Setelah makan malam yang sangat akward, Alexa segera menarik tangan Arthur. Ya, sangat lancang memang, tetapi ia tak punya waktu lebih lama untuk tinggal di sini. Alexa tidak mau mati di kuburan Athea si antagonis. Langkah kakinya membawa mereka ke sebuah ruangan kosong yang gelap. Alexa memaksa Arthur masuk ke dalam tanpa susah payah lalu menutup pintu ruangan itu, membiarkan suasana di sana gelap dengan hanya tampak semburat samar dari cahaya rembulan yang menyusup melalui celah jendela.
Alexa menatap tegas wajah Arthur yang tampak samar, tetapi rambut peraknya sesekali tampak berkilau ketika terkena cahaya samar. Keunikan fisik sekaligus daya tarik Arthur itu membuat Alexa nyaris hilang fokus andai kesadaran tidak segera menamparnya.
"Mengapa kau mengajakku ke tempat sepi, Nyonya Leyton?"
"Hish!" Alexa berdecak kesal. "Kuperingatkan padamu, kita sudah membahas ini sejak awal. Kau dan aku, kita tidak bisa bersama."
"Kenapa?"
"Kenapa?!" ulang Alexa dengan wajah frustasi. "Bagaimana caraku memberitahumu? Kau tidak melihat apa yang bisa aku lihat. Kita memiliki jalan yang berbeda dan tidak akan pernah bersatu. Kau bisa hidup sebagai diktator sesuai kemauanmu, pun kau tidak perlu ikut campur dalam hidupku. Kau tahu, bersamamu aku hanya akan menerima kemalangan!"
"Jika begitu, bukankah itu menandakan kau adalah wanita lemah? Kau bahkan tidak mempercayai dirimu sendiri untuk melawan apa yang kau percayai. Biar pun aku tidak melihat bagaimana caramu melihat, tapi aku lebih mempercayai caraku melihat dengan mataku sendiri."
Maksud dari Arthur adalah mereka memang berbeda cara melihat dunia. Barang kali Arthur adalah batu es yang dingin dan keras, sedangkan Alexa adalah air yang tak tetap, kadang beriak kadang tenang, tetapi mampu menerima hantaman dari batu sebesar apa pun. Yang ada dalam pikiran Arthur adalah Alexa tidak menyukai cara kepemimpinan dan kehidupannya. Itu adalah hal wajar karena tidak ada yang benar-benar menyukainya. Bahkan, satu-satunya orang yang benar-benar menyayanginya hanya 'lah sang ibu. Para pejabat hingga rakyat, banyak yang membencinya karena perbedaan fisik yang pertama dan rumor tentang Arthur yang membunuh saudara dan ayahnya demi kekuasaan. Arthur pun tidak berharap disukai Alexa, hanya saja pria itu ingin menegaskan, bahwa dirinya juga mempunyai pandangan tersendiri, makanya memilih Alexa sebagai permaisuri.
Jika Arthur mengartikan kata 'melihat' dengan ungkapan kiasan. Maka kata 'melihat' yang dimaksud Alexa adalah benar-benar dengan mata. Pasalnya, Alexa sudah membaca kisah Arthur dan Athea, pasangan tokoh antagonis yang akan berakhir tragis. Intinya, mereka tidak berjodoh. Meski Alexa sempat terharu dengan kisah cinta Arthur dan Athea, tetapi tetap saja jika dia menjadi salah satu di antara mereka, Alexa akan berusaha agar mencegah kejadian itu terjadi. Salah satunya dengan menghindari jatuh cinta. Dilarang tertarik pada Arthur, apalagi berdekatan dengan pria itu. Begitu 'lah yang dipikirkan Alexa.
"Kau tidak memahami ucapanku, Yang Mulia Raja," geram Alexa sampai mengusap wajah gusar. Wajah wanita itu mendongak, sekali lagi menatap tegas ke manik biru yang tampak begitu dalam. "Ini memang sulit dipahami, tapi percayalah padaku, kita tidak berjodoh. Ceraikan aku, dan aku anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Untuk urusan kerajaan aku—"
"Membunuh semuanya."
Kening Alexa langsung mengernyit. "Apa?"
"Jika kau menolak pernikahan ini, aku akan membunuh semua penduduk Ackerley dan akan kubumihanguskan semuanya. Keluarga kerajaan, pejabat, sampai rakyatmu, akan kubinasakan semua. Apakah sampai di sini kau mengerti makna pernikahan kita?"
Mendengar itu, alih-alih takut, Alexa malah berdecak kesal sambil berkacak pinggang. Wanita itu menghela napas panjang dan berat. Berpikir sejenak sambil merangkai kata-kata yang sesuai untuk memberikan pemahaman pada pria tampan, kejam sekaligus dungu ini.
