bc

Mastering Him

book_age16+
717
FOLLOW
7.6K
READ
possessive
fated
second chance
friends to lovers
arrogant
manipulative
drama
sweet
bxg
like
intro-logo
Blurb

Cyntia Zahrah bisa dekat bahkan jatuh cinta pada Ilham Bentrand berkat sebuah aplikasi berkirim surat. Dua tahun ia lewati dengan harap Ilham akan mengajaknya keluar dari dunia maya dan menjadikan dirinya si satu-satunya hanya untuk menyerah dan patah hati berkali-kali. Ia justru menemukan dirinya hanya dianggap teman chat bagi cowok itu. Sekali lagi ... setelah melalui dua tahun dengan menunggu Ilham membalas chat, melakukan panggilan video sampai pagi menjelang dan sesekali jalan berdua Cyntia baru sadar bahwa dirinya tidak begitu penting.

Keputusan untuk move on semakin bulat ketika ia terus dipertemukan dengan Ilham dalam kejadian demi kejadian yang tidak mengenakkan, kejadian-kejadian yang membuatnya mempertanyakan pada dirinya sendiri kepantasan untuk menjadi si satu-satunya milik Ilham. Kemudian pada satu malam, malam yang kelewat normal dimana bintang-bintang masih berada ditempatnya dan bulan masih malu-malu untuk muncul, Ilham mendatanginya dengan sebuah lamaran. Apa yang tidak ia mengerti adalah kenapa harus lamaran yang ia dapat ketika Ilham sudah mengetahui masa lalunya yang satu orangpun tidak akan sukai?

Setelah kejadian malam itu akhirnya Cyntia benar-benar selalu mendapati orang yang ia sukai tepat di depan matanya, yang wanginya bisa ia cium dengan jelas. Orang yang ternyata jika dipandang langsung lebih menyenangkan alih-alih memandang fotonya yang Cyntia koleksi.

Di awal, cerita ini terasa sangat membosankan bagi orang lain karena mereka pikir, manusia mana yang bisa jatuh cinta pada seseorang yang hanya ada di dalam ponselnya? Mereka hanya tidak tau bahwa Cyntia merasakan degub yang sama dengan gadis lain yang jatuh cinta pada rekan kerjanya, pada teman sekelasnya, pada anak fakultas sebelah, pada kakak tingkatnya atau pada seseorang yang dijodohkan dengannya. Cinta, bagaimanapun caranya datang, efeknya tetap sama. Sama-sama mendebarkan. Sama-sama menyenangkan. Dan sama-sama menimbulkan gelenyar aneh saat di pandang oleh dia yang dicinta.

