Setelah membaca pesan chat dari Dewa, Ana gelisah. Gadis itu memegang ponselnya dengan kuat tanpa bermaksud membalasnya. Namun, beberapa menit kemudian, Dewa mengirimkan pesan lagi. "Jangan membuat gue menunggu lama, Ana." Kedua mata Ana membulat saat membaca pesan kedua dari Dewa. "Dasar tukang maksa," maki Ana dalam hati. Gadis itu menoleh ke arah Furqon. Dia bermaksud mengajak ustaz tampan itu untuk menemui sang buaya darat. Ana tidak mau Furqon salah paham lagi. Namun, tampaknya Furqon masih sangat sibuk berbincang dengan para ustaz dan pengurus pondok tentang konfirmasi yang baru saja disampaikannya. "Bagaimana kalau Dewa nekat ke pesantren dan membuat kekacauan? Sedangkan di sini sedang berkumpul banyak warga pondok," pikir Ana gelisah. Dia merasa seperti makan buah simalakama. Ma