"Kau tidak mengerti. Begini, jika aku memberitahumu apa yang kuketahui tanpa bukti, kau tidak akan mempercayainya, bukan? Jadi, aku—"
"Tepat!" Arthur menyahut sambil menjentikkan jari di depan wajah Alexa. Sepasang mata aquamarine itu menatap tegas pada Alexa. "Aku tidak akan percaya ucapan tanpa bukti. Jadi, jika ucapanmu memang benar, buktikanlah."
Setelah berkata demikian, Arthur segera pergi dari ruangan itu, membiarkan Alexa yang termenung di tempatnya. Alexa baru sadar, ia memang salah besar jika meminta perceraian tanpa sebab dan alasan yang tidak berdasar. Tentu, Alexa mengetahui betul bagaimana sifat Arthur, meski sangat manipulatif, tetapi sisi positif dari pria itu adalah selalu memperhatikan berbagai detail terkecil hingga terumit. Sayangnya, pria itu tidak bisa menghitung perasaan sehingga membuatnya malah terjerat cinta pada wanita yang tidak tepat. Secara keseluruhan, Arthur tidak lah semenyeramkan yang digambarkan di novel.
Paling tidak, Alexa menganggap Arthur tidak menyeramkan karena sikap dingin pria itu masih lumayan bisa ditahan. Arthur tidak benar-benar membunuh dengan tangannya, masih membiarkan Axton hidup, dengan dua hal itu Alexa percaya, Arthur masih memiliki hati dan otak yang waras. Nah, mumpung otak dan hatinya belum tercemari cinta buta pada Calista si selir protagonis munafik, Alexa harus segera bertindak cepat untuk membuktikan ucapannya.
"Ah, tidak! Jangan membuktikan kisah novel terkutuk itu. Tapi mencegah kesialan menimpaku. Lebih tepatnya, aku harus membuka kedok Calista dan Caden."
Kerutan di kening Alexa semakin dalam. Kini ia sudah menemukan titik terang dalam masalahnya. Dengan tatapan penuh keyakinan, Alexa mengepalkan tangan sebagai bentuk tekadnya yang benar-benar bulat.
"Ya! Aku harus menghancurkan Caden sebelum dia menjadi pemberontak."
***
Arthur adalah pria bangsawan, berkelas dan tampak elegan. Sikap dinginnya yang terkesan tak berperasaan itu diimbangi dengan wibawa besar sebagai pemimpin negara. Wajah tegas dan tatapan bak elang yang sangat menusuk adalah tantangan terbesar yang nyaris tak terpatahkan. Ketika kerajaan dipenuhi gemerlap kemewahan, pria itu terlalu sibuk dengan berbagai gulungan parkemen. Menjalin hubungan baik dengannya bukan hal mudah, selain dengan harga jual dan beli, laba dan rugi. Dengan kata lain, Arthur memang tidak pernah mengandalkan ketulusan dalam setiap tindakannya, melainkan sebuah transaksi.
Setelah kejadian di gudang dua hari yang lalu, Alexa yang telah ditinggal sang kakak kembali ke Ackerley mau tak mau harus menjalani kehidupan sebagai Athea sang permaisuri raja. Meski penobatan sebagai ratu belum dilaksanakan, tetapi sudah mulai banyak pula para bangsawan yang mengunjunginya. Tentu saja dalam artian 'bertransaksi' sebagaimana yang memang biasa terjadi di istana. Kebanyakan dari bangsawan itu berasal dari menteri kanan, yang berpihak pada ibu suri. Tentu saja, mereka berlomba-lomba menjalin hubungan baik dengan Alexa agar mampu meraih dukungan dari Ackerley. Sekali lagi, hubungan apa pun yang terjalin di istana semata-mata adalah transaksi. Jarang memang menemukan simbiosis mutualisme yang benar-benar saling menguntungkan satu sama lain. Namun, Alexa juga tidak bisa menjadi batu di dalam beras, atau ia akan terbuang.
Melakukan transaksi dengan para bangsawan memang bisa memperkuat posisinya sebagai ratu. Namun, hal paling penting di sini adalah transaksi dengan Arthur. Pria itu tidak akan bertransaksi dengan harga murah, maka dari itu, Alexa mulai mempelajari beberapa peta daerah dan catatan kriminal hingga keuangan.
"Yang Mulia, Anda sudah tidak tidur semalaman dan terus membaca banyak buku. Tidakkah Anda ingin beristirahat? Lihatlah, kantung mata Anda." Monareta berkata dengan cemas.
Ah, ya wanita itu selalu melayani Alexa dengan baik. Hanya satu hal yang bisa disyukuri Alexa terdampar di dunia fiksi yang antah berantah ini adalah ia memiliki seorang pelayan yang loyal seperti Monareta. Alih-alih sebagai pelayan, justru Alexa menganggap dan merasa Monareta adalah sosok teman sekaligus kakak yang sangat keibuan. Ini mungkin ikatan batin yang terjalin selama bertahun-tahun hubungan majikan-pekerja antara mereka.
"Huwah ...."
Alexa menguap lebar seraya menggulung parkemen laporan keuangan. Di atas meja juga sudah terhampar peta seluruh dunia dari bentang timur ke barat hingga utara ke selatan. Ada beberapa gambar yang sudah Alexa coret-coret di atas sana. Selama dua hari ini, Alexa menimbang dan mengingat tempat-tempat kejadian penting dalam novel seperti perang saudara dan markas-markas si protagonis. Sayangnya, dari beberapa tempat yang ada dalam novel, tidak ada yang disebutkan dengan jelas nama tempatnya.
Dalam novel itu sendiri hanya diberikan clue-clue berupa karakteristik geografis daerah, kebiasaan penduduknya atau ciri khas budaya di daerah itu. Hanya satu nama daerah yang benar-benar tertulis dalam novel sebagai markas besar ke tiga kelompok pemberontak Caden, yaitu daerah Silline. Silline adalah kebupaten yang terletak di Provinsi Utara yang berbatasan laut dengan Kerajaan Haloya Raya. Di mana daerah itu adalah daerah rawan yang memiliki penjagaan ketat dari pasukan Marga Dalton yang tak lain adalah pasukan keluarga Caden.
Perbatasan yang katanya dipenuhi rakyat miskin dan korupsi merajalela sehingga Caden yang berkedok menegakkan keadilan dan kesejahteraan mendapatkan banyak simpatisme rakyat yang sangat banyak dari sana. Jadi, bisa dibilang daerah Silline ini adalah pemasok anggota dan dukungan gerakan pemberontak Caden.
Untuk sementara, Alexa kira argumen yang telah ia kumpulkan sudah cukup. Dia akan menemui Arthur untuk membuat kesepakatan dengan pria itu.
"Aku sangat mengantuk, tapi harus tetap bertahan hidup." Sekali lagi Alexa menguap.
Dengan wajah sayu dan kurang istirahat, Alexa hendak menemui Arthur bersama peta yang telah ia coret-coret tadi. Namun, langkahnya terhenti oleh Monareta yang berdiri di depannya dengan wajah menunduk. Tindakan pelayannya itu sontak membuat Alexa mengernyit bingung.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ya-yang Mulia, bukankah akan menjadi bahan olokan jika Anda menemui kaisar tanpa membersihkan diri terlebih dahulu?"
Hampir saja Alexa menjawab ucapan Monareta dengan jawaban persetan. Namun, Alexa segera tersadar, bahwa apa yang dikatakan Monareta tidak lah salah. Alexa memang harus membangun image yang tegas dan berkelas. Karakter jahat Athea memang sedikit mirip dengan karakter keras Alexa. Alexa tak ingin menjadi jahat sehingga mencintai pria dalam karma. Melainkan ia akan mengubah nasib mereka dengan sifat dasarnya. Tidak harus menjadi wanita lembut untuk menjadi tokoh utama. Alexa hanya harus membedakan mana benar dan mana yang salah serta menegaskan mana musuh dan kawan.
Alexa segera membersihkan badan dan memakai pakaian terbaik. Ia sangat bersemangat mengunjungi ruang kerja Arthur. Namun, tak ada seorang pun di sana. Meski tak bertemu Arthur, tetapi Alexa memilih untuk menunggu pria itu datang. Sialnya, bahkan sampai malam pun Arthur masih belum pulang.
"Yang Mulia, tidakkah lebih baik kita pulang lebih dulu?" bujuk Monareta entah kali ke berapa. Namun, selalu mendapatkan penolakan yang sama dari Alexa. Pada akhirnya sang pelayan hanya bisa pasrah.
Saking lamanya menunggu, tanpa sadar Alexa nyaris terlelap di sofa panjang Arthur. Namun, sejenak ia seperti tersentak dan segera sadar tatkala bunyi derit pintu bersamaan dengan pergerakan benda itu. Alexa segera menegakkan tubuh, tetapi betapa terkejutnya ia kala mendapati Arthur masuk dengan tubuh penuh dengan darah dan bau anyir yang sangat menyengat. Melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu, sontak Alexa langsung menjerit sekeras-kerasnya.
"Aaa ...!"