BAB 13

1383 Words
Hari ini kelas Miller dan kelas Anna bersamaan saat jam olahraga.Kedua kelas ini saling membaur dan bermain satu sama lain.Murid pria lebih dominan bertanding basket ataupun bola.Sedangkan murid wanita lebih banyak duduk atau sekedar bermain bola lempar. Guru olahraga nampaknya tidak hadir dan membebaskan murid murid melakukan apapun yang mereka mau. Murid wanita lebih banyak duduk di tepian lapangan bola karena ada Miller disana yang sedang berlaga menguasai lapangan. “Boleh juga anak manja itu,aku kira ia hanya pandai menggesek kartu kredit ternyata boleh juga permainannya.”Anna kagum melihat kelincahan Miller menggiring bola dan bahkan mencetak gol. Saat itu,mata Miller menangkap Anna yang sedang menontonnya di pinggir lapangan. “BLINK.”Miller mengedipkan sebelah matanya. “WAHHHHHHHH.”Kedipan itu disambut teriakan histeris para murid wanita,semua merasa kedipan itu untuk diri mereka padahal untuk Anna. Anna terperanjak kaget dengan duduk menegakkan diri.’Yang benar saja,dasar Miller.’Anna tersenyum simpul karena ulah Miller.Anna lalu teringat lagi bagaimana kemarin ia berciuman dengan Miller di atas kereta gantung. Semua amat indah dan terasa romantis,Anna masih belum tahu ia akan membawa Miller ke sisi hatinya yang mana,untuk saat ini Anna belum bisa memberi kejelasan apapun. *** “Ayo ke kantin,aku akan mentraktirmu minuman.”Selesai bermain,Miller langsung menghampiri Anna. “Boleh saja,aku senang dengan traktiran.”Sahut Anna jujur. “SLAP.”Miller mencolek hidung mencung Anna dengan jari telunjuknya. “Kau yang selalu membuatku merasa gemas.”Ujar Miller memberi penjelasan atas sikapnya barusan. “Ini memang takdirku yang memiliki wajah babyface dan selalu menggemaskan.Aku adalah gadis berwajah bayi yang sulit untuk dewasa secara fisik.”Anna malah membuat tingkah aneh dengan mengubah suaranya seperti anak kecil juga matanya yang berkedip seperti kelilipan. “Sudahlah,jangan sampai ulahmu membuat isi perutku harus keluar dan terkuras.” Tanggapan Miller membuat Anna semakin geli karena ia berhasil terlihat menjijikkan didepan pria idola sekolah ini dimana wanita lain berusaha secantik dan semanis mungkin tapi ia malah kelihatan aneh dengan di sengaja. Sesampainya di kantin,Anna dan Miller duduk berhadap hadapan sambil tersenyum menikmati juice dingin mereka. “Glek….Glek….Glek.”Anna melihat jakun Miller yang naik turun meneguk minumannya.Anna termenung melihat indahnya leher Miller yang jakunnya yang menonjol dengan jantan itu. “Anna.”Suara orang di sebelah Anna mengagetkan Miller dan juga Anna. Anna menoleh kesamping dan melihat yang berdiri di sebelahnya adalah Richard,anak kelas sebelah yang seangkatan dengannya.Richard termasuk dalam jajaran pria tampan dan idola di sekolah ini. “Rich,ada apa?”Tanya Anna ramah. “Begini.”Richard nampak gugup apalagi ia menjadi tontonan semua orang sekarang di area kantin itu. “Anna,aku menyuakaimu,maukah kau menjadi pacarku?!”Richard berkata dengan lantang dan rupanya ia menyatakan perasaan pada Anna. ‘Kurang ajar,apa b******n tengil ini tidak melihat aku ada di sini!’Miller mendadak kesal,jelas jelas ia tidak senang karena ia juga menaruh perasaan pada Anna. Anna menggaruk kepala belakangnya dan menatap Miller juga Richard bergantian. “Rich,begini,ini terlalu mendadak,aku masih bingung dan tidak bisa menjawab apa apa.”Anna tersenyum aneh dengan cengiran yang lebih terlihat seperti wajah menyedihkan yang di tarik ke atas. “Tidak masalah,kita bisa melakukan pendekatan terlebih dahulu.”Richard semakin maju dan mendekat pada Anna.Ia masih menekan Anna untuk menerimanya. Kali ini gunung meletus meletup kencang di hati Miller.Ia sudah tidak tahan dan membayangkan seperti tentara yang akan memborbardir Richard dengan rudal juga senjata tempur lain miliknya.Richard adalah musuh dalam pertempuran hatinya. “PRAK.”Miller memukul meja dengan kepalan tangannya lalu menatap Richard dengan tatapan angkuh. “Hei,pria pengacau,apa kau tahu kemarin aku dan Anna berciuman di taman hiburan.Kami membolos bersama  dan bersenang senang seharian.” ‘Oh My God!’Anna melongo patung dengan kelakuan Miller. “Maksudmu?”Tanya Richard aneh. “Maksudku?!Itu berarti  Anna adalah kekasihku dan kenapa juga kau masih mendekatinya!Bahkan kau bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri sekarang ini aku duduk bersama dengannya!”Miller mulai berdiri seolah ayo saja jika Richard ingin adu jotos dengannya. “Anna,apa itu betul?”Richard menjawab cerdas dengan mengalihkannya pertanyaan pada Anna lagi sekarang sekaligus menentukan siapa yang benar,Anna yang masih menggantungkan Miller atau Miller yang besar kepala dengan hubungan tanpa status. Anna menjadi tatapan sengit Miller dan Richard sekarang.’Apa yang harus aku jawab?Apa aku pura pura pingsan saja?Dua bocah ini malah membuatku seperti mainan yang mereka perebutkan dan mereka akui satu sama lain!’Anna yang menjadi rebutan para pria tampan malah dongkol sendiri. Tapi Anna senang karena Miller memang menunjukkan keseriusan dalam menyukainya. “Aku memang sedang dekat dengan Miller,kami sedang dalam tahap pendekatan yang intens.”Jawaban Anna menjadi jawaban untuk Miller dan Richard. ‘Yesss!!!Aku menang!’Seperti biasa si tuan muda merasa menang dan hebat lagi sekarang. *** “Ada apa kau kemari?Apa kau ingin berkonsulatasi hukum?Bukankah kencan kita di atur akhir pekan nanti?”William merasa aneh saat Brenda meminta untuk bertemu dengannya di depan kantor firma hukum tempatnya bekerja. “Ini,aku memasak lebih dan ingin memberimu untuk makan siang.Aku harap kau menyukainya.”Brenda menyodorkan kotak bekal yang sudah ia isi dengan masakan yang ia buat pagi pagi buta dengan susah payah. William meraih dengan canggung.”Oh,iya terima kasih.” Brenda tersenyum senang karena William mau menerimanya.”Apa kau punya acara sore nanti?Aku tahu tempat kopi yang enak tidak jauh dari sini.” “Maaf Brenda,aku harus menjemput puteriku,aku rasa aku tidak bisa.”William tahu maksud hati Brenda yang ingin mengajaknya berbincang dengan modus kopi itu. Wajah Brenda nampak kecewa dengan datar sejenak lalu memaksa harus tersenyum lagi walau pahit.”Baiklah,aku mengerti,aku juga baru ingat kalau aku ada urusan.” “Iya,aku minta maaf,tapi lain kali akan aku usahakan.”William sedih juga saat Brenda sangat rapuh mendengar penolakannya tadi. Brenda lalu pergi dan membalikkan badannya,disana nampak wajah asli Brenda yang sedih dan ingin menangis karena penolakan William tadi. Bekal makan siang yang Brenda buatkan juga William lebih memilih memberinya ke petugas keamanan.Ia tidak memiliki selera pada makanan itu dan juga masih sulit baginya menerima Brenda. *** Miller membawa Anna ke aula ruangan basket yang sepi,di tengah lapangan itu Miller menatap Anna serius. “Kau sudah tahu kan bagaimana perasaanku?Aku benar benar menyukaimu Anna.” “Kau juga tahu kan,aku ini gadis yang buruk,aku menyukai ayah angkatku dan…” “Sttt.”Miller menaruh satu jari manisnya tepat didepan bibir Anna.”Jangan katakana apapun lagi,cukup jawab saja kau mau menerimaku atau tidak?” Miller menurunkan tangannya,Miller menunggu dengan debaran jantung yang sudah kembang kempis hingga hampir meletup. “BLEKKKK.”Anna malah menjulurkan lidahnya.”Coba saja tangkap aku dulu.”Anna malah berlari meninggalkan Miller. “Baiklah,jika aku berhasil menangkapmu maka kau harus jadi milikku.”Miller menerima tantangan ini. Miller bermain kejar  kejaran dengan Anna di sekitaran lingkungan sekolah,hingga akhirnya Miller berhasil menangkap tangan Anna dan menarik Anna. “Dapat.”Nafas Miller masih terengah setelah mengejar Anna. Anna senang karena ia didapatkan oleh Miller.”Aku menyerah.” Miller dan Anna saling menatap dengan tatapan penuh cinta yang dalam,Miller membawa wajah Anna semakin dekat dengannya lalu ekspresinya yang serius itu berujung pada sengatan bibirnya yang jatuh pada bibir Anna. Miller mencium bibir Anna dengan lembut dan penuh penghayatan,ini juga menjadi tadi resminya hubungan mereka sebagai kekasih. ‘Aku merelakan perasaanku untuk Daddy terhapus untuk selamanya hari ini karena sekarang aku punya sosok lebih baik yang tulus membalas cintaku dan membuat perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan ataupun membuatku berada pada lingkar hubungan yang salah.’ *** “Anna,sebelah sini.”William menjemput Anna sore ini dan membawakan coklat kesukaan Anna. Anna berjalan bersama Miller sambil bergandengan,sesaat William tidak melihat gandengan itu karena kerumunan anak anak lain yang menutupi.Tapi saat Anna sudah semakin maju,William bisa melihat jika Miller dan Anna bergandengan dengan erat. “Daddy.”Seru Anna.Anna lalu melepas tangannya dengan Miller.”Aku pulang duluan ya.” “Iya,pulanglah dengan hati hati,aku akan meneleponmu nanti.Ingat juga kencan kita akhir pekan nanti.”Rona rona kasmaran masih bersemi antara Miller dan Anna.Keduanya seperti enggan berpisah dan masih ingin terus menempel seperti perangko dan amplop. Wajah William berubah marah dan merah padam.”Masuk cepat,tidak sepantasnya kau bergandengan seperti itu di lingkungan sekolah.”Sesaat sebelum Anna masuk kedalam mobil,William menasehati Anna dengan wajah yang masam. “Iya Daddy.”Anna manggut saja karena malas untuk berdebat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD