"Telepon dari siapa, Ana? Kenapa tidak diangkat?" tanya Furqon tanpa menoleh. Ustaz tampan itu fokus menyetir sambil sesekali melihat tangan Ana yang memegang erat ponselnya. "Bukan orang penting, Mas," jawab Ana yang tetap mengabaikan dering di ponselnya, hingga bunyi yang berasal dari benda pipih itu berhenti dengan sendirinya. Namun, beberapa detik kemudian, ponsel Ana berdering lagi. Sontak keduanya tanpa sengaja saling berhadapan. "Angkat, Ana siapa tahu penting," titah Furqon sembari kembali fokus menyetir. "Hanya orang iseng, Mas. Abaikan saja." Ana mengabaikan panggilan itu hingga berhenti. Namun, lagi-lagi ponselnya berbunyi. "Kalau orang iseng gak mungkin menelepon sampai tiga kali, Ana. Siapa, sih?"Furqon menoleh dengan perasaan jengkel. "Mas jangan marah, ya." "Telepon da

