sigap dalam mencerna suatu kejadian politik dan konflik. Meski Arthur selalu memperhitungkan mimpinya, tetapi juga tidak bisa asal menelannya begitu saja. Arthur masih ingin melihat bagaimana cara Athea meyakinkannya. Meski jika dibilang terkadang kepala Athea butuh sedikit pembenahan karena terus mengaku sebagai orang yang berasal dari dunia lain.
Tiba-tiba jika mengingat hal itu membuat Arthur tersenyum geli sendiri. Pria itu bahkan melupakan mimpi buruknya barusan.
"Athea, kau sangat menarik."
***
"Apa?! Ucapara pengangkatan sebagai ratu? Apa aku tidak salah dengar?" Alexa memekik heran ketika seorang kepala pelayan yang masih muda mendatanginya.
Perempuan bernama Yoana itu segera mengangguk tegas. Di belakangnya bahkan sudah terdapat beberapa pelayan lain yang mulai sekarang akan menjadi pelayan di kediaman Alexa. Mendengar berita ini seketika kepala Alexa menjadi pusing mendadak. Sepertinya, dia harus menemui Arthur lagi. Berita ini terlalu tiba-tiba bahkan di saat dia baru saja terbangun dari tidur. Membuat pagi Alexa buruk saja setelah mimpi buruk semalam.
Alexa berjalan diiringi Monareta dan Yoana beserta bawahan lain yang jumlahnya sekitar enam pelayan wanita, dua pelayan laki-laki dan dua prajurit penjaga. Sebenarnya Alexa sudah bilang untuk tidak perlu mengikutinya, tetapi para pelayan itu terlalu keras kepala. Bahkan, titah Alexa saja tidak diindahkan. Bukankah itu menyebalkan?
Begitu memasuki aula istana kaisar hendak menuju ruang kerja Arthur, seorang pelayan pria mencegat langkah Alexa.
"Hormat kami, Yang Mulia. Akan tetapi Yang Mulia Raja masih di dalam bersama Yang Mulia Selir."
Mendengar itu, tiba-tiba sebuah hantaman abstrak sangat menyesakkan d**a Alexa. Napasnya mulai kembang kempis, tetapi Alexa memilih memejamkan mata dan menahan gejolak membara dalam dirinya. Perasaan aneh yang tak mampu ia definisikan, tetapi sangat tidak nyaman. Alexa kembali menatap sang pelayan dan mengangguk.
"Baiklah, katakan pada Yang Mulia Raja aku akan kembali."
Awalnya, Alexa ingin pulang kembali ke kediamannya. Meski egonya menuntut untuk masuk begitu saja. Namun, belum sempat bergerak dari tempatnya, pintu ruangan itu terbuka, menampakkan sosok sang protagonis wanita yang melangkah anggun. Tatapan mereka bertemu, wajah Alexa menegang sedangkan Calista langsung tersenyum tipis seraya menunduk hormat
"Yang Mulia," sapa Calista penuh kelembutan.
Namun, Alexa memilih mengacuhkannya dan berjalan melewati Calista begitu saja. Alexa tahu betul, jika sikapnya yang dilihat banyak dari Calista itu akan menjadi gunjingan di istana. Dan memang itu 'lah yang diinginkan Alexa. Ia ingin menciptakan image buruk agar semua orang membencinya dan tidak berani mendekatinya. Semata-mata agar dirinya tidak terlibat terlalu dalam mengenai politik kerajaan. Satu-satunya hal yang sedang Alexa perjuangkan adalah kepercayaan Arthur dan meminimalisir kemungkinan pemberontakan. Ia tak ingin tahu masalah jabatan dalam dunia harem, tetapi ia tak boleh diam jika gelar ratu akan dijatuhkan padanya. Alexa tidak ingin menjadi ratu apa pun alasannya.
"Yang Mulia," sapa Alexa tanpa menunduk hormat.
Wanita itu langsung mendekati Arthur yang tampak sedang serius memeriksa berkas di balik meja kerjanya. Suara Alexa lantas membuat wajah Arthur mendongak. Tatapan mereka bertemu, tetapi Alexa segera menusuk mata pria itu dengan manik legamnya.
"Apa-apaan ini?"
Sebelah alis Arthur terangkat. Bertanya sekaligus meminta penjelasan atas kalimat yang dilontarkan Alexa.
"Mengapa Anda mengangkatku menjadi ratu?" sungut Alexa seraya melipat kedua tangan di depan d**a. "Aku tidak mau. Berikan saja gelar itu pada Selir Calista. Bukankah dia wanita kesayanganmu?"
Arthur tidak tahu mengapa Alexa bisa berpikir seperti itu. Namun, pemikirannya lucu juga. Bahkan, satu istana saja sudah tidak pernah beranggapan demikian. Entah wanita ini terlalu kolot mengikuti rumor atau bagaimana.
"Jika aku bisa, sudah kulakukan sejak dulu." Arthur tidak berbohong. Meski tidak memiliki perasaan pada Calista, tetapi ia sempat berpikir menjadikannya ratu andai saja tidak tidak ada tentangan dari sang ibunda atau pun mimpi tentang wajah Athea.
Satu kalimat yang dilontarkan Arthur itu entah mengapa membuat dalam diri Alexa terasa terbakar. Mendadak ia menjadi gerah tanpa sebab. Alih-alih merasa puas karena ada niatan untuk menjadikan Calista sebagai ratu, Alexa malah bertambah kesal.
"Lalu kenapa tidak kau angkat saja Selir kesayanganmu itu?" cerca Alexa semakin ketus.
"Sudah kubilang, aku tidak bisa melakukannya."
Mendengkus sejenak, Alexa menatap kesal Arthur. "Apa kau hutuh bantuanku? Akan kubantu kau mengangkat Calista sebagai ratu. Bagaimana, kau puas?"
Alih-alih mengiyakan atau menolak, Arthur malah tampak terkekeh.
"Nyonya Leyton, Anda sedang menawarkan bantuan atau sedang menegaskan posisi ratu untuk Anda? Mengapa Anda tampak sangat kesal,? Apakah Anda merasa cemburu karena Selir Calista lebih dulu menemuiku, hm?"
Alexa seketika terdiam, dalam hitungan detik wajah kusutnya langsung berubah gugup. Tangannya juga langsung melurus di sisi tubuh. Matanya mengerjap, kelerengnya bergulir menghindari tatapan Arthur.
"Si-siapa yang cemburu? Aku sungguh-sungguh ingin membantumu mengangkat Selur Calista sebagai ratu!"
"Katakan padaku, mengapa?"
"Mengapa bagaimana?"
"Mengapa kau tidak mengatakan dari awal jika kau memang mengincar posisi ratu? Tahu begitu, aku akan mengangkatku sejak hari pernikahan kita. Saking senangnya, sampai bersusah payah mendatangiku untuk memastikan."
Kedua mata Alexa membelalak nyaris menggelinding. Sungguh, Alexa tidak paham. Bagaimana cara berpikir Arthur ini?