"Kalau kalian tidak mau, silahkan tinggal kan perusahaan ini. Bisa aku pastikan kalian tidak akan pernah bisa bekerja di manapun nanti nya."
"Jangan sombong kau, Jasmin. Mereka sudah bekerja dengan nenek ku sejak lama. Kau tak bisa memecat mereka sesuka mu." Ucap Pandu.
"Oh ya? Tapi aku memiliki ini."
Jasmin pun mengeluarkan sesuatu dari saku baju nya. Sebuah giok khusus milik pemimpin perusahaan itu. Pandu sangat terkejut. Ia saja tak pernah memegang giok itu selama ini.
Ia hanya di izinkan melihat giok itu dan tidak pernah di perbolehkan untuk memegang nya. Pandu benar-benar tak percaya jika Jasmin malah mendapatkan kepercayaan dari nenek nya.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan benda itu ? Apa kau mencuri dari nenek ku?"
"Aku bukan pencuri seperti kalian. Nyonya Rima yang memberikan nya pada ku. Jadi, aku sudah bisa untuk memecat kalian semua jika kalian tidak ingin bekerja di sini."
Semua wajah yang ada di sana tampak tak baik. Mereka benar-benar ketakutan dan berusaha untuk menyeka keringat yang keluar.
Para pemegang saham mulai melirik satu sama lain. Siapapun yang memegang benda itu, pasti akan menjadi pemimpin mereka. Dan saat ini, Jasmin lah orang itu.
"Tidak! Ini tidak mungkin. Hey gendut. Kembalikan benda itu pada ku."
Pandu berusaha meraih giok milik nenek nya. Namun, saat ia akan mendapatkan giok itu, Jasmin menghindar sehingga Pandu pun terjatuh ke lantai.
"Jangan main-main dengan ku. Aku memang gendut. Tapi aku bisa membuat mu han-cur dalam sekejap." Bisik Jasmin di telinga Pandu.
Ia pun duduk di kursi yang ada di sana. Mata nya menatap pada semua pemegang saham yang hadir hari itu.
Tujuan rapat hari itu memang untuk membuat mereka tunduk pada nya. Selain itu, Jasmin memang ingin sekali membatalkan kerja sama nya dengan investor yang tak jelas itu.
"Nona Jasmin. Kami minta maaf. Mohon maaf kan kami. Kami janji akan berubah. Tolong jangan pecat kami."
Beberapa pria dan wanita langsung berlutut di depan Jasmin. Mereka tak bisa berkutik karena Jasmin memegang rahasia mereka semua.
"Tidak perlu seperti itu. Aku hanya lah sekretaris nya Tuan Pandu."
Ucapan Jasmin membuat Pandu kesal. Padahal tadi Jasmin begitu sombong. Tapi saat ini, ia malah mengaku sebagai sekretaris nya Pandu.
Tettt
Tet
Telolleeeeeet
Saat mereka yang ada di sana sedang serius, tiba-tiba saja ponsel milik Pandu berbunyi. Entah siapa yang mengganggu di saat penting seperti itu.
Pandu berusaha meraih ponsel nya dan mencoba mencari tahu siapa yang menghubungi nya saat itu.
"Ma-ti kan ponsel nya!"Ucap Jasmin.
"Kau tak berhak mengatur ku, Jasmin. Kau hanya sekretaris ku. Kau tidak tahu, bukan. Yang menghubungi ku ini adalah pacar ku."
Pandu masih tetap saja tidak mendengar kan apa yang dikatakan oleh Jasmin. Ia tetap mengambil ponsel itu dan berbicara dengan pacar nya yang nomor sekian.
"Halo sayang ku. Aku lagi...."
Brak
Brum.
Prak.
Belum lagi Pandu selesai bicara, ponsel nya langsung di ambil oleh Jasmin dan di lemparkan ke lantai.
Bukan itu saja. Ponsel itu pun di injak hingga han-cur.
"Jangan menguji kesabaran ku!"
"Jasmin! Ku-rang ajar kau! Ponsel kuuuuuuu. Aku baru saja membeli nya dua hari yang lalu."
"Kita belum selesai rapat tapi kau sudah sibuk pacaran. Selama ini, mana tanggung jawab mu sebagai pemimpin? Kau bahkan tak becus!"
Jasmin pun menarik tubuh Pandu dan di dudukkan di atas kursi. Pandu sudah tak ada harga diri nya di hadapan Jasmin.
"Apa mau mu?" Tanya Pandu dengan wajah kesal.
"Jadi lah seorang pemimpin yang sebenarnya!"
Pandu terdiam. Selama ini, ia tak pernah serius. Setiap kali rapat, hanya wanita yang ia bahas bersama dengan rekan nya yang lain.
Bahkan perusahaan itu sudah terkenal dengan wanita-wanita cantik nya. Banyak investor yang datang untuk bekerjasama dengan mereka demi bisa melihat wanita-wanita cantik itu.
Pandu memang tidak main-main dalam merekrut gadis-gadis pera-wan dan masih cantik.
Salah satu syarat untuk melamar di perusahaan itu adalah cantik. Jika bo-doh, masih bisa di pertimbangkan. Karena sudah terbantu dengan kecantikan.
"Aku.... Aku..."
Brak.
Jasmin memu-kul meja. Pandu sangat terkejut. Jika saja pukulan itu mengenai wajah nya, bisa di pastikan akan membengkak dalam sekejap saja.
"Rapat selesai. Semua nya bubar." Ucap Jasmin.
Mendengar kata-kata itu, Pandu ingin langsung kabur. Namun Jasmin tidak membiarkan Pandu kabur dengan mudah .
Jasmin menarik kerah baju Pandu dari belakang dengan mudah.
"Jasmin! Lepaskan aku! Aku mau pergi. Bukan kah rapat nya telah selesai?"
"Rapat memang telah selesai. Tapi, urusan kita belum selesai. Mulai hari ini, semua akan di mulai dari nol. Kamu harus belajar menjadi pemimpin di perusahaan ini. Apa kau mengerti?"
"Kenapa kau mengaturku. Kau hanya sekretaris dan aku Bos mu. Jadi, jangan mimpi kau Jasmin."
"Tuan Pandu, ini contoh proposal untuk kerjasama kita. Tolong selesai kan dan serahkan pada saya besok."
"Proposal? Jangan gi-la kamu Jasmin. Aku Bos. Ingat. Aku Bos."
"Ya. Kamu memang Bos. Tapi Bos kosong nyaring bunyinya."
Pandu tak bisa berkata-kata lagi. Jasmin Memang benar-benar luar biasa cerdik. Ia bahkan tidak memiliki celah untuk membuat Jasmin pergi darinya.
Mau tidak mau, hari itu Pandu harus melakukan apa yang diperintahkan oleh Jasmin.
Kepalanya benar-benar pusing saat melihat proposal yang sangat banyak di hadapannya.
Mana pernah ia membuat proposal kerjasama selama ini. Biasanya ia akan menyuruh sekretaris-sekretarisnya yang cantik untuk melakukan semua pekerjaannya.
Pandu benar-benar tidak bisa diharapkan sebagai seorang pemimpin perusahaan itu. Tidak salah jika neneknya meminta tolong pada Jasmin.
"Jasmin, Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada di kertas-kertas ini. Apa kamu tidak bisa memberiku tantangan yang lain?"
"Jika kau tidak mengerti dengan apa yang ada di kertas-kertas ini, bagaimana selama ini kau mengatasi para investor asing yang datang ke perusahaan kita untuk bekerja sama?"
"Ituuu.. Hmmm."
Jasmin benar-benar heran. Baru kali ini ia bertemu dengan pewaris yang benar-benar sangatlah bodoh.
Dalam kepalanya hanyalah wanita, wanita dan wanita saja. Perusahaan baginya layaknya taman bermain.
Jasmin tidak bisa membiarkan hal itu. Ia sudah ditugaskan oleh neneknya Pandu untuk mengembalikan Pandu seperti semula. Agar ketika saatnya tepat, Pandu bisa memimpin perusahaan itu dengan benar.
"Kenapa nenekmu bisa memiliki cucu yang bodoh sepertimu, Pandu? Apa jangan-jangan, cucu nenek mu yang sebenarnya berada di panti asuhan? dan kalian tertukar ketika bayi?"
"Jangan ngomong yang aneh-aneh. Aku benar-benar cucu nenek yang sebenarnya."
"jika memang begitu, jangan jangan o-tak mu yang sudah hilang sebelah."