Cover : wede

Gambar : pixabay

chap-preview
Free preview
1
Banyak yang berubah sejak enam tahun lalu, atau justru semuanya? Entahlah, gadis itu tidak mau mengingat hal-hal konyol maupun yang menyenangkan dimasa lalunya. Karena berdasarkan pengalaman, mengingat kembali adalah kegiatan yang menguras tenaga, juga mampu menghadirkan emosi yang harusnya terkubur rapi. Lampu kamar sengaja dipadamkan agar kali ini ia bisa mendapatkan tidur yang berkualitas seperti kemaren. Dalam keadaan kamar yang gelap, gadis itu memastikan posisi bantalnya sudah pas kemudian mengoleskan lotion anti nyamuk pada tangan dan kakinya. “Lampu itu rusak lagikah?” gumamnya sambil melihat lampu jalan yang terlihat berkedip-kedip dari jendela kamarnya. Cyntia Zahrah benci nyamuk dan sekarang ia sudah aman dari hewan menjijikkan satu itu. Gadis yang sudah berbaring dengan setengah tubuhnya berada di balik selimut tersebut kemudian mengambil hapenya, membuka aplikasi w******p tepatnya satu-satunya kolom chat yang selalu berada paling atas. Cyntia menghela napas gusar, last seen dua belas menit yang lalu namun chat yang ia kirim tadi siang masih belum dibalas. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak. “Sebenarnya dia maunya apa?” tanya gadis itu pada layar yang menunjukkan wajah seseorang. “Seenggaknya nyalain lampunya. Dan apa lagi yang dia lakuin sampai lo harus ganggu hidup gue? Serius Cin, besok gue harus datang awal, gue ga mau duduk paling depan dengan asdos sok kegantengan yang selalu merasa kalo gue selalu curang! Gue harap sesi konseling kita hari ini ga akan lebih dari lima belas menit.” Ucap teman curhatnya Icin sebal. Ia padahal ingin tidur awal supaya bisa bangun jam tigaan agar bisa belajar lagi. “Lo tau ga kapan terakhir dia buka WA? Dua belas menit yang lalu atau sekarang mungkin empat belas menit yang lalu. Dan dia sama sekali ga read WA gue, lo paham kan sakitnya dimana?” Dari kamarnya disana, Quincy Maharani menatap datar pada salah satu teman baiknya sejak SMA. Sekarang temannya itu malah bersikap seperti cewek paling merana sedunia hanya karena tidak dibalas WA oleh orang yang statusnya pun tidak jelas. Keduanya memang tipe orang tidak jelas sih, makanya cocok. Icin bahkan tidak pernah merasa hidupnya dihantui oleh asdos sok kegantengan yang selalu menyiksanya dari awal perkenalan seperti yang dialami oleh Queen. “Lo mau gue nanyi lagunya si mbak itu? A- a- sakitnya tuh dis-” “Gue maunya Ilham Bentrand peka, itu aja udah,” teriak Icin mengagalkan rencana Queen menyanyi dengan suara merdunya. “Cin, lo serius? Harusnya elo yang peka!” teriak Queen emosi. Kenapa Icin tidak berjodoh saja dengan asdosnya Queen kemudian mereka menghilang saja seperti di telan bumi? Tuhan pasti sangat sayang pada Queen jika semua itu terjadi. “Kenapa jadi gue?” “Memangnya menurut lo apa yang ada di kepala Ilham saat cewek yang sejak SMA, dengan geng gila –tuh kan? Gara-gara elo gue jadi ngejek geng sendiri! –jadi giniloh Icin zeyeng, Ilham sadar seratus persen kalo elo adalah eswe dan-” “Lo pikir Ilham ganteng kesayangan gue tukang mabuk apa? Ya iyalah dia sadar.” “Dengerin dulu atau gue tidur nih? Heran, selalu aja gue harus ngancam lo duluan supaya omongan gue bisa didenger sampai tuntas.” “Maafkan hamba yang mulia ratu,” ejek Icin kemudian meletakkan hapenya di atas meja dengan kamus bahasa Inggris sebagai tumpuan. Padahal tadi bahkan sudah mengatur posisi bantal, yang katanya mau tidur. “Dan sekarang lo terkesan mepet dia banget gitu, Cin. Lo pikir Ilham ga akan curiga? Karena kalo Ilham ganteng kesayangan lo itu ga bodoh, dia pasti mikir lo sengaja deketin dia demi Shakka.” “Dulu gue Cuma ikutan elo! Elo yang sampai sekarang suka sama Shakka Orlando Padmaja si sinting itu. Dan Queen, lo tau banget kalo gue betah sama geng kita karena gue senang temenan sama kalian,” ucap Icin setelah sebelumnya ia membenarkan dalam hati apa yang temannya katakan. “Oh iya, ya? Gue sampai lupa sama siapa yang dulu antusias banget nyetak spanduk ala-ala caleg.” “Itu karena gue terlalu mendalami peran aja, karena dulu kalo kita ngaku suka sama Shakka kesannya mewah aja gitu,” ucap Icin masih berkilah. Queen benar-benar ragu kalau temannya ini tidak pernah menaruh hati pada Shakka. Quincy memicing curiga pada layar hape yang hanya menampakkan mata dan gigi teman baiknya sejak di Bina Bangsa, “atau karena lo udah suka Ilham dari dulu?” “Ckckckck berapa kali harus gue bilang kalo dua tahun lalu saat pertama kali kenal Ilham, dia totally stranger buat gue? Lo sama temen sendiri aja ga perca-” “Aaarrrrrggggg,” Cyntia mengerang karena ternyata kuota nya habis. “Lo liat aja, Ham, ga ada cerita gue ngechat duluan sampe lo bales chat gue,” ucapnya kemudian berbaring ke kanan dan memutuskan untuk tidur. Karena jika kurang tidur, tubuh menjadi tidak fit dan jika tubuh tidak vit akan susah menghadapi Ilham Bentrand. Jadi kesimpulan premis hidup Icin adalah jika ia kurang tidur maka Ilham akan sulit untuk didapatkan. ---------------------

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Skylove (Indonesia)

read
110.2K
bc

BRAVE HEART (Indonesia)

read
91.1K
bc

Kupu Kupu Kertas#sequel BraveHeart

read
44.3K
bc

Love Match (Indonesia)

read
174.5K
bc

Everything

read
279.4K
bc

Me and My Broken Heart

read
34.8K
bc

Mas DokterKu

read
239.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook