Ana bangun dari pembaringan saat mendengar dengkuran halus Furqon. Gadis itu menyibak selimutnya dan menatap ke arah lelaki yang kini tertidur pulas di lantai hanya beralaskan bentangan sajadah. Perlahan Ana menurunkan kakinya dan duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah Furqon yang tampak tenang dan damai saat tertidur. Aura dingin dan galak tidak lah tampak saat lelaki itu tertidur. Ana semakin bimbang. Setelah mendengar pembicaraan Furqon dan Kiai Iskandar tadi di pavilliun, Ana merasa bingung. Benarkah dia siap berpisah dari Furqon? Apakah dia siap menukar Furqon yang begitu tulus dengan playboy seperti Dewa. Meskipun Dewa sudah berjanji akan menjadikannya satu-satunya, tetapi apakan itu menjamin dia akan setia? Hati Ana gelisah. Rasa kantuk yang dia punya sudah menguap entah ke m

