Part 4. Melampiaskan Emosi

1178 Words
“Ah.., anu. Halo senior,” sapa Risa merasa malu. “Tapi bisa-bisanya orang itu membiarkan dia syuting di cuaca dingin seperti ini?” pikir Sky yang kesal mengingatnya. “Saya Risa Marina yang berperan sebagai Laura,” ucap Risa memperkenalkan diri. “Dia terlihat berantakan,” pikir Sky lagi. “Maaf, karena saya baru menyapa senior sekarang,” sambung Risa. “Dasar Sutradara Edwin,” batin Sky yang kesal. Risa tampak bingung karena dari tadi tidak mendapat respon dari Sky. “Kenapa dia nggak ngomong apa-apa? Apa dia mendengar perkataanku tadi?” pikir Risa yang menundukkan wajahnya. “Satu tahun yang lalu juga sama seperti ini. Kenapa aku selalu menunjukkan diriku yang seperti ini?” batin Risa yang sudah sangat malu menunjukkan sisi buruknya di depan Sky. “Risa Marina..!!” panggil Sky. “Ah, iya,” ucap Risa yang kembali menatap ke arah Sky. Sky mengambil jaket Risa yang terjatuh dan membersihkannya dari debu. Lalu memakaikannya kembali ke tubuh Risa. “Jaketmu jatuh,” ucap Sky setelah lama diam. “Ah.., iya. Te-terima kasih,” ucap Risa terbata-bata. Sky menatap ke arah Risa, “Dia bahkan nggak bisa bicara dengan benar karena mulutnya membeku. Bisa gawat, kalau dia melanjutkan syutingnya dalam kondisi seperti ini,” pikir Sky. “Risa Marina,” panggil Sky kembali. “Iya.” “Asrama pak sutradara ada di sana, kau bisa menghadap kesana. Kalau kau mau mengatainya,” ucap Sky menuju ke arah salah satu bangunan. “Se-senior bukan itu maksud saya. Kata-kata itu bukan untuk pak sutradara,” ucap Risa yang berusaha membantahnya. “Dia sudah mendengarnya,” batin Risa yang malu. “Tidak apa-apa kok. Aku mengerti situasimu,” ucap Sky. “Ah.., tunggu dulu. Ini bukan seperti yang senior pikirkan,” ucap Risa yang mulai panik. “Tidak bisa seperti ini, aku akan menyampaikannya langsung ke pak sutradara,” ucap Sky yang berniat meninggalkan Risa. “Senior, jangan!!” pinta Risa memohon. Sejenak Sky menoleh kembali ke arah Risa. “Sekarang suaranya sudah membaik.” “Ah.., tunggu senior. Perkataan itu sungguh benar-benar bukan untuk pak sutradara,” ucap Risa sambil menghapus air matanya. Sekilas Sky teringat dengan wanita yang pernah dia lihat. “Tunggu..!! Setelah dilihat-lihat.” Sky mendekatkan wajah ke arah wajah Risa. “Risa..” pekik Mina yang baru saja sampai. “Kakak..,” Risa menoleh ke arah Mina. “Bagus, pas banget kau sudah keluar,” ucap Mina berlari ke arah Risa. “Halo,” sapa Sky pada Mina. “Wah..!! Sky Collins,” batin Mina yang baru melihat jelas. “Ah!! Halo, Sky Collins,” sapa balik Mina. “Ah, halo juga,” ucap Sky sedikit membungkukkan tubuhnya. “Kenalkan saya manajer Risa Marina,” ucap Mina memperkenalkan diri. “Ah, iya,” jawab singkat Sky. “Saya mau mengobrol lebih lama, tapi Risa harus segera kembali syuting.” Mina tampak tersenyum ramah. “Ah, baik,” jawab Sky kembali. “Risa, ayo cepat! Pak sutradara sudah kembali dan menunggumu,” ucap Mina. “Apa? Sungguh?!” Sejenak Risa menoleh ke arah Sky. “Senior, kalau begitu. Saya pamit pergi duluan ya,” ucap Risa berpamitan. Risa pergi meninggalkan Sky yang masih terus menatapnya sambil menyebut namanya. “Risa Marina. Kenapa aku selalu merasa deja vu, sejak aku melihatnya di pernikahan Keisha ya?” Sejenak Sky teringat kembali pertemuan dengan seorang wanita di lokasi syuting waktu itu, “Oh..!! Dia wanita yang waktu itu? Berarti ini adalah pertemuan kami yang ketiga. Ada apa dengan perempuan itu? Dia selalu menangis setiap kali aku melihatnya.” “Pak sutradara, mohon maaf. Saya sudah membuat bapak menunggu,” ucap Risa tak enak hati. “Kenapa? Kau kan masih sisa 1 menit lagi. Sekalian saja datang pas istirahatmu selesai,” gerutu Sutradara Edwin. Risa menundukkan tubuhnya, dan berusaha meminta maaf. “Maafkan saya.” “Sutradaranya datang duluan dan menungguku. Bahkan aktris pemula pun nggak akan melakukan kesalahan seperti ini,” batin Risa merasa malu. “Dengar-dengar tahun ini, tahun ke 6 kau mulai berkarir, ya?” tanya Sutradara Edwin. “Benar,” jawab singkat Risa yang masih menundukkan kepalanya. Para kru film, serta pemain lain tampak melihat ke arah mereka berdua. “Jadi, kau merasa sombong. Karena ini tahun ke 6 mu? Karena kau sudah 6 tahun. Jadi sutradaranya harus datang duluan menunggumu yang lagi istirahat, begitu?” “Bu-bukan begitu, pak.” Risa berusaha membantah. “Jadi ini alasannya karirmu nggak pernah naik selama 6 tahun?” Sutradara Edwin tampak santai berbicara seperti itu. “JLEB..!!” Perkataan itu seakan menyakitkan Risa. “Ini pertama kali saya melakukan kesalahan seperti ini. Saya juga biasanya tidak banyak mengulang syuting. Tapi saya tidak tahu, kenapa hari ini saya begini? Rasanya aku ingin mengatakan hal itu, tapi itu cuma akan menjadi alasan bodoh. Kenapa aku tidak bisa memainkan peranku sebagai Laura dengan baik,” pikir Risa yang tak berani mengungkapkan perasaannya. Sutradara Edwin mengeluarkan sepuntung rokok, dan hendak menyalakannya. “Ada banyak aktris sepertimu. Padahal kalian cuma memenuhi peran kecil saja. Tapi kalian merasa hebat, dan menjadi sombong.” Belum sempat rokok itu menyala, rokok tersebut diambil seseorang. Hingga Sutradara Edwin hendak marah. “A-apa?!” “Kenapa bapak melampiaskan stress anda sendiri ke orang lain? Sudah aku bilang buang saja Mario dan bawa Calvin kembali,” ucap Sky yang ternyata memegang rokok Sutradara Edwin. “Sky, apa yang kau lakukan? Bukannya tadi kau bilang nggak mau syuting dan pergi. Kenapa tiba-tiba kau datang dan membuat keributan?” ucap Sutradara Edwin yang tak terima. “Pak sutradara sendiri juga, apa yang sedang bapak lakukan? Jam segini bapak mau syuting beberapa kali lagi?” ucap Sky yang bertanya balik. Kemudian Sutradara Edwin merampas kembali rokoknya. “Orang yang sudah menolak syuting tidak berhak berbicara disini,” pekik Sutradara Edwin yang emosi. “Hei kau! Cepat siap-siap syuting,” perintah Sutradara Edwin. “Ah, baik,” jawab Risa yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. “Apa cara protesmu sudah berubah sekarang, ya? Kau mau buat sutradara malu di hadapan yang lain,” ujar Sutradara Edwin. “Mana mungkin. Kalau memang itu niatku, aku nggak mungkin berhenti disini,” jawab Sky. “Sialan..!!” umpat Sutradara Edwin. “Kak, apa aktris yang memerankan Laura itu, dia dari sekolah akting?” tanya Sky yang penasaran. “Entahlah, kayaknya awalnya dia audisi untuk peran Kania,” jawab Sutradara Edwin yang masih menatap ke arah Risa terlihat bersiap-siap untuk memulai aktingnya. Dia memberikan jaketnya ke Mina. “Jadi bapak sudah pernah mengaudisinya? Apa maksudnya itu? Bapak tidak tahu akting aktris yang bapak audisi sendiri?” tanya Sky sambil melirik ke arah sutradara. “Kau kira aku bisa ingat semua orang yang audisi? Aku sudah pusing gara-gara masalah Calvin jadi aku menyuruh tim produksi memilih aktrisnya sendiri, dan dia memilih anak itu. Aku tidak sangka masih ada aktris yang sudah berkarir selama 6 tahun, tapi masih suka nggak fokus di depan kamera,” ucap Sutradara Edwin. Mendengar itu, Sky tampak terkejut dan menatap ke arah sutradara. “6 tahun sudah lama juga. Tapi kenapa saya nggak ingat pernah melihatnya di film atau drama lain?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD